
Malam itu.
"Rian kamu mau kemana!?" tanya Bu Viona terlihat tegas dan kesal karena besok pagi dia mau mengunjungi keluarga Desy tapi Rian malah memasukkan beberapa bajunya kedalam koper.
"Rian mau ke Kalimantan Bu, ada cara mendadak di kantor," jawabnya enteng.
"Aneh kamu Rian, besok kan kita mau mengunjungi rumah Desy dan keluarganya sudah menunggu disana," Ibu Viona terlihat khawatir karena takut Rian benar-benar mau pergi untuk ke Kalimantan dan tidak gertakan saja.
"Bu,,,kalau Ibu menginginkan Rian menikah berarti Rian harus punya bekal untuk nikah jadi saatnya Rian jangan melanggar aturan kantor agar Rian jabatannya cepat naik," Rian berdalih memberikan alasan agar dia tidak dicegah untuk pergi oleh sang Ibu.
"Ibu malu,,malu,,! Dengan keluarga Desy," jawab Ibunya Rian.
Sang Ibu tidak menyangka Rian bisa senekat itu bukannya biasanya Rian selalu menuruti apa kemauan sang Ibu tapi entah mengapa sifat Rian tidak seperti biasanya.
________
Sang Ibu pun duduk dia memegang dadanya, seakan sesak terasa. Kemudian dia mengambil ponselnya yang tengah berada di atas meja lalu dia mencoba menghubungi Desy. Namun tidak ada balasan jawaban disana.
"Rian harap Ibu jangan malu dengan Desy dan keluarganya kalau kita tidak jadi datang, lagian orang yang mau nikah juga suka ada hambatannya apalagi kita yang baru mau berkunjung dan mengenal satu sama lain keluarga," ucap Rian enteng.
"Cukup,,, cukup! Rian kamu mempermalukan Ibu, sekarang juga kamu yang ngomong sama Desy bahwa kita tidak jadi berkunjung ke rumahnya bilang saja diundur setelah kamu pulang dari luar kota," sang Ibu menutup kuping seakan tidak mau lagi mendengar alasan apapun dari sang anak. Ibu Viona melengos ke dalam kamar.
Karena ponselnya tidak aktif Rian pun memberikan sebuah pesan.
{"Des, mungkin pertemuan keluargaku dan keluargamu di undur setelah aku pulang dari luar kota karena aku akan mengurusi masalah kerjaan dulu!"} pesan pun terkirim oleh Rian ke ponsel milik Desy.
_____
Beberapa menit kemudian
Tok..Tok... Tok..
"Bu, Rian pamit temanku Andri sudah menunggu di depan," Rian mengetuk pintu kamar Ibunya.l beberapa kali.
Krekkkk...
Pintu terbuka lebar nampak sang Ibu matanya sembab seakan tidak rela jika anak kesayangan itu pergi meninggalkannya.
"Benar kamu akan tinggalkan Ibu!?" tanya sang Ibu terdengar serak.
__ADS_1
"Bukannya Rian tega untuk meninggalkan Ibu tapi ini demi kebaikan Rian buat Ibu, sudahlah Bu jangan terlalu memikirkan Rian harus cepat menikah dengan Desy lagian Rian baru beberapa bulan cerai dengan Lia," ucap Rian mencoba meyakinkan hati sang Ibu.
Sang Ibu pun seakan tidak bisa menahan tangisnya untuk melepas kepergian Rian sang anak yang dia sayangi.
"Yasudah, hati-hati," ucapnya lirih.
_____
Rian pun berlalu dari kamar sang Ibu dan Ibu Viona pun mengekor dari arah belakang.
Terlihat Andri sudah melambaikan tangan di depan rumah dan tersenyum ramah tatkala menatap Ibu Viona.
"Bu, Rian pergi," Rian mencium punggung tangan sang Ibu. Rian pun mencoba tegar tidak cengeng dan selalu nurut kepada sang Ibu. Dia berusaha tidak menjadi anak Mama yang selalu tunduk apapun itu.
____
Air mata sang Ibu menetes bercucuran di hamparan pipinya dia sedih karena baru saat ini akan ditinggikan oleh sang anak dengan kurun waktu yang cukup lama sekitar 1 bulan.
Dengan berjalan gontai Bu Viona memasuki rumah hatinya berkecamuk karena dia tidak tahu harus bicara apa kepada Desy karena tidak jadi berkunjung ke rumahnya.
"Orang tua Desy mungkin besok sudah mempersiapkan semuanya dengan kedatangan keluarga pihak lelaki ," gumam hati sang Ibu
Tiba-tiba bunyi ponsel berbunyi nampak Desy menelepon, seakan ragu Bu Viona untuk mengangkat bunyi telepon tersebut.
Dia menghela napas secara perlahan.
lalu mengangkat sambungan teleponnya.
{"Bu, Rian kenapa seenaknya saja memutuskan untuk tidak jadi berkunjung ke rumahku, terus terang aku kecewa dengan keputusan ini! Lagian Ibu juga sebagai seorang Ibu tidak tegas, pantesan saja Pak Yosi berpindah ke lain hati mungkin karena Ibunya mempunyai sifat ragu tidak tegas!"} bentak Desy kepada Ibu Viona.
Mungkin dia sudah tidak bisa lagi memendam amarah dan dia tidak menyadari bahwa yang tengah ngobrol di sambungan teleponnya adalah Bu Viona yang selama ini dia sanjung dan hormati.
Bu Viona hanya melongo dengan ucapan Desy, dia tidak menyangka Desy yang begitu lembut dengan tutur kata jika bersama Bu Viona kini berubah menjadi kasar. Bu Viona pun terkejut dengan apa yang baru di ucapkan oleh Desy sang suami berpindah ke lain hati. ( Suamiku mendua!?)
{"Desy, dengar Ibu! Apa benar yang kamu ucapkan itu? Jawab jujur!"} tanya Bu Viona dengan nada yang terdengar dihinggapi rasa penasaran.
Desy pun tertegun dia keceplosan bicara seperti itu kepada Ibu Viona, dan Desy hanya diam seakan menjawab pertanyaan bahwa apa yang di ucapkan olehnya adalah benar adanya.
{"Kenapa kamu baru bicara sekarang Desy! jawab!?"} bentak Ibu Viona.
__ADS_1
{"Ngomong Desy! Ngomong jawab jujur, apa benar suamiku berselingkuh!?"} Bu Viona mencecar pertanyaan dan Desy seakan terpojok dengan situasi tersebut.
{"Tanya saja sama Rian, anak kesayangan Ibu, atau mantan menantu,"} ucap Desy seakan membuat panas hati Ibu Viona.
{"Jadi selama ini kalian menutupi semuanya? Kenapa kalian menutupi semuanya dari aku!"} Bu Viona bibirnya bergetar seakan tidak sanggup lagi untuk berbicara.
{"Bu, maafkan Desy tapi Desy tidak mau ikut campur masalah Ibu dengan Papa Yosi dan lebih baik Ibu tanya kepada Rian,"} ucapnya kembali.
________
Ibu Viona pun menutup sambungan teleponnya, karena jawaban dari Desy begitu bertubi-tubi seakan tidak ada solusi.
Kemudian Ibu Viona menghubungi Rian sang anak tapi ponselnya tidak aktif. Saat ini mungkin hanya dadanya yang terasa sesak. Tatkala mendengar semua ucapan dari Desy.
_______
Bu Viona pun mencoba menghubungi Lia dan tidak butuh waktu lama teleponnya tersambung ke mantan menantunya itu.
{"Lia,,,kamu kurang ajar ya, kenapa kamu tidak kasih tahu aku dulu, waktu kamu masih menjadi istri Rian bahwa Papanya Rian berselingkuh!"} ucap Bu Viona di sambungan teleponnya.
Lia yang sedang sakit hanya terdiam dan kaget dengan apa yang di ucapkan oleh sang mantan Ibu mertuanya itu.
{Ada apa ya? kok tiba-tiba Ibu marah sama Lia?"} jawabnya terdengar dihinggapi rasa heran kepada sang mantan mertuanya itu.
{"Sudahlah kamu jangan banyak alasan, kamu menutupi perselingkuhan Papanya Rian, jangan-jangan kamu kenal dengan wanita selingkuhannya Papanya Rian!"} Ibu Viona memojokkan Lia.
{"Bu,,, maaf ya, itu bukan urusan Lia lagi karena sekarang Lia sudah cerai dengan Rian. Lebih baik ibu tanya saja langsung sama anak Ibu Rian atau suami Ibu Pak Yosi!"} jawab Lia.
Sontak sang Ibu kesal dengan jawaban tersebut seakan mengejek dirinya.
{"Mungkin kamu puas ya Lia, waktu dulu aku dikhianati sama suamiku! Jangan-jangan sengaja kamu tidak memberitahu aku bahwa Yosi berselingkuh karena biar aku terluka!"} ucap Bu Viona bicaranya sudah tidak karuan.
_______
Lia pun memutus sambungan teleponnya karena dia tahu Bu Viona sedang dihinggapi rasa emosi dan kesal jadi percuma kalau dia tanggapi lagian Lia pun berpikir dalam dirinya untuk apa ditanggapi karena sudah tidak ada gunanya.
"Bu Viona selalu aneh, bukannya nanya langsung ke suaminya ini malah aku yang di salahkan, aku orang lain yang sudah tidak ada sangkut pautnya," gumam hati Lia.
Bersambung...
__ADS_1