Suamiku Terjerat Cinta Sahabat

Suamiku Terjerat Cinta Sahabat
Bab 7 Rian Gusar.


__ADS_3

Rian Kesal.


Rian menjemput Citra, di tempat biasa. Namun nampak disana tidak ada Citra, dan dia pun mencoba menghubungi lewat telepon selularnya tapi sia-sia, telepon Citra tidak aktif. Pandangan Rian mengarah ke tempat yang biasa Citra menunggu.


Rian terlihat gelisah, dia terus-menerus melihat arlojinya yang menempel di tangan kirinya. Nampak Rian kesal seperti di permainkan padahal udah janji mereka akan bertemu pagi ini untuk sama-sama pergi ke kantor.


Sudah setengah jam Rian menunggu, dan telepon Citra pun masih belum aktif.


Karena Rian pun di kejar waktu akhirnya, dia pun pergi ke kantor sendiri tanpa menunggu Citra yang ponselnya tidak aktif..


Tiba di kantor.


Setelah tiba di kantor lalu Rian memasuki ruangannya, kemudian Rian meneguk air mineral yang sudah tersedia ada di meja kerjanya. Kemudian dia merogoh ponselnya di dalam saku celana. Dia kembali mencoba menghubungi Citra kembali, posisi dia berdiri di dekat jendela yang arahnya menuju ke arah halaman depan kantor. Namun tetap saja ponselnya Citra tidak aktif.



Rian nampak membuang nafas kasar.


Matanya lurus menatap ke halaman luar kantor, nampak terlihat lalu lalang karyawan keluar masuk kantor.



Tiba-tiba tatapan Rian tertuju lekat ke arah mobil sedan berwarna hitam pekat. Di sana nampak terlihat turun sesosok wanita memaki baju berwarna pink muda, dia pun keluar dan nampak jelas terlihat senyumnya merekah tatkala turun dari mobil tersebut.



"Citra, dia di antar siapa?" ucap Rian.



Dia menatap lekat ke arah baju yang di pakai Citra, dan dia teringat ketika berada di Mall. Citra memilih baju kemudian ada lelaki disana, Citra memperlihatkan kedua baju yang akan dia beli, dan salah satu baju yang dia pakai itu adalah yang Citra pakai sekarang.



Dada Rian bergemuruh seketika, dia terbakar api asmara. Dag-dig-dug terasa jantungnya berdegup kencang.



"Mungkinkah Citra sekarang mempunyai seorang kekasih, pantesan aku jemput barusan dia nggak ada. Ternyata sudah ada yang menjemput dan baju itu mungkin Citra, di belikan oleh lelaki itu," gumam hatinya.



pikirannya berselancar tidak karuan. Bayangan Citra akan mencoba berbohong dan mempunyai kekasih baru terlihat hinggap di hatinya.


•••


Rian menghela nafas secara perlahan. Rian mencoba menyabarkan dirinya. Dia pun tidak mau gegabah dan tidak mau terlihat cemburu di mata Citra. Dia gengsi jika harus cemburu karena dia punya jabatan di kantor tersebut dan dia tidak berhak untuk memarahi Citra, dengan alasan dia menjemput Citra, tapi Citra sudah tidak ada di tempat.



"Aku selidiki dulu, siapa tahu dia saudaranya. Tapi mulai detik ini, aku harus jaga jarak dengan dia," ucapnya, menghela nafas panjang.

__ADS_1



Rian kemudian duduk di meja kerjanya lalu membuka laptopnya.


Terlihat pekerjaan hari ini cukup banyak, Rian seperti tidak bersemangat.


Dia memegang pelipis kepalanya, seperti menahan rasa pusing.



Ting...



Tiba-tiba bunyi pesan muncul dari ponselnya. Nampak terlihat sang pengirim pesan adalah Citra. {"Mas, maaf tadi aku di jemput temanku pergi ke kantornya, dan ponselku mati. Ini baru di charge,"} pesan tertulis dari Citra tidak membuat Rian seperti curiga atau timbul rasa cemburu, dia nampak biasa saja.


\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_


Teringat kepada sang Bapak, yang selalu meninggalkan sang Ibu, sebenarnya Bapaknya Rian punya madu atau istri muda.


Namun sampai sekarang Ibunya tidak mengetahuinya. Bapaknya Rian yang bernama Yosi Soediharjo sangat pandai menutup rapat madunya.


•••


"Kalau kamu butuh apapun bilang sama Bapakmu, tapi awas jangan bilang ke Ibumu, kalau Bapakmu ini punya istri muda," ucap sang Bapak. Ucapan itu selalu terngiang di hati sang anak.


•••



Rian pun tahu istri muda dari Bapaknya tersebut karena dia rekan kerjanya, usianya masih muda dari Bapaknya. Semenjak sang wanita itu yang bernama Andini atau.biasa di panggil dengan nama Tante Dini, menikah dengan Bapaknya.


•••


Tante Dini selalu mencoba mendekati hati Lia, istri dari Rian. Lia pun merasa nyaman mungkin jauh beda dengan sifat dari Ibu mertuanya sendiri yaitu Ibu Viona yang nampak cerewet dan selalu mengatur rumah tangga dirinya bersama sang suami.



Rian tidak jadi masalah jika sang Bapak punya madu lagi, asal sang Ibu di perhatikan. Rian kasihan terhadap Ibunya itu, yang selalu sendiri di rumah hanya di temani oleh Mbak Wiwin sang ART.



Makannya kalau ada Rian kesana, dia selalu ingin anaknya menginap di rumahnya. Tapi sang menantu Lia selalu enggan untuk menginap di rumah sang mertua karena Bu Viona cerewet.


•••


"Bapak mau liburan ke Jepang bersama Tante Dini Minggu depan, dan Bapak harap kamu bersama istri dan anakmu menginap di rumah, selama Bapak berada di Jepang 2 Minggu kedepan," pesan dari sang Bapak membuat Rian berpikir keras bagaimana caranya meyakinkan sang istri agar bisa menginap selama 2 minggu di rumah Ibunya, 1 hari saja Lia enggan untuk menginap di rumah Ibu mertuanya apalagi 2 minggu.


\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_


Rian termenung.

__ADS_1


Nampak Rian menghela napas panjang.


Laptop yang sedari tadi sudah dia buka karena mau bekerja, seakan malas untuk melakukan aktifitas pekerjaan.



Ting..



{"Nanti sore jadi nggak, kita ke Bioskop?"} pesan dari Citra muncul Kembali.



Rian hanya membaca isi pesan tersebut kemudian dia berpikir sejenak.


{"Katanya sakit pusing semalam. Udah sembuh memangnya? Pekerjaan aku numpuk, lihat nanti saja ya,"} balas pesan Rian kembali.


 ••••••••••


Citra terlihat bingung.


Dalam hati Citra dihinggapi rasa khawatir. Jika kepergian ke kantor tadi, dia di jemput oleh Cakra, teman kuliah dulu dan kini telah menjadi teman dekatnya, dan tadi pagi sudah menyatakan rasa cintanya terhadap dirinya.


Citra nampak memejamkan matanya.



Pagi tadi ketika Cakra menjemput dirinya, dia begitu perhatian terhadap dirinya. Cakra memberikan sarapan pagi untuknya juga Tantenya, ini merupakan sifat dari Cakra yang baru nampak terlihat baik.



"Cakra dulu pelit tapi entah mengapa dia sekarang baik dan perhatian," Aku akan jalani saja dua-duanya karena yang diberikan olah Cakra masih terbatas tidak seperti Rian, berlebih," pikiran licik Citra mulai berputar.



Sore pun tiba.


Rian tiba-tiba dengan cepat memasuki mobilnya, melihat Rian terburu-buru memasuki mobilnya. Citra melihat dari kaca jendela kantor, sontak ketika melihat Rian memasuki mobil Citra menelepon Rian dari arah dalam ruangannya. Namun oleh Rian tidak di angkat.


"Katanya mau ngajak aku nonton, gimana sih, Rian ini," ucap isi hati Citra.


Citra nampak cemberut terlihat kesal.


" Hai, kenapa kamu, ko cemberut gitu?" tanya Hera sahabat dari Citra yang hendak keluar dari dalam kantor.


"Ng-nggak apa-apa," ucapnya pandangan masih tetap keluar, dengan melihat mobil yang di kemudikan oleh Rian, melaju kencang keluar halaman kantor.


"Berantem dengan Pak Rian, ya" ucap Hera, lekat ke kuping sahabatnya itu.


Sontak Citra kaget dalam pikirannya dihinggapi rasa tanya yang teramat.

__ADS_1


"Mengapa Hera tahu kalau dia sedang dekat dengan Rian.


__ADS_2