Suamiku Terjerat Cinta Sahabat

Suamiku Terjerat Cinta Sahabat
Bab: 13 Kecewa


__ADS_3

Sore itu, nampak lia sedang berada di dapur bersama sang ART yaitu Teh Sumi. Mungkin permintaan sang suami baru terlaksana sekarang, ingin dimasakin gulai kepala kakap oleh sang istri karena minggu-minggu kemarin, Lia sangat sibuk dengan kesibukannya bersama teman-temannya.


Nampak Lia terlihat riang dari binar matanya, mukanya seakan berseri, dia pun bersenandung menyanyikan lagu-lagu romantis.


"Wah, Ibu lagi bahagia ya"? tanya teh Sumi tersipu malu.


"Ya, Teh Sumi, hidup harus dinikmati walaupun kita sedang ada masalah," ucapnya terkekeh tertawa.


"Iya sih, aku salut sama Ibu, meskipun Desy menusuk Ibu dari belakang!" ucap Teh Sumi dengan fokusnya memasak, tanpa menyadari apa yang diucapkannya barusan.


Degh..


Lia menatap lekat ke arah Teh Sumi. Lia pun seakan terkejut dengan apa yang baru saja diucapkan oleh sang ART tersebut.


"Apa yang barusan diucapkan oleh teh Sumi! Desy menusuk dari belakang, maksudnya apa!" ucap Lia dadanya bergemuruh.


Sontak Teh Sumi menoleh ke arah Lia, karena nada suara sang majikan terdengar volume bunyi suaranya dibesarkan.


Sumi pun terkejut dengan apa yang dia ucapkan, karena dia secara spontan berbicara seperti itu. Sepertinya, dia pun kesal dengan tingkah laku Desy dan Rian, yang selalu dia pergoki sedang bermesraan.


"Mungkinkah Desi berselingkuh dengan suamiku? jawab..jawab! Aku tidak mau, Teh Sumi menutupi semua." ucap Lia menggebu.


Teh Sumi menundukkan kepalanya lalu dia menghela napas panjang.


"Maaf Bu, barusan saya keceplosan ngomong, tapi Ibu jangan marah sama saya, karena saya hanya melihatnya saja.


Mungkin juga, saya salah melihatnya. Tapi saya sudah beberapa kali melihat kemesraan antara Desy dan Bapak, seakan mereka ada hubungan khusus," ucapnya.


•••


Jantung Lia terasa diremas, dadanya bergemuruh seakan ada hantaman hebat di sana. Dalam hatinya berkata. ("Apakah ini sebuah mimpi atau fakta yang ada, yang akan menggoreskan sebuah luka?") Setelah dia mencoba mengingat kembali, ucapan dari sang sahabat beberapa kali memuji sosok suaminya itu dengan kalimat ("Suami kamu, Tampan,").


___


Nampak Lia menyeret kakinya ke arah kursi meja makan, dia pun duduk dengan pandangan kosong melihat arah luar jendela. Pikirannya melayang jauh entah ke mana.


Tes Sumi kemudian mematikan kompor dan mendekati Lia, sang majikan. Dia dihinggapi rasa bersalah karena telah menorehkan luka kepada sang majikan, dengan berani berkata bahwa sang suami berselingkuh dengan sahabatnya sendiri.


Nampak terlihat Lia membuang napas kasar, dia tidak tahu perasaannya sekarang seperti apa, yang jelas hatinya terasa tercabik pilu.


Air mata yang dia tahan akhirnya meluncur deras hinggap di pipinya.


"Bu, maafkan saya, karena saya telah lancang membongkar aib suami, ibu," Teh Sumi meneteskan air mata, tangannya bergetar.


"Kalau ibu sakit hati dengan ucapan saya, nggak apa-apa. Saya rela keluar dari rumah ini," ucap Teh Sumi seakan menyalahkan dirinya sendiri.


Lia kemudian memeluk Teh Sumi dan menangis sesenggukan.


"Tidak, Teh Sumi, tidak salah. Justru suami dan sahabatku, yang menuai dosa dan akhirnya sekarang terungkap. Mungkin sudah izin dari yang maha kuasa dibukakan aibnya melalui Teh Sumi." ucap Lia tersedu menangis.

__ADS_1


"Tapi nanti jika Ibu membicarakan hal ini kepada Bapak, dan akhirnya Bapak mengusir Teh Sumi. Aku siap untuk keluar dari rumah ini," ucap Teh Sumi.


Teh Sumi menundukkan kepalanya, sang ART tersebut terlihat sangat sedih.


"Tenang Teh Sumi, aku tidak akan bicara sedikitpun kepada suamiku dan Desi. Tapi aku akan mencoba menjebak mereka berdua, dan Teh Sumi, tidak perlu tahu jebakan aku nantinya seperti apa. Pokoknya aku akan buat kapok mereka berdua,' ucap Lia.


Tiittt... Tiittt..


Suara bunyi klakson di luar halaman rumah seakan membuyarkan obrolan antara Lia dan Teh Sumi, dengan cepat Lia pun mengusap air mata yang bercucuran.


"Bapak datang Bu, saya bukakan pintu dulu ya," ucap Teh Sumi menatap lekat kepada Lia.


Teh Sumi pun berlalu dari hadapan sang majikannya itu.


Lia kemudian menganggukkan kepala, dan dia berusaha untuk tidak menampakan raut kekesalannya kepada sang suami.


Lia menghela napas panjang, kemudian dia kembali memasak dan menyiapkan makanan yang baru saja akan dia masak.


•••


Rian memasuki dapur.


Aroma wangi gulai kepala kakap begitu menyeruak ke area hidung penciumannya.


Rian pun memasuki ruang dapur, nampak terlihat sang istri sedang memasak, Rian lalu memeluk sang istri dari arah belakang.


Lia sekuat tenaga melepaskan pelukan dari Rian, karena dia masih kesal dan terngiang ucapan dari Teh Sumi,


"Lepaskan Pah, lepaskan! Aku sedang masak," ucapnya terlihat gugup.


"Loh, kenapa Mah! Kayaknya Mama sedang marah. Ada apa ini?" tanya sang suami dihinggapi rasa heran kepada sang istri karena tidak biasanya, Lia melepaskan pelukan yang di berikan oleh sang suami.


"Aku kan lagi masak Pah," ucap Lia terdengar suaranya gugup.


"Tapi biasanya kalau pun sedang masak, kamu dipeluk dari belakang nggak apa-apa kok mah, ada apa sih!" tanya Rian terlihat dihinggapi rasa heran.


•••


Lia mencoba mengatur napasnya dan menghela napas secara perlahan.


"Aku jangan menampakan rasa marah, dan kekesalanku kepada suami, nanti dia curiga," gumam dalam hatinya


•••


"Bau, Pah, Aku belum mandi," jawabnya.


"Nah, mungkin Mama yang sedang menyindir Papa, karena Papa baru pulang kerja dan bau, jadi Mama bilang bau," ucap Rian


Membuat sang istri semakin dihinggapi rasa kesal. Karena dalam benak hati Lia, dia tidak mau ada lelucon. Pikirannya sedang dihinggapi rasa kesal dan amarah yang belum dia tumpahkan kepada sang suami.

__ADS_1


"Bentar ya Pah, aku mandi dulu," ucap Lia sambil mematikan kompor.


Dia pun berlalu dari Rian, tanpa menoleh kepadanya sedikitpun karena dia tahu matanya sembab, baru saja dia menghujani kelopak matanya dengan air mata yang deras.


•••


Rian pun mengernyitkan dahi, dia seakan tidak mengerti dengan tingkah laku sang istri yang terlihat beda.


"Bapak mau makan sekarang, biar Teh Sumi siapkan makanannya," tiba-tiba Teh Sumi datang menghampiri sang majikan ke dapur.


"Nanti saja Teh, aku makannya sama Ibu. Aku juga mau mandi dulu," ucapnya.


Rian pun berlalu dari hadapan Teh Sumi,


menuju kamarnya.


•••••


Jam menunjukkan pukul tujuh malam, nampak terlihat keluarga kecil Rian, sedang berada di ruang makan. Yang terdengar hanya ketukan sendok dan garpu, Ryan sang suami terlihat sangat menikmati makanan yang dimasak oleh Lia, yaitu gulai kepala kakap. Sementara Lia, hanya mengaduk-aduk makanannya tersebut. Dia seakan tidak selera makan, melihat sang mama seperti sedang melamun, sang anak pun terlihat penasaran.


"Mah, kenapa Kok, dari tadi cantika perhatikan , Mama hanya menganduk-ngaduk makanan, tanpa dimakan. Apa Mama lagi kurang enak badan?" tanya sang anak dengan tatapan penuh khawatir.


"Iya, Nak, kepala Mama Kok, tiba-tiba pusing ya," ucap sang Mama


Lia pun menaruh sendok dan garpu secara kasar, kemudian dia menyeret langkah kakinya ke dapur untuk mengambil air putih hangat. Setelah itu, ia pun berlalu ke dalam ruang keluarga, nampak dia duduk di atas kursi sofa. Lalu Lia meneguk air hangat tersebut bersama sebutir obat yang sudah di pegang oleh jemari lentiknya.


Nampak Lia memijit kepalanya yang terasa pusing. Rian yang sedang makan nampak dari ekor matanya memperhatikan gerak-gerik sang istri.


"Ada apa dengan Lia, ya," gumam hatinya.


Selesai makan, Ryan pun berlalu dari meja makan, Rian menghampiri Lia yang sedang duduk di kursi sofa.


Nampak pandangannya Lia, terlihat menatap layar televisi namun Lia seakan tidak menghiraukan kedatangan suaminya tersebut. Lia tetap fokus ke layar televisi, meskipun dari ekor matanya dia melihat sang suami datang menghampiri.


"Kenapa Mah, kepalanya pusing?" tanya Rian terhadap sang istri. Lia hanya menganggukkan kepalanya.


"Aku ngantuk Pah, aku tidur ya, duluan. Lia hanya tersenyum tipis ketika sang suami menatapnya.


Lia pun berlalu dari hadapan sama suami.


Dalam benak Lia sebenarnya, dia tidak mau menampakan hatinya sedang terluka dan kesal terhadap sang suami. Tapi entah mengapa ucapan dari Teh Sumi, begitu terasa menyayat hatinya.


•••


jam menunjukkan pukul 12.00 malam Lia terbangun dari tidurnya nampak sang suami tidak ada di sebelahnya dia pun dihinggapi penasaran mungkinkah dia sedang menelepon Desi gumamnya


jalan Lia mengendap-ngendap menuju arah luar nampak samar terdengar suara sang suami sedang menelpon.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2