
Di dalam mobil.
Desy nampak cemberut di dalam mobil begitupun dengan Rian, mereka nampak sedang memikirkan pertemuan yang terjadi antara Adrian dan Lia. Dalam diri masing-masing dihinggapi rasa kesal, malu, campur aduk menjadi satu.
"Aku sudah kirim pesan barusan sama Lia, aku bilang barusan nyesel sudah pinjam uang dari Adrian. Kalau tahu yang meminjamkan uang kepadaku adalah Adrian mungkin aku tidak akan mau!" Rian terdengar tersulut emosi.
"Lagian kamu tidak tanya lebih jauh siapa yang meminjamkan uang itu kepada temanmu Hendrik, harusnya kamu nanya. Kalau sudah begini kan jadinya menyesal di akhir!" Desy terlihat kesal.
________
Rasanya dia ingin memarahi Rian, sang suami barunya itu karena Desy merasa malu oleh Adrian dan Lia dengan meminjam uang. Dia berniat sombong tapi akhirnya dikalahkan dengan kecerobohannya sendiri.
"Aku geram sebenarnya sama kamu, ceroboh!" Desy kembali menggerutu.
"Loh, kamu malah nyalahin aku, gimana sih!" Rian yang sedang mengemudikan mobilnya itu mendelik dan melirik sang istri dengan mata menyorot tajam.
Desy pun akhirnya terdiam dan memendam kekesalannya dalam diri.
________
Tiba di rumah Desy.
Desy langsung memasuki kamarnya, dia pun seakan masih kesal terhadap Rian. Tatkala melihat sang istri terlihat uring-uringan akhirnya Rian pun terpaksa merebahkan badannya yang terasa lelah tidak di dalam kamar tapi di kursi sofa.
Mata Rian terpejam kembali dia mengingat kejadian yang baru saja terjadi. Bayangan Adrian terasa mendekat kembali dan seakan mentertawakan dirinya begitu pun dengan Lia. Nampak Rian meremas rambutnya dengan kasar dan menghela napas panjang.
Rian merogoh ponselnya di dalam saku bajunya kemudian dia mencoba menelepon Risma dan menanyakan keadaan di Kafe karena Rian akan datang di sore hari.
{"Seperti biasanya keadaan Kafe ramai, Pak! Alhamdulillah,"} ucap Risma kepada Bos-nya tersebut di sambungan teleponnya.
{"Saya akan kesana sebentar lagi,"} jawab Rian kemudian Rian pun menutup sambungan teleponnya.
____________
Tok...Tok..Tok..
"Des,,,Des,,,buka pintunya! Des, aku mau pamit ke Kafe!" ucap Rian mengetuk pintu beberapa kali namun disana tidak ada jawaban.
Tokkk.....Tokkkk....Tokkkk....
Rian menggedor pintu dengan kasar tapi tetap Desy seperti tidak menghiraukan bunyi pintu dari sang suaminya itu. Rian pun dengan sangat menyesal meninggalkan pintu kamar, Rian menggerutu seakan tidak suka dengan kelakuan sang istri yang sifatnya seperti kekanakan.
"Aku aneh dengan kelakuan kamu!" ucap Rian melengos keluar rumah.
_________
Rian memasuki mobil.
Nampak dia pun melajukan mobilnya dengan dihinggapi hati yang tidak karuan dan menahan emosi.
"Sudah di permalukan! Istri marah tidak jelas! Pusing kepalaku!" ucap Rian di dalam mobil terlihat memendam amarah.
Rian pun berpikir dalam hatinya sosok Desy jauh sekali sifat dan karakternya seperti mantan istrinya yaitu Lia. Desy sifatnya yang selalu ingin dipuji dan cepat tersinggung sementara Lia pribadi yang selalu menyabarkan hati sang suami. Rian pun dihinggapi rasa sesal kenapa dia membuang mawar indah sementara dia mengambil duri.
["Mas, kita harus sabar, setiap masalah harus dihadapi dengan kepala dingin,"] kata-kata seperti itu yang buat hati hati Rian seakan resah kembali mengenang sosok sang mantan istrinya.
Arghhhh....
Rian membuang napas kasar dan meremas rambutnya, sepertinya dia menyesali telah menikah dengan Desy.
"Desy, keras kepala!" Rian kembali berucap.
_______
Tiba di Kafe.
Setelah tiba di Kafe Rian kemudian memasuki ruangannya, dan ini menjadi tanda tanya besar bagi semua karyawan karena Rian langsung memasuki ruangannya dengan muka lusuh dan rambutnya yang terlihat acak-acakan.
"Ris, ada apa dengan Pak Rian! Kok dia tidak menyapa kita ya, biasanya kalau dia masuk ruangan dan melewati ruangan kita, dia selalu tersenyum dan menyapa kita. Atau jangan-jangan Pak Rian berantem sama istri barunya!?" Dea karyawan yang selalu kepo mencoba menerka masalah yang tengah di hadapi oleh Bos-nya itu.
"Kamu kebiasaan ya, selalu kepo dengan masalah orang lain!" tegur Risma. Padahal dalam hati Risma pun dihinggapi rasa penasaran ada apa dengan Bos-nya tersebut.
_____
"Risma,,,!!" teriakan Rian memanggil Risma seolah membuat hati karyawan itu dihinggapi rasa terkejut karena dia sedang membicarakan Bos-nya itu.
"Ada apa ya, aku dipanggil Pak Rian," ucap Risma terlihat gusar.
"Awas kamu kena bentakan Pak Rian karena dia sedang marah," bisik Dea.
"Iya, Pak!" jawab Risma
Risma mendelik kesal ke arah Dea sambil berlalu kearah ruangan Bos-nya itu dengan dihinggapi hati yang berdebar, dia takut Bos-nya marah kepadanya seperti yang diucapkan oleh Dea temannya itu.
__ADS_1
_______
Tok..Tok.. Tok..
Risma mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum memasuki ruangan Bos-nya itu.
Ceklek...
Kemudian dia membuka gagang pintu secara perlahan, pandangan matanya menunduk seakan tidak mau bertatapan langsung dengan Bos-nya itu yang terlihat kesal.
"Anita kemana!?' tanya Rian.
Rian tidak menemukan Anita di ruangannya biasanya Anita duduk disana. Laptop yang berada di mejanya pun terlihat rapih nampak belum di sentuh hari ini.
"Tidak masuk Pak!" jawab Risma.
"Kenapa dia tidak masuk!?" tanya Rian dengan masih menampakkan wajah kesalnya.
"Katanya ada keperluan keluarga," jawab Risma yang dihinggapi rasa takut karena Bos-nya terlihat masih dihinggapi rasa marah.
"Kenapa dia tidak bilang ijin sama aku!" Rian terlihat dihinggapi rasa kecewa karena karyawan yang bernama Anita tidak minta ijin kepada dirinya.
"Enggak tahu Pak, saya kira dia sudah ijin sama Bapak!" Risma pun menggerutu dalam hatinya oleh perbuatan temannya yang tidak meminta ijin kepada Bos-nya.
"Kamu telepon sekarang, Anita!" Rian menyuruh Risma untuk menghubungi Anita kepada Risma yang masih berdiri di hadapannya.
________
Risma pun merogoh ponselnya di dalam saku bajunya lalu mencoba menghubungi temannya itu yang tidak masuk kerja. Tidak butuh waktu lama telepon bisa tersambung dengan Anita.
{"Nit, ini aku lagi berada di ruangan Pak Rian, kata Pak Rian kenapa kamu tidak bilang kalau kamu tidak masuk kerja hati ini,"} Risma terdengar gugup karena dia menelepon di hadapan Bos-nya. Sementara Rian sedang menatap lekat kearahnya yang mengakibatkan rasa malu dan kaku di hati Risma sebagai karyawannya.
{"Aku telepon Pak Rian kok, tapi tidak aktif!} Anita seakan membela diri.
Risma berbicara secara perlahan kepada Rian. "Anita sudah menelepon Bapak katanya, tapi ponselnya Bapak tidak aktif." ucap Risma secara perlahan.
______
Rian pun melihat ponselnya dan di aplikasi ponselnya terlihat panggilan tidak terjawab dari Anita pada pukul 5 pagi, dan pada saat jam 5 pagi Rian tidak mengaktifkan ponselnya.
"Memang dia telepon pas jam 5 pagi, kenapa tidak memberikan pesan!?" tanya Rian.
Risma menggelengkan kepalanya pertanda dia tidak tahu apa-apa. Kemudian Rian meminta teleponnya Risma untuk berbicara dengan Anita.
"Nit, kenapa kamu tidak memberikan pesan?" tanya Rian ketika ponselnya tersambung untuk berbicara dengan karyawan itu.
"Kamu mencari alasan, terus kamu sekarang sedang dimana!" tanya Rian kembali.
"Saya sedang bersama saudara Pak, di Restoran Sriwijaya!" jawab Rian.
DEGH..
_______
{"Sedang apa kamu disana!?"} penuh curiga Rian bertanya karena Restoran Sriwijaya adalah Restoran mahal yang pemiliknya adalah Steven. Rian berpikir mana mungkin Anita mampu datang ke Restoran tersebut.
{"Sedang kumpul dengan saudara Pak!"} ucap Anita, dia pun seakan kesal kepada Bos-nya itu seakan ingin tahu masalah pribadinya.
{"Laporan bulanan belum kamu kerjakan ya!?"} tanya Rian.
{"Sudah Pak, itu tersimpan rapi di atas meja!"} Anita terdengar kesal karena buku laporan yang sangat besar ukurannya, masa tidak terlihat oleh Bos-nya itu. Anita pun berpikir Rian hanya ingin mencari alasan saja untuk menanyakan kabarnya.
Karena Risma karyawannya menatap lekat ke arahnya ketika dia menerima sambungan telepon dari Anita, Rian pun seakan risih dan malu.
{"Ya, sudah, Bapak enggak enak ini pake teleponnya Risma,"} ucap Rian, dan akhirnya Rian pun menutup sambungan teleponnya.
Rian menyerahkan teleponnya kepada Risma, dan Risma pun pamit keluar dari ruangan Bos-nya itu.
_________
Karena dihinggapi rasa penasaran Rian pun mencoba mengirimkan sebuah pesan kepada
Anita yang sedang berada di Restoran Sriwijaya. Niat dia mau menelepon karyawan tersebut, tapi Rian urungkan niatnya karena dihinggapi rasa malu dia sebagai Bos.
Ting...
Pesan terkirim kepada Anita dari ponselnya milik Rian yang berbunyi.
{"Nit, kamu tidak seperti biasanya ijin kerja karena ada masalah keluarga. Maaf sebenarnya ada urusan apa?"} tanya Rian dihinggapi rasa penasaran karena Anita tidak pernah ijin jika ada urusan keluarga meskipun acaranya penting.
Anita di sebrang sana seakan kesal dengan pertanyaan Bos-nya tersebut yang menanyakan secara detail. Anita pun berpikir tidak selayaknya Bos-nya tersebut menanyakan hal pribadi masalahnya.
{"Masalah keluarga yang merencanakan pernikahan saya!"} tulis pesan Anita.
__ADS_1
Anita sengaja menuliskan pesan tersebut kepada Rian.
_______
Rian terlihat terkejut ketika membaca pesan tersebut karena dia tahu Anita tidak mempunyai teman lelaki yang dekat dengannya dan di hati Rian pun ada sedikit rasa cemburu karena dia sejak pertama bertemu sudah menaruh simpati kepada sosok Anita.
Rian pun seakan kepo ingin menanyakan lebih lanjut siapa lelaki yang beruntung bisa menaklukkan hati Anita dan mendapatkan simpatinya.
"Kalau aku menanyakan hal tersebut aku terdengar kepo dan cemburu, lebih baik aku pura-pura tidak peduli!" gumam hati Rian.
Rian menyimpan teleponnya di meja tanpa lagi membalas pesan kepada Anita. Kemudian dia pun membuka laptopnya.
________
Tok...Tok...Tok...
Tiba-tiba pintu kembali di ketuk oleh Risma dan setelah pintu terbuka lebar kemudian Risma kembali datang ke ruangan Rian dengan membawa berkas.
"Ris, kamu tahu tidak calonnya Anita, orang mana!?" tanya Rian dengan pandangan mengarah tetap kepada laptop.
"Kurang tahu Pak, tapi katanya semalam dia cerita di jodohkan oleh saudara yang bernama Adrian," ucap Risma dengan meletakkan berkas di atas meja.
DEGH...
Rian pun pikirannya berselancar mengingat kejadian ketika dia mengambil kunci kepada Anita di rumah saudaranya dan disana terlihat ada Adrian. Rian pun berpikir mungkin sosok saudara Anita yang di maksud itu adalah Adrian suaminya Lia.
"Kenapa mesti berhubungan lagi menyangkut nama dia!" gumam hati Rian.
"Jaman sekarang pakai acara di jodohkan!" sindir Rian.
"Ya enggak apa-apa Pak, kalau orangnya baik dan bertanggung jawab." bela Risma, dia pun seakan tidak mau jika temannya itu di bicarakan hal yang jelek oleh Bos-nya itu.
"Ya, aneh saja! Anita memang wanita yang tidak gaul. Kenapa tidak cari saja sendiri laki-laki diluar sana. Banyak kok lelaki yang baik dan tanggung jawab. Belum tentu kan, kata saudaranya itu yang bernama Adrian temannya baik tapi kenyataannya tidak!" Rian mendelik.
_______
"Loh, ini kenapa Bos aku!? Malah uring-uringan ngomongin Anita. Seharusnya senang karena karyawannya akan melepas masa lajangnya," gumam hati Risma.
"Tidak aneh, Pak! Mungkin pandangan pertama klik dan terasa nyaman tidak apa-apa meskipun di jodohkan," Risma kembali membela.
"Ya, sudah Nit, kamu kembali bekerja. Pasti Anita kalau sudah nikah dia keluar kerja!" ucap Rian terlihat kesal.
Risma pun berlalu pamit keluar seperti menahan tawa karena Bos-nya tersebut seperti dihinggapi rasa khawatir jika karyawan kepercayaannya itu keluar kerja dan nampak dihinggapi rasa cemburu.
__________
"Pasti Anita keluar kerja dari sini, dan dia fokus dengan suaminya. Tidak mungkin juga dia kerja hanya di Kafe yang gajinya tidak besar sedangkan dia suami yang sekarang mapan pertemuan keluarga pun di Restoran mewah," gumam Rian dalam hati.
Sepertinya Rian sudah tidak mood untuk kembali bekerja di depan laptopnya itu. Pikirannya yang kalut seakan numpuk, dia selain memikirkan rasa malu setelah bertemu dengan Adrian juga masalah dengan Desy, di tambah lagi sekarang Anita yang akan menikah.
Arghhhh....
Rian menghela napas panjang. Matanya terpejam dan posisi duduknya menyender ke kursi, dia memijit pelipisnya yang terasa pusing.
Ting....
Tiba-tiba pesan muncul dari Desy yang menanyakan Rian pulang jam berapa. Rian pun hanya mampu membacanya seakan malas untuk membalasnya.
{"Mas, balas WhatsApp aku!"} kembali Desy memberikan sebuah pesan.
{"Percuma di tanya datang jam berapa pulang kerja juga karena suami pergi kerja pun kamu seakan tidak peduli!"} balas pesan Rian kepada Desy.
Kemudian Desy pun nampak menelepon Rian tapi Rian seakan enggan untuk mengangkat ponselnya tersebut.
Rian pun kemudian membereskan semua dokumen yang berada di atas meja yang terlihat berantakan, dia berniat malam ini tidak akan pulang ke rumah.
"Aku malam ini mau menenangkan diri di Hotel, aku malas pulang ke rumah juga mengahadapi istri yang ngomel-ngomel terus,".ucap Rian.
_______
Rian keluar dari Kafenya.
"Ris, tolong kamu lembur lagi ya, Bapak ada urusan. Tenang nanti uang lembur diberi lebih," ucap Rian sebelum menaiki mobilnya yang melihat Risma sedang berdiri di depan pintu masuk Kafe. Nampak Kafe sudah mulai tidak banyak pengunjungnya.
Risma pun menganggukkan kepalanya dalam hatinya berpikir kalau keadaan Kafe terus menerus dikelola oleh karyawan maka Restoran tersebut akan tidak stabil keadaan perekonomiannya ditambah lagi karyawan yang jago mengelola keuangan dan situasi Kafe tersebut akan keluar kerjanya yaitu Anita.
"Kalau Pak Rian sering ijin Kafe nanti karyawan juga ngikutin cara kerja Bos-nya. Buktinya Anita! Dia sekarang tidak masuk kerja nanti giliran kamu, terus aku!" celetuk Dea berucap secara perlahan.
Risma melotot ke arah Dea dan mencubit pinggang Dea yang selalu kepo.
"Aww..."
Nampak Dea meringis dan tertawa terkekeh melihat temannya yang matanya melotot.
__ADS_1
Risma melengos, padahal dalam hatinya juga berpikir, ada benarnya juga apa yang di ucapakan oleh Dea.
Bersambung...