Suamiku Terjerat Cinta Sahabat

Suamiku Terjerat Cinta Sahabat
Bab: 214 Tiba Di Kampung


__ADS_3

Satu bulan kemudian.


Rian pun beserta sang Ibu pindah ke kampung dengan memulai hidup baru. Ternyata tidak mudah untuk menyesuaikan diri disana, karena selain mereka tidak terbiasa dengan lingkungan kampung yang sepi dan belum bisa beradaptasi dengan lingkungan sekitar, ini membuat sang Ibu dan Rian kesulitan.


Nampak Rian memulai usaha warungnya dengan barang yang dijual belum komplit. Terlihat ada sesosok wanita yang terlihat anggun dan pemalu nampak datang ke warung Rian untuk membeli barang yang dijual di warung tersebut.


"Nak, rumahnya di daerah sini?" tanya Bu Viona kepada wanita tersebut.


Sang wanita tersebut nampak menganggukkan kepalanya dan tersenyum kearah Bu Viona dan kebetulan setelah wanita itu memperkenalkan dirinya, ternyata dia adalah anak dari Pak RT setempat. Bu Viona nampak senang karena dengan dia telah berkenalan dengan wanita tersebut berarti lambat laun dia pun bisa kenal dengan warga sekitar.


______


"Jadi Bu Viona kakaknya Bu Veni?" tanya wanita tersebut.


Bu Veni adalah adik dari Viona yang dulu menempati rumah tersebut. Obrolan pun mengalir seperti sudah lama kenal antara Bu Viona dan wanita tersebut.


"Jadi Neng Ana, asli penduduk sini?" tanya Bu Viona kepada wanita tersebut anak Pak RT yang bernama Ana. Nampak wanita tersebut menganggukkan kepalanya.


Setelah belanja Ana pun nampak pamit dari warung tersebut. Dan terlihat Rian sedari tadi di dalam rumah memperhatikan Ana. Karena Rian sebelumnya sudah bertemu dengan sosok Ana.


•••


"Dia anaknya Pak RT ya, Bu?" tanya Rian menghampiri sang Ibu yang tengah ada di warung.


"Iya, kok kamu tahu, dia anaknya Pak RT?" tanya sang Ibu dihinggapi rasa penasaran.


"Kan, Rian kemarin ke rumah Pak RT, lapor warga baru dan anaknya itu sedang ada disana kemudian menyuguhi minum," ucap Rian tersipu malu.


"Kamu ada acara rapat ya, nanti malam sama Pak RT, karena di kampung kita akan di adakan panggung," tanya sang Ibu.


____


Kebetulan Rian baru sekitar 3 hari berada disana tapi nampak Rian dan sang Ibu mencoba berbaur, meskipun menurut mereka terasa sulit yang notabene terbiasa hidup di kota dengan kemewahan dan kini harus hidup di kampung dengan segala keterbatasan.


Pergi ke pasar pun ketika belanja memenuhi warungnya Bu Viona hanya memakai ojek. Itu pun Tante Dini beserta mantan suaminya menawarkan mobil agar mereka biar leluasa jika bepergian. Namun nampaknya Bu Viona dan Rian nampak menolaknya dengan alasan mau hidup prihatin dan berusaha hidup seadanya.


•••


"Rian semoga kamu betah dan kerasan ya, tinggal disini," ucap sang Ibu kepada sang anak dengan mata yang berkaca-kaca seakan menahan air mata yang akan tertumpah.

__ADS_1


Sang Ibu sambil menatap sawah yang terbentang di depan rumah tersebut dan pinggiran rumahnya ada kolam ikan milik sang adik. Terlihat sang Ibu seperti meratapi sifatnya yang dulu sangat tidak terpuji. Bu Viona seakan menyesali itu semua, dia pun berandai-andai kalau saja dahulu dia tidak teledor dalam menggunakan uang dan selalu bijak sikap dan perilakunya mungkin semua tidak akan seperti ini jadinya. Sang Ibu menghela napas panjang dan ini membuat hati Rian seakan dihinggapi rasa khawatir.


•••


"Bu, sudahlah yang lalu biarlah berlalu. Rian lihat Ibu belum ikhlas dengan keadaan kita sekarang ini," ucap Rian mengelus pundak sang Ibu.


"Bukan tidak ikhlas Nak, Ibu cuma selalu berpikir apakah semua kesalahan Ibu akan di ampuni sama yang di atas, perbuatan Ibu sungguh tidak terpuji apalagi sama mantan istri kamu, Lia!' ucap sang Ibu.


Memang tidak bisa di pungkiri sifat dari Bu Viona kepada Lia sangatlah jahat selama Lia menjadi menantu, Lia tidak pernah dilayani


dengan baik oleh sang ibu mertua.


Dendam Bu Viona kepada Ibunya Lia seakan dilimpahkan kepada sang anak. Padahal Lia selama menjadi menantu, sangatlah patuh dan hormat dan selalu menghargai sang Ibu mertua.


"Bu, Lia sudah memaafkan Ibu, cobalah Ibu menenangkan diri pergi sama Ibu-ibu disini belajar agama biar hati Ibu tenang," ucap Rian memeluk sang Ibu seakan menenangkan hatinya yang sedang gundah gulana.


"Alhamdulillah, aku diberikan anak yang selalu menenangkan hati," gumam hati sang Ibu.


Nampak Rian sudah di titik dimana dia ikhlas dengan semua yang telah berlalu dan dia yang terpuruk saat ini.


______


"Bu, ada yang ketinggalan barang beliannya," ucap Ana yang tiba-tiba datang menghampiri kembali ke warung Bu Viona dengan berdehem karena nampak Ana melihat Rian tengah menekuk Ibunya.


Terlihat tidak sengaja kedua bola mata Ana dan Rian saling berpandangan, dan Rian pun dengan cepat menundukkan kepalanya. Dalam hati Rian berpikir dia tidak boleh terlalu dalam untuk mengenal sosok wanita karena takut ada kegagalan lagi disana.


Beda dengan Ana yang terlihat seorang gadis desa yang tersipu malu ketika beradu pandang dengan lelaki kota dan ganteng seperti Rian. Mungkin karena Ana gadis desa yang polos dan baru melihat lelaki kota jadi dia terlihat seperti dihinggapi rasa malu yang menghinggapi.


_____


"Oh, Iya Bu, kata Bapak, nanti sore Mas Rian jangan lupa datang untuk acara rapat," ucap Ana tertunduk malu.


"Iya, pasti Ibu akan suruh dia datang nanti ke rumah Pak RT," ucap Bu Viona.


Setelah Ana mengambil barang yang ketinggalan, dia pun kemudian berlalu pamit pulang kembali.


•••


Bu Viona pun merasakan gelagat dari Ana yang terlihat malu ketika menatap sang anak dan nampak Bu Viona menggoda Rian.

__ADS_1


"Ana, anaknya Pak RT jangan-jangan dia suka sama kamu," sang Ibu tertawa terkekeh.


"Apa sih, Bu, ada-ada saja kalau ngomong," jawab Rian mendelik dengan cepat dia pun memasuki rumah.


______


Sore pun tiba.


Nampak Rian berpakaian rapih untuk pergi ke rumah Pak RT karena akan di adakan rapat. Tatkala Rian datang sontak para wanita lajang pandangan matanya tertuju ke arah Rian.


Rian lelaki yang nampak masih terlihat ketampanannya walau pun dengan baju yang dia pakai cukup sederhana.


Ana pun nampak tersipu malu tatkala Rian datang. Ana tatkala menyuguhkan minuman ke hadapan Rian entah mengapa dadanya bergemuruh seakan ada getar asmara. Beda dengan Rian yang terlihat biasa saja tidak ada rasa malu atau grogi ketika berhadapan dengan Ana yang sedang menyuguhkan minuman.


"Mas, silahkan di minum kopinya, mumpung masih hangat," ucapnya dengan tersenyum dan pandangan menunduk.


•••


Ana yang berkulit putih bersih karena dihinggapi rasa grogi dan malu nampak mukanya merah merona dan terlihat salah tingkah. Dan tanpa Ana sadari ternyata sang Ibu tengah memperhatikannya, dan sang Ibu terlihat menahan tawa tatkala melihat tingkah laku sang anak


"Ada apa, Bu," bisik sang suami kepada sang istri yang terlihat senyum sendiri.


"Anakmu Pak, dia sepertinya tersipu malu dengan Mas Rian, tetangga baru kita," jawab sang Ibu.


Sang suami pun nampak memperhatikan sang anak yang tengah memberikan suguhan minuman kepada Rian, sang Bapak pun nampak tersenyum.


_____


Arghhhh...


"Kenapa dengan aku ini, seperti ada getaran aneh di dalam dada setelah sekian lama aku tidak mengenal sesosok lelaki," gumam hati Ana. Dengan cepat Ana pun berlalu dari hadapan Rian.


Sementara teman-teman Ana yang tengah mengikuti jalannya rapat pun nampak memperhatikan Ana yang terlihat mukanya merah merona. Dan teman-teman dari Ana pun seakan menggodanya.


"Dia seorang duda loh, kamu deketin saja," sindir sang teman.


Ana hanya diam dan dia pura-pura tidak mendengar apa yang sedang teman-teman bicarakan mengenai sosok Rian.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2