Suamiku Terjerat Cinta Sahabat

Suamiku Terjerat Cinta Sahabat
Bab: 117 Rasa bersalah Papa Yosi


__ADS_3

Cantika berdiri mematung di depan pintu saat melihat Tante Dini mukanya pucat pasi. Dia pun seakan berpikir penyakit apakah yang di derita Tante Dini karena nampak terlihat badannya kurus dan raut wajah sayu seakan tidak bergairah.


"Cantika, ayo, masuk di temani Om," bisik Adrian kepada Cantika yang tengah terdiam seakan tidak bisa berucap apapun dan pandangannya hanya menatap lekat ke arah Tante Dini.


Cantika kembali teringat masa lalu dengan sosok Tante Dini yang ceria dan selalu memanjakan dirinya, dan Cantika tidak mendapatkan kasih sayang dari sosok kedua Neneknya. Tapi kasih sayang Tante Dini begitu dia rasakan sangat tulus meskipun dia adalah istri kedua Kakeknya.


_______


"Sayang, ayo, peluk Tante Dini nya, katanya tadi bilang sama Kakek ingin bertemu dengan Tante Dini," ucap Papanya Adrian.


Nampak Tante Dini matanya berkaca-kaca tatkala melihat perubahan dari wajah Cantika yang seakan ketakutan melihat dirinya.


Papa Yosi kemudian menyeret kakinya kehadapan sang istri mudanya itu lalu dia menyisir rambutnya yang terlihat berantakan.


"Mah, udah minum obat belum?" tanya Papa Yosi tersenyum. Dan Tante Dini nampak menggelengkan kepalanya.


"Mbak, ambilkan air hangat, Ibu mau minum obat," teriak Papa Yosi.


_______


Sementara Cantika dan Adrian masih mematung di depan pintu. Namun tanpa disangka Cantika langsung berlalu ke dapur untuk mengambilkan air hangat.


"Sayang, kamu mau kemana!?" tanya Adrian mencoba menggapai tangan Cantika yang melepaskan genggaman tangannya.


"Mau ambilkan minum buat Tante Dini," jawabnya. Adrian menghela napas dan dalam hatinya berkata, begitu tulus dan mulya hati anak kekasihnya itu.


•••


Degh...


Tante Dini seakan mengingat masa lalu saat berada di Singapura. Ketika itu Cantika rewel dan Lia memarahinya karena posisi saat itu Lia sedang banyak pikiran mengingat perselingkuhannya dengan Desy.


Pagi itu Cantika ingin dibuatkan susu di kamar Hotel tapi Lia hanya termangu memikirkan Rian sang suami dan Tante Dini lah yang dengan sigap membuatkan susu untuk Cantika.


•••


"Anak itu pintar ya, Pah, dulu dia ingin dibuatkan susu tapi Mamanya lagi kesal dengan anakmu, dan pikirannya sedang kacau tapi aku saat itu yang buatkan dia susu. Nah, sekarang giliran aku yang di ambilkan minum oleh anak itu," ucap Tante Dini teringat masa lalu dan air mata yang berkaca-kaca di bola matanya pun akhirnya menetes saat dia mengedipkan matanya.


Degh...


Papa Yosi nampak terkejut dengan ingatan sang istri yang teringat masa lalunya dan ini menjadi kegembiraan yang luar biasa di hati sang suami karena selama mengalami sakit sang istri tidak bisa mengingat apa-apa lagi.


"Sayang, kamu ingat semuanya?" ucap sang suami matanya berkaca-kaca.


_______


Cantika pun datang dengan membawa minum air hangat dan menyimpannya di meja dekat pintu. Nampak disana ada kursi panjang dan Cantika pun duduk berdekatan dengan Adrian.

__ADS_1


Cantika masih tidak berani menghampiri Tante Dini. Entah mengapa rasa takut masih menghinggapi diri dan perasaannya.


"Sayang, liontin yang Tante kasih sama kamu masih kamu pakai ya, kamu cantik sekali memakai liontin itu," Tante Dini seakan menyelidiki setiap inci bagian tubuh Cantika apa yang tengah dipakainya.


Perlahan Cantika pun tersenyum ke arah Tante Dini dan Papa Yosi pun seakan tidak mau memaksa agar Cantika menghampiri Tante Dini yang masih belum 100% pulih.


Cantika hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum tipis ke arah Tante Dini dan Papa Yosi pun berjalan untuk mengambil air hangat yang baru saja di ambilkan oleh Cantika dari dapur.


______


"Terima kasih ya, anak cantik!" ucap sang Kakek sambil mencubit lembut pipi Cantika yang nampak berisi.


"Cantika, samperin Tantenya dan peluk," bisik Adrian kepada Cantika.


Tangan Cantika masih menggenggam erat tangan Adrian seakan tidak mau dilepaskan. Cantika pun menatap mata Adrian seakan ingin di temani untuk menghampiri Tante Dini yang masih tetap fokus pandangannya ke arah anak itu.


Cantika pun menuruti kemauan Adrian yang menyuruh dia untuk memeluk Tante Dini dengan di ikuti olehnya.


"Tante, sakit apa? maafkan Cantika yang baru bisa menengok Tante kesini," ucap Cantika memberanikan diri untuk memeluk Tante Dini.


Tante Dini tampak menangis tersedu saat Cantika menanyakan sakit apa yang diderita olehnya mungkin karena melihat dia badannya kurus dan mukanya sudah tidak segar lagi seperti dulu.


"Tante kenapa nangis? Apa yang terasa sakit!?" Cantika memegang wajah Tante Dini dan menghapus air matanya yang bercucuran di hamparan pipinya.


Semakin menjadi tangisan, dari Tante Dini saat Cantika menatap lekat kearah bola matanya dan menanyakan apa yang sakit.


_______


Cantika dibawa keluar oleh Adrian sementara Tante Dini setelah diberikan obat, dia kembali dibaringkan istirahat oleh Papa Yosi.


"Mah, istirahat dulu tidur ya," ucap Papa Yosi.


"Aku ingin jalan-jalan lagi bersama Lia dan Cantika Pah," ucapnya seakan berharap penuh.


"Sabar Mah, nanti kalau keadaan badanmu sudah sehat baru Mama kembali jalan-jalan lagi ya," bujuk sang suami.


"Lelaki yang barusan siapa Pah, yang bersama Cantika?" tanya Tante Dini.


"Dia kan calonnya Lia dan sebentar lagi Lia akan menikah," ucap Papa Yosi.


"Lia, mau menikah!" terlihat Tante Dini pikirannya berselancar jauh tatkala itu Lia bercerita kepadanya tentang pengkhianatan yang dilakukan oleh Rian anak dari suaminya.


"Rian,,,,Desy!!" ucapnya dengan sorot mata tajam seakan mengingat kembali sosok dua orang yang mengkhianati Lia.


"Rian dan Desy kecelakaan, Mah," ucap sang suami.


"Kecelakaan!!" mata Tante Dini melotot menatap sang suami lalu dia memejamkan matanya dan tertawa lebar.

__ADS_1


"Aku puas, aku puas dengarnya! Meskipun itu anak kamu Pah, karena dia telah menyakiti hati Lia," ucapnya.


"Iya, mereka mengalami kecelakaan dan juga Viona dia tangannya retak!" sambung kembali Papa Yosi.


"Hahaha...!!" nampak Tante Dini tertawa terbahak. Bagaimana perihnya hati Lia ketika dulu saat hati dan perasaannya selalu disakiti oleh Viona.


"Kamu senang Viona kecelakaan!?" tanya Papa yosi.


"Ya, aku senang itu karma bagi mereka yang telah menyakiti hati Lia," ucapnya kembali.


______


Papa Yosi terdiam dan nampak matanya berkaca-kaca dia meremas rambutnya secara kasar dia pun seakan merasakan penderitaan Lia dulu ketika disakiti oleh Viona


"Aku ingin bertemu dengan Lia Pah, aku ingin minta maaf," ucapnya dengan menggerakkan tubuh sang suami


"Ya, nanti Mah, tunggu kondisi badanmu sehat ya, kamu tidak salah sama Lia. Mungkin karena sekarang tidak ada hubungan apa-apa lagi karena Rian anakku sudah cerai jadi kedekatan kamu dengan Lia jauh." Papa Yosi mencoba menerangkan semua.


_____


Tante Dini kemudian menarik selimut dan menutup penuh badannya, nampak di dalam selimut tersebut dia memejamkan matanya.


Beberapa menit kemudian terdengar suara lelapnya Tante Dini tertidur.


Papa Yosi menghela napas panjang dan menarik selimut sang istri hingga ke leher nampak sang istri tertidur lelap dan mukanya terlihat pucat. Berlinang air mata seketika.


"Aku yang salah atas semua ini, aku yang dulu memaksa dia agar mau dinikahi karena aku tidak nyaman dengan Viona, aku merasa nyaman dengan kelembutan dia sementara Viona cerewet dan banyak mengatur jadi aku abaikan Viona demi Dini. Maafkan aku Sayang," ucap Papa Yosi membelai rambut Tante Dini dengan lembut.


_______


Adrian pun bersama Cantika pamit pulang.


"Pah, kita pakai Taksi saja, Papa lebih baik jaga Tante Dini yang terlihat belum stabil keadaannya," ucap Adrian.


Papa Yosi terlihat berat hati untuk melepas Cantika, inginnya dia bermesraan dan meluapkan rasa rindu kepada sang cucu.


Tapi apa daya semua seakan ada keterbatasan.


"Ya, sudah kalau begitu, kasihan Lia menunggu," ucap Papa Yosi.


Dia pun memberikan uang lembaran warna merah kepada Cantika.


"Makasih Kakek," ucap Cantika mencium pipi Papa Yosi.


Adrian dan Cantika pun masuk ke dalam Taksi setelah mobil tersebut sudah menunggu di halaman rumah. Setelah berada di dalam mobil nampak Cantika melambaikan tangannya kepada Papa Yosi dan nampak Papa Yosi menghela napas secara perlahan dengan kepergian sang cucu.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2