
Beberapa bulan kemudian.
Surat perceraian Desy untuk menggugat Rian di layangkan oleh Papanya Desy melalui pengacaranya. Dan Desy seakan hancur lebur berkeping-keping hati dan perasaannya.
Hari-hari yang dia lalui terlihat murung tidak karuan. Hidup pun seakan tidak ada artinya lagi. Kerjaannya hanya melamun.
"Des, kamu lebih baik kerja lagi ke proyek bersama Papa, ikut." ucap sang Mama secara perlahan.
Desy nampak kusut pikirannya melayang jauh tidak karuan, dia hanya tersenyum sendiri dan terkadang meremas rambutnya dengan kasar.
Hal ini mengakibatkan rasa khawatir dalam diri sang Mama. Dan sang Mama dihantui rasa takut jika anaknya tersebut menjadi gila.
______
"Des,,,!" sang Mama menepuk pundak Desy. Dan nampak Desy terkesiap dengan pandangan yang kosong
"Des, kamu tidak apa-apa kan?" sang Mama kembali berucap. Sang Mama terlihat dihinggapi rasa khawatir dan sedih.
"Des, kamu baik-baik saja kan," sang Mama jantungnya berasa berdetak lebih kencang tidak karuan dengan melihat muka Desy pucat pasi dan mulut yang melongo.
"Kamu tidak setuju kan kalau aku bersatu dengan lelaki sahabatku sendiri. Hehehe,,," ucap Desy sambil tertawa terkekeh.
"Des, nyebut Des, kamu kenapa!?" sang Mama sontak terkejut tatkala sang anak seakan pikirannya linglung.
Sang Mama menangis tersedu dan Desy masih dengan pandangan kosong dan kembali tertawa terkekeh.
"Tidak, tidak mungkin anakku gila. Pah, Pah,,,!!" teriak histeris Mamanya Desy tatkala memanggil sang suami.
_______
Sang Papa tiba-tiba datang menghampiri dengan nampak dihinggapi rasa khawatir karena teriakan sang istri.
"Ada apa Mah!" ucap sang suami yang kini tepat berada di hadapan sang istri.
"Lihat, lihat anak kita Pah!" ucap sang istri dengan telunjuk jari tangannya mengarah kepada sang anak yang sedang melamun dan tertawa terkekeh.
Sang Papa nampak mengernyitkan dahi dan nampak muka sang Papa terlihat dihinggapi rasa khawatir dengan kondisi keadaan sang anak karena badannya tidak segar, muka kusut dan tertawa sendiri.
"Anak kita stres Pah, tidak Pah, Mama tidak mau Desy menjadi begini. Dan ini semua kesalahan Papa!" bentak sang istri seakan menyalahkan suami karena yang memisahkan anaknya dan Rian adalah sang suami.
"Tidak, dia tidak stres Mah, mungkin kurang tidur dan perlu istirahat. Dia lelah" jawab sang Papa. Dia pun seakan tidak rela jika sang anak mengalami stres atau tekanan batin.
______
"Kamu puas! Puas pisahkan aku dengan lelaki sahabatku itu. Hahaha..." Desy tertawa lebar.
__ADS_1
Tangan sang Mama menggenggam jemari tangan sang suami. Dia seakan tidak rela jika sang anak mengalami depresi.
"Aku takut anakku kena depresi Pah, aku takut dia gila," ucap sang Mama dengan berlinang air mata.
"Des,,," ucap sang Papa dengan membelai rambut Desy yang terurai berantakan.
Desy dengan cepat melepaskan tangan sang Papa dan dia melotot ke arahnya.
"Diam, diam kamu!" bentak Desy dengan mata yang memerah.
"Des, nyebut Des, kamu tidak boleh sakit. Ada Mama disini yang sayang sana kamu," sang Mama terlihat tersedu menangis.
"Des, maafkan Papa, kita makan dulu yu, dari kemarin belum di isi perutnya jadi kalau perut kosong pikiran pun melayang tidak karuan," sang Papa berusaha bersikap lembut kepada sang anak.
๐ถ๐ถ๐ถ๐ถ๐ถ๐ถ
Bila cinta tak lagi untukku
Bila hati tak lagi padaku
Mengapa harus
Dia yang merebut
๐ถ๐ถ๐ถ๐ถ๐ถ๐ถ
_______
"Pah, kita bawa ke psikiater Pah, kita harus segera obati Desy," sang Mama dihinggapi rasa takut yang mencekam tatkala melihat perubahan drastis sifat dan gestur tubuh sang anak yang sangat mencurigakan.
Sang Papa terlihat nampak masih belum percaya dengan apa yang terjadi dan sang Papa pun nampak menitikkan air mata terlihat ada rasa menyesal dan kecewa dari raut wajahnya.
"Nak, maafkan Papa," lirih sang Papa dengan air mata yang menetes di ujung matanya.
"Aku salah, ya, aku salah sudah merebut suami orang, hehehe,," Desy kembali tertawa cengengesan dengan meremas rambutnya yang terlihat rontok berjatuhan.
"Pah, dia terkena depresi karena terlihat Desy merasa bersalah dan tidak berdaya juga cenderung mudah marah. Semalam dia melempar vas bunga ke cermin kaca rias. Papa dengar kan, bunyi suara semalam," ucap sang Mama dengan air mata yang begitu deras mengalir.
Sang Papa hanya terdiam dia pun tidak menyangka dengan kejadian semalam karena dia berpikir semalam ada barang yang terjatuh ternyata Desy yang melempar vas bunga ke cermin kaca rias.
"Ayo, Pah, tunggu apa lagi kita harus bawa dia ke Dokter spesialis kejiwaan karena Mama yakin Desy mengalami gangguan mental," ucap sang Mama.
"Des, ayo kita ke pergi ke Dokter biar kamu sehat tapi mandi dulu ya, biar bersih karena sudah seminggu ini kami tidak mandi," bujuk sang Mama.
Desy hanya melotot menatap sang Mama. dari raut mukanya seakan ada rasa kesal, amarah, kecewa, dan sedih campur aduk menjadi satu.
__ADS_1
"Ayo, Nak," sang Mama memegang lembut pipi Desy namun dengan spontan Desy menepisnya.
_______
Desy terlihat malah berlalu dari hadapan sang orang tua sambil kembali bersenandung lagu sedih dan nampak setelah itu dia tertawa terbahak.
BRUK...
Suara pintu kamar pun nampak di tutup secara kasar oleh Desy. Terdengar di dalam kamar suara Desy tertawa terbahak begitu jelas terdengar.
Sang Mama terlihat merinding tatkala melihat kelakuan Desy dan suara tawa dari sang anak.
"Pah, bawa anak kita ke Dokter, cepat Pah, sebelum semuanya terlambat," sang Ibu terlihat dihinggapi rasa panik dan marah kepada sang suami. Sang Mama pun menyeret langkah kakinya menuju kamar.
_______
Tok ...
Tok ...
Tok ...
"Des, Des, buka Des,,,,!" sang Mama mengetuk pintu beberapa kali.
"Des, buka. Ayo, kita ke Dokter Des," ucap sang Mama sambil memaksa gagang pintu agar segera terbuka. Namun semua sia-sia saja nampak Desy tidak membuka pintu tersebut yang ada suara tawa Desy yang semakin menjadi di dalam kamar.
BRUG...
Suara gaduh terdengar di dalam kamar entah apa yang terjadi di dalam kamar tersebut. Spontan sang Papa menghampiri ke arah pintu kamar dan menggedor pintu kamar sang anak.
"Buka, buka Des!" sang Papa nampak dihinggapi rasa khawatir.
____
Dengan sekuat tenaga sang Papa pun mendobrak pintu kamar dan betapa terkejut karena kaca jendela kamar telah hancur berantakan. Nampak terlihat Desy pun sedang mengacak-acak baju di dalam lemari.
Dengan sigap sang Ibu mencoba menenangkan hati anaknya tersebut dia memeluk erat tubuh Desy dan apalah daya badan sang Ibu terlihat tidak bisa menopang itu semua dan sang ibu terhempas oleh tenaga Desy yang kian menjadi.
"Keluar kalian!" Desy berteriak sambil tertawa terkekeh. Sorot mata Desy begitu tajam dan berwarna merah menyala.
Bersambung...
Terima kasih yang sudah setia membaca karya-karya Novel-ku.
Baca juga karya Novel terbaruku.
__ADS_1
"Terjebak Cinta Tetangga" ๐โ๏ธโฅ๏ธ๐น