Suamiku Terjerat Cinta Sahabat

Suamiku Terjerat Cinta Sahabat
Bab: 45 Rasa Kesal


__ADS_3

Nampak Lia dan Rian merasa bingung karena sang anak mengajak jalan-jalan kepada Mama dan Papanya, sedangkan mereka sedang berselisih paham. Entah apa yang harus di ucapkan kepada sang anak agar dia mengerti dengan apa yang akan di ucapkan oleh Lia.


Lia nampak menghela napas secara perlahan dan coba mengatur napasnya yang terasa dihinggapi rasa kesal yang memuncak kepada sang suami.


"Sayang, jalan-jalannya sama Mama saja ya, berdua. Soalnya Papa siang mau ada acara rapat di kantor," ucapnya mencoba membujuk sang anak agar mau jalan-jalan berdua saja tanpa ditemani oleh Rian.


"Sekarang hari libur, masa Papa ada rapat," ucap sang anak menatap lekat sang Mama.


Sang anak pun nampak cemberut karena dia sudah membayangkan jalan-jalan bersama kedua orang tuanya ke Mall, makan bersama di Restoran lalu menonton Bioskop.


"Mama sebelum ke Singapura kan waktu itu sudah janji, mau bawa Cantika pergi ke Bioskop bersama Papa bertiga, dan Mama pernah bilang sama Cantika. Jangan berbohong karena kalau berbohong itu dosa. Nah, sekarang Mama jangan bohongin Cantika untuk tidak pergi ke Bioskop!" rengek sang anak kembali, dia seakan ingin pergi ke Bioskop bersama Mama dan Papanya.


_____


Cantika pun terus-menerus merengek yang mengakibatkan Lia menjadi kesal, entah mengapa ketika kedua orang tuanya dirundung masalah sang anak menjadi rewel dan menggoda kedua orang tuanya.


Hal tersebut kini terjadi kepada Lia yang menghadapi Cantika, Lia pun seakan geram dibuatnya.


"Diam,,,! Jangan merengek terus, kamu biasanya enggak gini. Kenapa sih!?" tanya Lia matanya melotot, Lia pun tidak sadar dengan berucap seperti itu kepada sang anak. Mungkin karena kesal kepada Rian jadi dia limpahkan kepada sang anak.


Sontak Rian pun melotot pandangan matanya kearah Lia, karena dia seakan tidak rela jika sang anak di marahi oleh Lia.


•••


Cantika pun memeluk erat Rian, dia menangis sesunggukkan. Sang anak terlihat sangat, dia ingin di perhatikan oleh kedua orang tuanya saat itu.


"Sudah Sayang, kita berdua pergi ke Bioskop nya ya," ucapnya dengan mata mendelik ke arah Lia.


"Cantika enggak mau sama Mama, perginya. Mama jahat!" pintanya. Yang mengakibatkan Lia semakin kesal dengan tingkah laku sang anak. Lia biasanya lembut terhadap anaknya tidak pernah berlaku kasar dan baru kali ini Lia matanya melotot ke arah sang anak, hal ini mengakibatkan rasa takut dalam diri Cantika.


"Jahat!.Jahat, kenapa? Kalau Mama jahat berarti Mama memukul Cantika, ini kan Mama enggak memukul Cantika, cuman Mama inginnya Cantika sabar jangan merengek-rengek," ucap kembali Lia mencoba menenangkan hati sang anak.


Lia pun nampak mengelus dada karena dia merasa bersalah Kenapa nada bicaranya barusan meninggi kepada sang anak.


"Ya sudah, ayo, kita nonton sekarang sama Papa," ajak Rian kepada sang anak.


Sontak Lia terkejut karena Rian mengajak anaknya untuk pergi nonton Bioskop, sementara urusannya dengan dia belum selesai.

__ADS_1


"Maksud kamu apa!? Membawa Cantika nonton Bioskop, sedangkan urusan kita belum beres," ucap Lia secara perlahan karena takut didengar oleh sang anak.


"Nanti aku sore kesini lagi, percuma sekarang dibahas juga, orang tua kamu dan Tante Restu tidak ada kan!?" Rian terlihat dihinggapi rasa kesal.


_____


Cantika bersembunyi di belakang badan Rian, dia seakan minta perlindungan. Entah kenapa Lia pagi itu terlihat dihinggapi rasa amarah. Mungkin kekesalan dia terhadap sang suami selama ini dia pendam, dan sekarang dia luapkan semuanya. Jadi seakan kalap menumpahkan isi hatinya tersebut.


Terlihat dari gestur tubuh Lia, napasnya menderu, kedua tangannya mengepal, dan sorot matanya sangat tajam.


_____


"Aku kembali datang sore kesini!" ucap Rian berlalu di ikuti oleh Cantika yang memegang erat tubuh Rian.


Rian pun dan Cantika memasuki ke dalam mobil, setelah itu mobil pun berlalu dari hadapan Lia.


Sementara pandangan Lia tetap lekat ke arah mobil Rian dengan deru napasnya seakan memburu. Nampak di dalam mobil nampak terlihat sang anak tertunduk, pandangannya tidak berani menatap sang Mama.


•••


Ketika mobil berlalu dari hadapannya, Lia pun nampak terkesiap.


Matanya berkaca-kaca menyesali dirinya sendiri. Mengapa barusan dia membiarkan Rian untuk membawa sang anak ke Bioskop, Lia takut Cantika setelah dibawa ke Bioskop oleh Rian lalu dibawa ke rumahnya Rian dan bertemu dengan Ibu Viona.


Lia tahu ibu Viona selalu memberikan hal buruk kepada anaknya dengan cara menjelekkan dia, jadi anaknya takut terpengaruh.


Lia nampak melamun, dia pun mencoba menghempaskan pikiran yang negatif karena dia percaya anaknya pintar dan bisa mencerna mana yang baik, dan mana yang tidak baik. Mungkin Cantika barusan hanya dihinggapi rasa kaget saja karena selama ini dia tidak pernah memarahi sang anak dengan mata yang melotot.


_____


Lia memberikan pesan kepada Rian di aplikasi WhatsApp nya.


{"Tolong, setelah beres acara dengan anak, jangan bawa Cantika ke rumah kamu!"}.


ancam Lia.


{"Karena urusan kita pun belum selesai,"} kembali Lia memberikan sebuah pesan yang membuat hati Rian seakan semakin di atur oleh Lia.

__ADS_1


____


Setengah jam kemudian.


Tiba-tiba suara mobil sedan berwarna silver memasuki garasi halaman rumah. Nampak orang tua Lia, dan juga Tante Restu datang.


Lia pun dengan cepat mengusap air matanya yang bercucuran, dan Lia pun terlihat mengelus dada.


"Cantika,,,mana Cantika!?" sang Ibu menatap tajam mata Lia. Ibu Sinta membawa beberapa makanan untuk sang Cucu.


"Cantika kemana," Tante Restu mengusap lembut pundak sang keponakan.


"Di,,, dia pergi, dengan Rian!" jawabnya terbata-bata dengan gestur tubuh yang dihinggapi rasa terkejut.


"Rian...!!" Ibu Sinta dihinggapi rasa heran ketika sang anak mengatakan bahwa cucunya dibawa oleh Rian.


"Iya, dibawa Rian. Tadi dia merengek minta pergi ke Bioskop, tapi enggak sabaran dan akhirnya Rian membawanya pergi," ucapnya dengan pandagan menunduk.


"Kenapa kamu ijinkan anakmu pergi dengan Rian? Lia, kenapa kamu enggak melarangnya!" ucap sang Ibu terlihat dihinggapi rasa khawatir dan kesal.


Ibu Sinta pun seakan takut jika sang Cucu dibawa ke rumahnya Viona, atau Ibunya Rian.


"Rian itu Papanya, beri ruang untuk Cantika sebentar saja, tidak mungkin juga Cantika di culik oleh Papanya sendiri, nanti juga sore pulang, dan kalaupun menginap di rumah Rian enggak apa-apa juga," Tante Restu mencoba menenangkan suasana yang sedang berseteru antara sang keponakan dan Kakaknya tersebut.


"Iya, nanti juga pasti kembali kesini," sambung Bapaknya Lia.


_____


Mereka pun berlalu memasuki rumah dan duduk di kursi sofa.


"Lia, bagaimana dengan kamu dan Rian. Apa kamu sudah bicara dengan Rian tentang niat kamu untuk bercerai dengan Rian!?" tanya sang Ibu.


Lia hanya mengganggukan kepalanya, hati dan pikirannya seakan teringat Cantika, dan Lia pun seakan dihinggapi rasa menyesal karena memikirkan sang anak yang baru saja, dia bentak menjadikan sang anak dihinggapi rasa takut terhadap sang Ibu.


"Kita tunggu saja besok, kalau sampai Rian gak datang kita ke rumahnya saja, sekalian Lia ambil baju kamu dan barang kamu yang ada di rumah Rian," ucap sang Bapak.


"Enak saja kita yang harus ke sana, di mana-mana juga pihak laki-laki yang harus menemui pihak wanita. Apalagi si Rian yang sudah berani berselingkuh, jelas-jelas dia salah." hardik Bu Sinta.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2