
"Na, Bapak kamu jatuh!" tiba-tiba sang tetangga datang menghampiri ke arah warung tatkala Ana sedang duduk di warung, setelah menatapi kepergian Cantika yang sudah berlalu jauh arah mobilnya.
DEGH...
Sontak Ana terperanjat mendengar kabar tersebut dan nampak dia mukanya berubah pucat pasi seperti dihinggapi rasa khawatir.
"Jatuh dimana Teh," jawab Ana yang terlihat akan beranjak pergi dari warung Rian.
"Di kamar mandi tadi pas selesai mandi, ayo, cepat kita ke rumah," ucap sang tetangga dengan menggandeng tangan Ana yang nampak terlihat dihinggapi rasa khawatir yang teramat tatkala mendengar kabar sang Bapak jatuh di kamar mandi.
"Nanti Ibu nyusul kesana," ucap Bu Viona dan dengan cepat sang Ibu berjalan ke dalam rumah untuk memberi tahu kabar tersebut kepada Rian yang baru saja memasuki rumah.
_____
"Rian, Rian, Pak RT jatuh di kamar mandi barusan," teriak sang Ibu dengan menyeret langkah kakinya ke dalam rumah.
Tiba-tiba Rian dengan membawa secangkir teh hangat dan menatap lekat ke arah sang Ibu seperti dihinggapi rasa penasaran karena teriakan sang Ibu barusan tidak jelas di dengar oleh kuping Rian.
"Ada apa Bu!?" tanya Rian kepada sang Ibu.
"Pak RT jatuh di kamar mandi barusan. Tetangga kesini kasih kabar ke Ana. Itu Ana nya baru saja pulang," jawab sang Ibu.
"Ayo, kita lihat kesana Bu," ucap Rian terlihat kaget mendengar kabar tersebut.
Kemudian Rian menutup warungnya dan setelah itu mereka pergi ke rumah Pak RT untuk melihat kondisi keadaannya.
________
"Gimana Bapak sudah baikan?" tanya Bu Viona kepada Ana ketika baru saja tiba di rumah Pak RT.
"Kakinya agak sakit katanya tapi lagi panggil tukang urut," jawab Ana.
Terlihat Pak RT meringis menahan rasa sakit dan Rian pun seakan tidak bisa melakukan apa-apa, dia hanya menyabarkan hati Bapaknya Ana yang sedang menahan rasa sakit dan membalur kakinya yang dibuat oleh Ibunya Ana.
Ana terlihat sedang memperhatikan Rian yang tengah membalur kaki Bapaknya. Dalam hati Ana berpikir Rian begitu ikhlas dan telaten ketika membalur ramuan ke kaki Bapaknya tersebut.
__ADS_1
"Terima kasih Nak," ucap Pak RT menepuk pundak Rian.
Pak RT di baringkan tidur di kursi sofa oleh Rian agar kakinya beristirahat sejenak tidak kaku sambil menunggu kedatangan tukang urut datang.
_____
Setelah semua terlihat baik-baik saja dan tukang urut pun datang kemudian Rian beserta sang Ibu pamit pulang.
Nampak terlihat di halaman rumah ketika Rian pamit pulang ada mobil sedan berwarna putih nampak memasuki halaman rumah Pak RT dan terlihat sosok lelaki turun di dalam mobil tersebut terlihat dari penampilannya dia seperti orang berada.
Ketika Rian berpapasan dengan lelaki tersebut nampak Rian tersenyum dan lelaki itu pun nampak membalas senyuman ramah dari Rian.
___
"Siapa lelaki itu rasanya Ibu semenjak tinggal di kampung ini baru lihat sosok lelaki itu," bisik sang Ibu kepada Rian sambil menyeret langkah kakinya keluar halaman dari rumah Pak RT. Terlihat oleh ekor mata Bu Viona ketika tamu tersebut datang Ana menundukkan kepalanya dan memanggil sang Ibu.
"Jangan kepo Bu!" bisik Rian.
Sang Ibu pun ketika berjalan menuju rumahnya seperti berpikir terus tentang lelaki yang baru saja datang ke rumah Pak RT dan seperti menebak-nebak.
"Bu, jangan selalu mikirin yang tidak jelas dan bukan urusan Ibu," ejek Rian tatkala melihat sang Ibu terlihat seperti sedang berpikir keras dan nampak sang Ibu tersipu malu dengan sindiran sang anak.
______
Tiba di rumah.
Sang Ibu pun bersama Rian duduk di teras setelah membuka kembali warungnya yang barusan sempat tutup itu. Kemudian sang Ibu menceritakan tentang sang cucu, dan dirinya yang masih dihinggapi rasa rindu tapi dengan cepat dia pulang ke Kota.
"Bu, Cantika kan sekolah jadi dia mesti pulang. Nanti deh, kalau dia libur sekolah panjang pasti dia kembali kesini lagi dan lama tinggal disini temani Ibu. Kita nanti jalan-jalan," ucap Rian mencoba menjelaskan kepada sang Ibu.
"Semoga saja nanti di antar kan sama Desy, " ucap sang Ibu tersenyum tipis.
_____
Sontak Rian melirik kepada sang Ibu yang terlihat raut muka sang Ibu seakan berharap jika Desy nanti yang mengantarkan Cantika kembali datang ke rumahnya. Sementara Rian seperti biasa jika di singgung masalah wanita dia seperti cuek seperti enggan menanggapi.
__ADS_1
"Rian, usia kamu semakin bertambah. Apa kamu tidak ingin lagi menikah," ucap sang Ibu terlihat begitu berhati-hati ketika berucap takut menyinggung perasaan sang anak karena sudah sering sang Ibu bertanya hal seperti itu.
Bu Viona sudah tua mungkin ingin melihat kembali sang anak hidup bahagia dengan ada yang mengurus seorang istri. Dan Bu Viona pun seakan ingat dari obrolan dia bersama mantan suaminya ketika minggu lalu bahwa Papanya Rian akan memberi modal kepada Rian jadi warungnya akan di perbesar dan kebetulan lahan ada yang kosong.
"Kata Papa kamu warung ini akan di perbesar jadi barang dagangan kita komplit otomatis yang beli tidak perlu jauh ke mini market nanti mungkin kesini. Ini akan di jadikan grosir dan nanti ada yang kerja karyawan. Nah, jadi Rian kamu tidak perlu khawatir dengan masalah kamu tentang keuangan. Pasti kamu jika mempunyai istri akan cukup biaya hidup dari sini," ucap sang Ibu kembali menjelaskan dan tetap intinya Rian harus menikah kembali.
______
Nampak Rian menghela napas panjang dan Rian tetap dengan pendiriannya tidak mau diberikan modal tambahan lagi oleh Papanya.
Cukup dengan mengumpulkan uang yang ada hasil dari warung saat ini.
"Bu, sudahlah mulai sekarang Rian tidak mau meminta bantuan dari luar karena takut seperti dulu utang numpuk. Masalah jodoh sudah Bu, jangan terlalu di pikirin yang ada nanti Ibu sakit karena mikirin terus jodoh Rian kalau sudah ada jodoh dan yang di atas kasih pasti segera Rian nikah," jawab Rian.
"Tapi tidak menutup kemungkinan kan kalau kamu mau nikah lagi Nak?" tanya sang Ibu tersipu malu.
"Lihat ke depan saja Bu, seperti apa," jawab Rian.
______
Setengah jam kemudian.
Nampak mobil sedan warna putih yang tadi masuk ke dalam rumah Pak RT melewati jalanan rumah Rian dan nampak disana Ana duduk di pinggir lelaki yang tadi turun di dalam mobil tersebut.
Sang Ibu dan Rian matanya menyusuri mobil tersebut sampai lenyap dari pandangan mereka dan nampak sang Ibu seperti dihinggapi rasa penasaran.
"Loh, itu bukannya mobil yang barusan datang ke rumah Pak RT, dan ada Desy barusan di dalam mobil itu," ucap Bu Viona seperti dihinggapi rasa penasaran dengan sosok lelaki tersebut.
"Mungkin saudaranya Bu," ucap Rian.
"Tidak mungkin Rian, tadi juga pas lelaki itu datang Desy terlihat gugup kok, kalau saudara mungkin Desy tersenyum," jawab sang Ibu.
"Sudah Bu, jangan urusi hidup orang cape," ucap Rian dengan masuk berlalu ke dalam rumah. Padahal dalam hati Rian juga dihinggapi rasa penasaran dengan sosok lelaki tersebut.
"Semoga jodoh Ana," gumam hati Rian tersenyum tipis.
__ADS_1
Bersambung...