
Malam itu nampak Lia sedang membereskan untuk isi koper, karena besok pagi dia akan pergi ke Singapura bersama Tante Dini dan anaknya.
Setelah dibujuk oleh Tante Dini, akhirnya Lia pun jadi untuk pergi ke Singapura bersama sang Tante, itu pun dengan penuh pertimbangan.
•••
"Hati-hati di jalan ya Nak, kalau sudah sampai kabarin Papa, terus jangan lupa Papa bawain oleh-oleh," ucap Rian kepada sang anak terlihat menggoda Cantika.
"Blang aja sama Mama, kalau mau oleh-oleh, Cantika kan tidak punya uang," ucapnya dengan serius.
___
Dalam hati Lia berpikir mana bisa Rian bicara dengan dia, karena sampai saat ini Lia masih cemberut dan tidak mau berbicara terhadap Rian. hanya berbicara masalah anak saja bukan masalah yang lain.
___
"Coba Cantika yang bilang nanti ke Mama, Papa beliin oleh-oleh ya," ucapnya sambil melirik ke arah sang istri. Lia pun matanya mendelik dan berlalu dari hadapan suami dan anaknya itu.
Lia keluar dari dalam kamar nampak Lia pun duduk di meja makan, sambil melahap puding yang baru saja dia buat.
Tiba-tiba sang ART datang menghampiri
"Bu, hati-hati ya, semoga pergi dan datang dengan selamat," ucap Teh Sumi.
Lia pun hanya menganggukkan kepalanya,
"Teh Sumi pantau terus ya, Rian suamiku, takutnya dia macam-macam lagi sama si Desi!" ucap Lia secara perlahan sambil pandangannya melirik ke arah kamar takut terdengar oleh sang suami.
"Kalau itu pasti Bu, pasti akan saya selidiki. Takutnya Desy kembali menggoda Bapak," jawab Teh Sumi.
"Ya sudah kalau ada apa-apa kamu hubungi Ibu ya, soalnya Ibu cukup lama di Singapura satu minggu." ucap Lia kembali.
Setelah terasa perutnya kenyang, Lia pun kembali berlalu ke dalam kamar untuk beristirahat karena esok pagi dia harus segera pergi ke Singapura.
___
Di dalam kamar.
__ADS_1
"Mah, masih marah sama Papa?" tanya Rian kepada Lia sang istri.
Lia hanya diam sambil melihat lekat layar ponsel, nampak dia tersenyum lebar karena sang teman sekolah dulu mengirimkan foto Lia bersama dengan teman lelakinya yang bernama Desta, dia lelaki ketua kelas yang jadi rebutan di sekolahnya dulu.
"Mah, kenapa sih?" tanya Rian kembali.
sifat Rian yang tidak mau dicuekin oleh sang istri, dia nampak terlihat kecewa karena sudah hampir seminggu Lia tidak merespon terhadapnya.
"kenapa? itu jawabannya hanya kamu yang tahu Pah!" ucap Lia tanpa menengok ke arah sang suami pandangannya masih tetap lekat ke arah ponselnya.
"Kalau aku salah maafkan Mah, tapi terus terang, aku tidak mau kalau dicuekin seperti ini," ucap Rian seakan merajuk kepada sang istri dan memeluknya.
Lia pun dengan reflek melepaskan pelukan dari Rian, dia seakan tidak bisa melupakan kejadian malam itu yang melihat suaminya sedang berpelukan dengan Desy sahabatnya sendiri dengan mesra
___
Rian pun mengalah dan kembali ke posisi semula, dia tidur terlentang dan matanya menatap langit-langit kamar.
Mata Rian terpejam entah kenapa bayangan Desy dan Citra hinggap dalam dirinya.
Citra kekasih gelapnya yang sekarang sudah dimutasi kerja ke luar kota, dan sudah tidak ada kabar lagi membuat Rian dengan mudah untuk bisa melupakan Citra. Tapi sosok Desy yang kini dekat keberadaannya, yang mengakibatkan Rian merasa nyaman terhadap sahabat istrinya tersebut.
"Entah apa yang nanti akan terjadi ketika Lia pergi ke Singapura, karena lebih banyak waktuku untuk bersama Desy," pikiran Rian berselancar jauh.
___
Lia melirik sang suami dengan ekor matanya,
terdengar oleh Lia suara Rian ketika menghela napas panjang dengan matanya yang masih tertutup. Lia pun berpikir jika sang suami sedang memikirkan sosok Desy.
"Kenapa sih, lagi mikirin si Desy!" ejek Lia terdengar sinis ketika berucap.
Sontak mata Rian terbuka dengan lebar lalu dia melirik sang istri yang berada di sebelahnya.
"Ngomong apa sih Mah, kamu jangan ngelantur ah, kalau ngomong," ucapnya dengan gugup.
"Awas ya, Pah, selama aku di Singapura kamu jangan macam-macam!" ancam Lia kepada Rian.
__ADS_1
"Sudah Mah, jangan bahas Desy lagi. Aku capek mendingan bahas yang lain," Rian mencoba mengalihkan pembicaraan karena dia tidak mau berdebat lagi dengan sang istri mengenai masalah Desy.
"Mau bahas apa Pah? Rumah tangga kita kan, adam ayem tapi setelah ada Desy rumah kita jadi berantakan," ucap Lia kembali.
"Tolong Mah, jangan bahas itu lagi! Papa capek mau istirahat," Rian pun membalikkan badannya dari Lia, sehingga Rian sekarang posisi tidurnya membelakangi Lia.
Lia menghela napas panjang.
Karena dihinggapi rasa kesal, Lia pun kembali menatap layar ponsel matanya lekat ke arah foto yang dikirim oleh temannya tersebut.
_____
"Aku ingin bertemu dengan Yesi dan Desta," gumam hati Lia.
Yesi adalah teman Lia yang mengirimkan foto sedangkan Desta dia Lelaki yang digandrungi selama masa sekolah. Keakraban mereka bertiga cukup dekat ketika zaman sekolah dulu. Lia pun seakan ingin bertemu dengan mereka untuk mencurahkan isi hatinya.
Lia nampak berpikir, mungkin dia akan bertemu dengan mereka setelah pulang dari Singapura. Lia pun mencoba memberikan pesan kepada Yesi.
{"Yes, besok aku mau ke Singapura 1 minggu, dan kalau ada waktu aku ingin bertemu dengan kamu dan juga Desta, sudah lama juga kan kita tidak bertemu,"} tulis Lia di pesan aplikasi WhatsApp-nya.
{"Aku juga kangen sama kamu Lia, semoga kita bisa bertemu ya, nanti aku hubungi Desta juga. Siapa tahu dia bisa untuk bertemu dengan kita minggu depan,"} balas pesan dari Yesi.
Setelah menumpahkan rasa rindunya lewat pesan aplikasi WhatsApp, Lia pun mencoba memejamkan matanya agar bisa tertidur. Karena esok pagi dia akan pergi bersama Tante Dini ke Singapura.
•••••
Keesokan harinya.
Nampak barang-barang yang akan dibawa sudah dimasukkan ke dalam mobil. Rian pun nampak sudah menunggu di mobil untuk mengantarkan sang istri dan anak untuk menuju Bandara, karena di sana Tante Dini sudah menunggu.
Setelah semuanya beres Lia pun dan Cantika memasuki ke dalam mobil tidak lupa pamit kepada Teh Sumi.
"Jaga rumah baik-baik dan satu pesan Ibu, awasi Pak Rian dari godaan Desy," ucapnya lekat ke kuping Teh Sumi.
Teh Sumi pun menganggukkan kepalanya, dia sangat mengerti apa yang diucapkan oleh sang majikan tersebut.
Selama dalam perjalanan menuju Bandara, Lia tidak banyak kata, dia pun nampak duduk di belakang. Sedangkan Cantika dan Rian begitu terlihat akrab mereka duduk di depan. Lia hanya menyimak obrolan antara Cantika dan Rian tanpa menanggapinya sedikitpun.
__ADS_1
Bersambung...