
Tiba-tiba pundak Rian ada yang menepuk dari arah belakang dan sontak Rian pun menoleh ke arah belakang dan betapa terkejut hati Rian tatkala melihat sosok Tante Dini yang kini berada tepat di belakangnya. Rian pun seakan tidak percaya jika Tante Dini ada di belakangnya. Terlihat muka Rian pucat pasi dan peluh pun bercucuran.
"Rian, apa kabar!? Sudah lama kamu tidak ada kabar. Beberapa kali Papamu menelepon tapi tidak ada jawaban," ucap Tante Dini menatap Rian sang anak sambungnya tersebut.
Rian pun seakan salah tingkah dibuatnya dan dia berpikir mengapa harus bertemu dengan Tante Dini. Apakah ini suatu kebetulan atau kesengajaan yang dibuat oleh Ibunya Lia karena nampak terlihat oleh ujung mata Rian, Ibunya Lia tersenyum tipis melirik Tante Dini.
"Ba-baik Tan" jawabnya gugup sambil membuka pintu belakang seakan untuk mempersilahkan Ibunya Lia masuk dan ingin cepat berlalu dari sana.
"Ini buat Ibumu! Tante harap kamu bisa menerimanya," ucap Tante Dini dengan cepat memasukkan amplop berwarna coklat yang berisi uang lembaran warna merah beberapa lembar ke dalam saku kemejanya Rian. Terlihat Rian seperti hendak menolaknya namun Ibunya Lia dengan cepat berucap.
"Kamu pasti butuh uang itu Rian, buat biaya hidup kamu sehari-hari," sindir mantan Ibu mertuanya itu.
Rian pun akhirnya dengan rasa malu yang menghinggapi tidak menolak uang tersebut yang diberikan oleh Tante Dini.
Nampak Rian pun berlalu dari hadapan istri kedua Papanya itu dan nampak Ibunya pamit kepada Tante Dini.
______
Tiba di rumah
"Kamu tunggu disini saja jangan masuk ke rumahku," ucap Ibunya Lia .
Nampak Ibunya Lia datang ke rumahnya tidak datang ke rumah Lia, Rian pun berpikir bahwa sang anak tengah berada di rumah mantan Ibu mertuanya tersebut. Rian seakan tidak sanggup menahan gejolak rasa rindu untuk bertemu dengan anaknya.
Tiba-tiba dari kejauhan Rian melihat sang anak keluar dari dalam rumah dengan raut muka yang terlihat sedih. Kemudian sang anak duduk di teras. Rian pun lalu keluar dari dalam mobil.
Rian nampak terkesiap tatkala melihat sang anak tersebut. Rian sepertinya sudah tidak sabar ingin memeluk sang anak. Rian pun dengan dorongan yang kuat, dia memanggil sang anak.
"Cantika!" teriak Rian.
______
Sontak sang anak membalikan wajahnya yang sedari tadi pandangannya menunduk seperti sedang melamun. Betapa terkejut sang anak tersebut tatkala melihat sosok Papanya yang sudah lama tidak bertemu. Tanpa pikir panjang Cantika pun berlari ke arah dimana sang Papa sedang mematung di depan mobil.
"Papa!" ucap sang anak bibirnya bergetar tatkala memanggil Papanya tersebut.
Nampak tidak ada rasa dendam sedikitpun dari diri sang anak, meskipun dia sudah dikhianati oleh sang Papa. Mungkin rasa rindu dan jarang bertemunya dia juga dengan Lia sang Mama seakan terkalahkan semuanya.
__ADS_1
•••
Lia yang telah menjadi istri dari Adrian sekarang nampak sibuk dengan urusan bisnisnya. Apalagi dengan kelahiran anak Lia yang kedua dari Adrian seakan sosok anak pertama Cantika kurang diperhatikan dan ini menjadi ada rasa kecemburuan di hati Cantika sang anak pertama.
"Sini Nak!" ucap Rian melambaikan tangannya ke arah sang anak dengan tersenyum renyah dan menahan tangis. Cantika pun memeluk erat sang Papa dan menangis.
"Papa kemana saja, Cantika rindu," rengek sang anak memeluk erat.
______
Tidak bisa dipungkiri dalam hati Rian terasa tersayat hatinya tatkala kata rindu terucap dari bibir mungil sang anak yang sudah dia telantarkan. Cantika pun berucap bahwa Mamanya selalu pergi dan sibuk jadi tidak ada waktu untuk dirinya.
"Kamu mau tinggal sama Papa Nak!?" Rian seakan mengajak sang anak untuk pergi bersamanya kembali seperti dulu lagi.
Nampak Cantika menganggukkan kepalanya.
"Papa tidak punya rumah Nak, dan Papa sekarang hanya supirnya Nenekmu. Apakah Mama dan Nenek mengijinkan kamu tinggal bersama Papa," ucap Rian mencoba meyakinkan sang anak dengan dadanya yang terasa sesak dan bulir putih pun membasahi hamparan pipinya.
_______
Pikiran sang anak melayang jauh seakan ingin seperti dulu bisa berkumpul dengan keluarga kecilnya. Lia yang notabene Ibu rumah tangga yang selalu ada di rumah yang dengan setia menemaninya, dan Rian sang Papa yang ketika pulang kerja selalu tepat waktu, dan jika hari libur mereka selalu jalan bareng entah itu ke Bioskop atau ke Mall.
Tapi setelah jalan yang ditempuh oleh Rian dan Lia berbeda, sang anak seakan menjadi korban. Lia yang sibuk tidak ada waktu untuk anaknya hanya sibuk dengan bisnisnya, sementara Rian yang berselingkuh lebih memilih Desy di sampingnya tapi sekarang dia hidungnya terpuruk.
•••
Entah mengapa Cantika pun teringat sosok Tante Dini yang selalu hadir menemani hari-harinya ketika dulu. Sosok istri muda Kakeknya itu yang selalu hadir menemani dirinya dan memanjakannya.
"Pah, Tante Dini dimana?" tanya Cantika.
DEGH..
Rian terkejut dengan apa yang di ucapakan oleh sang anak karena sang anak menanyakan keberadaan istri muda dari Papanya tersebut. Memang tidak bisa di pungkiri oleh Rian bahwa Tante Dini adalah sosok wanita yang penyayang dan perhatian kepada sang anak ketika waktu itu.
•••
"Tante Di,,,," Rian menggantung ucapannya karena tiba-tiba Neneknya Cantika berteriak memanggilnya.
__ADS_1
______
"Cantika, kenapa kamu keluar pagar. Nenek bilang tunggu di teras karena Nenek ke kamar mandi dulu," ucap Ibunya Lia terdengar nyaring dan nampak dia baru saja berdiri tegak di depan pintu teras
Cantika pun dengan cepat berlalu dari hadapan Rian, dan Rian nampak dengan cepat pula dia berlalu masuk kedalam mobil.
•••
Sang Nenek nampak tidak menyadari kalau sang Cucu baru saja sudah bertemu dengan Rian arau Papanya. Ketika Cantika tengah berjalan menghampiri sang Nenek tiba-tiba sang ART memanggil dari dalam rumah.
"Bu, nyimpan sweater punya Neng Cantika nya dimana!?" ucap sang ART terdengar keras. Sang Ibu pun nampak kembali masuk kedalam rumah. Cantika nampak membenahi rambutnya yang terlihat acak-acakan dan mengusap matanya yang sedari tadi menetes karena baru saja bertemu dengan sang Papa..
______
Beberapa menit kemudian.
"Ayo, kita masuk kedalam mobil!" ajak Ibunya Lia kepada sang Cucu dengan tangan menggandeng ke arah halaman luar rumah dan membawa sweater sang cucu.
Dan setelah sampai di mobil, Ibunya Lia nampak membuka pintu belakang dan mempersilahkan sang Cucu duduk bersamanya di belakang.
"Nek, Cantika duduknya mau di depan saja," ucap sang Cucu sambil membuka pintu mobil bagian depan. Dengan sigap sang Nenek menarik tangan sang Cucu untuk duduk di arah belakang.
"Nek, kenapa Cantika tidak boleh duduk di depan!" bentak Cantika yang keadaan kondisi badannya sudah mulai stabil atau sembuh.
"Di belakang saja dan kamu harus nurut sama Nenek." kembali sang Nenek menarik tangan sang Cucu dan kali ini tanpa Neneknya sadari dia menarik tangan sang Cucu sedikit agak kuat dan hal ini buat sang cucu meringis menahan sakit.
_____
"Aw,,,sakit!" ucap Cantika.
Sontak Rian melepaskan genggaman tangan Ibunya Lia yang mengarah ke Cantika anaknya tersebut.
"Jangan paksa dia untuk duduk di belakang. Lagian kalau pun dia duduk di depan enggak apa-apa kok, dia adalah anakku. Dan memang aku sekarang sebagai supir dari Neneknya anakku, tapi tolong jangan menghalangi dia untuk menjauh dari aku," sindir Rian.
Nampak terlihat Rian mengusap lembut rambut sang anak ketika sang anak sudah duduk di kursi depan dan terlihat Cantika tersenyum dan ini sontak membuat hati Ibunya Lia dihinggapi rasa kesal yang teramat apalagi terlihat sang Cucu tersenyum lebar ke arah Rian.
Bersambung...
__ADS_1