
Lia nampak tertegun dan merasa aneh dengan keluarga Rian karena sampai saat ini pun Bu Viona selalu mengejar dirinya seakan -akan menyalahkan dirinya terus.
"Apa aku harus menerima cintanya Adrian? mungkin ada benarnya juga omongan Adrian jika aku menikah dengannya mungkin keluarga Rian tidak akan lagi mencampuri urusanku lagi," ucapnya.
Tapi Lia seakan khawatir juga jika menerima Adrian karena Papanya tidak setuju. Masalah yang Lia hadapi seakan berat dan berkepanjangan.
Lia yang sedang sakit pun nampak beranjak darii ranjang kemudian dia meminum obat karena badannya masih lemah belum bisa beraktifitas. Pikirannya berselancar ketika dia duduk di meja riasnya.
Tok...Tok...Tok...
Pintu di ketuk beberapa kali dari luar kamar dan suara dari Tante Restu pun terdengar memanggilnya.
______
"Lia, ini Tante buatkan teh panas," ucapnya. Nampak terlihat sang Tante memasuki kamar Lia dengan membawa teh panas.
Tatapan Lia begitu tajam melihat sang Tante.
Tante Restu pun nampak heran ketika sang keponakan menatapnya dengan tajam.
"Kamu kenapa Lia" tanya sang Tante.
"Tan, tolong Lia, dan Lia harap Tante mau menolong Lia," ucapnya dengan menggenggam jemari tangan sang Tante.
"Ada apa Lia, bicara sama Tante, sepertinya kamu sedang gusar kenapa Lia?" sang Tante membelai kepala rambut keponakannya itu dengan lembut dan mengusap pundaknya.
Lia menghela napas secara perlahan kemudian menceritakan semua masalah yang tengah terjadi yang kini hinggap kepada dirinya tanpa ditutupi.
______
"Jadi kamu mau pergi dari rumah dengan berusaha melupakan semua yang terjadi!?" tanya sang Tante terlihat terkejut.
Lia pun menganggukkan kepalanya tanda membenarkan semua tentang ucapannya itu.
"Ya,,,Tante," jawabnya lirih.
"Tapi itu bukan solusi Lia, tetap saja nanti keberadaan kamu di kejar Rian karena kamu ada anak, tidak mungkin kamu menjauhkan anakmu dari Rian darah dagingnya," ucap sang Tante.
"Justru itu yang jadi pikiran Lia, Tan." Lia pun seakan bingung.
"Gimana kalau anakmu sama Tante saja, kamu tinggal di rumah Nenekmu saja disana kamu bisa buka usaha karena rumahnya pinggir jalan dan halamannya luas. Nenekmu tinggal sendiri di kampung hanya di temani ART namanya Teh Caca, dia baik sekali usianya dibawah kamu dan belum menikah." Tante Restu coba memberikan solusi kepada keponakannya itu.
"Tapi gimana dengan Ibu dan Bapak apa mereka mengijinkan?" tanya Lia.
__ADS_1
"Tenang saja Lia semua bisa diselesaikan, kemarin Tante juga sebenarnya sudah bicara dengan Ibu dan Bapak kamu mereka menginginkan kamu bisa melewati dan melupakan bayangan masa lalu, Sudah jangan terlalu dipikirkan dengan anakmu dia sudah gede biar kalau ingin ketemu Tante yang datang kesana sama anakmu." kembali sang Tante meyakinkan.
______
Lia pun terdiam seakan memikirkan apa yang di sampaikan oleh Tantenya itu adalah keputusan yang baik, atau bahkan akan jadi masalah kedepannya.
"Sudah kamu sekarang minum dulu teh hangatnya, dan tidur setelah istirahat, besok pagi nanti pikiranmu akan tenang dan rileks," ucap sang Tante.
________
Keesokan harinya.
Orang tua dari Lia pun datang dan Lia membicarakan semua niatnya untuk pergi dari rumah seperti yang disarankan oleh sang Tante, namun sang Ibu menolak keras.
"Jadi kamu di pojokan terus sama Ibunya Rian selama Ini!?" tanya sang Ibu Karana sang Ibu hanya dengar selama ini dari mulut sang Tante, sang Ibu berpikir hanya isapan jempol belaka karena orang waras berpikir tidak mungkin orang yang sudah berpisah atau bercerai masih ikut campur.
"Iya, Bu,,,Lia merasa terganggu!" jawabnya.
"Ganti saja nomor ponsel kamu gampang kan, hidup kamu ribet banget sih Lia!" ucap sang Ibu. Dia seakan kesal juga dengan Bu Viona mengapa pertengkaran dia dulu dengan Viona menjadi dampak yang negatif terhadap sang anak cuma gara-gara masalah lelaki.
"Awas, Viona hari ini aku datang ke rumahmu untuk memperhitungkan semuanya!" gumam Ibunya Lia.
_____
Ibunya Lia meminta ijin kepada sang anak dan adiknya Restu dengan alasan mau ketemu relasi bisnisnya. Tanpa ada rasa curiga sedikitpun dari hati sang Tante dan Lia sang anak, kalau sebenarnya kepergiannya untuk bertemu dengan Ibunya Rian atau Viona. Rasa kesal dan amarah selama ini coba dia tahan dan akhirnya membludak.
"Jangan Sayang, Nenek pergi sebentar kok. Nanti saja besok ya, kan Nenek nginap disini," ucap Ibunya Lia, dia pun berpikir jika Cantika ikut pasti semua akan berabe karena dia pergi bukan untuk bertemu dengan relasi bisnisnya tapi bertemu dengan Neneknya Cantika yaitu Viona atau mantan besannya.
_______
Nampak sang cucu cemberut karena tidak di ajak oleh Neneknya itu.
"Cantika sama Tante disini saja tunggu Mama, kan Mama belum sembuh," bujuk sang Tante dengan memberikan satu kotak coklat dan akhirnya anak tersebut kembali tersenyum karena dibujuk oleh sang Tante.
"Bu, tidak sebaiknya diantar sama sopir, biar Ibu nggak capek mengemudikan mobilnya," ucap Lia menawarkan kepada sang Ibu agar memakai supir.
"Enggak ah Ibu ingin sendiri saja," jawab sang Ibu tersenyum lebar padahal dalam hatinya dihinggapi rasa kesal ingin cepat bertemu dengan Viona ingin meluruskan semua yang terjadi.
"Sebenarnya Ibu mau ketemu siapa sih, seperti ada rahasia hehehe,,,," tanya Lia tidak sedikitpun menaruh rasa curiga kepada sang Ibu yang akan pergi menemui Ibu Viona.
"Sudahlah Lia, kamu banyak tanya kalau Ibu kamu mau cari duit!" sang Ibu pun melengos menuju garasi.
_______
__ADS_1
Di dalam mobil.
"Nampak tidak bisa dibohongi hati dan pikirannya bayangan masa lalu masih hinggap kian nyata menyelimuti hatinya. Dadanya deg-degan tidak karuan karena ini pertemuan untuk yang kedua kalinya selama dia dulu menjadi besannya Viona.
"Semoga si Yosi tidak ada di rumah," ucap Ibunya Lia.
Ibunya Lia berpikir jauh jika Papa Rian ada di rumah dia pun tidak berani untuk melabrak Viona karena dia berpikir dengan Papanya Rian tidak ada masalah.
______
Satu jam kemudian.
Nampak Ibunya Lia menunggu duduk di teras setelah sang ART membuka pintu halaman rumah namun dia tidak mau masuk ke dalam rumah cukup menunggu di teras rumah.
•••
Ibu Viona menyeret langkah kakinya menuju teras rumah karena disana ada tamu yang menunggu, dan setelah tiba di depan pintu, Ibu Viona pun mematung jalannya seakan terhenti. Bola matanya terlihat tajam melihat sosok wanita yang tengah duduk di kursi.
Tiba-tiba berdebar dada Bu Viona begitu cepat seakan tidak karuan.
"Ngapain Ibunya si Lia datang kesini!" gumam hatinya, dia pun mengatur deru napasnya.
_____
"Ngapain kamu datang kesini!" bentak Viona.
Sontak Ibunya Lia terkejut dengan bunyi suara dari mantan besannya tersebut.
"Saya datang kesini mau memberitahu kamu, Viona! Kamu jangan selalu mengganggu anakku, cukup waktu anakku jadi mantu kamu saja kamu ganggu, dan sekarang kamu jangan ganggu dia lagi. Awas kalau kamu berani menelpon atau mengganggu anakku lagi!" dengan sorot mata tajam Ibunya Lia memberikan ancaman.
"Kamu tahu tidak kenapa aku tidak suka dengan anakmu! Karena kamu dulu merebut cintaku dan kamu merasa sok cantik!" ucap Bu Viona tersulut emosi.
"Kamu berarti tidak bisa move-on, percuma kamu menikah dengan Yosi ternyata kamu masih cinta sama orang lain!" sindir Ibunya Lia seakan mengejek masa lalunya.
_______
Karena tersulut emosi kemudian Bu Viona mengambil satu gelas ukuran besar air jus tomat yang tengah berada di meja, niat dia ingin menyiramkan ke muka Ibunya Lia namun dengan sigap Ibunya Lia menangkis tangan curang yang ingin menyiramnya, karena badan Viona tidak seimbang dan kondisi dari badannya tidak Fit, segelas air yang akan dia siramkan malah terjatuh dan air jus tomat pun tumpah berceceran. Ibu Viona menginjak air jus tomat tersebut, karena licin akhirnya dia pun terjatuh karena ulahnya sendiri, dan terpelanting kebelakang.
Bruk
Badannya roboh nampak terlihat oleh sang lawan. Viona meringis seakan pandangan mata pun remang. Ibunya Lia tertawa puas sedangkan Viona tangannya melambai seakan ingin dibantu untuk bisa bangkit.
Nampak Ibunya Lia duduk men-jongkok dan kembali memaki-maki mantan besannya itu.
__ADS_1
"Penderitaan yang telah dilalui oleh anakku, stop! Jangan kamu ulangi lagi Viona! Kamu paham!" ucap Ibunya Lia terlihat penuh emosi. Inginnya dia menjambak rambut Viona tapi masih tetap dia tahan.
Bersambung...