
Di rumah Bu Viona.
Sang Ibu dan Desy terlihat dihinggapi rasa kesal dan kecewa dengan Kafe Rian yang sudah kena sita. Meraka pun seakan tidak menerima hal itu.
"Kenapa kamu tidak bilang sama aku Mas, kalau kamu tidak bayar atau nunggak beberapa bulan utang kamu. Kini akhirnya yang terjadi Kafe kita kena sita. Dasar kamu selalu bikin aku kesal!" gerutu Desy terlihat marah dan kecewa.
"Nah, betul kan yang Ibu bilang pasti akan kena sita kalau kamu mengurus Kafe tidak becus! Terus saja kamu fokus dengan bisnisnya si Citra, tapi mana hasilnya!" ejek sang Ibu terdengar marah membara.
"Bisnis perselingkuhan yang ada!" sindir Desy mendelik. Dia meremas rambutnya dengan kasar dan menghela napas panjang seakan sudah muak dengan suaminya itu yang selalu tidak bisa mengelola keuangan dengan baik.
"Jaga omongan kamu Desy!" Rian nampak tersulut emosi dengan Desy menyindirnya.
"Memang benar kan, sebenarnya bisnis apa yang kamu jalankan sana si pelakor itu! Kenapa sampai sekarang belum ada hasil yang terlihat. Ingat ya Mas, uangku untuk membangun Kafe tersebut tidak sedikit. Aku menginginkan kamu itu maju tapi pada akhirnya malah kena sita! Dasar kamu lelaki tidak berguna!" Desy menggerutu seakan meluapkan kekesalannya.
Rian mencoba mengatur napasnya yang kian tidak terkontrol pikirannya seakan mumet tidak karuan. Rian pun akhirnya berlalu dari hadapan Ibunya dan Desy menuju kamar dan tanpa Rian sadari ponselnya Rian tertinggal di meja sofa.
________
Ting....
Tiba-tiba bunyi pesan muncul dari ponselnya Rian terlihat Citra yang memberikan pesan dan nampak ponsel tersebut tergeletak di meja sofa dan dengan ekor matanya, Desy melihat pesan yang masuk di ponselnya Rian dari Citra dengan cepat Desy pun melihat isi pesan yang diberikan oleh Citra.
{"Mas, aku tunggu di Kafe Anggrek sekarang,"} tulis pesan Citra.
"Lihat Bu, kelakuan si pelakor itu ingin bertemu dengan Rian sekarang di Kafe Anggrek," ucap Desy tersulut emosi dan memperlihatkan isi pesan tersebut kepada sang Ibu mertua.
"Ayo, Nak, kita serang wanita itu dan akan Ibu temani. Ibu yakin Rian mau menenangkan pikirannya dan nanti dia tertidur," ucap sang Ibu mengajak Desy untuk bertemu dengan Citra di Kafe yang telah di janjikan
Desy pun mencoba membalaskan pesan kepada Citra yang berpura-pura dia sebagai Rian.
{"Baik, saya sekarang kesana,"} balas Desy kepada Citra dan dia seakan sosok Rian yang membalaskan pesan tersebut kepada Citra.
"Biar ponsel ini kita bawa saja agar si pelakor itu tidak nelpon lagi kepada Rian, nanti kalau kita pergi sementara ponselnya tinggal disini dikhawatirkan si pelakor itu menelepon dan yang mengangkat Rian," ucap sang Ibu sambil memasukkan ponsel milik Rian kedalam tasnya itu.
Desy pun dan Bu Viona pergi untuk menemui Citra di tempat yang telah di janjikan.
_______
Tiba di Kafe.
__ADS_1
Tidak butuh waktu lama untuk sampai di tempat yang di tuju. Nampak terlihat setelah tiba di Kafe Anggrek mata Desy dan Bu Viona berselancar mengelilingi Kafe tersebut untuk mencari keberadaan Citra.
"Bu, itu orangnya!" bisik Desy, matanya tertuju kearah Citra yang sedang duduk sendiri di pojokan Kafe.
Nampak terlihat dada sang Ibu dan juga Desy bergemuruh seakan ingin menerkam sosok Citra.
"Tenang Des, biar ibu yang bertindak," ucap sang Ibu dan tangannya sudah mengepal rasanya ingin cepat dia menampar wanita yang sudah mengganggu rumah tangga anaknya akhir-akhir ini.
______
"Sudah lama kamu menunggu disini wanita pelakor!" ucap sang Ibu ketika tepat berada di hadapan Citra.
DEGH...
Sontak Citra terkesiap ketika melihat sosok Desy dan Ibunya Rian. Mukanya merah padam dan jantungnya berdetak lebih cepat tidak karuan.
Mata Citra berselancar seakan mencari perlindungan dari sosok Rian.
"Kamu mencari keberadaan Ria!? Tidak ada disini dia. Rian sedang pusing mikirin Kafenya yang kena sita akibat ulah kamu karena uangnya di di porotin terus sama kamu," ejek sang Ibu terlihat pandangan matanya begitu sinis.
Sementara Citra hanya diam seribu bahasa nampaknya dia malu dengan serangan dari Ibunya Rian dan Desy yang nampak sudah menahan rasa amarah terlihat dari raut mukanya.
_______
PLAK ..
Desy menampar dengan keras pipi Citra yang tengah mendongakkan kepalanya karena mencari keberadaan Rian. Desy rasanya sudah memendam rasa kesal terhadap Citra.
"Kamu tidak kapoknya ya, mengganggu suamiku. Apa kamu tidak bisa menjauh dari suamiku. Kenapa kamu ganggu terus Rian!" Desy terlihat dihinggapi rasa amarah yang memuncak ketika berucap.
Sontak yang berada di kafe pandangannya tertuju ke arah mereka dan nampak sang pelayan menghampiri.
"Maaf Bu, ada apa ya," ucap sang pelayan.
"Maaf Mbak, saya hanya ingin menghajar wanita pelakor ini yang sudah mengganggu ketenangan rumah tanggaku," ucap Desy dengan berderai air mata yang terus menetes di hamparan pipinya.
_______
"Alahhhh, kamu juga dulu sudah mengganggu ketenangan rumah tangga Lia," sindir Citra sambil meringis menahan rasa sakit di pipi
__ADS_1
"Jaga mulut kamu!" telunjuk Bu Viona mengarah ke muka Citra.
"Memang benar kan Bu, cuma Ibu ini membela pelakor ini, begitu ceritanya Mbak," ucap Citra menatap lekat ke arah Bu Viona kemudian melirik sang pelayan Kafe dan melirik satu persatu semua yang memandangnya ke arah pertengkaran yang sedang berlangsung.
"Kurang ajar wanita ini, benar kata Desy mulutnya sangat berani melebihi mulut Desy yang pedas," gumam hati Bu Viona.
________
Sementara Desy merasa di permalukan oleh ucapan Citra pandangan dia menunduk seakan malu oleh orang sekitar begitupun dengan Bu Viona
Citra berdiri lalu dia mengambil tasnya yang terletak di meja dengan kasar.
"Asal kalian tahu ya, wanita ini telah merebut sahabatnya sendiri dan dia perempuan licik yang selalu membeli segala sesuatu dengan uang!" ucap Citra kepada semua orang yang tengah memperhatikannya di Kafe tersebut dan Citra pun pergi melengos.
Sontak Desy seakan tidak terima mendapatkan perlakuan seperti itu. Dengan sigap Desy pun menarik tangan Citra
"Mau kemana kamu! Bayar dulu hutangmu pada Rian!" Desy melotot ke arah Citra.
"Lepaskan! Biar aku selesaikan dengan Rian kalau masalah hutangku. Kalau perlu aku akan transfer detik ini juga sama Rian," dengan cepat Citra pun berlalu dari hadapan Bu Viona dan Desy yang mukanya nampak merah merona karena baru saja di perlakukan buruk di khalayak umum.
"Kurang ajar wanita itu! Ayo, kita kejar Des!" ajak sang Ibu kepasa Desy dengan melihat Citra yang tergesa-gesa berjalan menuju mobilnya.
"Biarkan saja Bu, nanti lihat saja apakah benar dia mengembalikan uangnya kepada Rian atau tidak. Kalau dia tidak mengembalikan uangnya kita datangi rumahnya biar kita permalukan dihadapan kedua orang tuanya karena dia telah merebut suami orang," ucap Desy dengan sorot mata tajam mengarah ke mobil nya Citra yang terlihat sudah keluar dari dalam Kafe.
________
"Ternyata dia pelakor yang merebut dari sahabatnya," celetuk seorang wanita yang keberadaan duduknya tepat di belakang Desy.
Sontak Bu viona dan Desy pandangan matanya mengarah ke arah suara tersebut. Mereka seakan tidak terima jika wanita yang tidak mereka kenal itu berkata seperti itu seakan mengurusi urusan hidup orang lain.
"Jaga ya, mulut kamu Mbak!" ucap sang Ibu mendelik.
"Sepertinya si Ibu mertuanya tidak rela jika sang menantu kena buli. Ayo, kita pergi saja dari sini," sindir teman wanita sebelahnya.
Nampak terlihat Bu Viona seakan meradang seakan ingin menumpahkan kekesalannya itu karena sudah kena sindiran. Namun Desy dengan cepat menenangkan sang Ibu mertua.
"Lebih baik kita pergi dari sini Bu, Desy malu semua mata memandang ke arah kita," ucap Desy secara perlahan.
Akhirnya Desy dan Bu Viona pun berlalu dari tempat tersebut karena mereka merasa tidak nyaman dengan situasi Kafe yang semua orang nampak mencibir terhadapnya.
__ADS_1
Bersambung...
Maaf kalau penulisan suka ada yang typo 🙏