Suamiku Terjerat Cinta Sahabat

Suamiku Terjerat Cinta Sahabat
Bab: 129 Lia terkejut dengan kado pemberian Papa mertua.


__ADS_3

{"Mah, Adrian akan tiba di rumah Mama nanti siang dan ini Adrian lagi dalam perjalanan,"} ucap Adrian di sambungan teleponnya.


{"Ya, Sayang, Mama kangen ingin bertemu dengan kamu,"} terdengar rasa rindu dan haru menyelimuti hati dan pikiran Mama Silvi terhadap sang anak.


{"Ya, sudah Mah, awas Mama jangan kemana-mana ya, jangan pergi arisan.Tunggu Adrian pulang!"} sindir sang anak karena sang Mama selalu sibuk arisan dan bisnisnya.


Sambungan telepon pun ditutup oleh Adrian dan nampak Lia tengah asik memainkan ponselnya.


"Mas, Ibuku dan Cantika sedang pergi ke kampung katanya pergi tadi subuh," ucap Lia.


"Ada apa Ibu kesana?" tanya sang suami


Katanya panen sayuran dan hasilnya mau langsung di kirim ke pasar yang di kota, mungkin sekalian nengok Nenek disana," ucap Lia.


"Kapan kita akan ke sana Sayang?" tanya Adrian seakan rindu dengan suasana kampung.


"Boleh Mas, setelah urusan bisnis kita santai baru kesana," jawab Lia


Nampak sesudah menikah, Adrian bersama Lia setelah diberi Restoran oleh Papa Steven untuk mengurusnya mereka nampak sibuk seakan waktu harus di atur untuk pergi kemanapun.


_______


Tiba di rumahnya Adrian.


Ketika terdengar suara mobil memasuki halaman garasi rumah, nampak Mama Silvi terlihat girang. Dia pun lari untuk menyambut sang anak yang baru saja tiba.


"Sayang, Mama kangen," sang Mama berhamburan memeluk sang anak dan menantunya itu nampak matanya berkaca-kaca karena dihinggapi rasa bahagia.


"Mama jangan nangis Mah," sindir Adrian.


Mama pun tersenyum malu ketika sang anak menyindirnya.


"Sayang, ayo kita makan dulu," ajak sang Mama menarik lembut tangan Lia ke meja makan dan nampak disana hidangan makanan tersaji dengan berbagai masakan.


"Wah, ngerepotin Mah," ucap Lia ketika melihat hidangan yang begitu banyak tersaji di meja makan.


"Kalau enggak enak jangan komplain, kan Mama gak bisa masak. Mama sengaja masak di bantu si Mbak di dapur," ucapnya tersipu malu.


Kemudian Lia pun mencicipi makanan yang dihidangkan dan dia tersenyum.


"Enak kok, Mah," ucap Lia walau sedikit asin masakan yang Mama olah tapi dia tidak mau mengecewakan hati sang Mama.


Adrian pun mencoba masakan Mamanya kemudian dia meringis keasinan.


"Sayang, asin gini dibilang enak," bisik nya lekat ke kuping sang istri.


Lia hanya tersenyum terkekeh.


"Enggak apa-apa, makan saja hargai Mama," jawab Lia.


________


"Halo, Sayang!" tiba-tiba sang Papa datang dari arah kamar kemudian berpelukan dengan sang anak dan menantunya itu.


"Anak Papa segeran ya, mukanya setelah menikah beberapa hari, dan itu loh badannya agak gemuk dikit," ucap Papa Steven menepuk lembut pundak sang anak.


"Iya, dong Pah, anak kita sudah ada yang ngurus. Lia kan pinter masak pasti di jamu makanan enak," ucap sang Ibu menatap lembut sang menantu.


"Gimana Lia, Adrian lembut dan penyayang kan?" goda Mama Silvi kepada Lia.


"Iya, Mah, dia lembut sekali memperlakukan Lia," Lia tersipu malu.


"Alhamdulillah kalau begitu Mama dan Papa ikut senang," sambung sang Papa


Acara makan pun terasa hambar karena salfok (salah fokus) dengan sayur sop yang dibuat oleh Mama Silvi yang keasinan. Tapi mereka menghargai itu semua dan tidak ada yang berkomentar karena menghargai sang pembuat masakan.


"Gimana Lia, enak sayur sop nya!?" tanya Mama Silvi.


"E-enakkk,,,Mah!" Lia nampak tersedak.


Sontak Papa Steven dan Adrian menahan rasa ingin tertawa. Mereka pun menahan mulutnya agar tidak tertawa.

__ADS_1


__________


Di ruang keluarga.


Setelah acara makan selesai lalu mereka duduk santai di kursi sofa sambil menikmati teh hangat dan snack.


"Adrian, Lia, Papa ada kejutan buat kalian," Papa Steven memulai obrolan dan nampak menghela napas secara perlahan.


Adrian dan Lia matanya berbinar, mereka berpikir kejutan apa lagi yang akan diberikan oleh Papa Steven kali ini karena setelah menikah, kemarin juga kejutan dari sang Papa begitu bertubi-tubi dari mulai diberikan sebuah Restoran dan acara bulan madu.


"Kejutan apa lagi, Pah! buat jantung Adrian gelisah tidak karuan," ucap Adrian menatap sang Papa kemudian melirik sang istri. Lia pun nampak dihinggapi rasa penasaran.


"Ini, di dalam sini ada sesuatu!" ucap sang Papa sambil menyerahkan kotak berwarna pink yang dibungkus rapi. Kotak tersebut bentuknya kecil membuat rasa penasaran ingin segera membukanya dari diri Adrian dan Lia. Adrian pun nampak membuka kotak berwarna pink tersebut.


"Wah, kunci rumah!" ucap Adrian.


Nampak Lia dihinggapi rasa terkejut karena gantungan kunci rumah tersebut adalah gantungan kunci bentuk singa sama persis dengan gantungan rumahnya yang di tempati bersama sang mantan suami dan anaknya.


"Argh, kok sama ya, bentuk dan gambarnya gantungan itu seperti gantungan rumah milikku dulu. Gantungan bentuk singa yang aku beli di Singapura bersama Tante Dini," gumam hati Lia.


"Sayang, kejutan yang diberikan oleh sang Papa adalah kita diberikan sebuah rumah," ucap Adrian tersenyum sumringah dan nampak matanya berkaca-kaca.


"Iya, Alhamdulillah, terima kasih Pah," ucap Lia tersenyum bahagia.


"Pah, aku sama Lia kan punya rumah baru lalu rumah tersebut mau di isi sama siapa," Adrian menatap sang Papa.


"Tidak apa-apa sayang, kamu bisa bolak-balik kesana-kemari. Nanti biar ada ART yang urus rumah itu," jawab sang Papa.


"Kalau menurut Mama mending lihat dulu rumahnya pasti kamu suka Nak, Mama juga setelah lihat video dan gambar rumah itu suka. Nanti deh, setelah di bersihkan kita lihat kesana sama-sama. Papa kamu lagi nyuruh orang hari ini untuk membersihkan rumah itu," ucap Mama Silvi.


"Rumahnya di daerah mana Pah?" tanya Adrian kepada Papa Steven.


"Di jalan Anggrek di komplek Griya Duta!" jawabnya.


DEGH...


Dada Lia terasa berdesir tatkala sang Papa mertua menyebutkan nama tempat dan nama komplek rumah tersebut.


"Itu kan rumahku dulu ketika aku bersama Rian," gumam hatinya.


_______


Lia menepis semuanya dia pun berpikir gantungan kunci berbentuk singa sangat banyak ditemukan dan nama komplek dan alamat yang sama mungkin itu adalah kebetulan saja.


______


"Sayang, kata Mama bisa enggak sore ini kamu lihat rumahnya!" Adrian nampak menepuk pundak sang istri karena nampak Lia sedang melamun.


"Iy-Iya, Sayang kenapa?" jawab Lia dihinggapi rasa terkejut.


"Kata Mama sore kamu bisa lihat rumahnya tidak? Bersama Papa dan Mama karena kalau sore aku mau bertemu dengan rekan bisnisku jadi kemungkinan besar aku gak bisa lihat kesana. Mungkin baru lusa aku bisa lihat rumahnya," ucap Adrian.


"Bisa Mas, enggak apa-apa aku di temani Mama saja kesannya, sama Papa juga kan?" tanya Lia terlihat tidak fokus..


"Iya, lah Sayang, Mama kan belum tahu tempatnya," ucap Adrian.


"Kamu lagi mikirin apa sih, Sayang!?" tanya Adrian menatap lekat ke arah sang istri.


"Mungkin aku sedikit lelah saja Mas," jawabnya berbohong.


"Ya, sudah, kamu istirahat tidur dulu dan nanti sore kamu ditemani Papa dan Mama pergi lihat rumah," ucap Adrian.


Lia pun dan Adrian menuju ke kamar yang sudah di bereskan oleh sang ART.


________


Tiba di dalam kamar.


"Sayang, kamu kenapa? Kamu lagi mikirin sesuatu ya?" sang suami terlihat khawatir.


"Enggak apa-apa kok Mas, aku tidur sebentar ya, badanku capek," ucap Lia.

__ADS_1


"Ya, sudah kamu tidur dulu Istirahat jangan sampai gara-gara kecapean nanti bisa-bisa kamu telat punya anaknya," bisik Adrian nakal.


"Apa sih, Mas!" Lia mencubit pinggang sang suami dengan lembut.


_______


Sore pun tiba.


Nampak Lia sudah bersiap untuk pergi dan terlihat Lia begitu cantik dengan memakai atasan tunik warna merah marun yang memberikan kesan hangat pada hijab warna nude dan di padu padankan dengan celana kulot warna putih.


Baju yang terlihat sopan dan menutup lekuk tubuhnya nampak terlihat anggun ditambah dengan polesan make-up tipis terlihat natural.


Nampaknya Lia akan memberikan sebuah kejutan terhadap sang suami dimana hari ini dan selanjutnya dia akan memaki hijab pakaian tertutup.


Adrian nampak masuk kedalam kamar dan betapa terkejutnya hati Adrian tatkala melihat perubahan penampilan dari sang istri karena Lia telah menutup tubuhnya dengan tidak memakai baju yang memperlihatkan lekuk tubuhnya lagi.


______


"Sayang, kamu cantik sekali," Adrian nampak terkesiap tatkala melihat perubahan penampilan dari sang istri yang terlihat anggun dan manis.


"Terima kasih Mas, semoga aku Istikomah dapat memakai pakaian sopan ini setiap saat untuk menjaga pandangan dari lelaki yang bukan muhrimnya," ucapnya lirih.


Sang suami nampak berkaca-kaca dengan pengakuan sang istri tatkala berucap seperti itu, Adrian merasa bangga dengan melihat sang istri berpenampilan sopan dan terdengar sangat bijak ketika berucap.


Adrian pun memeluk sang istri dengan mata yang berkaca-kaca karena rasa bahagia yang menggelayuti.


"Mas, aku di tunggu Mama dan Papa!" Lia mencoba melepaskan pelukan sang suami.


"Kenapa Sayang," Adrian menggoda sang istri. Dia sangat senang jika sang istri tersipu malu.


"Aku mau pergi sama Papa dan Mama, kamu jangan menggodaku Mas!" mukanya merah merona.


"Alhamdulillah Sayang, dengan berpakaian sopan seperti ini, aku tambah sayang sama kamu," Adrian pun mengecup kening sang istri yang nampak terlihat mukanya merah merona karena dihinggapi rasa malu karena sang suami menghujani pujian.


________


Di teras rumah nampak Mama Silvi sedang duduk dan melihat sang suami yang tengah berada di garasi.


"Ayo, Sayang, kamu sudah siap?" tanya sang Mama mertua kepada Lia yang tiba-tiba datang menghampiri dan nampak Mama Silvi tersenyum manis tatkala melihat penampilan menantunya yang berbeda.


"Sudah, Mah," jawab Lia tersenyum renyah.


"Lia, kamu cantik sekali Nak! Nanti pulang dari lihat rumah baru, Mama belikan kerudung dan pakaiannya yang beraneka warna ya," sang Mama terlihat antusias kala mendapati menantunya berpenampilan tidak seperti biasanya.


"Alhamdulillah Sayang, dompetku tidak keluar uang banyak karena semua keperluan kamu di tanggung oleh Mama," goda Adrian tertawa terkekeh. Lia pun nampak mencubit pinggang sang suami. Sang Papa pun tertawa lebar.


Nampak terlihat Papa Steven sedang memanaskan mobil, sementara Adrian pamit untuk bertemu dengan relasi bisnisnya.


"Mah, Adrian pamit dulu ya, nitip bidadari-ku!" ucap Adrian tersenyum nakal melirik sang istri lalu dia mencium kening istrinya itu.


________


Di dalam mobil.


Nampak Lia duduk di belakang sementara kedua mertuanya duduk di depan.


Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang matanya menyusuri setiap jalanan dan rasanya seperti sudah tidak asing dengan jalan yang dilaluinya, seakan jalan tersebut pernah dilalui bersama suami dan anaknya.


Beberapa menit ketika akan tiba di tempat yang dituju yaitu tempat dimana rumah yang sudah dibeli oleh Papa mertuanya, entah mengapa terasa jantung Lia berdetak lebih cepat.


DEGH....


"Nak, ini rumahnya!" ucap sang Papa mertua.


"Ya, Allah apa aku tidak salah lihat," mata Lia membulat.


Lia mengucek matanya beberapa kali dan melebarkan matanya ketika melihat rumah yang dituju itu ternyata rumahnya yang ditempatinya ketika bersama keluarga kecilnya dulu.


"Ini Pah, rumahnya?" tanya Lia terdengar gugup dan seakan tidak percaya.


"Iya, Sayang, kenapa kamu tidak suka?" tanya sang Papa mertua.

__ADS_1


"Su-suka Pah, walau baru nampak dari luar tapi terlihat asri dan nyaman," jawab Lia terdengar gugup.


Bersambung..


__ADS_2