Suamiku Terjerat Cinta Sahabat

Suamiku Terjerat Cinta Sahabat
Bab: 142 Kepergian Lia dan Adrian ke Singapura


__ADS_3

Adrian nampak menutup sambungan teleponnya kemudian dia melirik sang istri yang tengah berada di depan cermin yang tengah memakai kaos oblong dan handuk yang melilit di pinggangnya.


"Sudah Sayang, sudah cantik kok, meskipun tidak make-up," sindir Adrian sang suami kepada Lia sang istri.


Lia nampak tersipu malu dengan sindiran yang di ucapkan oleh sang suami itu, nampak Adrian pun menghampiri sang istri lalu menatapnya dari arah cermin.


"Sayang, semoga sepulang dari Singapura kita diberikan kepercayaan oleh yang di atas untuk mempunyai momongan ya, aku yakin Allah sedang menguji kita dengan tidak diberikannya anak dulu padahal keadaan kamu dan aku subur tidak ada masalah. Mungkin Allah memberikan kita dulu kenikmatan dari segi materi yang alhamdulilah lebih dari cukup," ucap Adrian dengan memeluk lembut sang istri tak terasa matanya berkaca-kaca seakan ada air mata yang akan tertumpah disana.


"Mas, sudah jangan bersedih kita kan sudah berikhtiar semoga ikhtiar kita ini yang terakhir dengan pergi ke Singapura. Kita sudah ikhlas dan sabar tinggal menunggu keajaiban dari Allah saja." jawab Lia mencoba menenangkan sang suami.


Tidak terasa air mata Adrian menetes dia seakan sedih dan bahagia tatkala mendengar ucapan dari sang istri yang begitu sangat menenangkan hatinya.


"Sayang, aku semakin sayang sama kamu," bisik Adrian lekat ke kuping sang istri. Nampak Lia geli dibuatnya terasa merinding bulu kuduknya.


______


Adrian pun membalikkan badan Lia lalu mencium kening dan kemudian menjalar ke bibir Lia yang berwarna merah dan mungil.


"Ahhhh,,," ******* pun lolos dari bibir Lia.


Adrian terus mencumbunya dengan rasa kasih sayang yang begitu dalam kepada sang istri yang sangat dicintainya.


"Mas, ahhh,,, kita mau pergi Mas, lepaskan. Aku belum siap-siap mandi," ucap Lia.


"Perjalanan masih 2 jam lagi Sayang, aku ingin bercumbu sebentar denganmu," nampak Adrian sudah tidak tahan dengan ******* Lia yang nampak manja.


"Mas, nakal,,!" goda Lia sambil membalas ciuman yang diberikan oleh sang suami itu.


"Kita sama-sama nakal kalau di ranjang Sayang," bisik Adrian lekat ke kuping sang istri yang membuat Lia ingin lebih jauh sang suami mencumbunya dengan nakal.


Adrian memangku sang istri ke ranjang nampak Adrian menatap lekat ke arah sang istri begitu sempurna kecantikan Lia meskipun dia sebelum menikah dengannya mempunyai anak tapi Lia terlihat masih muda dan masih segar seakan tidak bosan di pandang mata.


Adrian pun kembali mencium dan mencumbu istrinya itu dengan lembut dan penuh kasih sayang. Dan akhirnya sepasang suami istri pun melakukan hubungan sebagai sepasang suami istri sebelum kepergiannya ke Singapura.


______


Satu jam kemudian.


Nampak Adrian dan Lia sudah rapi dan mereka mau pergi ke Singapura.


"Sayang, terima kasih ya," ucap Adrian.


Cup...


Kecupan kembali meluncur dari bibir Rian dan nampak Lia pun tersipu malu.


"Terima kasih untuk apa, Mas?" tanya Lia dihinggapi rasa penasaran.


"Untuk barusan,," Adrian tersenyum nakal.


"Apa sih, Mas,,!" Lia nampak wajahnya merah merona dengan kenakalan suami yang nampak melirik ranjang yang seakan panas beberapa menit yang lalu.


"Mas, ngomong apa sih, aku malu," Lia menundukkan kepalanya.


"Kenapa mesti malu kira kan sudah menjadi sepasang suami istri," Adrian kembali menggoda Lia


"Sudah ah, Mas, jangan goda aku dengan ucapan rayuan kamu,' Lia berlaku kecil dan duduk di kursi sofa.


Nampak Adrian tertawa terkekeh dia selalu suka dengan sikap sang istri jika dia berhasil menggodanya dan mengakibatkan sang istri dihinggapi rasa malu dengan mukanya yang merah merona.


______


Drett...Drett...Drett..

__ADS_1


Nampak bunyi telepon berdering di ponselnya milik Adrian dan terlihat di layar ponselnya Mama Silvi menelepon.


{"Nak, kamu jadi kan pergi ke Singapura?"} tanya Mama Silvi di sambungan teleponnya.


{"Iya, Mah, ini Adrian mau pergi ke Bandara,"} jawab sang anak.


{"Sayang, Ibu tidak bisa antar kamu ke Bandara enggak apa-apa kan? Lia, mana Lia, Mama mau bicara dengan menantu kesayangan Mama,"} ucap sang Mama seakan tidak sabar ingin mendengar suara menantunya itu.


Adrian pun menyerahkan ponselnya ke Lia dan nampak Lia yang sedang duduk di kursi sofa masih menahan rasa malu karena godaan dari sang suami yang terus menerus.


"Sayangku, Mama mau bicara," ucap Adrian mencubit lembut hidung bangir sang istri.


"Aw, nakal kamu Mas," Lia mendelik manja.


Adrian pun seakan gemas dengan tingkah polah sang istri.


{'"Iya, Mah, ini Lia dan Mas Adrian mau pergi ke Bandara, Mama lagi dimana ini?"} tanya Lia kepada sang Mama mertua.


{"Justru itu yang akan Mama omongin, Mama ini mau pergi ke Surabaya sama Papa, jadi Mama dan Papa tidak bisa mengantarkan kamu ke Bandara, tidak apa-apa kan Sayang?" ucap sang Mama.


{"Enggak apa-apa Mah, santai saja. Nanti setelah pulang dari Singapura Lia dan Adrian pasti pulang ke rumah Mama. Oh, iya, Mah, tadi Papa sudah mengantarkan Dokter Mario ke Kafe milik temannya Papa?"} tanya Lia.


_______


Dan Lia pun tidak tahu kalau Kafe yang di maksud yang dikunjungi sang Papa bersama Dokter Mario adalah Kafe milik sang mantan suami yaitu Rian.


{"Sudah, Nak, bentar kok, cuma 1 jam saja Papa berada disana cuma mampir,"} jawab sang Mama.


{"Syukurlah kalau begitu Mah, semoga juga Dokter yang di referensi-kan yang berada di Singapura oleh Dokter Zahira dan Dokter Mario. Dokter kandungannya cocok dengan Lia dan Adrian untuk berobat, agar cepat diberikan momongan,"} ucap Lia kembali dengan nada berharap.


{"Ya, semoga kamu dan Adrian segera di beri kepercayaan oleh yang di atas untuk mempunyai anak. Sabar saja Nak, Mama dan Papa disini selalu mendoakan kamu juga,"} jawab sang Mama.


_________


Setiap orang menanyakan Adrian dan istri sudah mempunyai anak belum? Atau cucu dari Mama Silvi sekarang berapa? Pertanyaan itu seakan membuat hati sang Mama dihinggapi rasa sedih dan tidak percaya diri jika bertemu dengan seseorang yang menanyakan hal tersebut.


{"Terima kasih atas doanya Mah, maafkan Lia dan Adrian, Mah. Kita sudah berusaha berobat dan kata Dokter kita tidak ada masalah. Ya, mungkin Lia dan Adrian sedang di uji oleh yang di atas dengan menunggu seorang anak,"} jawab Lia terdengar sedih dan hal ini membuat rasa iba di hati sang Mama. Sang Mama pun bisa membayangkan bagaimana mana perasaan Lia dan Adrian yang ingin sekali dikarunia seorang anak.


_______


Sang Mama nampak tidak mau mendengar menantunya itu larut dalam kesedihan yang mendalam, dia pun dengan segera menyuruh Lia agar siap-siap pergi untuk ke Bandara.


{"Sayang, takut ketinggalan pesawat, mending kamu cepat pergi,"} ucap sang Mama seakan melumerkan obrolan di sambungan teleponnya itu.


{"Iya, Mah, hati-hati ya, Mama di Surabaya. Dan doakan Lia dan Mas Adrian semoga semuanya diberikan kelancaran, terutama proses mempunyai momongan,"} Lia nampak meminta doanya kepada Mama mertua agar urusan dia dilancarkan terutama ingin segera mempunyai anak dari Adrian.


{"Iya, Sayang, jaga diri baik-baik ya, jangan kecapean, ingat pesan Mama!"} sang Mama mertua begitu peduli dan sayang kepada menantu satu-satunya itu.


_______


Sambungan telepon pun akhirnya terputus dan nampak setelah menerima telepon dari sang Mama mertua mata Lia berkaca-kaca seakan tak kuasa menahan rasa sedih karena sang Mama mertua, dan sang suami sangat menantikan kehadiran anak.


Takdir tidak bisa di tolak, jika yang di atas berkata lain, belum saatnya dia dan suami mempunyai anak. Maka tidak akan Lia dan Adrian mempunyai anak namun jika yang di atas berkehendak pasti saatnya tiba Lia pasti mengandung dan mempunyai anak.


Adrian menatap lekat ke arah Lia, dia pun seakan tahu isi hati dari sang istrinya itu. Lia saat ini sedang sedih karena memikirkan ingin mempunyai seorang anak dari pernikahannya dengan Adrian.


Adrian memeluk sang istri.


{"Sudah Sayang, jangan menangis. Ayo, nanti kita telat. Jangan sedih dong, kita kan sekarang mau pergi bulan madu yang kedua dan mau berobat disana semoga pulang berobat dari sana ada keajaiban dari yang di atas."} ucap sang suami Adrian.


Lia menatap kedua bola mata sang suami dalam benaknya dia sangat bersyukur mempunyai seorang suami yang pengertian dan sangat sayang kepada dirinya


______

__ADS_1


Lia pun dan Adrian nampak bersiap-siap untuk.pergi ke Bandara. Kali ini mereka diantarkan supir pribadi dari Papa Steven yang sudah menunggu di mobil.


"Sudah siap, Bu," ucap sang supir tatkala melihat Lia dan Adrian memasuki mobil.


"Sudah Mang," jawab Lia tersenyum ramah.


Lia pun bersama Adrian pergi ke Bandara.


_________


Nampak di dalam mobil jemari tangan Adrian seakan tidak mau lepas dari genggaman sang istri tercinta.


{"Sayang, kamu senang setelah menikah bersamaku!?"} tanya Adrian menatap lekat ke arah sang istri yang kini dua-duanya tengah duduk di belakang.


"Senang, Mas! Kenapa kamu bertanya seperti itu, kamu aneh Mas. Aku senang sekali bisa menjadi istri kamu karena kamu baik dan bertanggung jawab tidak hanya sama aku tapi sama anakku dan keluargaku. Kamu selalu memanjakan anak dan kedua orang tuaku dengan kejutan-kejutan sebuah hadiah," ucap Lia dengan menyenderkan kepalanya di bahu sang suami.


Nampak Lia memejamkan matanya rasanya dia sangat senang sekali karena suami yang sekarang nampak beda dengan yang pertama yaitu Rian. Suami Lia yang sekarang sangat romantis dan begitu peduli dan memperhatikan secara detail penampilan sang istri, wanita mana yang tidak terbuai dengan itu semua pasti semua wanita akan merasa nyaman berada di sisinya.


________


Ting...


Pesan muncul dari ponselnya milik Adrian dan nampak Om Satria memberikan sebuah pesan kepadanya.


{"Adrian sehat? Om, mau minta tolong, adiknya Tante Shila kan sekarang kerjanya di Kafe, kata Tante Shila lebih baik pindah kerjanya di tempat Restoran kamu. Apa di Restoran kamu ada lowongan kerja, buat adiknya Tante Shila yaitu Anita,"} tulis pesan dari Om Satria suami dari Tante Shila begitu buat Adrian mengernyitkan dahi karena saat ini di Restorannya sedang tidak menerima karyawan baru dan semua posisi sudah penuh. Adrian pun nampak menarik napas secara perlahan.


Adrian kemudian memperlihatkan isi pesan dari Om Satria kepada Lia sang istri. Nampak Lia pun membaca isi pesan tersebut.


"Restoran kita kan sudah penuh karyawannya Mas, aku mengerti sih, dengan kamu dan pasti kamu ragu dan malu untuk membalas pesan kepada Om Satria. Tapi menurutku enggak apa-apa Mas, lebih baik kamu jujur saja bahwa di Restoran kita memang sudah penuh dan bilang saja nanti kalau ada lowongan kerja kamu pasti mengabarinya," ucap Lia kepada Adrian.


________


Adrian pun nampak membalaskan pesan kepada Om Satria dengan balasan sama seperti yang di ucapkan oleh Lia yaitu mencoba memberikan jawaban bahwa di Restoran tempat usahanya saat ini tidak memerlukan karyawan.


Setelah pesan terkirim dan nampak pesan tersebut sudah dibaca oleh sang Om Satria. Om Satria pun seakan mengerti jawaban dari Adrian.


{"Ya, sudah enggak apa-apa, terima kasih ya,"} balas pesan dari Om Satria.


{"Maaf ya, Om, tapi akan Adrian usahakan dicarikan kerja di tempat Restoran milik teman,"} balas pesannya.


Om Satria pun mengucapkan rasa terima kasih kepada Adrian dan dia pun tidak membalaskan pesannya lagi.


•••


" Mas, kita sudah sampai," Lia menepuk lembut pundak sang suami.


Lia dan Adrian pun nampak turun dari dalam mobil dan mereka pun berjalan menuju Bandara untuk perjalanan ke Singapura.


______


Di sebrang sana nampak Om Satria menutup sambungan teleponnya setelah menelepon Adrian dan tepat di pinggirnya ada sang istri Shila yang tengah lekat menatapnya.


{"Gimana Pah, ada lowongan kerja buat adikku, Anita?"} tanya sang istri seakan berharap jika sang adik bisa bekerja dengan Adrian di Restoran karena jika di tawarin untuk usaha bareng bersamanya di bidang fashion sang adik menolaknya.


"Katanya belum ada lowongan kerja Mah, tapi akan Adrian usahakan, dia akan nanya ke temannya barangkali ada lowongan," jawab sang suami.


"Iya, Pah, mendingan kalau menurut Mama, Anita itu pindah kerja ke Kafe atau Restoran lain. Benar-benar Mama kecewa dengan pacar Bos-nya Anita itu, dia terlihat sombong dan angkuh. Apalagi nanti kalau dia sudah menikah dengan Bos-nya Anita mungkin dia dengan seenaknya memperlakukan karyawan dengan tidak ramah. Mana ada karyawan betah dengan sifat Bos yang seperti itu," Shila nampak memperlihatkan rasa ketidaksukaan dia terhadap Desy.


"Ya, Anita itu orangnya susah di atur kalau masalah kerjaan dia tidak mau ikut sama kamu dari dulu Mah. Aku juga heran dengan sifat adikmu itu Mah," ucap sang suami tersenyum tipis.


"Ya, memang seperti itu, aku pun berharap dia cepat menikah. Dia dingin kepada lelaki dan beberapa kali aku kenalkan dia kepada lelaki tidak ada satu pun yang hinggap atau klik dengan dia," sang kakak seakan mengkhawatirkan adiknya itu yang sampai saat ini belum mempunyai kekasih padahal usianya sudah cukup untuk menikah.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2