
Nampak Lia pun datang dari luar kota dengan membawa banyak oleh-oleh dan sepertinya dia pun khawatir dengan tidak ada kabar dari Tante Restu. Padahal dia ingin tahu keberadaan sang anak sedang berada dimana. Nampak kedatangan Lia ke rumah sang Ibu belum pulang, dan Lia sore itu datang ke rumah sang Ibu tidak pulang ke rumahnya karena ingin tahu kabar dari sang anak yaitu Cantika.
"Mbak, kira-kira Ibu biasa datang ke rumah jam berapa?" tanya Lia kepada sang ART karena Lia menghubungi sang Ibu dari tadi ponselnya tidak aktif.
"Biasa jam segini sudah datang kok," jawab sang ART mencoba menjelaskan.
_____
Lia pun berpikir pasti sang Ibu mengantarkan Rian terlebih dulu pulang karena sang Ibu pernah cerita kalau Rian setelah mengantar sang Ibu menjadi supirnya, dia selalu mengantarkan Rian terlebih dahulu ke rumah kontrakannya.
Entah mengapa Lia hatinya gusar dan dia seakan ingin sekali memeluk erat sang anak rasa bersalah terhadap dirinya kian hinggap menerpa di hati dan pikirannya.
Lia pun mencoba menghubungi Tante Restu tapi tetap saja sang Tante ponselnya tidak aktif. Mungkin sengaja tidak di aktifkan agar Lia atau sang kakak tidak menghubunginya, karena Tante Restu merasa terganggu dengan acara khusus dia bersama Cantika yang terlihat hatinya sedang tertekan.
______
Setengah jam kemudian.
Terdengar suara mobil nampak memasuki rumah dan Lia pun dengan cepat menyeret langkah kakinya ke depan pintu. Setelah pintu terbuka nampak terlihat sang Ibu sedang berada di mobil tersebut. Terlihat oleh Lia sang Ibu nampak mukanya pucat dan Lia nampak mengernyitkan dahinya dengan melihat keadaan kening sang Ibu ada benjolan. Lia pun dengan cepat menghampiri sang Ibu yang masih duduk di dalam mobil.
"Bu, kenapa keningnya, jatuh?" tanya Lia dihinggapi rasa penasaran.
"Panjang ceritanya," jawab sang Ibu. Kemudian sang Ibu membuka pintu mobilnya dan berjalan ke dalam rumah tanpa membahas keningnya yang terlihat nyeri.
Lia pun dalam hatinya penuh tanya karena sang Ibu begitu cuek dan seakan sedang malas untuk bercerita. Akhirnya Lia pun tidak banyak tanya dan masuk ke dalam kamar karena terdengar suara anaknya menangis.
__ADS_1
______
Di rumah Rian.
Sementara Rian setelah seharian menemani sang mantan Ibu mertuanya, dia terlihat cape dan entah mengapa badannya menggigil dan hal ini membuat Bu Viona panik karena sudah lama Rian tidak sakit. Bu Viona menawarkan Rian untuk pergi berobat ke Dokter, namun Rian menolaknya.
"Nak, lebih baik kamu besok jangan kerja dulu ya, biar badanmu vit. Biasanya majikan kamu itu jemput kamu di depan jalan jam berapa, biar Ibu nanti kesana biar kasih tahu bahwa kamu sedang sakit jadi tidak bisa kerja dulu." ucap sang Ibu menatap lekat ke arah sang anak yang terlihat menggigil badannya.
______
Nampak Rian pun dihinggapi rasa gusar karena Rian belum bercerita bahwa sebenarnya dia kerja di mantan Ibu mertuanya atau musuh bebuyutan dari sang Ibu. Bu Viona menyangka Tante Restu dan Cantika sang cucu datang kesini hanya menebak atau menerka bahwa rumah Bu Viona disitu. Padahal Tante Restu tahu rumah kontrakan tersebut dari Cantika dan yang sebenarnya adalah Rian bekerja dengan Ibunya Lia.
"Ibu sudah tidak sabar ingin bertemu dengan majikan kamu itu, mau ucapkan rasa terima kasih kepada dia karena selain kita diberi kesempatan mengisi rumah kontrakan dengan menunggak, kamu juga sudah diberikan pekerjaan walau menjadi supir," ucap sang Ibu dengan tersenyum.
"Udah enggak apa-apa Bu, besok Rian sembuh kok tidak apa-apa," ucapnya.
______
Sang Ibu terlihat mengkhawatirkan keadaan sang anak, sepertinya dia tidak ingin jika besok memaksakan diri untuk pergi kerja.
"Buatkan saja teh manis hangat atau jahe pakai gula merah biar badan Rian agak enteng," ucap Rian kepada sang Ibu agar membuatkan minuman yang bisa menghangatkan tubuhnya.
______
Sang Ibu pun nampak berlalu dari hadapan sang anak dan berjalan ke arah dapur untuk membuatkan minuman yang diminta Rian.
__ADS_1
Setelah beberapa menit kemudian sang Ibu pun memberikan ramuan jahe dan gula merah kepada sang anak.
"Bu, mungkin saatnya Rian sekarang bicara kepada Ibu," nampak Rian menghela napas panjang sambil menyeruput minuman yang menghangatkan tubuhnya.
Rian ingin membicarakan sesuatu hal yang sangat penting kepada sang Ibu. Tadinya dia tidak ingin bicara kepada sang Ibu bahwa dia saat ini bekerja di Ibunya Lia sebagai supir. Tapi setelah dia pikir sampai kapan dia menyembunyikan ini semua karena nanti pun suatu saat semua akan terbongkar. Dan Rian sekarang ini bicara dengan sang Ibu harus secara hati-hati jangan sampai sang Ibu merasa kecewa karena Rian tidak jujur dari awal karena ada sebabnya dia tidak mau kehilangan sang anak.
"Ada apa Nak, ngomong aja," ucap sang Ibu, entah mengapa terasa cemas tatkala menunggu Rian akan berbicara.
"Ibu jangan marah dan kecewa ya," jawab Rian dengan membuang napas kasar.
______
Rian pun menceritakan semuanya dimulai dia bertemu dengan Ibunya Lia di sebuah salon. Ketika dia menjemput pertama kalinya sang majikan untuk mengantarkan ke acara arisan. Rian pun bicara kepada sang Ibu bahwa saat itu dia terkejut tatkala mengetahui majikannya adalah itu adalah sang mantan Ibu mertua.
DEGH.
Nampak Bu Viona terkejut dengan apa yang di ucapkan oleh sang anak, karena dia pun tidak menyangka jika selama ini Rian bekerja dengan Ibunya Lia atau mantan besannya itu.
Bu Viona nampak menghela napas secara perlahan. Dia pun berpikir jika melarang Rian bekerja lagi dengan Ibunya Lia, maka Rian tidak akan lagi bertemu dengan anaknya lagi.
Di lain sisi dia pun nampak merasa malu, dan juga gengsi karena dia sekarang ngontrak rumahnya di musuh bebuyutan dia. Bu Viona berpikir ini adalah sesuatu yang membuatnya malu seumur hidup.
"Rian kenapa ini bisa terjadi sungguh Ibu malu yang sangat luar biasa. Keluarga Lia akhirnya bisa tertawa puas dengan keadaan kita sekarang ini. Apakah kamu tidak malu dan merasa di permalukan," sang Ibu nampak dari gestur tubuhnya terlihat salah tingkah.
"Kita terima saja takdir seperti ini Bu, anggap saja kita sedang menebus kesalahan kita dimasa lalu. Jadi kita harus menerimanya dan ikhlas atas semua ini. Semoga dengan kejadian yang selalu menimpa kita yang gagal terus dalam segala hal menjadi pelajaran kita kedepannya nanti," ucap Rian.
__ADS_1
Sang Ibu hanya terdiam rasa gengsi sepertinya masih terasa hinggap menyelimuti hati dan pikirannya. Tapi dia pun berpikir kembali, sekarang ini keadaannya sedang terpuruk dan dia pun harus sadar dengan hal itu.
Bersambung...