
Peluh pun bercucuran ketika Rian melihat sosok wanita yang keluar dari dalam salon.
"Tidak, tidak mungkin!" Rian nampak salah tingkah. Dia pun nampak menenggelamkan topi yang menempel di kepalanya.
Tok..
Tok..
Tok..
nampak terlihat Pak Adi mengetuk pintu kaca mobil. Rian pun nampak membuka pintu kaca mobil tersebut.
"Mas, ini Bos kita dan saya mau langsung pergi ya, karena keluarga saya sudah menunggu," ucap Pak Adi berpamitan kepada Rian. Jarak salon dan rumah Pak Adi ternyata dekat dari sana jadi Pak Adi jalan pulang menuju arah rumahnya.
____
Nampak Bos tersebut seorang wanita dan ternyata adalah mantan mertua Rian atau Ibunya Lia. Keringat dingin nampak terlihat dari kening Rian, gestur tubuhnya terlihat salah tingkah.
Nampak dari kaca spion Rian melihat sang mantan Ibu mertua tengah berjalan kearah mobil tersebut.
BRUK ..
Pintu di tutup oleh Bos baru Rian.
"Mas, siapa namanya? Tadi Pak Adi sudah cerita semuanya," ucap Bos baru Rian yang tidak lain adalah mantan mertuanya itu.
Nampak Ibunya Lia tengah fokus dengan ponselnya dan dia pun nampak terdengar langsung berbicara di sambungan teleponnya.
Rian yang hendak bicara dan memperkenalkan dirinya, nampak tidak jadi karena melihat kesibukan dari Ibunya Lia yang tengah asik menerima telepon.
Rian kembali menghela napas panjang.
"Mas, ke jalan Delima," ucap Ibunya Lia menepuk pundak Rian sambil terus fokus berbicara di sambungan teleponnya.
Rian semakin merekatkan topinya dan menarik kerah kemeja dan nampak sekarang lehernya tidak terlihat karena kerah kemejanya nampak ditarik ke atas.
_______
Setengah jam sudah Ibunya Lia larut dalam perbincangan di sambungan teleponnya. Nampak setelah selesai menerima sambungan teleponnya, Ibunya Lia menghela napas secara perlahan dan dia nampak lekat menatap sang supir dari arah kaca spion dalam.
Nampak Ibunya Lia mengernyitkan dahi dan mengucek matanya.
Lalu Ibunya Lia melihat dengan seksama badan dari Rian mulai dari punggung dan dia menoleh ke arah depan melihat tangan Rian yang sedang menyetir.
"Wajahnya seperti Rian," gumam hatinya.
_______
"Mas, namanya siapa!?" Ibunya Lia menatap lekat ke arah kaca spion bagian dalam dan entah mengapa jantungnya berdetak lebih cepat.
CEKIT.....
Rian nampak mengerem mendadak dan mobil tersebut dia parkirkan di tepi jalan dekat pohon besar.
Rian dengan penuh keberanian dia langsung membuka topinya dan nampak membuang napas kasar.
"Saya Rian Bu!" Rian berbicara dengan bergetar dan nampak mukanya merah merona menahan rasa malu dan gelisah.
DEGH...
Sontak Ibunya Lia terkesiap rasanya seperti petir di siang bolong. Tatkala yang tengah berada di hadapannya itu adalah sosok Rian mantan dari menantunya itu.
______
"Tidak! Aku sedang tidak bermimpi kan, ngapain kamu jadi supir saya!" mata Ibunya Lia melotot. Rasa terkejut dan marah campur semua menjadi satu.
"Tenang Bu, tenang dulu. Saya pun tidak menyangka akan menjadi supir pribadi Ibu karena yang menawarkan jadi supir pribadi Ibu adalah Pak Adi," ucap Rian dengan pandangan masih menunduk.
"Kamu ketemu dimana dengan Pak Adi? Bisa-bisanya kamu bertemu dengan Pak Adi padahal Pak Adi jarang keluyuran. Dia selalu bersama saya," ucap kembali Ibunya Lia sepertinya dia tidak percaya dengan apa yang tengah terjadi.
"Pak Adi tiap bulan ke rumah kontrakan Rian," ucapnya lirih.
Ibunya Lia nampak kembali terkejut dengan apa yang di ucapkan oleh Rian. Dan Ibunya Lia pun berpikir ternyata sosok orang yang selalu telat bayar kontrakan rumahnya adalah Rian. Ibunya Lia mencoba mengatur deru napasnya yang kian memburu.
_______
"Jadi kamu ngontrak di rumah saya!?" sindir mantan Ibu mertuanya tersebut.
Rian nampak menganggukkan kepalanya. Rasa malu dan bersalah, rasanya campur menjadi satu.
"Rian tidak punya tempat tinggal Bu, rumah Rian kebakaran dan Rian sudah cerai dari Desy," ucapnya terbata-bata.
Sepertinya rasa malu untuk mengucapkan kata seperti itu sementara dibuang jauh oleh Rian. Yang ada di benak pikirannya hanya rasa bersalah yang kian menganga.
____
"Karma karena dia telah mengkhianati anak saya jadi hidupnya hancur," gumam Ibunya Lia mendelik.
Ibunya Lia yang notabene berjiwa pahlawan dan orangnya gak tega melihat keadaan orang yang sedang terpuruk.
Dia juga memikirkan bahwa Rian itu masih Bapak dari cucunya. Akhirnya dengan mencoba mengontrol detak jantungnya dia mencoba untuk bersikap tenang tidak barengi rasa marah ketika berhadapan dengan lelaki yang telah mengkhianati anaknya.
"Tobat Rian,' ucap sang Ibu mertua.
Nampak Rian menitikkan air mata.
"Apa Ibu mau memakai jasa Rian sekarang, untuk mengantarkan Ibu ke tempat arisan. Atau Ibu sudah tidak sudi kalau di antar oleh Rian," Rian memberikan pilihan kepada mantan Ibu mertuanya itu.
__ADS_1
Sungguh ini keputusan yang teramat berat bagi sang mantan Ibu mertua karena dia pun sebagai manusia pasti ada rasa belas kasihan dengan kondisi Bapak dari cucunya tersebut.
Dan dilain sisi juga dia merasa kesal terhadap Rian yang dulu pernah mengkhianati anaknya karena perselingkuhan.
_____
Arghhhh...
Sang Ibu nampak mengelus dada dan dia memijit keningnya dengan jemari tangannya.
"Kalau aku menurunkan kamu disini mungkin aku tidak ada rasa perikemanusiaan, tapi jika meneruskan kamu sebagai supirku mungkin aku tidak melakukan rasa adil aku terhadap anakku yaitu Lia. Jujur Lia juga dalam lubuk hati yang paling dalam masih merasakan rasa sakit hatinya karena olehmu Rian." ucap sang Ibu dengan mata yang berkaca-kaca.
"Baik Bu, tidak apa-apa Rian turun saja disini, biar Rian kembali ke kontrakan kalau dalam hati Ibu masih ada rasa kesal kepada Rian," jawab Rian tertunduk.
"Jalan saja!" tegas sang Ibu.
"Aku karena kasihan sama kamu dan jiwa sosialku masih tinggi." gumam hati sang Ibu.
_____
Nampak dalam perjalanan menuju tempat arisan, Ibunya Lia dan Rian tidak bergeming sedikitpun. Mungkin dalam diri mereka masing-masing berpikir tentang pertemuan yang tidak terduga.
Drett..
Drett..
Drett..
Tiba-tiba bunyi suara telepon muncul dari ponsel milik Ibunya Lia. Setelah dia membuka layar ponselnya nampak terlihat muncul nama Lia sang anak.
Ibunya Lia menghela napas secara perlahan kemudian dia dengan ragu mengangkat ponselnya tersebut.
{"Assalamu'alaikum Bu, sudah ada supir barunya?"} tanya Lia di sambungan telepon tersebut.
{"Wa'alaikum salam, sudah Nak,"} jawab sang Ibu dengan suara pelan.
{"Syukurlah kalau begitu, supirnya masih muda Bu?"} tanya Lia kembali.
{"Ma-masih,"} nampak sang Ibu terdengar gugup ketika berbicara sambil melihat ke kaca spion bagian dalam dan nampak Rian yang sedang mengemudikan mobil mukanya pucat pasi dan sepertinya pikirannya sedang tidak fokus.
{"Kenapa Bu?"} tanya Lia karena terdengar dari sambungan teleponnya sang Ibu gugup ketika berbicara.
{"Ibu ngantuk habis di salon karena tadi Ibu di massage cukup lama,"} sang Ibu mencoba berbohong padahal sang Ibu seakan kaku tatkala di mobilnya ada keberadaan Rian.
{"Ya, sudah kalau begitu. Ibu tidur saja di mobil. Masih lama kan perjalanannya,"} sabung Lia kembali.
{"Ya, sudah Nak, Ibu mau istirahat tidur ya,"} jawab Bu Viona.
Sambungan telepon pun terputus.
______
"Rindu Bu, tapi gimana lagi keadaan Rian seperti ini. Rian sadar diri dengan kondisi sekarang." jawab Rian seakan tidak percaya diri ketika menjawab pertanyaan dari sang mantan Ibu mertuanya itu.
"Viona, Ibu kamu kerja!?" tanya Ibunya Lia kembali.
"Baru satu minggu kerja," jawab Rian.
"Kerja dimana Ibu kamu!" Ibunya Lia seperti dihinggapi rasa penasaran.
"Jadi ART Bu," jawab Rian.
____
Nampak terlihat Ibunya Lia seperti menahan tawa dengan pekerjaan dari mantan besannya tersebut.
"Ibu kamu mau itu kerja sebagai ART, gengsinya kan tinggi," ejek Ibunya Lia.
"Terpaksa Bu, karena mau kerja apa lagi," jawab Rian terdengar masih dihinggapi rasa malu dan gugup ketika berbicara dengan mantan Ibu mertuanya itu.
"Ibu kamu sombong kan, jadi aku pikir dia tidak mau kalau kerja posisi sebagai ART," sindir Ibunya Lia kembali.
Rian pun hanya diam sepertinya dia pun tahu jika sang Ibu orang yang sombong dan tidak mungkin jika terpaksa dengan keadaan mau jadi ART.
________
Tiba di tujuan.
Akhirnya setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan, tibalah di tempat tujuan.
"Sini kunci mobilnya!" ucap Ibunya Lia.
Sontak Rian terkejut dan dia nampaknya tidak bisa menyembunyikan rasa keterkejutan dia tatkala Ibunya Lia meminta kunci mobilnya.
"Kamu kalau mau masih kerja sama saya tunggu saja di warung sebelah," Ibunya Lia menunjuk warung kios yang tengah berada tepat dipinggir tempat dimana dia akan mengadakan acara arisan.
Rian nampak menghela napas panjang. Nampak dia seakan tidak dipercaya oleh Ibunya Lia. Tidak bisa dipungkiri rasa malu hinggap dalam diri Rian karena dia merasa dipandang sebelah mata oleh mantan Ibu mertua itu.
"Atau kamu mau pulang ke kontrakan kamu, dan sampai disini saja kerja sama saya!? Kalau saya dengan mudah bisa lagi dapat ganti supir yang baru," sang mantan Ibu mertua sengaja dengan menyindir Rian ketika berucap rasanya dia belum puas untuk membuat hati Rian merana.
Rian hanya membuang napas kasar, dia seakan tidak mampu untuk berkata apa-apa dihadapan Ibunya Lia.
"Saya tunggu di kios saja," jawab Rian tertunduk.
"Ya, lebih baik begitu Rian karena tunggakan kamu untuk bayar kontrakan masih banyak dan dengan kamu kerja sama saya sebagai supir itu otomatis akan saya potong gaji kamu untuk membayar uang kontrakan yang nunggak," tegas Ibunya Lia seakan memegang kendali.
"Mimpi apa aku semalam, sampai aku di permalukan terus menerus," gumam hati Rian menjerit sepertinya dia sudah tidak tahan dengan sindiran pedas dari mantan Ibu mertuanya itu.
__ADS_1
Rian pun terlihat keluar dari dalam mobil kemudian dia menyeret langkah kakinya dan duduk di depan kios warung. Nampak dia duduk dengan termangu dan masih seakan tidak percaya dengan apa yang tengah terjadi.
______
Ibunya Lia pun memasuki tempat arisan dengan hati yang merasa puas karena dia sudah menjerat dan mempermalukan lelaki yang sudah mengkhianati dan menyakiti anaknya dulu.
"Rasain kamu lelaki brengsek! Memang enak jadi orang melarat? Makannya jangan sombong kalau jadi orang," gumam hati Ibunya Lia tersenyum puas.
•••
Ting ..
Nampak pesan muncul dari ponselnya dan nampak setelah membuka layar ponsel. Terlihat Lia memberikan sebuah pesan.
{"Bu, pulang dari arisan nanti Ibu mampir ke rumah ya, katanya Cantika ingin ketemu lagi sama Ibu. Dia rewel Bu, tiba-tiba pulang les badannya panas dan aneh menyebut nama Rian beberapa kali,"} tulis pesan dari Lia membuat hati Ibunya berpikir panjang.
"Apa karena aku sedang bersama Rian, cucuku jadi ingat Bapaknya," gumam hatinya.
{"Tadi pagi dia enggak apa-apa kan,"} balas pesan dari sang Ibu.
{"Iya, aku juga enggak ngerti Bu,"} balas pesan Lia kembali.
•••
"Loh, kok bisa gitu sih, apa mungkin karena aku sedang bertemu dengan Bapaknya jadi cucuku ingat Bapaknya!" gumam Ibunya Rian kembali seakan tidak bisa memahami ini kejadian ini semua.
______
Cucu yang sangat dia sayangi sedang sakit karena memanggil terus nama Bapaknya. Dan ini membuat sang Nenek tidak fokus ketika sedang berkumpul dengan teman-teman arisannya itu.
"Bu, kenapa ngelamun saja, biasanya tertawa riang," tanya seorang teman yang tengah berada di tempat arisan itu.
"Enggak apa-apa kok cuma sedang ingat cucu saja, barusan Lia telepon katanya anaknya sakit. Jadi Neneknya ingat," jawabnya tersenyum tipis.
"Sakit apa Bu?" tanya salah seorang kembali.
"Demam katanya," jawab Ibunya Lia sambil meneguk air mineral.
"Rindu mungkin sama Bapaknya," bisik sang sahabat yang tahu kisah dari Lia.
"Iya, barusan juga Lia bilang begitu," jawabnya dengan menghela napas secara perlahan.
"Kasih tahu saja Bapaknya, minta pertanggung jawaban. Maksudnya minta uang untuk berobat anaknya," ucap temannya tersebut.
Ibunya Lia hanya terdiam dan dalam benak pikirannya berkata. "Mana mungkin membelikan obat untuk anaknya, keadaan Bapaknya juga sekarang mengkhawatirkan,"
______
Sudah hampir dua jam arisan berlangsung dan nampak acara pun selesai. Ibunya Lia nampak dengan cepat keluar pertama dari acara tempat arisan tersebut karena dalam dirinya berpikir takut temannya yang mengenal sosok mantan menantunya melihat Rian yang kini menjadi supir pribadinya.
"Saya pamit duluan ya," ucap sang Ibu tersenyum ramah kepada semua yang hadir.
Ibunya Lia pun dengan cepat menyeret langkah kakinya keluar.
•••
Rian nampak berjalan dengan cepat tatkala melihat sosok mantan Ibu mertuanya tengah berjalan kearah mobil sedannya.
Ibunya Lia nampak menyerahkan kunci mobil kepada Rian dan setelah Rian memasuki mobil itu kemudian Ibunya Lia pun nampak memasuki mobil tersebut.
_____
Di dalam mobil.
"Kamu sudah makan?" tanya Ibunya Lia terdengar berbasa-basi.
"Su-sudah Bu," jawabnya lemas.
"Kapan?" tanyanya kembali.
"Tadi pagi," jawabnya.
"Ini sudah sore, apa kamu tadi tidak beli di pinggir warung kios kan ada warteg," ejeknya.
"Enggak pegang uang," ucapnya pelan.
"Miskin sekali kamu Rian, nampaknya kamu tidak menegang uang seperak-pun. Kasihan sekali," gumam Ibunya Lia.
"Beli roti isi perutmu nanti sakit," sindir Ibunya Lia kemudian dia mengambil satu lembar uang berwarna merah lalu meletakkan di kursi depan pinggir Rian yang sedang mengemudikan mobilnya.
"Terima kasih Bu," Rian nampak berkaca-kaca matanya.
•••
"Stop! Kamu turun dulu beli roti disini," ucap Ibunya Lia menyuruh Rian agar turun untuk membeli roti.
Rian nampak memarkirkan mobilnya dan nampak masuk ke dalam toko roti itu. Nampak terlihat ketika berjalan dia begitu gontai seakan lemas, capek, terutama rasa malu yang hinggap dalam dirinya.
Ibunya Lia menatap dengan rasa Iba dan tentunya kesal. Tapi dia berusaha menepis rasa egois dalam dirinya. Sepertinya Ibunya Lia pun punya siasat kedepannya akan seperti apa untuk menghadapi Rian yang kini menjadi supir pribadinya itu.
Bersambung...
Terima kasih yang selalu setia membaca.
🙏🌹♥️
Baca juga karya Novel terbaru saya yang berjudul. Terjebak Cinta Tetangga.
__ADS_1