Suamiku Terjerat Cinta Sahabat

Suamiku Terjerat Cinta Sahabat
Bab:47 Rasa sesak


__ADS_3

Baru saja Rian memasuki sebuah Hotel dan sedang memesan kamar di Front Office, nampak ekor matanya tertuju ke arah wanita dan lelaki yang baru saja keluar dari sebuah tangga lift. Rian nampak terkejut karena dia adalah Pak Yosi, sang Bapak dengan Tante Dini, istri kedua Bapaknya.


Entah mengapa hati Rian begitu teriris tatkala melihat Tante Dini bergelayut manja dengan Bapaknya tersebut. Mungkin karena pikirannya sedang tidak karuan karena memikirkan persoalan dirinya bersama sang istri yang baru saja mengucapkan kata cerai, dan Ibu Viona, sang Ibu yang selama ini tidak di dihiraukannya oleh Bapaknya sendiri.


"Aku tidak mau melabrak Bapakku dan Tante Dini karena, aku pun sama seperti Bapakku berselingkuh," gumam hati Rian.


Rian pun memalingkan mukanya dan nampak pandangannya tertunduk karena takut keberadaannya diketahui oleh Bapaknya dan Tante Dini.


Dan setelah dirasa mereka berlalu dari hadapannya, Rian pun kembali membalikkan badannya nampak mereka memasuki mobil dan berlalu keluar dari Hotel.


______


"Pusing!!" ucapnya.


Dengan membuang napas kasar.


Setelah memegang kunci kamar Hotel, Rian pun berlalu dari tempat lobi menuju ke kamar Hotel yang akan dia tempati untuk istirahat dan menenangkan hati dan pikirannya.


Drett... Drett.. Drett


Suara sambungan telepon berbunyi dari ponselnya milik Rian. Di layar aplikasi WhatsApp nampak pacar gelapnya Desy menelpon. Entah mengapa rasa cinta dan sayang terhadap Desy seakan pudar, padahal ketika sebelum Lia memutuskan untuk bercerai, cinta Rian sangat menggebu terhadap Desy.


Yang dipikirkan Rian saat ini adalah Cantika sang anak, biasanya dulu sang anak selalu dibacakan dongeng sebelum tidur. Hati Rian sangat teriris begitu sakit.


Ting..


{"Rian, ada Desy menunggu disini, kasian dia belum pulang. Kamu lagi dimana?"} pesan sang Ibu aplikasi WhatsApp.


{"Rian sibuk Bu, ada acara mendadak keluar kota, maafkan Rian ya,"} balas pesan kepada Ibunya.


_____


Rian bertanya dalam hatinya mengapa sang Ibu tidak menolak kedatangan Desy.


Apakah sang Ibu berharap kepada Desy untuk menjalin hubungan yang lebih serius dengan anaknya? Ini menjadi tanda tanya besar bagi Rian, karena Ibunya tidak mudah menerima wanita yang dekat dengan dia, tetapi kepada Desy seakan memberikan lampu sinyal.


Rian membuang napas kasar.


Dia pun berpikir asal Ibunya senang, Rian siap menikah dengan sosok wanita tersebut karena menikah dengan Lia sang Ibu seakan tidak setuju karena selalu terjadi percekcokan yang terus-menerus.


Tapi untuk saat ini Rian tidak menjalin serius dengan seorang wanita karena perceraian yang akan Lia Layangkan belum sampai ke pengadilan.

__ADS_1


Rian menatap langit-langit kamar dia teringat sosok Desy, yang merengek minta dinikahi Rian. Jadi Rian pun seakan berpikir jauh, mengapa Desy sangat memaksa agar dia segera menikahi wanita itu.


•••••


Rian pun berpikir kalau terjadi sebuah pernikahan dengan Desy sahabat dari Lia mungkin ini akan membuat luka bagi Lia, juga keluarga Lia yang sudah kenal dengan sosok Desy yang baik dan perhatian.


Rian pun seakan lupa dengan awal pertemuannya bersama Desy, entah mengapa saat itu Rian langsung jatuh hati kepada sosok Desy yang notabene adalah sahabatnya istrinya itu.


Padahal dari segi fisik Lia jauh berbeda dengan Desy. Lia dengan tubuh yang tinggi langsing dan wajah yang cantik sedangkan Desy tubuhnya mungil dengan wajah yang sederhana dan dari sisi kepribadian pun Lia lah yang mempunyai sifat terpuji dibandingkan dengan Desy.


•••••


"Rian,,, Desy mau di madu, Desy sangat sayang kepadamu. Jika kamu menikah dengan Desy, dia tidak akan di kejar lagi oleh mantannya," ucapan dari Tantenya Desy, sungguh terngiang di hati dan pikirannya Rian yang secara terang-terangan dia berbicara di depannya dan Desy. Saat itu Rian hanya terdiam dan tersenyum tipis tidak bisa berkata apa-apa dengan ucapan sang Tante.


"Mungkin hati dan rasaku masih tetap milik Lia. Apakah terhadap Desy hanya napsu semata yang kian meraja!?" ucap Rian. Pikirannya berselancar jauh.


•••


Tok.. Tok..Tok..


Tiba-tiba pintu Hotel ada yang mengetuk. Rian pun terkesiap karena dia dalam keadaan sedang melamun.


Krekkkk


Pintu terbuka lebar, sang pelayan tersenyum ramah kepada Rian dan menyerahkan pizza tersebut.


Tiba-tiba ada dua orang melewati sang pelayan dan jelas terdengar oleh Rian laki-laki tersebut berkata. "Mungkin Viona akan aku ceraikan tapi aku tunggu saat yang tepat,' ucap lelaki tersebut yang tidak lain adalah Pak Yosi, Bapak dari Rian, yang ternyata kamarnya bersebelahan dengan Rian.


Rian pun nampak terkejut dengan ucapan sang Bapak karena mau menceraikan ibunya.


Rian langsung menutup pintu kamar Hotel dan mengisyaratkan rasa terima kasih kepada pelayan Hotel dengan menganggukkan kepalanya dan tersenyum ramah, tanpa berbicara sedikitpun karena takut bunyi suara Rian didengar oleh sang Bapak dan istri kedua nya.


•••••


Rian duduk termangu di depan cermin hatinya begitu lemah lunglai, tatkala mendengar ucapan dari sang Bapak yang berniat mau menceraikan Ibunya.


Batin Rian bergemuruh tidak karuan, dia berpikir jika terjadi perceraian dengan sang Ibu yang dilayangkan oleh Bapaknya sendiri, ini akan mengakibatkan ada rasa perih yang teramat yang dirasakan oleh sang Ibu.


Bagaimanapun Ibu Viona meskipun sampai detik ini dikhianati oleh Bapaknya sendiri, dia begitu mencintai dan menyayangi sang suami walau dengan keadaan sifatnya dulu yang cerewet terhadap sang menantu yaitu Lia.


"Ternyata Tante Dini, pemenangnya!" ucap Rian, dia meremas rambut secara perlahan, nampak dia begitu gusar.

__ADS_1


Rian juga berpikir Tante Dini begitu tega merebut Bapaknya sendiri, berarti selama ini dia mendekati Lia dan Cantika ada maksud tersendiri yaitu ingin merebut seutuhnya Bapaknya, bukan yang selama ini dia utarakan bahwa dia akan tetap menjaga keharmonisan rumah tangga istri pertama, tapi buktinya sekarang malah akan ada perceraian di antara Bapak dan Ibunya itu.


Lia yang akan menceraikannya dan bayangan yang baru saja dia lihat yaitu sebuah kebohongan dari Tante Dini yang selama ini terdengar tidak akan mengusik Ibunya untuk bercerai dari sang Bapak, kian hinggap menyelimuti hati dan pikirannya.


Air mata Rian pun menetes di ujung mata, rasanya percuma air mata yang dia teteskan itu karena sudah terlambat semuanya.


Rian pun mencoba memejamkan matanya agar bisa dia bisa melupakan semuanya, dan dia ingin beristirahat tidur. Sepertinya dia pasrah dengan keadaan esok hari yang entah bagaimana sepertinya sulit berpikir untuknya.


@@@@@@@@@


2 jam kemudian....


Lia menampar keras wajah Ibu Viona, begitupun dengan Ibunya Lia yaitu Ibu Sinta yang tidak bisa menahan rasa emosinya saat bertemu dengan Ibu Viona di rumahnya.


Tante Dini pun datang bersama Bapaknya dan kata cerai pun muncul dari mulut Bapak Yosi kepada sang Ibu yaitu Ibu Viona,


Ibu Viona berteriak histeris seakan tidak kuasa dengan keadaan tersebut. Rian sang anak hanya termangu seakan tidak bisa berbuat apa-apa melihat kejadian tersebut.


"Rian tolong Ibu, tolong!" teriak sang Ibu. Rambut yang di jambak oleh Lia begitu keras yang mengakibatkan sang Ibu mengerang kesakitan.


"Bu,,,Bu,,,!!" tangan Rian ingin meraih badan sang Ibu, tapi seakan tidak kuasa bagi Rian untuk melawan semua itu.


@@@@@@@@@


Peluh bercucuran di kening Rian, dada Rian terasa sesak.


Argh...


Rian terbangun dari tidur.


"Ternyata aku mimpi!" ucap Rian.


Rian mengambil sebotol air mineral yang berada di pinggir ranjangnya yang terletak di meja rias kemudian dia pun meminumnya.


Glekk..


Mata Rian berselancar ke tiap sudut kamar Hotel, dia pun memejamkan matanya mencoba kembali mengingat mimpi yang dia rasakan barusan.


"Begitu buruk mimpiku, mungkinkah mimpi yang aku alami barusan akan terjadi!?" gumamnya. Rian seperti dihinggapi rasa takut yang mendalam dengan apa yang terjadi terhadap Ibunya di mimpinya itu.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2