Suamiku Terjerat Cinta Sahabat

Suamiku Terjerat Cinta Sahabat
Bab: 107 Desy kesal


__ADS_3

Drett... Drett...Drett...


Panggilan suara telepon seakan membangunkan Desy yang sedang tertidur pulas. Hujan di pagi itu cukup deras sekali dan selimut tebal pun seakan tidak mau lepas dari pelukan tubuh mungil Desy.


Mata Desy perlahan sedikit demi sedikit dibukanya, dia pun nampak enggan untuk mengangkat ponselnya tersebut.


"Siapa sih, pagi buta sudah ada yang menelepon, ganggu orang tidur saja!" nampak Desy menggeliatkan tubuhnya dan mencoba menggapai ponselnya yang berada di atas nakas dengan tangan kanannya.


Terlihat di layar ponsel nama Rian muncul sontak Desy pun membuka matanya dengan lebar dan bibirnya tersenyum sumringah.


"Rian, pagi buta gini sudah menelepon mungkin dia kangen sama aku," gumam hati Desy begitu seakan percaya diri.


________


Desy menghela napas secara perlahan.


{"Halo, Mas Rian, aku lagi tidur Mas, tapi aku senang ketika yang menelepon itu kamu,"} suara manja Desy begitu terdengar jelas oleh Rian di sebrang sana.


{"Malas kamu Des, ini sudah jam berapa!? Jam 7 tahu!"} ucap Rian terdengar kesal.


{"Enggak apa-apa Mas, ini kan hari libur jadi hari ini aku gunakan untuk beristirahat,"} jawab Desy terdengar santai ketika Rian menanggapi Desy yang terlihat malas.


{"Terserah kamu!"} ucap Rian terdengar emosi.


{"Kamu kenapa Mas, kayak yang marah?"} tanya Desy.


{"Kamu kok bikin kesal dan marah aku sih! Kenapa kamu bilang sama Ibuku bahwa kita sudah melakukan hubungan lebih jauh, tidur!"} Rian terdengar amarahnya meluap di sambungan teleponnya.


Degh


Sontak Desy terkesiap dan dia bangun dari tempat tidurnya.


{"Ka-Kamu kata siapa Mas?"} tanya Desy terdengar gugup.


{"Kata tetangga! Ya, kata Ibuku lah,"} Rian nampak seakan tersulut emosi.


{"Jadi kamu marah sama aku, Mas!?" tanya Desy. Dia pun tidak menyangka Rian akan marah kepada Desy .


{"Iya, jelas, aku marah karena kamu tidak sopan berbicara seperti itu!"} tegas Rian.


{"Tidak sopan gimana maksud kamu Mas,"} Desy pun seakan terpancing dengan ucapan Rian yang terdengar kecewa.


{"Itu masalah pribadi kita dan tidak untuk di umbar ke orang lain, paham!?"} tegur Rian.


{"Ibu Viona adalah Ibu, kamu sendiri Mas, kenapa kamu mesti malu!?} Desy seakan tidak mau kalah ketika berbicara.


{"Kamu paham tidak sih!? Yang aku omongkan barusan itu. Selain malu itu aib masalah pribadi kita sendiri kenapa kamu omongin kepada ibuku!"} Rian terdengar geram karena Desy seakan biasa menanggapi hal tersebut.


{"Memang kita sudah melakukannya kan, kenapa kamu mau lari dari tanggung jawab?"} tanya Desi kepada Rian


{"Bukan lari dari tanggung jawab tapi ucapan kamu itu tidak pantas untuk dibicarakan kepada Ibuku,"} ucap Rian kembali.


Tapi Desi seakan mengelak dan dia tidak mau kalah, akhirnya Rian pun menutup sambungan teleponnya karena bagi Rian bicara dengan Desy tidak akan ada habisnya dan menghamburkan waktu dia.


______


"Aneh si Rian, sudah tahu dia telah melakukan. Tapi malu dan seakan tidak mau menyadari." ucap Desy terlihat dihinggapi rasa kesal.


Desy pun membuang napas kasar.


"Mbak,,! teriakan Desy seakan menepis suara hujan yang deras diluar.


"Iya, Neng,!" terdengar suara seseorang datang ke kamar Desy, yaitu sang ART.


"Buatkan aku kopi panas!" ucapnya nampak terlihat kesal.


"Baik, Neng," dengan cepat sang ART menyeret langkah kakinya ke arah dapur.

__ADS_1


______


Desy kembali menatap layar ponselnya kemudian nampak dia menelepon seseorang.


"Hai, Des, gimana Rian sudah datang dari Kalimantan!?"} tanya seseorang di seberang sana yang tidak lain adalah sahabatnya sendiri yaitu Tante Bela.


{"Di undur Tan, nanti bulan depan,"} jawab Desy terdengar kecewa.


{"Jadi kapan rencana kamu menikah dengannya Rian, Des!? Tante sudah tidak sabar mau buatkan gaun untukmu,"} jawab Tante Bela sahabatnya itu.


{"Doakan secepatnya Tan, mungkin setelah Rian pulang dari Kalimantan baru kita menikah,"} jawab Desy terlihat begitu percaya diri dan yakin kalau Rian pasti akan menikahinya.


{"Oh, iya Des, kemarin Tantenya Lia datang ke sini dia bercerita katanya Lia akan menikah."} ucap Tante Bela.


{"Lia akan menikah! Dengan orang mana dia menikah Tan?"} tanya Desy seakan dihinggapi rasa penasaran.


{"Katanya teman kuliahnya dulu kalau nggak salah namanya Adrian,"} jawab Tante Bela.


_______


Degh ..


Jantung Desy terasa mau copot tatkala mendengar kabar tersebut. Pikirannya seakan kembali ke masa lalu. Bagaimana dia dengan sudah payahnya untuk mendapatkan hati Adrian tapi sang lelaki tidak mencintainya. Adrian hanya mengejar Lia ternyata sampai detik ini dia masih mengejar cinta wanita itu.


Terlihat Desy menahan gejolak api cemburu, wajahnya menampakkan rasa tidak senang dengan kabar tersebut, namun sesaat kemudian dia tersenyum puas dan licik


"Kamu boleh mendapatkan hati Adrian tapi kamu sudah kehilangan suami kamu yaitu Rian. Mungkin aku tidak merasa sakit hati ketika mendengar kabar kamu akan menikahi Adrian lelaki yang sangat aku kejar dulu, karena terobati dengan mantan suamimu yang kini akan menjadi milikku, camkan itu Frisilia Mehendra !" gumam hati Desy tersenyum sinis.


_______


{"Des,,,Des!"} suara Tante Bela seakan membuyarkan lamunan Desy yang tengah melamun dan memikirkan sosok sang sahabatnya yaitu Lia.


{"Iy-Iya, Tan,"} ucap Desy terhenyak.


{"Kamu sedang mikirin apa sih, sepertinya kamu sedang memikirkan Lia ya, hehehe..,"} sindir Tante Bela.


{"Kamu kesini dong main!"} ajak Tante Bela.


{"Nanti siang deh, Desy mampir ke rumah Tante ya,"} jawab Desy.


"Sekarang saja pagi Des, kenapa mesti nunggu siang. Ini kan hari libur kamu gak kemana-mana kan!?" tanya Tante Bela.


{"Setelah mandi aku mau mampir ke Ibunya Rian,"} jawab Desy.


Desy begitu perhatian kepada sang calon mertua karena dia ingin selalu mencari perhatian dari Bu Viona.


{"Wah, kamu sudah mulai dekat dengan Ibunya Rian ya, sejak kapan Des?"} tanya Tante Bela.


{"Sudah lama Tan, kemarin juga aku sebenarnya baru bertemu dengan Ibunya Rian, tapi sekarang aku mau kembali datang. Aku mau beli makanan buat Ibunya Rian,"} jawab Desy.


{"Kamu memang pandai membeli hati calon Ibu mertua kamu Des, Tante salut!"} ucap Tante Bela.


{"Tan, aku mau siap-siap dulu ya,"} Desy pun berpamitan kepada Tante Bela.


Sambungan telepon pun ditutup oleh Desy, kemudian dia menyeruput kopi panas yang baru saja di antar kan oleh sang ART.


_______


"Mbak, katanya Bobi kemarin kesini ya?" tanya Desy kepada sang ART.


Desy sebenarnya merasa terganggu dengan kedatangan mantan suaminya tersebut yang menginginkan dia rujuk kembali.


"Iya, Bu, katanya sekarang mau kesini lagi," ucap sang ART


Tiba-tiba terdengar suara klakson mobil di depan rumah, sontak Desy bertatapan dengan sang ART dan dihinggapi rasa penasaran.


Kemudian sang ART mengintip di kaca jendela, dan alangkah terkejutnya karena yang datang adalah Bobi sang mantan suami Desy.

__ADS_1


"Bu, Pak Bobi datang," ucap sang ART dengan muka terlihat kaget.


"Baru saja di omongin, brengsek tuh orang sebenarnya dia mau apa sih!?" ucap Desy.


"Apa Mbak, perlu bilang bahwa Ibu enggak ada di rumah?" tanya sang ART.


"Sudah enggak usah Mbak, biar aku yang hadapi. Lagian pasti dia tahu kalau aku ada di rumah. Soalnya mobilku terparkir di garasi," ucap Desy.


Desy pun berlalu keluar kamar dengan diikuti oleh sang ART.


_______


Nampak Bobi sedang duduk di dalam mobil, nampak terlihat mukanya lusuh dan bola matanya sayu seperti kurang tidur. Ketika Desy keluar pintu rumah dan dia masih mengunakan baju tidurnya yang terlihat seksi sontak mata Bobi jelalatan. Desy rasanya sudah tidak menghiraukan hal tersebut karena dia sudah tahu watak dari mantan suaminya itu.


"Mau apa lagi kamu?" tanya Desy dan masih mematung di depan pintu mobil Bobi.


Kemudian Bobi membuka pintu mobil maksud dia ingin bicara dengan Desy, dan Desy segera masuk ke dalam mobilnya.


"Ngomong saja mau apa! Aku malas berlama-lama bicara dengan kamu!" ucap Desy terlihat mendelik.


"Mana anakku? tanya Bobi.


"Kamu kan tahu, anak kita tidak tinggal disini lagi tapi di rumah Ibuku," ucap Desy.


"Oh, jadi gitu ya, semenjak kamu punya pacar, anak kita kamu simpan di rumah Ibumu! Biar kamu puas ya, bisa bercinta dengan pacar barumu di rumah ini!" sindir Bobi.


"Kurang ajar! Ngomong apa kamu!"tangan Desy sepertinya mau menampar pipi Bobi namun dengan sigap Bobi meraih tangan Desy. Dan kini tangan Desy meringis sakit karena di genggam erat oleh Bobi.


"Aw, sakit tahu!" teriak Desy meringis.


"Otakmu licik Des, dan ternyata kamu tidak hanya menyakiti hati aku yang sekarang menjauhkan aku dari anak kita tapi kamu sudah menyakiti sahabatmu sendiri Lia." ucap Bobi.


"Lepaskan, lepaskan aku!" Desy mencoba menarik tangannya yang sedang di tarik oleh Bobi.


"Aku tidak mau lepaskan!" jawab Bobi tersenyum sinis.


"Terus mau kamu apa!?" tanya Desy.


"Masuk kamu kedalam mobilku!" ucap Bobi dengan mata melotot.


______


Desy seperti dihinggapi rasa takut karena kedua bola mata dari Bobi begitu merah menyala seakan sedang dihinggapi rasa marah dan cemburu.


"Cepat masuk!" bibir Bobi lekat ke wajah Desy.


Sontak.Desy memalingkan mukanya.


"Kamu mabuk ya!" ucap Desy ketika mencium bau alkohol dari mulut Bobi.


"Iya, aku mabuk! Terserah mau mabuk atau apa juga karena aku bukan suami kamu lagi dan kamu jangan mengatur aku!" jawab Bobi.


_____


Dan ketika Desy ingin melepaskan tangannya dari cengkraman Bobi dengan cepat Bobi mencium bibir Desy yang mengakibatkan tangan Desy yang satu lagi dengan kuat menampar Bobi.


Ketika Bobi meringis menahan rasa sakit dengan cepat Desy melepaskan tangannya dari genggaman erat tangan Bobi.


Bruk...


Desy pun menutup pintu mobil dengan kasar. dan dengan cepat mengunci pagar rumah.


"Keluar Desy, keluar!" teriak Bobi.


Desy pun dengan cepat berlalu untuk memasuki rumah.


"Brengsek kamu Bobi," ucap Desy menggerutu.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2