Suamiku Terjerat Cinta Sahabat

Suamiku Terjerat Cinta Sahabat
Bab: 66 Perselisihan antara Rian dan sang Papa


__ADS_3

Rian tiba di Rumah Sakit.


Rian pun tiba di Rumah Sakit, dan nampak disana ada keluarga dari Desy termasuk Tante Mira yang dekat dengan Desy.


"Rian, Desy sudah pindah ruangan. Mungkin tadi ketika kecelakaan dia keadaan badannya sedang tidak stabil dan dihinggapi rasa shock jadi pingsan, tapi mukanya agak lebam di bagian pipinya, karena sewaktu menabrak pohon besar mukanya menyenggol setir mobil," ucap Tante Mira mencoba menjelaskan kepada Rian tentang kondisi sang keponakannya tersebut.


Rian hanya diam tidak banyak kata, sambil menengok ke arah jendela kamar dimana disana terlihat ada kedua orang tua Desy dan Bobby sang mantan suami dari Desy.


_____


"Lelaki itu siapa Tan?" tanya Rian kepada Tante Mira ketika pandangan matanya mengarah ke Bobby.


"Dia mantan suaminya Desy," jawab sang Tante dengan pelan.


"Oh,,,Kok, dia bisa ada disini!?" tanya Rian kembali terlihat dihinggapi rasa heran dan penasaran ketika mendapati mantannya Desy yang tengah berada di ruangan, dimana Desy sedang di rawat. Nampak jelas terlihat oleh Rian, Bobby begitu akrab dengan kedua orang tuanya tersebut.


"Iya,,tadi secara kebetulan ketika tabrakan berlangsung kebetulan Bobby sedang melewati jalan tersebut, dimana Desy kecelakaan," ucap Tante Mira


____


Rian pun duduk di pinggir pintu ruangan tersebut kemudian dia merogoh ponselnya yang berada di saku celananya.


Nampak Rian membuka ponselnya tersebut dan melihat layar WhatsApp nya itu.


Ada sebuah pesan muncul yang belum dibaca oleh Rian.


_____


Degh...


Nampak mata Rian terbelalak dengan membaca isi pesan dari sang Papa.


{"Rian,,,Tante Dini baru saja berobat dan dia mengalami depresi, Papa khawatir dengan keadaannya. Rencana Papa mau masukin Tante Dini ke pusat rehabilitasi tapi enggak tega, entah mengapa. Jadi Papa yang urus di rumah beserta Perawat sekarang. Tante Dini sudah diberikan obat oleh Dokter Sandy, jadi tingkat emosionalnya sekarang tidak tinggi seperti kemarin. Papa mohon kamu datang ke sini," tulis pesan sang Papa begitu menghentak jantung Rian, karena dia terkejut dengan pesan yang disampaikan oleh sang Papa itu.


___


"Tan,,,Maaf kayaknya aku harus kembali pulang, Papaku sedang sakit," ucap Rian memberi alasan kepada Tante Mira.


Nampak Tante Mira dihinggapi rasa penasaran dengan apa yang diucapkan oleh Rian, karena Rian belum melihat keadaan kondisi Desy yang sebenarnya. Dia baru melihat kondisi Desy diluar jendela saja.


_____


"Tapi aku ragu dan merasa risih dengan kehadiran sang mantannya Desy, dan kehadiran kedua orang tuanya Desy, pasti mereka membicarakan masalah hubunganku dengan Desy, sementara aku belum siap untuk menikahi Desy," gumam hati Rian seakan ragu untuk menengok Desy.


Rian pun nampak sudah tidak khawatir lagi melihat kondisi Desy yang tengah berada di dalam ruangan kamar pasien karena dia nampak sedang ngobrol di dalam ruangan tersebut, dan tatapannya berpaling dari sang mantan atau Bobby.


____


"Mungkin nanti saya kembali lagi ke sini karena saya lihat Desy keadaannya tidak parah dan nampak sudah pulih," ucap Rian kepada Tante Mira.

__ADS_1


"Tapi dia, tadi menanyakan kamu terus Rian, kayaknya ingin di temani sama kamu," ucap sang Tante terlihat berharap Rian bisa menemani sang keponakannya itu.


"Maaf Tan,,, nanti saja aku kesini lagi," ucapnya terdengar tegas, sepertinya Tante Mira tidak mengerti dengan kondisi Rian.


Dengan nada bicara Rian yang meninggi nampak Tante Mira pun terdiam dan nampak tersipu malu, karena dia terlalu berharap Rian menemani Desy.


Akhirnya Rian pun berpamitan kepada sang Tante, tanpa masuk ke ruangan kamar Desy dimana dia sedang berada.


_____


Di dalam mobil.


Nampak Rian memikirkan Desy, karena mukanya terlihat lebam di bagian pipinya.


Rian pun memikirkan sang Papa yang ingin cepat sang anak menemuinya. Dan yang menyelimuti penuh ruang hatinya yaitu sang mantan istrinya atau Lia. Begitu terasa nyata bayangan Lia hinggap di benak dan pikirannya.


"Lia,,,aku tidak bisa melupakanmu," ucap Rian meremas rambutnya dengan kasar.


"Aku tidak bisa membayangkan bagaimana jika kamu memiliki lelaki lain!" ucap Rian kembali dengan membuang napas kasar. Rian pun seakan kembali menyalahkan dirinya sendiri.


______


Tiba di rumah sang Papa.


Mobil Rian pun nampak masuk ketika sang ART membukakan pintu garasi halaman rumah. Kemudian Rian menyeret langkah kakinya ke dalam rumah, dan sesampai di pintu kamar Tante Dini. Rian terlihat mematung di depan pintu kamar, dia seakan ragu untuk mengetuk pintu. Rian pun menghela napas panjang.


"Sebenarnya aku tidak mau bertemu lagi dengan Tante Dini, untuk kembali datang ke rumah ini lagi, tapi karena kejadian kemarin, Tante Dini terluka hingga mengakibatkan keguguran, dan aku merasa bersalah. Jadi terpaksa aku datang lagi ke rumah Papaku," gumam hati Rian.


Setelah sang Papa mempersilahkan masuk, akhirnya Rian membuka pintu kamar, dimana Tante Dini berada.


_____


Krekkkk..


Nampak pintu kamar pun terbuka dengan lebar. Terlihat Tante Dini sedang termangu dengan menatap langit-langit kamar, dengan pandangan kosong. Sementara disana terlihat juga ada seorang Perawat yang menunggu.


"Mana anakku,," ucap Tante Dini dengan pandangan kosong dan menatap kearah Rian, dengan diselingi tangisan seakan dihinggapi rasa sedih yang teramat terdengar pilu dan tertekan.


Sontak Rian terkejut melihat keadaan Tante Dini yang tengah mengalami depresi.


"Cantika mana!? Cantika,,,,dia anakku kan? dia yang dekat selama ini denganku. Aku ingin bertemu dengannya," ucap Tante Dini kembali, dibarengi dengan tertawa terkekeh.


______


Entah mengapa Rian seakan merinding melihat perubahan fisik dari diri Tante Dini. Mukanya dulu yang cantik dengan polesan perawatan yang mahal setiap bulannya di sebuah Salon, kini nampak mukanya lusuh dan tidak terawat.


"Iya,,Tan, nanti Rian bawa kesini Cantika untuk bertemu dengan Tante," jawab Rian agar menenangkan Tante Dini padahal dalam hatinya dia berpikir untuk apa mempertemukan anaknya dengan Tante Dini yang terkena gangguan mental, dia pun takut anaknya diserang Tante Dini.


"Kamu jangan takut ya, kepada Tante Dini. Tenang Rian, Tante Dini sudah dikasih obat," ucap sang Papa lekat ke kuping Rian.

__ADS_1


_____


Nampak terlihat sang Papa seperti tersinggung melihat Rian seakan dihinggapi rasa takut dan jaga jarak ketika melihat Tante Dini yang mengoceh tidak jelas. Kemudian


Tante Dini nampak menarik selimutnya lalu menutup badannya penuh, dan berbicara sendiri.


"Sebentar lagi dia akan tidur, dia butuh tenang dan istirahat saja." ucap sang Papa.


_____


Beberapa menit kemudian akhirnya Tante Dini pun tertidur lelap. Papanya Rian seakan sudah mengerti dengan kondisi keadaan Tante Dini. Jika dia mengoceh tidak jelas dan terlihat capek, sang Papa pun dengan bantuan sang Perawat segera memberikan obat penenang, dan ocehannya pun berhenti setelah diberikan obat tersebut, dan Tante Dini pun akhirnya bisa tertidur lelap.


____


Sang Papa dan Rian pun akhirnya keluar dari dalam kamar setelah melihat Tante Dini tertidur pulas. Sementara sang Perawat tetap menjaga di dalam kamar.


Mereka lalu nampak duduk di kursi teras rumah, terlihat sang Papa wajahnya seperti dihinggapi rasa cemas, mukanya yang dulu terlihat bersih karena selalu di urus oleh sang istri kini nampak kusut seakan tidak bergairah.


"Pah,,,akhirnya Papa pun jadi sakit dan kurang tidur semenjak Tante Dini kena gangguan mental. Kalau menurut Rian lebih baik Papa untuk sementara waktu tinggal bersama Ibu, biar disini Perawat yang urus Tante Dini." ucap Rian seakan berharap penuh.


Nampak sang Papa terkejut dengan keputusan sang anak untuk sementara waktu, dia harus tinggal di rumah istri pertamanya.


"Kamu jangan ngaco Nak!" ucap sang Papa terlihat seperti kesal.


"Ngaco gimana maksud Papa," jawab Rian menatap lekat ke arah sang Papa.


"Masa Tante Dini lagi sakit ditinggalin begitu saja sama Papa, meskipun ada Perawat tapi kan Papa juga harus menjaganya." jawab sang Papa.


"Sampai kapan Papa menjaga Tante Dini? Sementara pekerjaan Papa keteter. Papa selalu izin bolos kerja," ucap Rian.


"Kamu jangan ngatur Papa Nak! Papa enggak suka," sang Papa nampak terlihat tersinggung dengan ucapan sang anak.


"Bukan ngatur, tapi Rian peduli sama Papa. Tante Dini kan ada keluarganya biar Mama-nya yang jaga di sini. Maksudnya biar Papa itu istirahat dulu di rumah Ibu. Ya, sudah kalau Papa nggak setuju dengan keputusan Rian jangan marah," ucap Rian.


______


Rian pun tidak mau kalah dengan sang Papa, dia terlihat marah karena dia berpikir Papanya tidak mau diurus dan diperhatikan oleh anaknya.


"Maksud Papa coba kamu pikir, Masa iya, Tante Dini lagi keadaan sakit seperti ini, ditinggalin begitu saja sama Papa," kembali sang Papa menekankan kepada Rian bahwa sebenarnya dia tidak mau meninggalkan Tante Dini dalam keadaan kondisi sedang sakit.


"Ribet juga kalau punya istri sakit jiwa!" ucap Rian mendelik.


"Rian jaga omongan kamu!" Papa Rian nampak matanya melotot karena merasa tersinggung dengan ucapan sang anak tersebut


Nampak Rian terkejut karena secara spontan dia berbicara hal yang tidak sopan atau tidak patut didengar oleh sang Papa, karena ucapan tersebut sangat menyinggung hati sang Papa.


"Lebih baik kamu pulang saja Rian! Papa tidak mau berdebat lagi dengan kamu," ucap sang Papa mencoba menahan rasa amarah terhadap sang anak.


"Asal Papa tahu ya, Ibu sekarang keadaannya sedang sakit juga. Tapi Papa tidak peduli! Cucu, Papa saja yang masih kecil peduli, Cantika kemaren nengok untuk melihat sang Nenek tapi Papa mana!? Papa pikirannya hanya mengurus Tante Dini istri muda," ucap Rian terlihat emosi.

__ADS_1


Sang Papa pun akhirnya terdiam seakan tidak bisa membela dirinya dirinya sendiri karena dia merasa bersalah.


Bersambung...


__ADS_2