
Nampak Shila dan Anita memasuki mobilnya dan Shila terlihat menggerutu bibirnya tidak mau diam untuk berbicara seakan kesal dengan sikap Desy yang tidak ramah kepadanya dan sang adik.
"Nit, kamu keluar saja kerja dari Kafe tersebut, terus terang Kakak tidak suka dengan sikap pacarnya Bos kamu itu, dia begitu angkuh dan tidak ramah," ucap Shila.
Sang adik dari dulu sudah di tawarin bantu sang Kakak usaha di bidang fashion tapi dia menolaknya untuk hidup mandiri tidak tergantung dengan sang Kakak.
"Cari kerja sekarang susah Kak, Alhamdulillah di syukuri saja gaji aku di kafe itu lebih dari cukup. Apalagi aku gak perlu mengeluarkan uang untuk membeli makan siang karena aku dapat jatah untuk makan siang disana," ucap kembali Anita.
_______
Sang Kakak hanya terdiam
"Memang sulit di atur anak ini dari dulu untuk urusan kerja tapi pribadinya sangat aku suka dia lembut dan sopan," gumam hati Shila.
"Kak aku mau langsung pulang saja karena kerjaan rumah belum selesai cucian baju banyak dan besok harus kembali kerja," ucap Anita melirik sang Kakak yang sedang mengemudikan mobilnya.
"Enggak akan menginap lagi di rumah Kakak lagi Nit?" tanya sang Kakak.
Anita nampak menggelengkan kepalanya.
"Nanti kapan-kapan Kak, pasti Anita nginap di rumah Kakak," jawabnya.
Akhirnya Anita pun di antar pulang oleh sang Kakak ke rumahnya.
_________
Di Kafe.
Sementara di Kafe Desy beserta Bu Viona tengah sibuk menikmati makan di siang. Tapi nampak Rian belum menghampirinya karena keadaan Kafe masih ramai dan Rian masih berada di dalam ruangan.
"Enak lumayan masakannya dan harganya murah, pantesan saja Kafe ini ramai pengunjung," ucap Bu Viona.
"Iya, Bu, nanti setelah nikah akan Desy renovasi tempatnya menjadi lebih besar," ucap Desy sambil menikmati makanan di Kafe sementara matanya berselancar ke tiap ruangan sekitar.
"Ibu senang dengarnya Nak," ucap sang Ibu terlihat dari raut mukanya gembira.
"Kalau perlu semua asetku, akan aku jual untuk membeli tanah yang kosong yang berada di pinggir Kafe dan Kafe ini jadi tambah besar dan jumlah karyawan bertambah," ucap Desy.
"Kamu menantu idaman," sang Ibu kembali memuji Desy dan membuat Desy besar kepala dengan terus menerus dihujani dengan pujian dari calon Ibu mertuanya itu.
_______
"Gimana Bu, makanannya enak?" tanya sang anak. Tiba-tiba Rian datang dengan peluh bercucuran. Dengan sigap Desy mengelap keringat Rian dengan tisu dan ini membuat rasa risih di hati Rian karena semalam dia sudah berantem hebat dengan Desy.
"Rian, kamu capek ya, Nak?" sang Ibu menatap lekat kearah sang anak. Sementara Rian hanya menunduk menghindari pandangan lekat Desy.
Nampak Kafe pun sudah mulai sepi pengunjung dan suara tamu pun akhirnya sepi di ganti dengan obrolan antara Bu Viona dan Desy yang terlihat membicarakan masalah pernikahan.
"Sekarang Rian nurut saja apa kata Ibu," ucap Rian dan tidak menampakkan senyuman.
"Akhirnya Rian mau menikah denganku, aku akan kasih undangan Lia biar dia tahu bahwa aku akhirnya jadi dinikahi oleh mantan suaminya," gumam hati Desy.
_________
Nampak dari bawah meja terlihat Desy menggenggam erat tangan Rian sementara Rian seakan dingin, malas untuk meraih cengkraman jemari Desy.
"Kata Desy kalau kamu tidak mau nikah secara mewah tidak apa-apa nikah secara sederhana di kafe ini saja Rian," ucap sang Ibu menatap Rian dan Desy.
"Ngapain juga duda dan janda diadakan acaranya mewah, sayang uang dihamburkan," ucap Rian ketus sambil mencoba menarik tangannya dari genggaman Desy
"Loh, kamu jangan ngomong gitu Rian, Ibu tidak suka!" nampak sang Ibu terlihat kesal.
"Biaya dari aku semua Mas, tidak apa-apa, aku harap kamu jangan menolaknya kita kan akan menjadi sepasang suami istri," ucap Desy tersenyum puas.
"Rian, apalagi Desy ada rencana mau membangun Kafe ini menjadi besar. Apa kamu tidak senang dengarnya?" tanya sang Ibu mencoba mengambil hati Rian.
__ADS_1
Sepertinya Bu Viona sangat antusias agar dia bisa mendapatkan harta Desy yang melimpah dan sebenarnya juga matre dengan melihat Desy dari harta. Dan Desy sangat tahu hal itu jadi dengan uang dia bisa membeli semuanya kepada Ibunya Rian.
"Kalau aku berdebat dengan kedua orang ini percuma dan pada akhirnya mereka memojokkan aku. Intinya Desy dan Ibu ingin segera aku bisa menikah jadi lebih baik aku diam saja. Apa kata mereka aku turuti saja," gumam hati Rian pandangan matanya terlihat menatap lalu lalang kendaraan yang keluar dan memasuki Kafe.
__________
"Rian, kamu ngerti enggak sih, dengan obrolan Ibu dan Desy," sang Ibu menepuk pundaknya Rian.
Rian menganggukkan kepalanya.
"Terserah Ibu saja, gimana baiknya," jawabnya.
"Terima kasih, Sayang," Desy sumringah mukanya sambil memeluk Rian dengan spontan karena akhirnya Rian luluh juga dengan rencananya.
Rian nampak mencoba melepaskan pelukan dari Desy yang begitu erat. Sang Ibu seakan tahu jika anaknya itu merasa risih dengan pelukan Desy.
"Rian enggak apa-apa, Desy kan calon istrimu kamu tidak perlu malu." ucap sang Ibu tersenyum ke arah Desy.
Rian hanya mendelik dan berusaha sekuat tenaga melepaskan pelukan Desy.
"Mas, Ibu tadi sudah belanja dan nampak ibu senang sekali. Dia aku belikan beberapa baju," ucap Desy dengan melirik Bu Viona yang terlihat bibirnya tersenyum merekah.
"Iya, Sayang, memang kamu itu menantu idaman Des," Ibu Viona seakan tahu sekarang cara mengambil hati Desy seperti apa dia harus di puji dan dihujani pelukan dan sentuhan kasih sayang.
Dengan cara begitu materi yang Desy kasih akan berlimpah dia berikan kepada Bu Viona dan tentunya ini membuat hati Bu Viona gembira karena diberikan hadiah dan uang.
_________
"Ya sudah Bu, mulai besok Desy akan persiapkan semua mulai cetak undangan, gaun pengantin dan menu yang ada di kafe ini apa saja untuk para tamu," ucap Desy terlihat antusias.
Tiba-tiba karyawan Rian menghampirinya karena ada tamu ya g datang, Rian pun pamit kepada sang Ibu dan Desy.
"Rian pusing terserah kamu saja Des," ucapnya seakan malas untuk mencampuri lagi urusan pernikahannya itu
"Iya, Mas, kamu tenang saja jangan memikirkan masalah biaya biar aku yang atur semua. Kamu fokus saja kerja," Desy tersenyum kearah Rian dan nampak Rian tidak membalas senyuman dari Desy. Dia dengan cepat berlalu untuk menghampiri tamu yang datang.
______
"Wah, kedatangan tamu istimewa," Rian bersalaman dengan Steven dan Mario.
Papa Steven pun nampak asik ngobrol masalah Kafe yang begitu ramai pengunjung dan Mario pun seakan meminta Rian untuk menerangkan bagaimana caranya agar usaha Kafe menjadi maju dan ramai pengunjung.
Obrolan pun mengarah ke masalah pribadi.
"Wah, hebat belum ada istri yang dampingi sudah maju pesat apalagi ada istri yang dampingi," sindir Mario.
"Iya, Pak Rian hebat, kapan nikah Pak? Nanti kita undang ya," sambung Papa Steven.
"Doakan saja bulan depan ya, semoga lancar dan nikahnya mau di adakan disini, Pak Steven datang ya, bersama keluarganya juga Pak Mario bersama istrinya, " ucap Rian nampak tersipu malu.
"Pasti akan saya usahakan datang," jawab Papa Steven tersenyum ramah.
•••
Satu jam sudah mereka berbincang dan akhirnya Papa Steven dan Mario pun pamit pulang. Mereka menggunakan mobil masing-masing.
_____
Ting..
Nampak pesan muncul dari ponsel Rian.
{"Rian, gimana bisnis Kafe kamu lancar? Rian maaf, uang yang aku pinjamkan sama kamu sudah ada belum? Itu kamu pinjam sudah hampir 5 bulan dan jumlahnya tidak sedikit 500 juta. Memang itu bukan uangku tapi aku malu sama temanku itu, meskipun dia tidak menagih dan tidak minta lebih."} pesan dari teman Rian muncul.
Nampak Rian merasa malu dan tidak tahu harus membalas pesan seperti apa karena persediaan uang dia saat ini sangat pas-pasan hanya untuk modal Kafe dan selebihnya mungkin akan dia gunakan sedikit untuk biaya nikah. Rian nampak menghela napas panjang.
__ADS_1
"Aku mengundur waktu menikah gara-gara ini, jika di tagih aku malu. Inginnya aku bayar dulu utang ke teman yang 500 juta baru aku menikah," gumam hati Rian.
Rian pun kemudian memberanikan diri untuk menelepon temannya walaupun dihinggapi rasa malu karena belum sepeserpun membayar uang yang dia pinjam kepada temannya itu.
•••
Rian menelepon temannya.
"Halo, Mas Hendrik, gimana kabarnya? Iya, Mas, maaf sekali aku belum bisa membayar uang itu karena bisnis usaha aku baru minggu-minggu ini lancar dan sebetulnya ini ada uang sebagian tapi aku ada niat untuk menikah. Calon istriku meminta cepat untuk nikah begitupun dengan Ibuku yang ingin segera anaknya kembali menuju pelaminan,"} ucapnya.
{"Alhamdulillah kabarnya baik Rian, Alhamdulillah kalau kamu ada niat mau menikah karena nikah adalah ibadah dan itu jangan di tunda biar rezeki kamu tambah berkah dan lancar. Iya, Rian enggak apa-apa kalau kamu belum bisa bayar uang itu nanti aku akan kasih tahu temanku yang meminjamkan uang itu kepadamu ya, dia tidak akan marah kok, lagian uangnya berlebih dan dia sudah sangat percaya sama aku. Mungkin kalau bukan aku yang minta pinjam dia gak akan kasih,"} ucap temannya yang bernama Hendrik di sebrang sana
{"Datang ya, nanti ke acara pernikahanku. Acara sederhana hanya dihadiri keluarga terdekat dan teman dekat saja kok, sekalian kamu bawa temanmu itu yang kasih aku pinjam modal. Aku malu loh, dengan temanmu itu dan sampai sekarang kamu belum memperkenalkan dia sama aku padahal aku ingin mengucapkan rasa terima kasih kepada orang itu yang telah ikhlas memberikan pinjaman modal uang tanpa dikasih lebih."} ucap Rian kembali.
Rian merasa berhutang budi kepada temannya Hendrik yang sudah rela memberikan modal yang begitu besar kepada dirinya dan tanpa jaminan apapun.
{"Iya, sebut saja dia hamba Allah, karena dia tidak mau di sebut namanya karena itu kepercayaan saja,"} jawab Hendrik.
{"Setelah 2 bulan aku ada rezeki mungkin baru aku bayar nanti, dan aku sekalian ingin bertemu dengan teman kamu yang memberikan modal itu selama ini sehingga usaha aku lancar. Mungkin dia seseorang yang dermawan ya, sehingga uang yang aku gunakan untuk bisnis pun berjalan lancar," Rian seakan mengkhayal dengan sosok yang memberikan modal tersebut sebenarnya dia siapa?
{"Iya, Rian tidak apa-apa, aku doakan agar setelah nikah nanti rezekinya lancar ya, dan semoga kamu dapat membayar utang kamu dengan lancar,"} ucap kembali Hendrik.
{"Terima kasih Hen, memang kamu teman yang istimewa. Pasti akan aku bayar uang tersebut di 2 bulan ke depan,"} jawab Rian.
_______
Hendrik pun sang teman kemudian menutup sambungan teleponnya. Dan sambungan telepon pun akhirnya terputus.
Rian menghela napas secara perlahan, dia sangat bersyukur mendapatkan teman yang begitu baik dan perhatian.
"Hendrik pasti aku akan membalas semua kebaikan kamu kepadaku," gumam hati Rian.
______
Jauh di sebrang sana Hendrik pun nampak menelepon yang dia sebut hamba Allah yang tidak mau di sebutkan namanya karena meminjamkan sejumlah uang yang nampak jumlahnya tidak sedikit.
{"Halo, Adrian maaf temanku belum bisa bayar uangnya karena kata dia usahanya baru jalan ramai minggu-minggu ini. Kamu tidak marah kan?"} ucap Hendrik kepada temannya yang bernama Adrian yang semakin hari usaha semakin maju di Restoran yang mempunyai 4 cabang.
{"Iya, Hen, tidak apa-apa, pakai saja. Kasihan temanmu itu kalau belum ada jangan dipaksa untuk bayar. Kita kan kalau nolong orang harus ikhlas biar rezeki kita juga lancar kedepannya,"} ucap Adrian.
{"Memang kamu luar biasa, teman yang baik semoga kamu cepat diberikan momongan ya, gimana kamu jadi ke Singapura sama istrimu untuk berobat sekaligus bulan madu yang kedua?"} tanya Hendrik kepada temannya itu.
{"Jadi ini lagi siap-siap kita mau pergi,"} jawabnya terdengar ramah
{"Ya, sudah kalau begitu, aku doakan lancar dan selamat sampai tujuan. Semoga ikhtiar kamu untuk mempunyai anak sampai jauh ke Singapura di lancarkan dan segera mendapatkan momongan,"} ucap Hendrik.
Sambungan telepon pun di tutup oleh Hendrik.
______
Ternyata yang meminjamkan uang kepada Hendrik adalah Adrian, dan Adrian hari ini mau berobat ke Dokter spesialis kandungan yang di referensi-kan oleh Zahira.
Adrian pun tidak menyangka jika Hendrik memberikan pinjaman untuk modalnya kepada Rian sang mantan suami dari Lia.
Entah bagaimana perasaan dan malunya hati Rian di saat tahu bahwa yang meminjamkan uang tersebut ternyata adalah Adrian suami dari mantan istrinya yaitu Lia.
Adrian yang berhati mulya dan mempunyai uang berlebih tidak peduli temannya Hendrik memberikan pinjaman modal kepada siapa, yang terpenting dia berpikir dalam rezeki dia, ada orang yang membutuhkannya dan jika sudah rezeki dia, pasti kembali orang yang dia tolong dalam kesulitan pasti akan membayarnya tapi jika belum membayar mungkin belum rezeki dia.
Sesimpel itu pemikiran Adrian sehingga rezekinya berlimpah ruah. Hanya yang di atas sekarang lagi mengujinya dengan belum mempunyai momongan.
•••
Ikhlas dalam menolong orang lain maka rezeki kamu akan bertambah.
Bersambung...
__ADS_1
"