Suamiku Terjerat Cinta Sahabat

Suamiku Terjerat Cinta Sahabat
Bab: 179 Rumah Bu Viona di sita


__ADS_3

Ketukan pintu begitu terdengar nyaring beberapa kali di ketuk di teras rumah. Dan ketukan tersebut buat kuping Rian terdengar dihinggapi rasa kesal. Apalagi Rian saat ini belum jalan usahanya jadi sifatnya seakan selalu dihinggapi rasa marah.


Sementara Desy nampaknya dia sedang tidak ada, dia pergi ke rumah orang tuanya dan sang ART pun sudah tidak bekerja lagi di rumah Bu Viona. Jadi dengan rasa malas Rian pun terpaksa yang membuka pintu rumah.


Ceklek.


Pintu terbuka dengan lebar nampaknya ada tiga orang berbaju warna hitam. Mereka nampak penampilannya sangat sangar dan dari nada bicaranya terlhat arogan.


"Kami mau bertemu dengan Viona!' ucap sang lelaki yang berbadan tegap itu.


"Bu Viona!?" sindir Rian.


_______


Sepertinya mereka tidak berlaku sopan dengan menyebut Ibunya Rian dengan panggilan nama saja tanpa memakai kata Ibu dan ini membuat Rian dihinggapi rasa kesal.


"Iya, Viona!" ucap seseorang yang satu lagi yang memakai kacamata hitam.


"Kalian siapa! Tidak ada sopan santun panggil Ibu saya dengan nama saja," Rian mendelik.


"Kami suruhan dari Bu Broto relasi bisnis Viona untuk menyita rumah ini!' tegasnya dengan sorot mata tajam.


_______


DEGH...


"Apa!!! Mungkin kalian salah orang!" Rian terbelalak matanya dan jantungnya berdetak lebih cepat dengan apa yang di ucapkan oleh lelaki tersebut.


"Tidak Pak, kami tidak salah orang," ucap lelaki tersebut.


Kemudian seorang yang memakai kacamata hitam tersebut memperlihatkan sebuah KTP dan utang piutang Bu Viona yang sesuai dengan harga rumah tersebut dan nampaknya tidak membayar utang tersebut dengan jarak hampir satu tahun.


•••


'Tidak, ini tidak mungkin! Ibuku tidak berani meminjam uang begitu besar kepada orang lain," tegas Rian.


"Pak, jangan ngeyel ya, karena kita di suruh oleh atasan kita jadi Bapak harus meninggalkan rumah ini dan kami beri waktu satu minggu!" ucapnya.


"Kalian salah orang, pergi dari sini!" ucap Rian tersulut emosi.


"Jelas-jelas ini tertera dari alamat KTP dan nama Ibu Bapak, Viona! Gini saja mana Viona, kita mau bertemu!" ucapnya.


"Ibu saya sedang istirahat tidak boleh diganggu, dia sedang tidak enak badan," ucap Rian seakan tidak terima jika sang Ibu harus bertemu dengan ketiga lelaki tersebut.


"Tapi kita di suruh Bu Broto untuk bertemu dengan Viona!" ucap sang lelaki itu.


"Pokoknya aku tidak akan mempersilahkan masuk kalian ke rumah Ibuku!" Rian terlihat ngeyel dan ini mengakibatkan rasa kesal dan emosi terhadap ketiga lelaki tersebut.


_______


Ketiga lelaki tersebut saling bertatapan mereka seakan memberikan kode, bahwa mereka akan memasuki rumah tersebut secara paksa.


Kemudian satu orang lelaki itu dengan kasar mendorong tubuh Rian dengan paksa karena Rian tidak mau mempersilahkan mereka untuk memasuki rumah.


Sontak Rian tersungkur dan dengan cepat Rian melawan. Tapi apa daya badan Rian seakan tidak kuat untuk melawan ketiga orang yang bertubuh kekar itu.


•••


"Ayo, kita cari Viona kedalam!" bentak seseorang yang memakai kacamata hitam.


"Tunggu kalian jangan seenaknya main masuk ke rumah orang lain" ucap Rian dengan tubuh yang masih terasa sakit akibat terjatuh.


Para lelaki tersebut seakan tidak menghiraukan ucapan dari Rian.


"Viona, Viona, keluar kamu!"

__ADS_1


________


Tiba-tiba Bu Viona datang menghampiri karena dia merasa terganggu dengan suara gaduh yang berada di rumahnya itu.


"Ada apa ini!" ucap Bu Viona dengan mengucek matanya karena baru saja dia terbangun dari tidur.


"Bu, ini ada perampok?" teriak Rian.


PLAK...


PLAK..


Tamparan keras melayang di pipi Rian dan Rian pun nampak meringis menahan rasa sakit dan matanya melotot.


"Gila, kalian. Kenapa kamu tampar aku!?" Rian terlihat tersulut emosi ketika tamparan melayang hinggap oleh lelaki kekar itu.


"Dasar go**k! Kenapa kamu panggil kita perampok!" lelaki tersebut dengan mata merah menyala dan bau alkohol di mulutnya.


Rian sepertinya dihinggapi rasa takut karena ternyata para lelaki tersebut sungguh ganas dan brutal.


_______


"Saya suruhan Bu Broto!" bentak lelaki yang memakai kacamata hitam tersebut kepada Bu Viona.


DEGH..


Bu Viona terlihat terkejut dan nampak Rian melihatnya. Wajah Bu Viona pucat pasi dan peluh pun bercucuran. Jantungnya berdetak lebih cepat tidak karuan.


"Lihat, anak muda. Ibumu punya karena nampak dari rasa keterkejutan dia dengan mendengar Bu Broto, menagih utang dan mengusirnya," ucapnya dengan menatap wajah Rian dengan lekat.


"Bu, apa Ibu punya utang sama Bu Broto! Jawab Bu!" Rian seakan memaksa Ibunya untuk berucap dengan jujur.


Sang Ibu nampak menunduk dan menganggukkan kepalanya. Rasanya dia seakan gugup.


•••


"Bekas bisnis dan bisnis tersebut kena tipu Rian. Maaf, maafkan Ibu karena sebelumnya Ibu tidak bicara sama kamu," sang Ibu terlihat berkaca-kaca matanya.


"Kalian di beri waktu seminggu untuk meninggalkan tempat ini. Kalau tidak kita akan keluar paksa." ucap lelaki tersebut.


"Bu, mana nomor Bu Broto atau kita datangi rumahnya saja, enak saja usir saja," ucap Rian seakan tidak terima jika harus keluar dari rumah tersebut


"Percuma Rian, Ibu sudah telat tidak bayar utang itu sama Broto, kita salah. Maafkan Ibu, Rian. Maafkan,," sang Ibu nampak menangis histeris.


"Ingat ya, seminggu waktu kalian untuk keluar dari tempat ini!!" ucap lelaki tersebut.


Dan ketiga lelaki itu pun berlalu pergi dari rumah Bu Viona tanpa pamit.


________


"Ibu,,,,!!" teriak Rian.


Sontak sang Ibu yang sedang menangis terkejut dengan melihat gestur dan wajah Rian yang sedang dihinggapi rasa emosi dan matanya merah menyala.


"Maafkan, maafkan Ibu," ucap sang Ibu tersedu.


"Bu, kita mau ngungsi kemana, kita tidak punya rumah lagi," Rian nampak kesal dan kecewa terhadap sang Ibu.


"Ibu tidak tahu Rian, atau kita ngungsi ke rumah Desy saja," dengan entengnya sang Ibu berkata seperti itu karena dihinggapi rasa gugup. Dan sang Ibu tidak berpikir bahwa Rian mungkin tidak mau jika harus tinggal di rumah Desy.


"Tidak, tidak mau, Rian tidak mau tinggal di rumah Desy! Rian benar-benar kecewa sama Ibu," Rian meremas rambutnya dengan kasar dan nampak dia beberapa membuang napas kasar.


"Kalau kamu tidak mau tinggal di rumah Desy kita ngontrak saja Rian, untuk sementara waktu," ucap sang Ibu.


"Uang dari mana Bu!" Rian nampak gusar

__ADS_1


"Uang yang buat usaha kamu kan masih ada sisa Rian, sementara kita ngontrak dan semoga kedepannya kita dapat beli rumah yang layak," sang Ibu mencoba menenangkan hati sang anak meskipun dalam dirinya dihinggapi rasa tidak karuan.


________


Nampak Bu Viona tidak menyangka dengan semua ini, dulu dia secara sembunyi menyimpan sertifikat rumah tanpa sepengetahuan sang anak untuk urusan bisnisnya bersama Bu Broto dan kebetulan usaha tersebut kini tidak berjalan sesuai dengan rencana dan kena tipu.


Bu Viona tidak menyangka sang reman Bu Broto dengan teganya mengusir dia. Nampak Bu Viona terlena dengan waktu. Dia berpikir Bu Broto tidak akan menagihnya dan akan memberikan kesempatan kedua atau menyicilnya jika dia sudah ada uang tapi kenyataannya semua tidak sesuai dengan ekspektasi.


_________


Nampak Rian memaksa nomor Bu Broto kepada sang Ibu. Dia ingin meminta waktu untuk membayar atau menyicil utangnya.


Tidak butuh waktu lama untuk bisa tersambung kepada Bu Broto.


{"Bu, ini dengan Rian anak dari Bu Viona. Saya janji akan membayar utang Ibu saya dan mohon beri waktu untuk mencicilnya,"} ucap Rian di sambungan teleponnya terdengar memohon.


{"Sudah syukur aku sabar dan waktu yang aku berikan untuk ibu kamu membayar semua utangnya sudah melebihi batas,"} ucap Bu Broto terdengar nyaring dan dihinggapi rasa amarah.


Sontak Rian mengernyitkan dahi dalam hatinya berpikir, sosok Bu Broto ini adalah sosok yang tegas dan cepat marah terdengar dari nada bicaranya.


{"Saya, mau bertemu dengan Ibu,"} pinta Rian kepada Bu Broto.


{"Maaf tidak bisa karena saya sedang ada di luar negeri, sudah ya, kamu hanya menghamburkan waktuku saja, aku sedang sibuk!"}


TUT ..


Sambungan telepon pun nampak terputus dari sebrang sana. Nampak Rian mengepalkan tangannya rasa marah, kesal, kecewa, sedih, semua campur menjadi satu.


_______


"Rian, gimana Bu Broto mau memberikan kita kesempatan," sang Ibu nampak berharap.


"Tidak, dia tetap mengusir kita!" ucap Rian menahan amarah yang hinggap dalam diri kepada sang Ibu.


"Rian, sekali lagi maafkan Ibu karena Ibu tidak bicara sebelumnya sama kamu kalau Ibu meminjam sejumlah uang kepada Bu Broto," nampak sang Ibu kembali meminta maafnya kepada Rian.


"Terlambat semuanya Bu, yang sekarang kita lakukan adalah harus segera keluar dari rumah ini," ucap Rian dan nampak pikirannya melayang jauh, dia berpikir akan pergi kemana dia setelah ini.


"Rian, kalau ngontrak sayang uangnya, mending kita tinggal di rumah Desy. Dia tidak akan keberatan Ibu rasa, karena dia sangat mencintai kamu, Ayolah, Rian," sang Ibu seperti memohon kepada anaknya itu.


Sementara Rian hanya terdiam seakan tidak bisa berpikir jernih.


"Aku akan telepon Papa, siapa tahu dia akan bantu," ucap Rian.


"Jangan, kamu jangan telepon Papa kamu, untuk apa!" sang Ibu seakan tidak rela jika Rian akan meminta bantuan kepada sang Papa.


"Kenapa Bu!" Rain mendelik.


"Papa kamu sedang miskin dan pasti dia akan meminta bantuan sama Dini," ucap sang Ibu.


•••


Rian pun kembali berpikir dalam hatinya, benar juga apa yang di ucapkan oleh sang Ibu, mana mungkin Papanya memberikan bantuan kepada dirinya saat ini karena Papanya dalam keadaan susah.


"Ibu akan telepon Desy," ucap sang Ibu.


Kemudian sang Ibu pun menelepon Desy dan dengan suara terdengar ingin dikasihani dan memelas dan dengan terisak tangis.


Bu Viona menceritakan semua yang terjadi saat ini yang menimpa dirinya. Bu Viona penuh kesedihan ketika berucap di sambungan teleponnya.


{"Apa,,!!! Aku enggak salah dengar,"} ucap Desy di sambungan teleponnya setelah mendengar semua keluh kesah yang di ucapakan oleh Ibu mertuanya tersebut.


"Tolong, tolong Ibu, Des," sang Ibu merengek dan terisak tangis.


"Desy, sungguh tidak menyangka Bu," ucapnya kembali di sambungan teleponnya.

__ADS_1


"Ibu mohon dengan sangat agar Ibu dan Rian bisa tinggal di rumah kamu,"} ucap Bu Viona terdengar sangat memohon.


Bersambung...


__ADS_2