Suamiku Terjerat Cinta Sahabat

Suamiku Terjerat Cinta Sahabat
Bab: 89 Akal licik Desy


__ADS_3

"Bu, gimana Ibu suka dengan cincin yang Desy berikan kepada Ibu?" tanya Desy menatap lekat kepada Bu Viona.


"Senang Nak, memang kamu baik sekali, terima kasih ya," ucap Bu Viona dengan menatap cincin bermata satu yang begitu berkilau pemberian dari Desy. Kemudian Ibunya Rian memeluk Desy.


"Ibunya Rian rasanya senang banget dengan hadiah pemberianku ini, saatnya aku harus bicara serius," gumam hati Desy. Pikiran dia sudah menari-nari ingin segera di sahkan sebagai menantu.


____


"Bu, jadi kapan Ibu bisa bujuk Rian untuk segera menikah denganku, aku sudah tidak sabar menikah dengan Rian," ucap Desy.


Desy begitu berharap Ibu Viona bisa membujuk sang anak untuk segera bisa menikah dengan dirinya. Desy merasa puas jika Rian bisa menikahinya karena dia bisa memperlihatkan kepada Lia bahwa dia dapat mengambil hati Rian sepenuhnya, dia juga ingin membuktikan kepada Lia bahwa Rian sangat mencintainya jika dia sampai jadi menikah dengan Rian.


_____


"Secepatnya Sayang, tapi Ibu sudah bilang kepada Papanya Rian, kalau dia terserah Rian saja karena Rian yang menjalani. Tapi sudahlah Ibu juga tidak terlalu pusing memikirkan Papanya Rian, meskipun kamu tidak ada restu dari dia, Ibu tetap dukung kamu untuk bisa menikah dengan Rian," ucap Ibu Viona mencoba menenangkan hati Desy karena nampak oleh Bu Viona, Desy seakan gusar jika Rian sampai mengulur waktu untuk menikah dengannya.


"Tapi aku gak mau sampai nunggu lama, dan aku harap Ibu bisa membujuk Rian agar secepatnya bisa menikahi ku," rengek Desy.


______


Ibu Viona seakan meyakinkan kepada Desy bahwa dia benar-benar serius dengan perkataannya itu, kemudian Ibu Viona mengambil ponselnya yang terletak di atas meja sofa kemudian dia memijit nomor telepon yang dituju adalah Rian. Karena Rian sedang diluar kota dan baru pulang malam ini ke rumah.


••••


{"Rian, ini Ibu lagi sama Desy, Ibu harap sepulang kamu dari luar kota kita ke rumah Desy untuk membicarakan pernikahan kamu!"} ucap Bu Viona di sambungan teleponnya. Dan nampak tidak ada jawaban di sana dan Bu Viona pun dihinggapi rasa heran.


Dia beberapa kali melihat layar ponselnya itu, dia menyangka mungkin tidak ada jaringan sehingga suara Rian tidak terdengar, padahal jauh disana Rian sedang diam seribu bahasa, entah apa yang ada dipikiran Rian dan dia mau memberikan jawaban apa? Dengan apa yang diucapkan barusan oleh sang Ibu.


{"Rian, halo,,, Rian! Apa kamu masih disana!?"} tanya sang Ibu terlihat bingung.


{"Iya, Bu,,!"} ucapnya tanpa memberikan jawaban. Dan Rian seakan pura-pura tidak mendengar apa yang barusan Bu Viona katakan.


{"Lusa pokoknya kamu dan Ibu ke rumah Desy, dan besok kita belanja dulu untuk membelikan beberapa barang dan makanan untuk dibawa ke rumah Desy!"} ucap Ibu Viona terdengar kesal karena sang anak seperti tidak semangat ketika membicarakan masalah pernikahan.


{'Iya,,!"} ucap Rian singkat.


Rian sebenarnya berkata begitu agar sang Ibu tidak lebih lama untuk berbicara dengannya di sambungan teleponnya. Rian berpikir nanti saja obrolan mengenai pernikahannya dengan Desy di rumah saja karena dia sedang sibuk.


_________

__ADS_1


Nampak terlihat raut muka Desy begitu sumringah tatkala Bu Viona sudah bisa menghubungi Rian dan mengatakan akan kerumahnya untuk melamarnya dirinya.


"Des, kamu nginap saja disini diluar hujan gede, Ibu khawatir kamu mengendarai mobil, gelap pula diluar," ucap sang Ibu.


Sore itu hujan lebat sekali dan diluar sangat gelap seperti malam, Desy pun dengan segenap cara agar dia bisa mendapatkan hati Bu Viona pura-pura menolak untuk menginap di rumahnya Rian, padahal dalam hatinya berpikir dia ingin sekali menginap di rumahnya Rian agar bisa lebih banyak waktu dengan Bu Viona mengambil hati Bu Viona dan juga bertemu dengan Rian malam ini.


"Tapi, Bu, Desy akan pulang saja jika hujan sudah reda karena enggak enak kalau nginap disini," ucapnya pura-pura terlihat alim.


"Enggak apa-apa Des, kayak di rumah siapa saja, Ibu sudah anggap kamu anak Ibu kok," jawab sang Ibu tersenyum.


"Bu, kayaknya dingin-dingin gini enaknya minum susu jahe hangat ya, dibikinkan sama Desy ya," ucapnya.


"Jangan Des, biar si Mbak (ART) saja, nanti suruh bikin," ucapnya dan Bu Viona pun seakan teringat kembali dengan sosok Lia karena Lia selalu memberikan susu jahe hangat kepadanya, jika Lia menginap di rumahnya, Lia sangat telaten dulu sebagai menantu.


"Apa mungkin karena Lia dan Desy bersahabat jadi kebiasaannya sama?" gumam hati Bu Viona. Tapi dengan cepat Bu Viona menepis semuanya, bayangan tentang Mamanya Lia seakan selalu datang menghinggapinya, dia begitu benci kepada Ibunya Lia dengan mengenang masa lalunya.


_____


Desy pun melengos ke dapur.


"Mbak, ambilkan susu, jahe, gula merah, dan rebus air hangat dua gelas," titah Desy kepada sang ART.


"Baik, Neng," tanpa berpikir panjang sang ART menuruti perintahnya.


Dua gelas cangkir susu jahe pun kini siap untuk di minum, kemudian Desy mencobanya meminum dengan memakai sendok.


"Mbak, kurang manis kasih susu dikit," titahnya kembali kepada sang ART.


Nampak Desy ingin minuman tersebut terasa enak karena yang akan meminum adalah sang calon mertua, dia malu jika minuman tersebut tidak enak karena dia tengah mengambil hati Ibu mertua.


Dirasa minumannya tersebut sudah enak dan berasa manisnya, kemudian Desy pun berlalu dari dapur dan menghampiri Bu Viona dengan membawa dua cangkir sus jahe hangat.


_____


"Waduh, enak sekali susu jahe bikinan kamu Nak, memang ya, kamu luar biasa. Sudah baik, pintar masak pula," ucap Bu Viona kagum kepada Desy. Nampak terlihat Desy tersipu malu ketika mendapati pujian dari calon Ibu mertuanya itu.


"Kamu tidur di kamar Rian saja enggak apa-apa, biar dia tidur di kamar tamu. Sudah nginap disini saja, Ibu khawatir kalau kamu pulang diluar gelap dan hujan deras," kembali Ibu menawarkan Desy untuk bisa menginap di rumahnya sambil melirik ke arah cincin pemberian Desy yang berkilau.


"Bu Viona sangat suka dengan cincin pemberianku, dan aku merasa senang," gumam hati Desy tersenyum puas.

__ADS_1


______


Malam tiba.


"Nak, ini pake saja baju tidur Ibu, kebetulan baju ini belum ibu pake," Bu Viona memberikan baju kepada Desy.


Desy pun nampak tersenyum ketika sang Ibu memberikan baju tidur dalam hatinya berpikir.


Akhirnya dia jadi menginap di rumah Rian.


Beberapa menit kemudian.


Terlihat mata Bu Viona mengantuk dia pun berlalu pamit dari Desy untuk istirahat tidur, sementara Desy masih duduk di sofa dan matanya lekat ke arah layar TV.


______


Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam dan hujan masih lebat mengguyur, sementara Rian belum pulang. Desy beberapa kali melirik jam dinding yang berada tepat menempel di atas layar TV.


Desy kemudian berlalu ke kamar Rian.


Dia pun merebahkan badannya di kasur milik Rian, sementara yang punya kamar belum pulang. Mata Desy berselancar menatap sudut ruangan. Baru kali ini Desy berada di kamar Rian, yang dari kecil dia tidur disana.


Meskipun rumah tersebut tempat persinggahan Rian jika menginap di rumah sang Ibu namun tetap saja disana terpajang foto keluarga kecil Rian bersama Lia dan anaknya dan ini membuat rasa cemburu Desy yang tiba-tiba hinggap.


"Kenapa foto ini mesti terpajang padahal mereka sudah cerai!" ucap Desy terlihat kesal.


Disana pun ada foto gambar Lia yang sedang sendiri dan terlihat jelas ada tulisan di foto gambar tersebut yang membuat Desy semakin terbakar api cemburu.


"Meskipun kita telah berpisah tapi


percayalah, aku sangat mencintaimu.


Dalam lubuk hati paling dalam


sebenarnya aku ingin kembali bersamamu,"


Degh ..


Jantung Desy seakan berpacu lebih kencang, cemburu di dadanya seakan menguasai hati dan pikirannya. Desy pun takut jika Rian kembali ke pelukan Lia. Dan akal pikiran busuk pun hinggap menghampirinya.

__ADS_1


"Aku akan buat kamu tidak bisa berpaling dariku Rian, malam ini akan aku buat kamu tidak akan pernah meninggalkan aku," ucap Desy. Dia akan merencanakan sesuatu dengan bisa tidur dengan Rian agar Rian semakin terjerat kepada mantan sahabat istrinya itu.


Bersambung...


__ADS_2