
Rian pun datang dari Kalimantan nampak terlihat Desy sangat gembira sekali, dia datang ke rumah Rian karena di beritahu oleh Ibu Viona. Sedangkan Rian tidak memberitahu Desy bahwa dia akan kembali pulang ke rumah.
Desy berpikir bahwa Rian akan memberikan kejutan kepadanya dengan kedatangannya itu. Desy berpikir bahwa Rian pun sangat menyayanginya, padahal Rian kembali datang tanpa memberitahu Desy, dia tidak mau kedatangannya di ganggu oleh Desy terlebih dahulu.
______
"Bu, Rian nya masih tidur ya!?" tanya Desy ketika baru saja tiba di rumah Bu Viona.
"Iya, Des, mungkin dia capek!" jawab sang Ibu.
Desy pun nampak merebahkan badannya di kursi sofa pikirannya berselancar jauh rasanya dia ingin sekali mendekap Rian dan meluapkan rasa rindunya terhadap sang kekasih.
"Des, Ibu mau pergi dengan si Teteh (sang ART) sebentar saja, kamu tunggu disini enggak apa-apa ya, atau mau ikut?" Ibu Viona menawarkan Desy untuk ikut keluar.
"Memangnya mau kemana Bu?" tanya Desy
"Mau ke Mini Market," jawab Ibu yang sudah mau bergegas ke dalam mobil.
"Desy nunggu disini saja Bu," ucapnya tersenyum sambil memberikan beberapa lembar uang warna merah.
"Eh, ini buat apa Des,?" nampak Ibu Viona terlihat senang dengan sikap Desy yang memberikan uang lembaran merah beberapa lembar kepadanya.
"Pegang saja Bu, buat beli makanan di sana," Desy mencoba mengepalkan uang tersebut ke tangan Bu Viona.
_______
Nampak Bu Viona terlihat senang karena sang calon menantunya itu nampak pengertian.
Bu Viona pun tersenyum dan berlalu dari dalam rumah dan setelah Bu Viona pergi Desy pun nampak ingin segera bertemu dengan Rian, dan kesempatan ini tidak ingin dia sia-siakan karena di dalam rumah hanya ada dia dan Rian berdua.
Desy menyeret langkah kakinya ke dalam kamar Rian, setelah berada di depan pintu nampak dia menghela napas secara perlahan dan napasnya coba dia atur agar beraturan.
"Aku kangen sama Rian, dan akan aku buat dia merasakan sentuhan aku lagi untuk yang kedua kalinya," akal licik Desy kembali menderu.
_______
Ceklek ..
Pintu nampak tidak terkunci di dalam kamar sehingga dengan mudahnya Desy masuk ke dalam kamar, dan nampak Rian sedang telanjang dada hanya memakai celana boxer. Desy pun menelan air ludahnya sendiri rasanya dia sudah tidak tahan untuk bergumul dengan Rian.
Desy dengan cepat mendekat ke arah kasur kemudian baju sweater yang dalamnya hanya memakai tanktop dia lepas, dan sekarang dia hanya memakai tanktop. Terlihat nampak sekarang lekuk badannya yang menggoda.
Nampak posisi Rian terlentang, Desy pun langsung memeluk Rian dan mencium bibir Rian dengan begitu napsu. Entah mengapa Rian seakan terlena dan menikmati ciuman tersebut matanya perlahan dia buka. Dan nampak Desy yang sedang memakai baju yang menampakkan lekuk tubuh bagian atasnya. Rian pun seakan menikmati permainan tersebut.
"Mas, aku kangen sama kamu," deru napas Desy lekat ke kuping Rian begitu menggoda dan manja, sontak telinga Rian seakan geli dibuatnya.
Desy pun seakan tidak mau membiarkan kesempatan ini, ketika Rian sudah hanyut dalam dekapannya itu. Tangan Desy liar meraba-raba dan menjalar ke setiap lekukan tubuh Rian, dan Rian pun seakan terlena dibuatnya.
Akhirnya perbuatan yang mereka lakukan pertama kali, dulu ketika hujan setelah Rian baru pulang dari luar kota kini terjadi lagi.
Rian terjerat untuk kedua kalinya oleh Desy sahabat dari istrinya tersebut.
____
"Mas, terima kasih akhirnya kamu datang lebih awal, kamu mau memberikan surprise ya, untukku karena kedatangan kamu sebelumnya tidak memberitahu aku," Desy nampak terlihat sedang merapikan rambutnya yang terlihat berantakan dan memakai bajunya kembali yang berceceran di lantai.
__ADS_1
Rian pun menganggukkan kepalanya, entah mengapa yang tadinya dia ingin menolak kedatangan Desy kini berbeda sifatnya seakan dia sudah puas dengan permainan Desy.
"Mas, aku senang," kembali Desy mencium bibir Rian dan dengan cepat Rian melepaskan ciuman Desy.
"Kamu berani banget masuk ke dalam kamar, apa kamu tidak malu tadi sama Ibuku!?" tanya Rian seakan dia baru tersadar.
"Tenang Mas Rian, Ibumu sedang keluar pergi ke Mini Market mungkin sebentar lagi akan pulang," ucap Desy dengan mengelus lembut pipi Rian.
Nampak Rian berlalu untuk membersihkan diri dan Desy tersenyum puas ketika tubuh Rian membelakanginya dengan badannya yang tegap.
Desy pun berlalu dari kamar Rian menuju kamar tamu dia pun mandi dan membersihkan badannya. Dia tidak mau nanti ketika Bu Viona datang dia masih dalam keadaan belum mandi.
_______
Suara mobil terdengar memasuki halaman rumah dan Desy pun dengan cepat keluar dari ruang kamar tamu, dia kembali duduk di kursi sofa dan pandangan matanya lekat ke layar televisi, dia mencoba merapikan kembali rambutnya dengan sempurna setelah mandi dan terlihat segar kembali.
"Des, lama ya, nunggu!" ucap sang Ibu.
yang tiba-tiba datang dari arah luar.
Bu Viona pun nampak melihat Desy sedang merapikan rambutnya yang terlihat masih basah.
"Panas Des!?" tanya Bu Viona kembali.
"Iya Bu, panas, Desy tadi numpang mandi di kamar mandi tamu," jawabnya gugup.
"Iya apalagi cuaca diluar sangat panas sekali," jawab Bu Viona dengan mengeluarkan beberapa makanan di atas meja.
______
Desy akhirnya bisa bernapas dengan lega karena Bu Viona pun seakan menanggapi ucapannya, jadi dia mandi basah pun tidak curiga.
"Tidak tahu Bu, Desy tidak mau ganggu kasian," ucapnya berbohong padahal baru saja dia sudah menikmati tubuh Rian.
"Ibu mau bangunkan dulu ya, kasihan kamu nunggu dari tadi," ucap sang Ibu, dia pun berlalu menuju kamar Rian.
Desy tersenyum licik tatkala Ibu Viona menyeret langkah kakinya ke kamar Rian.
"Rian sedang mandi Bu, dia sudah bangun karena kita baru saja meluapkan rasa rindu," gumam hati Desy.
______
Ceklek...
Pintu akhirnya terbuka lebar saat sang Ibu membuka pintu kamar Rian, dan nampak Rian sedang menyugar rambutnya. Rian kemudian tersenyum lembut ke arah sang Ibu.
"Nak, kamu sudah bangun? Kasihan Desy dari tadi menunggu kamu. Desy mungkin tidak berani membangunkan kamu karena kasihan kamu terlihat capek," ucap sang Ibu.
"Oh, ada Desy ya Bu," jawabnya gugup.
Rian pura-pura tidak mengetahui kedatangan Desy padahal baru saja dia sudah melakukan hubungan lebih jauh dengan Desy.
"Ayo, temui Desy. Kamu nampak semakin cakep saja Nak!" ucap sang Ibu menatap lekat ke arah sang anak.
Rian pun menatap sang Ibu yang sudah beberapa minggu ini tidak bertemu kemudian dia menekuk sang Ibu dengan erat dan mencium keningnya.
__ADS_1
"Kamu harus cepat menikahi Desy, Nak! Ibu harap kamu jangan menolaknya. Kamu kan sudah melakukan hubungan lebih jauh pula dengan Desy." bisik sang Ibu.
_______
Degh...
Rian sontak mukanya merah merona antara malu dan terkejut karena sang Ibu kembali membahas masalah pribadinya itu.
Rian nampak membuang napas kasar.
"Ya, aku sudah melakukan hubungan yang lebih dalam dengan Desy dan seharusnya aku tidak egois dan harus mempertanggung jawabkan semuanya karena aku bukan lelaki yang brengsek," gumam hatinya dan Rian pun nampak berpikir jauh kembali mungkin dia juga bisa dikatakan lelaki brengsek karena telah selingkuh dari istrinya.
Rian menarik rambutnya dengan kasar, pikirannya seakan bercabang. Rasa napsu ketika dia dulu mendekati Desy sahabatnya istrinya kian menyelimutinya dan terasa mendera kembali di hati dan pikirannya.
"Ayo, jangan melamun cepat keluar!" sang Ibu pun menepuk pundak Rian.
_______
Mereka pun berlalu keluar kamar, Bu Viona nampak menuju ruangan dapur sedangkan Rian duduk di kursi sofa menemani Desy.
Melihat Rian keluar dari dalam kamar nampak Desy tersenyum lebar.
"Rian akhirnya kamu kembali terjerat olehku lagi, aku sangat beruntung bisa mendapatkan kamu dari sahabatku si Lia karena kamu lelaki yang gagah dan ganteng. Lia sangat kasihan sekali dia melepas Rian, dan aku wanita yang menjadi juaranya." pikiran licik dan serakahnya untuk bisa mendapatkan suami sahabatnya sendiri akhirnya tersampaikan juga.
Dia tidak peduli di cap sebagai pelakor meskipun sang orang tua tidak setuju dengan cara anaknya merebut Rian dari Lia sang sahabat yang notabene dekat dengan kedua orang tua Desy.
______
"Mas, kamu ganteng, aku tidak bosan memandang wajahmu," lirih Desy seakan terpesona dengan sosok Rian yang kini tengah duduk di hadapannya.
"Jadi gimana, kamu kemarin sudah cerita dengan Mama dan Papa kamu bahwa aku tidak jadi datang ke rumahmu karena pergi ke Kalimantan?" tanya Rian kepada Desy yang menanyakan bahwa dia saat itu untuk berkunjung ke rumah Mama Desy tidak jadi karena dia mendadak pergi ke Kalimantan karena tugas dari kantor.
"Sudah Mas, tapi mereka memahami kok, kan kamu kesana untuk bekerja tidak untuk main. Itu kan kamu lakukan buat masa depan kita, betul kan Mas!?" Desy terlihat menggoda Rian dari tatapannya yang menyiratkan menyukai permainannya saat di ranjang tadi.
"Tadi Ibuku bilang aku harus segera cepat melamar kamu, mungkin besok aku akan datang ke rumah kamu Des," ucap Rian nampak senyum Rian tidak melebar dia hanya terlihat menanggapi ucapan sang Ibu saja.
_____
Degh ..
Sontak dada Desy bergemuruh tidak karuan, dia begitu dihinggapi rasa gembira yang teramat ketika mendengar semua ucapan yang terlontar dari bibir Rian.
"Mas, akhirnya kamu mau melamar aku," Desy nampak bahagia kegirangan dan dia pun berusaha pindah duduk di pinggir Rian dan tidak ragu mencium kening Rian dan memeluknya.
______
"Nak Desy, ini Ibu bikinin puding," tiba-tiba sang Ibu datang dari dalam rumah, dan sang Ibu nampak terlihat tersipu malu ketika melihat sang calon menantu sedang memeluk erat anaknya.
"Waduh sepertinya ada yang sedang bahagia ya!? Kamu sudah bicara dengan Desy ya, mau datang untuk melamar Desy kerumahnya!?" tanya sang Ibu menggoda Rian.
Rain hanya menganggukkan kepalanya dan seketika Desy menyambar jawaban.
"Rian Baru saja mengutarakan niatnya, katanya dia akan datang ke rumahku besok Bu!" Desy tersenyum lebar seakan puas.
"Syukurlah kalau begitu," jawab sang Ibu.
__ADS_1
"Rian ternyata mudah sekali kamu terjerat untuk kedua kalinya olehku!" gumam hati Desy tersenyum licik dan dia merasa puas karena bayangan dia untuk menjerat Rian akhirnya bisa terwujud.
Bersambung....