
Rian mencoba menghubungi Desy dan dia pun menceritakan semuanya tentang penjualan rumahnya dan niat dia untuk buka usaha Kafe.
{"Jadi kamu tidak memberikan sepeserpun uang kepada Lia dan Cantika?"} tanya Desy seperti dihinggapi rasa puas karena dia berpikir Rian sudah betul-betul tidak peduli kepada mantan istrinya dan anaknya.
{"Iya,"} Rian menjawab singkat.
{"Kalau menurutku yang kamu lakukan itu bagus karena Lia sudah mendapatkan orang kaya jadi kamu tidak perlu lagi memberikan uang hasil penjualan rumah tersebut. Meskipun kamu ada anak biarkan saja karena mantan Ibu mertua kamu juga mau memisahkan kamu dengan anakmu."} Desy seakan mencoba mempengaruhi Rian karena beberapa minggu ini pertemuan dengan anaknya tidak intens, jadi Desy berpikir inilah saatnya Desy mempengaruhi hati Rian agar goyah dan melupakan Lia dan anaknya.
{"Rian, gimana kalau kamu akan aku berikan tambahan modal. Maaf bukan aku mau merendahkan kamu tapi aku yakin uang yang kamu punya sekarang ini tidak akan cukup untuk membuka sebuah Kafe yang besar,"} sambung lagi Desy.
_________
Desy berusaha ingin mengikat hati Rian kembali karena dengan dia memberikan modal kepada Rian, mungkin Rian tidak akan mengulur lagi pernikahannya.
{"Tidak,,,!! } Aku tidak mau merepotkan kamu Des!" jawab Rian tegas.
{"Rian, kamu jangan pernah menolak kebaikan aku. Ini kan demi kelangsungan hidup kita kedepannya,"} bujuk Desy.
{"Kelangsungan kita? Maksud kamu apa?"} tanya Rian seakan sudah tidak peduli dengan tawaran Desy.
{"Kamu ternyata sudah benar-benar berubah,"} ucap Desy terdengar frustasi.
{"Sudah lah, Des, kamu jangan berdebat terus aku pusing dengarnya! Aku lagi banyak yang dipikirkan!"} ucap Rian terdengar kesal.
{"Kamu sudah berubah! Sudah jelas kita akan menikah dan karena sebuah musibah kecelakaan akhirnya kita batal menikah!"} Desy seakan tidak terima dengan pernyataan Rian.
{"Des, aku sudah bilang sama kamu jangan memperumit keadaan,"} ucap Rian kembali.
{"Terus kamu menghubungi aku karena ingin memberitahukan bahwa rumah kamu dijual begitu!"} Desy terdengar emosi..
{"Bukan! Aku hubungi kamu karena aku mau fokus dulu usaha, dan tidak akan dulu mikir untuk menikah!"} terdengar kesal Rian berucap karena emosi dia seakan di pancing oleh Desy yang mendesaknya untuk segera menikah kembali.
_________
Tut...
Tut...
Tut...
{"Halo, Rian!"} Desy memanggil nama Rian tatkala mendengar bunyi suara telepon terputus.
{"Jahat kamu Rian! Wajahku belum kembali normal jadi kamu dengan mudahnya mengulur lagi pernikahan kita!"} Desy terlihat geram dibuatnya.
_____
Desy kembali memijit nomor sambungan teleponnya tapi di sebrang sana Rian tidak mengangkatnya. Desy cemberut dia pun seakan berpikir jauh. Gimana caranya agar bisa keluar dari rumah dan bertemu dengan Rian ke rumah Bu Viona.
Mungkin semua itu tidak mungkin dia lakukan untuk keluar dari rumah karena Dokter meminta agar dia jangan keluar dulu untuk tetap istirahat di rumah. Desy wajahnya harus benar-benar total istirahat tidak boleh kena sinar matahari dan angin.
__ADS_1
{"Awas, kamu Rian besok aku akan datang ke rumahmu!"} ucap Desy terdengar kesal dan dihinggapi rasa emosi.
__________
Nampak Rian setelah menutup sambungan telepon dari Desy dia terlihat melamun. Dia pun seakan pusing dengan hubungan yang dia jalani bersama Desy seakan tidak ada ujungnya selalu terjadi perselisihan yang rumit dan pertengkaran
Drett.. Drett.. Drett..
Tiba-tiba bunyi suara telepon muncul dari ponselnya milik Rian yang sudah Rian simpan di atas nakas. Rian pun mengira yang menelepon dia kembali adalah Desy.
Rian seakan malas untuk mengangkat sambungan telepon tersebut.
{"Mau apa sih, dia!"} ucap Rian.
Rian pun mengambil kembali ponselnya tersebut, niat dia ingin mematikan ponsel tersebut dan tidak akan mengangkat bunyi teleponnya. Tapi setelah matanya lekat ke arah layar ponsel matanya sedikit dibuka lebar karena nomor yang muncul adalah tidak dikenalnya.
Dalam hati Rian berpikir, apakah dia akan mengangkat teleponnya atau dia abaikan. Tapi dia juga berpikir saat ini dia sedang menunggu keputusan beberapa Kafe yang akan dia lihat untuk dibelinya.
{"Aku takut kalau tidak di angkat itu nomor orang yang akan menjual Kafe karena aku lagi nunggu beberapa pemilik Kafe menelepon,"} Rian begitu lekat pandangannya ke arah layar ponsel. Akhirnya karena dihinggapi rasa penasaran Rian pun mengangkat sambungan teleponnya.
{"Halo, Mas Rian, sehat?"} seseorang disana begitu merdu suaranya dan sepertinya Rian sudah tidak asing dengan suara tersebut karena Rian dulu sering kali menelepon orang tersebut dalam jangka waktu selalu lama disaat orang yang beradab di rumah tertidur lelap dari mimpinya.
Degh ..
{"Citra,,!!"}
_______
{"Mas, apa kabar sehat?"} tanya Citra terdengar begitu membuat berdebar dada Rian.
{"Se-sehat, Cit,,,! Kamu sendiri gimana kabarnya?"} tanya Rian masih terdengar gugup dan dihinggapi rasa terkejut karena dia tidak menyangka yang menelepon adalah Citra kekasih hatinya dulu.
{"Alhamdulillah aku dalam keadaan sehat mungkin kamu terkejut Mas Rian, kalau aku menelpon kamu! Mas Rian, aku tahu nomor telepon kamu dari teman kantor kita dulu, aku tidak perlu bicara siapa yang memberikan nomor kamu kepadaku yang terpenting sekarang aku ingin bisa dekat lagi dengan kamu seperti dulu, hehehe..."} Citra dari nada bicaranya seakan ingin bisa berharap Rian kembali lagi bersama dia.
_______
Nampak Rian pun tertegun dengan apa yang baru saja diucapkan dari bibir Citra karena begitu beraninya dia berucap seperti itu. Bahwa dia ingin lebih dekat lagi seperti dulu dengannya. Rian tahu Citra sudah menikah tapi mengapa dia berkata begitu ingin lebih dekat dengannya.
{"Maaf Citra, kamu bukannya sudah menikah?"} tanya Rian lirih dan terdengar sangat berhati-hati ketika menanyakan hal yang begitu serius atau masalah pribadi.
{"Aku gagal dalam berumah tangga,"} jawab Desy pelan dan terdengar sedih.
{"Maksud kamu apa!?"} Rian seakan dihinggapi rasa penasaran.
{"Saya baru saja cerai,"} terdengar sedih ketika berucap dan Citra seakan tidak mau untuk menceritakan kegundahan dirinya.
{"Oh, maaf,maaf Citra, Aku tidak tahu,"} Rian seakan ikut perihatin atas kegagalan mahligai rumah tangga Citra sang mantannya itu.
{"Tidak apa-apa Mas, bagaimana kalau kita bertemu sore ini,"} Citra seakan berharap ingin segera bertemu dengan mantannya itu. Mungkin dia ingin menumpahkan rasa gelisahnya setelah dia mengalami kegagalan dalam rumah tangga atau mungkin dia ingin meluapkan rasa rindunya kepada Rian setelah sekian lama tidak bertemu.
__ADS_1
________
Rian nampak terdiam sejenak, apakah dia akan bertemu dengan Citra yang sudah lama tidak bertemu atau dia menolak pertemuannya. Rian pun seperti dihinggapi rasa serba salah.
{"Mungkin kamu bingung Mas, dengan ajakan aku untuk bertemu karena kamu sekarang sedang dekat dengan seseorang kan?"} tanya Citra.
Sontak Rian terkejut dengan pernyataan dari Citra, Rian berpikir dalam hatinya. Mengapa Citra tahu kalau dirinya tengah dekat dengan Desy ataukah Citra saat ini tengah menyimpan rasa ingin menjalin hubungannya seperti dulu lagi bersamanya? Tidak bisa dipungkiri pesona Citra jauh lebih baik dari sosok Desy.
Rian terdengar menghembuskan napas kasar, dia pun kemudian seakan berubah pikiran.
{"Baik Citra, kita sore mau bertemu dimana?"} tanya Rian.
{"Di Kafe dulu tempat kita pertama kali bertemu,"} ucap Citra terdengar dihinggapi rasa gembira karena Rian menyetujui pertemuannya itu.
________
Rian pun seakan berpikir panjang mengingat masa lalu dimana pertama kali dia bertemu dengan Citra.
{"Kafe Calista!?"} ucap Rian.
Rian sakan mengingat kembali pertemuan pertama kali dengan Citra saat dulu. Nampak Rian tersenyum lebar dan memejamkan matanya begitu romantis pertemuan pertama kali dengan Citra saat itu, Citra memberikan kejutan kepada Rian dengan buket bunga dengan di iringi live musik yang romantis. Memang tidak bisa di pungkiri Citra adalah wanita yang romantis tidak sama seperti Desy.
{"Mas, sore kutunggu disana ya, dan aku harap kamu bisa datang,"} ucap Citra sangat berharap ingin bertemu dengan Rian.
Kemudian sambungan telepon pun terputus dari ponsel milik Rian.
______
Sore pun tiba.
Nampak Rian hendak pergi ke Kafe Calista, meskipun Rian baru sembuh dari sakit tapi dia nampak penampilannya sangat di jaga karena dia tidak mau di depan Citra nampak kusut dan terlihat kurang menarik. Bau parfum maskulin pun dia semprotkan ke seluruh tubuhnya.
"Mau kemana Rian?" tanya sang Ibu seperti dihinggapi rasa curiga karena parfum yang dipakai oleh sang anak terasa menyengat penciumannya.
"Mau ketemu teman lama siapa tahu ada bisnis lain buat Rian, selain Rian akan buka Kafe," ucap Rian berusaha menutupi pertemuannya dengan Citra.
Sang Ibu nampak tersenyum tatkala Rian berucap seperti itu, dia berpikir anaknya sungguh gigih dalam mencari uang karena selain akan buka usaha dia juga akan ada bisnis sampingan yang akan dia jalani kedepannya nanti.
"Bagus kalau begitu Nak, Ibu salut sama kamu! Oh, iya, kapan Desy akan datang ke rumah?" tanya Bu Viona.
Nampak Rian tertegun dengan apa yang di ucapkan oleh sang Ibu ketika menanyakan Desy untuk bisa datang ke rumahnya.
"Desy perlu istirahat karena kondisi badannya belum stabil," jawab Rian seakan malas untuk membahas Desy di depan sang Ibu.
"Ya, sudah Nak, hati-hati ya, semoga urusan kamu lancar," ucap sang Ibu.
Rian pun akhirnya berlalu dari hadapan sang Ibu dan pamit untuk pergi.
Bersambung...
__ADS_1