Suamiku Terjerat Cinta Sahabat

Suamiku Terjerat Cinta Sahabat
Bab: 161 Pertemuan Desy dan Citra


__ADS_3

Di rumah Lia.


Setelah menunggu kurang lebih satu jam dengan kedatangan Rian, dan Rian pun tidak kunjung datang. Lia pun berpikir bahwa Rian tidak akan jadi untuk menjemput sang anak dan Cantika nampak sudah berada diluar karena menunggu kedatangan Rian dan dia pun terlihat gembira.


"Pasti dia malu setelah tahu alamat yang diberikan oleh Bapak, jadi dia tidak berani mengunjungi anaknya kesini," ucap Lia kepada Adrian.


"Ya, sudah tidak apa-apa nanti saja kalau Cantika sedang di rumah Ibumu baru Rian suruh ambil Cantika. Kasihan juga kalau dia kangen sama anaknya," ucap Adrian.


"Kenapa dia enggak ambil saja kesini, bukannya selama ini Rian itu sudah tidak ada rasa malu!" sindir Lia mendelik.


"Sudahlah Lia, jangan emosi dan kamu belajar ikhlas. Kita berpikir positif saja mungkin Rian saat itu uangnya pas-pasan untuk buka usaha atau utang dia numpuk karena dia saat itu dalam keadaan nganggur dan sekarang mau lihat anaknya menurutku hal yang wajar," kembali Adrian memberikan saran kepada Lia dengan sangat hati-hati karena takut menyinggung perasaan sang istri.


•••


"Mah, Papa enggak jadi datang ya?" tanya Cantika tiba-tiba datang memasuki kamar.


"Kayaknya enggak jadi Sayang. Lusa pasti jemput lagi Cantika, sekarang mungkin Papa lagi sibuk, sabar ya Sayang," ucap Lia mencoba tersenyum manis kepada sang anak walau hatinya getir karena perceraian dirinya itu mengakibatkan anak yang jadi korban dan pertemuan antara Cantika dengan Rian terasa terbatas.


"Ya, sudah enggak apa-apa. Cantika sekarang mau ikut Nenek ke rumahnya," ucap Cantika.


Sang anak pun kemudian berlalu pergi dari hadapan Lia dengan di ikuti oleh Lia dan Adrian karena kedua orang tua Lia akan pamit pergi pulang dan Cantika pun ikut bersamanya.


Papa Steven dan Mama Silvi pun pamit pulang dan sekarang di rumah Lia nampak sepi kembali.


_______


•••


Sementara di sebrang sana Desy tengah gelisah hatinya karena memikirkan sosok Citra yang ingin segera dia temui esok pagi. Dan dia pun tidak mau gegabah untuk mencari tahu hubungan Rian dengan Citra saat ini sejauh mana.


"Aku harus segera mencari hubungan mereka itu sejauh mana dengan cara melihat semua pesan yang diberikan oleh Citra melalui ponselnya Rian," gumam hati Desy yang tengah duduk di kursi sofa bersama Bu Viona. Malam itu tepat pukul 11 malam.


"Bu, Desy duluan masuk kamar ya, mata Desy lelah dan ngantuk," ucap Desy kepada Bu Viona. Desy pun berlalu dari hadapan sang Ibu mertua itu.


Sang Ibu mertua pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya dengan mata yang terlihat dihinggapi rasa kantuk sama seperti Desy.


"Iya, Des, Ibu juga mau tidur ngantuk," jawabnya. Sang Ibu pun nampak memasuki kamarnya.


_______


Ceklek...


Secara perlahan Desy membuka pintu kamar dan nampak terlihat Rian sedang tertidur lelap. Kemudian setelah menutup pintu secara hati-hati karena takut terdengar oleh Rian, Desy pun menyeret langkah kakinya menuju meja rias dimana Rian selalu meletakkan ponselnya tersebut.


Mata Desy berselancar tatkala dia sudah berada tepat di meja rias. Dan nampak tidak membutuhkan waktu lama untuk bisa mencari keberadaan ponselnya milik sang suami tersebut.


"Nah, ini dia," gumam hati Desy setelah dia berhasil menemukan benda pipih tersebut yang tertutup saputangan milik Rian.


Desy nampak tersenyum puas tatkala menemukan benda tersebut kemudian dia membuka aplikasi WhatsApp lalu setelah aplikasi tersebut terbuka dan semua nama muncul, Desy pun mengetik satu nama yaitu Citra yang dia curigai.


Dan terlihat muncul nama tersebut dengan profil foto yang sangat cantik dan terlihat manis beda dengan tadi siang tatkala Desy hanya sekilas membuka pesannya nampak tidak ada foto profil.


"Ternyata ini orangnya, cantik juga." gumam hatinya. Kemudian Desy pun membuka satu persatu pesan yang di tulis oleh Desy dan Rian di chat mereka.


Betapa berdesir hati Desy tatkala membaca satu persatu pesan yang tertulis di chat tersebut. Begitu mesra layaknya sepasang kekasih dan yang membuat Desy kesal ternyata Rian sudah mentransfer sejumlah uang sebesar 100 juta dengan dalih untuk modal bisnis Citra.


"Awas ya, tunggu tanggal mainnya. Besok kamu akan tahu akibatnya setelah menggoda suamiku!" Desy menggerutu pandangan matanya menyorot tajam ke arah sang suami yang tengah tertidur dan membelakanginya.


_______


Arghhhh...


Nampak Rian menggeliatkan badannya sontak Desy pun dengan cepat menyimpan ponsel milik Rian ke tempat semula dan dengan cepat dia pura-pura berjalan ke arah lemari untuk mengambil baju.


Tapi nampak terlihat oleh ekor mata Desy, Rian masih tertutup matanya.


"Rasanya ingin aku menerkam badanmu Rian!" gumam hati Desy tersulut amarah.


•••


Desy kemudian meraih tas nya lalu dia merogoh ponsel yang tengah berada disana.

__ADS_1


Lalu dia pun memberikan sebuah pesan kepada Citra.


{"Besok jadi kan, kita ketemu? Saya tunggu ya, di Kafe Bintang pukul 10 pagi. Kebetulan aku punya modal dan ingin mencoba gabung dengan bisnis kamu,"} tulis pesan Desy dan nampak ceklis satu pesan yang dikirim oleh Des kepada Citra.


"Ponselnya wanita ini sedang tidak aktif." gumam hati Desy.


•••


Desy pun nampak merebahkan badannya di atas kasur dengan hati yang tidak karuan. Dia berusaha memejamkan matanya dan pikirannya terus menerus memikirkan isi pesan chat yang di sampaikan oleh Citra dan Rian yang begitu romantis.


Desy pun pikirannya berselancar jauh, dia menyadari ketika dulu. Sahabatnya Lia melakukan hal yang sama yang tengah di hadapi sekarang olehnya yaitu kehilangan suami karena di rebut wanita lain.


"Lia pun mungkin dulu merasakan kecemasan dan kegelisahan sama seperti aku sekarang ini, tatkala ada wanita lain yang memberikan pesan romantis." gumam hati Desy. Tidak bisa dipungkiri Desy dulu melakukan hal yang sama seperti Citra ketika memberikan sebuah pesan kepada Rian begitu manja dan terlihat akrab dan ini membuat rasa sakit hati yang teramat seperti teriris pisau yang dirasa Lia saat itu.


"Apakah ini karma!?" Desy menghela membuang napas kasar.


_________


Keesokan harinya.


Desy nampak terbangun tepat pukul 5 subuh dengan cepat dia melangkah ke arah tas dan ingin memastikan bahwa ada pesan muncul dari Citra karena nampak pesan yang disampaikan oleh Desy semalam kepada Citra belum ada respon karena ponsel milik Citra nampak bekum aktif.


Setelah Desy membuka layar ponselnya kemudian dia melihat isi pesan tersebut dan nampak Citra memberikan sebuah pesan yang mengatakan dia bisa bertemu dengan Desy pagi ini tepat pukul 10 pagi.


Desy pun bergegas membersihkan badannya yang terasa suntuk dan tidak bergairah. Setelah Desy mandi beberapa menit kemudian dia langsung keluar dari kamar dan menghampiri sang ibu mertua yang sedang menyiapkan sarapan pagi.


"Pagi, Des!" ucap sang Ibu mertua tersenyum ramah san Desy pun mencoba menampakkan senyum ramahnya kepada Bu Viona walau dengan hatinya yang sedang dihinggapi rasa kesal terhadap anaknya Bu Viona yaitu Rian atau suaminya yang baru saja mengkhianatinya.


"Des, bahan makanan di kulkas sudah habis loh, nanti setelah Rian pergi kita belanja ya, ke Supermarket," ucap sang Ibu terdengar merengek. Desy pun seakan mengerti maksud dari sang Ibu bahwa pasti dia yang menanggung semua keperluan bahan makanan karena situasi Kafe Rian sedang tidak stabil atau pendapatan di Kafe sepi.


"Tapi nanti sore saja Bu, Desy soalnya mau ada perlu pergi ke proyek bersama Papa," jawab Desy berbohong.


"Ya, sudah enggak apa-apa, kita pergi sore saja dan sudah lama juga Des, kamu enggak ajak Ibu belanja. Hehehe,," sindir Bu mertua tersebut yang terlihat materialistis.


"Iya, Bu nanti gampang," Desy terdengar datar ketika berucap tanpa tersenyum sedikitpun.


Bu Viona pun seperti dihinggapi rasa tanya terhadap menantunya tersebut karena terlihat tidak bersemangat dan cemberut.


Desy hanya menggelengkan kepalanya dan mencoba untuk tidak bicara dulu masalah kedekatan Rian dan Citra.


"Hanya kurang enak badan dan masuk angin saja kok, bentar lagi juga sembuh karena barusan sudah minum vitamin," ucapnya mencoba untuk tidak melebarkan masalah.


________


"Wah, wangi sekali Bu, masak apa nih!" ucap Rian yang tiba-tiba datang menghampiri dari arah kamarnya.


"Ikan gurame saus pedas," ucap sang Ibu.


Rian pun duduk di meja makan dengan mengambil nasi beserta lauknya kedalam piringnya. Selain ada Ikan gurame, disana juga nampak ada sayur sup dan juga ayam goreng. Sementara Desy nampak hanya mengaduk-aduk secangkir teh hangat tanpa mau sarapan makan.


"Des, kamu tidak makan?" tanya sang Ibu mertua dengan tatapan lekat


"Belum mau Bu, nanti saja," jawabnya.


Rian pun nampak melihat dengan ekor matanya Desy terlihat dari raut mukanya sedang dihinggapi rasa kesal kepada dirinya, dan Rian pun berpikir mungkin karena Desy masih dihinggapi rasa cemburu dengan sosok Citra yang ketahuan oleh Desy kemarin dia memberikan sebuah pesan dan sempat dibaca oleh Desy.


_______


Setelah sarapan pagi Rian pun pamit untuk pergi bekerja. Desy pun nampak melihat arloji yang tengah menempel di tangan kanannya dan saat itu waktu menunjukkan pukul 9 pagi.


"Mungkin aku harus pergi sekarang karena perjalanan ke Kafe Bintang memakan waktu sekitar setengah jam dan aku takut kena macet jadi masih ada waktu satu jam untuk tiba disana," gumam hati Desy.


Dia pun pergi berlalu pamit kepada sang Ibu mertua dengan alasan mau pergi ke proyek beserta Papanya.


_______


Di dalam mobil.


Nampak hati Desy tidak karuan dadanya bergemuruh karena dia ingin cepat-cepat bertemu dengan sosok Citra yang dengan berani telah merebut suaminya.


"Awas ya, Citra!" umpatnya.

__ADS_1


Desy sengaja memilih Kafe Bintang yang suasananya terlihat sepi dan dia berpikir akan lebih leluasa untuk memarahi Citra.


Dan setelah tiba di Kafe Bintang kemudian Desy memberikan sebuah pesan kepada Citra dimana tempat duduk dia, karena Desy sudah sampai di Kafe Bintang.


{"Saya sudah sampai, dan duduk di pojokan tepatnya di taman belakang Kafe Bintang,"} tulis pesan Desy kepada Citra.


_______


Citra tiba di Kafe.


Sesosok wanita dengan tubuh tinggi semampai dan nampaknya rambut panjangnya dia tidak biarkan terurai tapi di ikat satu kebelakang, dia seakan ingin memperlihatkan leher jenjangnya yang terlihat seksi.


Desy pun yakin yang tengah berjalan ke hadapannya itu adalah sosok Citra karena dia lihat dari profil aplikasi WhatsApp semalam.


"Dengan Citra ya!" ucap Desy yang terlihat tatapan matanya menyorot tajam.


"Iya, saya Citra. Ini dengan Bu Mira?" tanya Citra kepada Desy yang mengaku bernama Mira kepada Citra dengan masih menggunakan masker penutup muka dan yang nampak hanya matanya saja.


"Ya, saya Mira dan maaf saya sedang sakit Flu jadi saya memakai masker," jawab Desy.


_________


Nampak terlihat di bawah meja tangan Desy mengepal rasanya ingin sekali dia melampiaskan amarahnya saat itu juga kepada Citra namun dia mencoba mengatur rasa emosinya itu dan membuang napas kasar yang mulai tidak beraturan.


Citra kemudian memulai pembicaraan dan memperlihatkan proposal mengenai bisnis yang tengah dia jalani yaitu di bidang jasa.


DEGH..


Nampak jantung Desy berdetak tidak karuan saat terlihat nama Rian tertulis di depan dokumen dan nampak Rian disana menyimpan uang sejumlah 100 juta rupiah.


"Pak Rian telah gabung juga ya, dan disini dia memberikan modal 100 juta dan kalau boleh tahu Rian itu siapa ya!" tanya Desy.


"Dia pemilik Kafe," jawab Citra.


"Kirain suaminya!" sindir Desy dengan dihinggapi rasa emosi.


"Bukan Bu, mungkin boleh di bilang teman dekat. Hehehe,,," nampak tersipu malu Citra ketika berbicara.


Dada Desy bergemuruh begitu hebat dia pun kembali mengingat pesan semalam yang tulis oleh sang suami dan Citra begitu mesra terbaca oleh Desy.


_______


Tanpa pikir panjang Desy pun nampak berdiri dan membuka masker penutup wajahnya dan dengan kasar dia membuang masker tersebut ke sembarang arah. Dengan sorot mata tajam dan raut wajahnya yang terlihat merah padam karena tengah dihinggapi rasa amarah yang memuncak Desy pun tanpa ragu menarik rambut Citra dengan kasar yang terlihat di ikat satu itu yang mengakibatkan rasa sakit dan membuat Citra meringis.


Sontak Citra terkejut ketika mendapatkan perlakuan tersebut dari Desy. Citra menatap tajam ke arah Desy.


"Kamu tahu tidak yang tengah di hadapanmu ini istri sahnya Rian. Dasar Pelakor!" bentak Desy dengan mata yang merah menyala karena dihinggapi amarah yang memuncak.


Citra nampak terkejut tapi dia mencoba menyembunyikan rasa emosinya itu dan tersenyum sinis.


_____


"Ouh, ini yang bernama Desy Wulandari istri sahnya Rian yang dulu sempat jadi Pelakor sang sahabat!" ejek Citra tersenyum puas karena tanpa dia sadari dia telah merobek hati Desy dengan cara menyindirnya.


Desy pun mencoba mengatur deru napasnya yang kian memuncak karena ternyata wanita yang tengah ada dihadapannya itu adalah wanita yang sangat pemberani dan tidak ada rasa takut sedikitpun meskipun yang kini dihadapinya adalah istri sahnya dari Rian yang kini telah dekat Citra.


"Itu dulu, dan kamu jangan mengungkit masa lalu aku, dasar pelakor tidak tahu diri padahal aku dengan Rian baru saja menikah dengan beraninya kamu sudah merebut suamiku!" tegas Desy terdengar emosi.


"Sudahlah Des, jangan munafik! Kita sama-sama Pelakor!" sindir Citra dengan tersenyum sinis.


PLAK...


PLAK ..


Tamparan indah pun melayang dari tangan mungil Desy Wulandari kepada Citra.


Bersambung..


Hatur nuhun untuk para Reader-ku yang selalu setia membaca karya Novelku. Semoga kita semua diberikan kesehatan dan rezeki yang berkah dan berlimpah. Aamiin 🤲


Salam sayang dari Author. 🌹🥰

__ADS_1


__ADS_2