
Desy berkunjung ke rumah Bu Viona.
Nampak dia tersenyum sumringah seakan bahagia sekali karena Bu Viona menyambutnya dengan ramah dan memeluk erat tubuh Desy.
"Des, kenapa baru datang kesini?" tanya Bu Viona menatap lekat kepada Desy.
"Iya, Bu, di suruh Dokter biar istirahat dulu dan tidak boleh banyak bergerak," ucap Desy dengan menundukkan kepalanya seakan malu untuk menatap Bu Viona karena wajahnya masih rusak belum pulih stabil.
"Des, maaf wajahmu masih sakit?" tanya Bu Viona seakan ragu untuk bertanya karena takut menyinggung perasaannya.
_______
Desy semakin menunduk pandangannya, dia pun seakan malu untuk menampakkan wajahnya yang rusak karena belum sembuh total seperti sedia kala.
"Des, Ibu mau lihat wajahmu, apa boleh?" tanya Bu Viona seakan penasaran dengan wajah Desy yang sudah lama di tutup oleh masker penutup wajah.
"Wajah Desy rusak Bu, karena belum pulih betul," ucapnya lirih dan parau. Desy semakin menundukkan pandangannya seakan tidak mau menatap Bu Viona.
"Ibu yakin, wajahmu akan sembuh seperti sedia kala," ucap Bu Viona mencoba meyakinkan hati Desy agar tenang tidak gelisah. Bu Viona nampak seakan tahu perasaan Desy saat ini seperti apa.
Dia saat ini hatinya tidak tenang karena memikirkan wajahnya yang belum pulih.
"Iya, Bu, nanti minggu depan Desy mau berobat ke Singapura di antar oleh orang tua Desy," ucapnya. Desy pun akhirnya membuka masker penutup wajahnya secara perlahan.
__________
Degh..
Nampak terkejut Bu Viona karena wajah Desy rusak dan Bu Viona terlihat meringis seakan dihinggapi rasa ngilu tatkala melihat wajah Desy yang rusak.
Desy nampak murung dan bertambah sedih tatkala melihat perubahan wajah dari Bu Viona tatkala melihat wajah dirinya yang meringis seakan menahan rasa ngilu.
"Des, kenapa muka kamu rusak dan belum sembuh tidak ada perubahan ya, setelah kamu meminum obat dari Dokter," Bu Viona seakan mengkhawatirkan keadaan Desy karena muka Desy nampak basah belum kering lukanya.
"Ya, Bu, memang Desy mukanya rusak!" Desy terlihat cemberut dan bicaranya sedikit meninggi yang mengakibatkan rasa terkejut dari diri Bu Viona.
"Ma-maafkan, Ibu, bukan maksud Ibu..," ucap Bu Viona dihinggapi rasa khawatir jika Desy tersinggung dengan ucapannya.
Desy hanya menundukkan kepalanya dan terlihat cemberut.
______
"Rian ada Bu! Atau masih tidur?" tanya Desy ketus kepada Bu Viona. Dia mengalihkan pembicaraan ke arah yang lain.
"Ada Des, cuma tadi Ibu lihat lagi asik menelepon," jawab Ibu Viona dengan melirik ke arah kamar sang anak.
"Pantesan di telepon tadi nadanya sibuk terus," Desy terlihat kesal.
Karena melihat raut muka Desy seperti dihinggapi rasa kesal dan kecewa, Bu Viona pun akhirnya menyeret langkah kakinya ke arah kamar sang anak.
_________
Tok... Tok... Tok...
"Rian, buka pintunya! Desy datang,," teriak sang Ibu sambil mengetuk terus pintu kamar beberapa kali.
•••
"Bilang sama Desy tunggu sebentar," jawab Rian di dalam kamar.
•••
Sang Ibu pun kembali menghampiri Desy yang tengah gelisah terlihat nampak dari gestur tubuhnya.
"Des, kata Rian tunggu sebentar. Ibu pamit mau mandi dulu ya," ucap Bu Viona kepada Desy. Bu Viona pun berlalu dari hadapan Desy yang sedang melamun kesal.
_______
Setengah jam sudah Rian tidak muncul malah ada pesan muncul dari ponsel Desy dan nampak di layar ponsel terlihat Rian me-screenshot transfer sejumlah uang 300 juta yang sudah diberikan oleh Desy kepadanya dihari kemarin.
"Brengsek!!" gumam Desy memaki dan nampak mukanya merah padam seperti menahan amarah yang sangat dalam.
__ADS_1
{"Keluar kamu Rian! Aku dari tadi menunggu kamu disini, kamu malah cuekin aku,"} Desy membalas pesan Rian. dengan spontan yang sedang menahan amarah dan pandangan yang lekat ke arah pintu kamar Rian.
{"Bentar, Des, aku sedang sibuk!"} balas pesan Rian kepada Desy seperti tidak ada rasa salah sedikitpun padahal Desy telah di cuekin Rian sejak dari tadi.
Karena dihinggapi rasa kesal dan memendam amarah. Dan Desy merasa tidak dihargai oleh Rian, akhirnya Desy dengan cepat menyeret langkah kakinya ke arah kamar Rian.
_______
Ceklek..
Bruk...
Pintu di buka dengan kasar oleh Desy dan suara pintu terbuka dengan cukup keras terdengar, yang mengakibatkan Rian yang sedang asik berbicara di sambungan teleponnya dihinggapi rasa terkejut dan langsung menutup sambungan teleponnya.
"Kamu kenapa?" Rian terlihat dihinggapi rasa kesal dengan wanita yang tengah marah-marah enggak jelas itu.
Rian merasa tersinggung dan marah karena Rian merasa di ganggu oleh Desy yang tengah menerima telepon.
"Kamu sedang menelepon siapa sih! Segitu pentingnya kamu menerima sambungan telepon. Dari tadi aku menunggu kamu!" sambung Desy kembali, dan terlihat sekarang matanya berkaca-kaca. Desy seakan berpikir Rian sudah tidak ada rasa peduli lagi terhadap dirinya.
"Sedang menelepon relasi bisnisku!" ucap Rian dan sekarang Rian seakan tidak mau menatap wajah Desy karena dihinggapi rasa kesal ditambah dengan wajah kekasihnya itu sudah berubah rusak tidak mulus seperti dahulu.
"Kamu dengan entengnya ya, bicara seperti itu. Kamu tidak memikirkan perasaan aku!" Desy sedikit tegas dan bicaranya agak tinggi.
"Kenapa sih, kamu enggak sabaran dari dulu sifatnya, mungkin Ibuku sudah memberi tahu kamu kalau aku sedang menerima telepon. Tapi kamu enggak sopan main masuk saja ke kamar orang!" bentak Rian.
"Kamar orang!? Maksud kamu! Aku ini orang lain begitu? Padahal aku ini calon istri kamu!" Desy terlihat semakin kesal dengan ucapan Rian.
"Sudahlah Des, jangan bahas itu aku lagi banyak pikiran, dan uangnya sudah aku kembali transfer kan, barusan sama kamu!" Rian memalingkan mukanya ke arah jendela kamar.
PLAK...
PLAK...
Spontan Desy menampar pipi Rian karena emosi dia yang dia pendam seakan tersulut.
Nampak Rian pun meringis menahan rasa sakit dan ngilu. Rian nampak melotot pandangan matanya terlihat tajam ke arah Desy.
__________
Rian nampak ingin membalaskan tamparannya, tangannya sudah mengepal dan menggertakkan giginya.
"Kenapa! Kamu ingin membalas tamparan padaku!? Silahkan! Silahkan!!" Desy amarahnya seakan tidak bisa terkendali.
Rian pun nampak terkejut dan berpikir lebih jauh dengan napsu Desy yang begitu menjadi-jadi. Dia berpikir dalam hatinya Desy sangatlah kasar dia tidak lembut pribadinya seperti Lia. Mungkin sangat jauh kalau dibandingkan dengan mantan istrinya itu.
"Kamu wanita, tidak baik jika kasar seperti itu!" Rian mencoba menyadarkan Desy dengan mata yang mulai memerah karena luapan emosi.
"Tidak peduli! Aku hanya ingin dihargai sama kamu Rian!" bentak Desy.
"Di hargai!? Apa,,,!!! Kamu ingin dihargai sama aku? Sementara kamu tidak menghargai aku," Rian tertawa sinis.
"Diam,,! Diam Rian!" Desy berteriak dan menutup kupingnya. Dia seakan tidak rela kalau di ejek oleh Rian dengan senyuman sinis Rian.
______
Tiba-tiba Bu Viona datang.
"Ada apa ini Rian!? tanya Bu Viona terlihat terkejut dan heran karena mendapati anaknya sedang memegang pipinya yang memerah dan ujung bibirnya keluar darah.
Sepertinya barusan Desy menampar Rian cukup keras yang mengakibatkan Rian terluka bibirnya dan mengeluarkan darah segar sedikit.
"Desy, Bu, Desy menampar Rian!" ucap Rian dengan masih menatap Desy.
Sang Ibu sontak pandangannya mengarah ke arah Desy dan menatap lekat.
"Apa itu benar Desy?" tanya sang Ibu
"Iya, karena dia tidak menghargai aku!" ucap Desy dengan napas seakan masih memburu.
"Maksudnya apa ini Rian!" tanya sang Ibu seperti dihinggapi rasa tidak mengerti dengan penjelasan dari Desy.
__ADS_1
"Dia ingin dihargai oleh lelaki sedangkan dia sendiri tidak menghargai orang lain," ucap Rian mendelik.
"Bu, aku sudah baik sama anak Ibu dengan memberikan sejumlah uang untuk modal sebesar 300 juta, tapi Rian aneh malah menolaknya dan mengembalikan uang tersebut. Apa semua itu tidak buat aku tersinggung, dengan cara dia!?" Desy mengadu kepada Ibu Viona seakan ingin ada pembelaan.
Nampak Bu Viona matanya terbelalak dan terkejut dengan pernyataan Desy dengan berucap mengirimkan sejumlah uang sebesar 300 juta kepada Rian tapi Rian menolaknya.
Bagi Bu Viona jumlah uang yang diberikan Desy kepada Rian cukup besar dan Bu Viona pun nampak kesal dan kecewa dengan sang anak. Dia berpikir mengapa Rian menolak uang tersebut padahal saat ini dia membutuhkan uang yang besar untuk berobat Bu Viona dan untuk modal bisnis Kafenya cukup besar.
________
Bu Viona nampak menghampiri Rian dan berbisik lekat ke arah kuping sang anak.
"Kamu dasar bodoh! Uang dengan jumlah besar kamu tolak," Bu Viona nampak terlihat geram kepada sang anak karena menolak uang pemberian dari Desy yang begitu besar.
"Kalau menurut Ibu sebagai wanita. Ibu merasa tersinggung tidak? Kita bela-belain memberikan sejumlah uang kepada orang yang kita sayangi dengan tulus tapi orang yang di perhatikan oleh kita seakan tidak peduli dan tidak menghargai," Desy terlihat berkaca-kaca matanya seakan ingin di belas kasihan oleh Ibunya Rian.
"Rian, kenapa sifat kamu begitu! Ibu tidak suka. Ibu tidak pernah mengajarkan anak berlaku tidak sopan kepada orang lain," bela sang Ibu kepada Desy. Bu Viona dalam benak pikirannya hanya ada uang,,,uang,,,dan uang.
Bu Viona tidak mau uang yang diberikan oleh Desy 300 juta hilang begitu saja dalam sekejap karena masalah sepele. Bu Viona paham betul dengan sifat Desy, dia itu haus kasih sayang jadi kalau Rian menghujaninya dengan belaian kasih sayang pasti Desy akan baik terhadap Rian tapi jika Desy di usik harga dirinya dia akan berontak.
________
"Tapi Bu,,,,!" ucap Rian sambil memegang pipinya yang terasa panas mungkin panasnya sampai terasa ke lubuk hati yang paling dalam terasa menyayat.
Rian tidak meneruskan ucapannya karena ucapannya disambar oleh sang Ibu.
"Kamu minta maaf sama Desy, cepat!" bentak sang Ibu. Rian hanya diam tidak bergeming sedikitpun. Sang Ibu pun nampak terlihat kesal dibuatnya.
"Rian, kamu harus nurut sama Ibu dan minta maaf, kamu jelas-jelas salah. Desy itu baik sama kamu dan dia mau membantu kamu. Tapi kamu, seakan tidak peduli dengan itu semua. Ibu tidak suka dengan sifat kamu Rian," sang Ibu terus menerus membujuk Rian agar Rian mau minta maaf kepada Desy yang sedang di bela oleh Bu Viona.
"Aku puas dengan pernyataan Ibumu Rian, dia begitu membelaku dan aku yakin kamu akan kembali terjerat sama aku," gumam hati Desy tersenyum puas.
________
Desy pun nampak duduk di kursi dekat pintu kamar dan dia menutup mukanya dengan sepuluh jarinya, Desy kemudian menangis. Nampak tangisannya seperti palsu karena ingin di perhatikan oleh Bu Viona.
"Rian, kamu cepat minta maaf dengan Desy, uang 300 juta tidak sedikit, itu uang besar dan kamu jangan mengabaikan kesempatan ini, dia aset bagi kita kalau ada apa-apa kan Desy yang akan menolong kita. Ingat ya, keadaan kita lagi bangkrut," bisik Bu Viona dan sorot mata Bu Viona begitu lekat ke arah Rian.
Nampak terlihat dari binar matanya Bu Viona seakan berharap jika uang yang 300 juta tidak melayang begitu saja hanya karena perilaku Rian tidak romantis atau tidak peduli terhadap Desy.
Desy haus akan perhatian dan kasih sayang dari kedua orang tuanya jadi dia mencari perhatian dan kasih sayang dari luar. Termasuk saat ini dia ingin diperhatikan oleh Rian dan Bu Viona.
________
Rian melirik Desy kemudian menatap sang Ibu, dan nampaknya Rian seperti enggan meminta maaf kepada Desy namun sang Ibu matanya melotot seperti mengisyaratkan sang anak harus cepat-cepat meminta maaf kepada Desy.
"Ayo, kamu harus minta maaf," bisik kembali sang Ibu.
"Tapi, Bu,,," Rian mengusap pipinya yang terasa masih sakit akibat tamparan keras dari Desy itu.
"Ibu tahu, kamu di tampar Desy, itu karena dia sangat kesal dan kecewa sama kamu Rian," ucap sang Ibu lirih. Sementara Desy masih sesenggukan menangis.
Rian nampak menghela napas panjang pikirannya berselancar. Dia pun berpikir sekarang ini keadaan hidupnya sedang terpuruk terutama masalah finansial.
"Ya, siapa lagi yang akan membantu aku kedepannya kalau tidak dengan Desy, kalau Citra tidak mungkin dia bisa membantu aku. Dia dulu juga tidak royal dan aku yang selalu mengeluarkan uang terus. Sementara Desy, dia yang selalu membayar atau mengeluarkan uang." gumam hati Rian.
_______
Rian kemudian menyeret langkah kakinya kearah Desy yang terdengar sesenggukan menangis.
Rian kemudian nampak memeluk Desy.
"Des, maafkan aku," ucap Rian.
Degh..
Seperti di awang-awang gejolak rasa hati Desy karena Rian akhirnya memeluknya dan mengucap kata maaf.
Desy terdiam dia pura-pura tidak peduli dengan ucapan Rian, hanya diam tidak membalas pelukan Rian.
"Des, maafkan anak Ibu ya, Sayang," Bu Viona pun dengan lirih meminta maaf kepada Desy..
__ADS_1
"Akhirnya kalian terjerat juga semua sama aku, kalian pasti butuh aku, apalagi kalian sedang terpuruk masalah finansial," gumam hati Desy tertawa puas.
Bersambung ...