
Pagi itu.
Nampak Rian tidak bisa melupakan mantan istrinya, dia selalu mencari waktu yang tepat agar dia bisa bertemu dengan sang mantan istri dengan cara pura-pura ingin bertemu dengan sang anak.
Kebetulan pagar halaman rumah Lia terbuka dengan lebar karena Teh Sumi sang ART sedang menyiram pepohonan yang berada di halaman tersebut.
•••
"Teh Sumi,,, Lia nya ada!?" tanya Rian.
Sontak Teh Sumi terkejut dan menoleh pandangannya ke arah belakang karena dia sedang membelakangi garasi rumah dan tangannya sedang menyiram pohon.
"Eh,,,Ad-ada, Pak Rian," ucap Teh Sumi terdengar kaget dan gugup.
"Panggil dong Teh, bilangin saya mau ketemu sama Cantika, ini saya bawa oleh-oleh buat Cantika," ucap Rian dengan tersenyum lebar kepada sang ART.
•••
"Silahkan, Pak,,duduk," ucap Teh Sumi menyuruh sang mantan majikan duduk di kursi teras. Rian pun duduk di teras dengan memandangi pepohonan yang berada di halaman rumah.
Teh Sumi pun berlalu dari hadapan Rian menuju ke arah kamar di mana Lia dan Cantika sedang berada.
____
Tok...Tok...Tok..
Teh Sumi mengetuk pintu kamar beberapa kali dan tidak butuh menunggu waktu lama, akhirnya pintu pun terbuka dengan lebar, dibuka oleh Lia.
"Bu,,,Bu,,,ada Pak Rian di depan datang, katanya ingin bertemu dengan Cantika," ucap sang ART terdengar gugup karena Teh Sumi seakan tahu bahwa Lia tidak akan suka dengan kedatangan mantan suaminya itu
"Terus sama Teh Sumi dibilang apa!? Ada,,!? Harusnya bilangnya lagi pergi, bilang saja perginya pakai Taksi. Mobil aku kan terparkir ada di halaman garasi," ucap Lia seakan malas untuk menemui mantan suaminya itu.
Teh Sumi pandangannya menunduk, dia pun seakan dihinggapi rasa bersalah karena biasanya dia punya ide yang pintar. Tapi karena kali ini dihinggapi rasa terkejut dia dengan cepat memasuki rumah dan memberitahu kepada sang majikan bahwa ada mantan suaminya di luar teras sedang menunggu.
Lia terlihat dari raut mukanya kesal dan seakan malas untuk bertemu dengan sang mantan suami.
"Cantika saja sendiri yang nemuin Papa, kalau Mama gak mau," jawab sang anak terlihat lekat memandang sang Mama dengan senyuman renyah
Melihat binar mata sang anak yang tidak berdosa, hati Lia seakan tidak tega jika membiarkan sang anak menemui Rian sendiri yang tengah menunggu di teras rumah.
Nampak Lia pun menghela napas panjang sebelum kakinya melangkahkan ke teras untuk menemani sang anak menemui Rian.
___
Tiba di teras rumah.
"Sayang, gimana sudah sembuh? ini Papa bawain oleh-oleh dan baju tidur untuk kamu, semoga kamu senang menerima pemberian dari Papa ya Sayang!" ucap Rian dengan mencium kening sang anak.
Sementara Lia menghempaskan badannya dengan kasar di kursi dan nampak Lia menjaga jarak dari Rian.
"Sudah Pah, Cantika sudah sembuh," ucap sang anak tersenyum lebar.
"Kalau begitu Papa mau ajak kamu ke rumah Nenek Viona, kamu mau ikut Sayang!?" tanya Rian kepada sang anak sambil melirik ke arah Lia. Sontak Lia memalingkan mukanya saat pandangan Rian lekat ke wajahnya.
__ADS_1
"Mah, boleh Cantika ikut dengan Papa?" tanya sang anak seakan memelas.
____
Lia membuang napas secara perlahan.
Dia berpikir cukup lama, jika dia tidak mengijinkan sang anak untuk dibawa oleh Papanya, dia pun takut dikira menjauhkan tali silaturahmi antara Neneknya dan sang Cucu, dilain sisi dia masih sangat kesal terhadap sang mantan Ibu mertua.
"Gimana Lia kamu mengizinkan Cantika untuk bertemu dengan Ibuku?" tanya Rian dengan sorot mata tajam menatap Lia.
"Ya, tapi jangan lama-lama ya, Sayang," ucap Lia dengan menatap Cantika, dia pun seakan enggan untuk bertatapan mata dengan mantan suaminya itu.
"Ya, sudah, Cantika ganti baju dulu sama Teh Sumi," ucap Lia, Cantika pun berlalu dari hadapan Mama dan Papanya menuju kamar.
"Teh, tolong urus dulu Cantika untuk ganti baju," teriak Lia kepada Teh Sumi.
______
Di depan teras hanya ada Rian dan Lia.
Nampak Rian dan Lia tidak bergeming sedikitpun mereka hanya asyik dengan ponsel masing-masing.
Drett..Drett..Drett.
Tiba-tiba ponselnya Lia berbunyi. Nampak terlihat Lia sangat lama untuk mengangkat suara telepon tersebut karena nomornya bagi Lia asing tidak di save olehnya.
Dengan penuh tanya akhirnya Lia pun mengangkat bunyi suara telepon tersebut.
•••
{"Wa'alaikum salam, maaf,,,ini dengan siapa ya?"} sontak terasa dihinggapi rasa kaget dalam diri Lia karena jarang sekali dia mengangkat bunyi suara telepon dari lelaki dan Lia pun pikirannya seakan berselancar mengingat suara tersebut karena seakan kenal dan sudah tidak asing lagi.
{"Saya Adrian, teman lamamu yang waktu ketemu di Restoran, waktu itu kamu baru pulang dari Pengadilan Agama bersama Tante Restu,"} Entah mengapa terasa berdebar dada Lia tatkala di seberang sana seorang laki-laki dengan menyebut nama Adrian.
{"Adrian,,!"} ucap Lia.
Tanpa disadari Lia menyebut nama Adrian dengan keras dan Rian sontak menoleh ke arah Lia yang terlihat mukanya merah merona seperti dihinggapi rasa malu sekaligus grogi, dan ini menimbulkan rasa tanya dalam diri Rian. (Siapakah Adrian itu, namanya sama denganku!?" gumam hati Rian penuh tanya. Dia sendiri bernama Adrian Wiguna dipanggil dengan sebutan Rian.
{Iyaa, Lia, gimana kabarnya sehat? Aku mau mengabarkan bahwa aku di pindah tugaskan kerja di Bandung, dan alhamdulillah, aku naik jabatan dan untuk merayakan rasa gembiraku, aku akan ajak kamu hari ini untuk acara makan, gimana kamu mau tidak?" ajak Adrian, dia pun seakan berharap untuk bertemu dengan Lia.
{"Acaranya jam berapa?"} tanya Lia.
{"Mungkin sore ini, bagaimana Lia, kamu mau kan? Please,,,,,!!"} ucap Adrian seakan memohon kepada Lia agar bisa bertemu lagi.
Lia nampak berpikir sejenak, dia pun sebenarnya ingin bertemu dengan Adrian untuk sekedar silaturahmi dan menghilangkan penat karena akhir-akhir ini sangat lelah dengan kondisi keadaan hidupnya yang penuh liku.
____
Nampak Rian sang mantan suami matanya sangat lekat ke arah bola mata Lia. Entah mengapa Rian dihinggapi rasa cemburu jantungnya terasa diremas tatkala melihat Lia mukanya tersipu malu saat berbicara dengan Adrian disambungkan telepon.
{Nanti, aku kabarin lagi ya,, soalnya aku mau pergi dengan Tante Restu,"} ucap Lia kepada Adrian dengan senyum yang mempesona, nampak terlihat jelas oleh Rian, senyuman Lia seakan kembali terlihat setelah sekian lama Rian tidak melihatnya.
_____
__ADS_1
Sambungan telepon pun ditutup oleh Lia setelah beberapa menit berbicara dengan Adrian.
"Lia, siapa Adrian!?" Rian bertanya kepada Lia seakan penuh curiga dan ini membuat rasa tanya dari Lia begitu dalam.
"Bukan urusanmu, memangnya kenapa kamu menanyakan Adrian!?" ucapnya.
"Aku hanya nanya saja kok namanya sama denganku," ucap Ryan seakan gugup.
"Nama boleh sama tapi sifat berbeda," sindir Lia dengan ketus.
"Awas Lia kamu jangan berkenalan dengan cowok yang tidak baik nanti kamu,,," ucap Rian seakan tidak bisa meneruskan ucapannya itu.
"Nanti apa,,,!? Nanti takut kena tipu lagi! Seperti kamu menipu aku, Iya,,!? Enggaklah sekarang aku udah pintar dan kemarin aku bodoh," ucap Lia seakan menyindir dirinya sendiri dan mengejek mantan suaminya itu.
"Bukan itu Lia,, kamu harus hati-hati, aku kan sudah minta maaf sama kamu dengan kelakuan aku yang sudah berselingkuh dengan Desy, dan sekarang aku harap kamu jangan mengulang untuk yang kedua kalinya dipermainkan oleh laki-laki seperti aku mempermainkan kamu," ucap Rian kembali.
"Hahahaha,,,, Rian! Rian,,! Kok terdengar bodoh saat kamu berbicara, kamu seakan-akan menyalahkan dirimu sendiri, atau kamu mau memelas terhadapku bahwa kamu itu sekarang lelaki baik yang mau insyaf, seperti itu!?" Lia terdengar memojokkan Rian.
____
Rian pandangan matanya hanya menunduk seakan malu karena sudah di permalukan oleh mantan istrinya itu.
"Ingat ya,,,Adrian Wiguna, kamu jangan mentang-mentang ganteng, dan seenaknya memperlakukan seorang wanita. Mungkin wanita manapun bisa kamu dapatkan karena kamu punya tampang dan uang. Atau mungkin kamu mau minta rujuk sama aku dengan modal seperti itu!? Maaf,,, tidak ya, ternyata tampang dan uang itu sekarang menurutku tidak akan menjadi ukuran bahwa lelaki itu akan setia." ejek Lia kembali.
"Cukup,,,!! Cukup Lia, aku cemburu!" ucap Rian, dengan spontan.
"Cemburu,,!!" mata Lia terbelalak.
Rian nampak salah tingkah terlihat dari gestur tubuhnya dan mukanya pucat pasi.
"Aku bodoh, kenapa dengan spontan berucap kata cemburu," gumam hati Rian.
Rian dihinggapi rasa terkejut karena secara spontan dan tanpa dia sadari dia telah berucap kata cemburu.
"Aku ingin tertawa kembali Rian, kalau kamu cemburu kenapa kamu berselingkuh dariku. karena kalau kamu punya rasa cemburu berarti kamu cinta, dan kalau kamu cinta berarti kamu tidak akan berselingkuh dari aku," ucap Lia kembali.
Rian pun seakan malu dengan ucapan Lia yang terus menerus memojokkannya itu, Rian terdiam tidak berbicara.
____
"Pah,,, Cantika sudah siap," ucap Cantika yang tiba-tiba keluar dari arah dalam rumah.
"Sayang perginya jangan lama-lama ya, nanti kalau mau pulang kabarin Mama, takutnya Mama masih di luar," sengaja Lia berucap seperti itu agar memancing kemarahan dan rasa cemburu Rian kembali. Lia berpikir dia pun bisa mendapatkan lelaki dan Rian jangan seenaknya berselingkuh apalagi perselingkuhannya dengan sahabatnya.
Sontak muka Rian terlihat dihinggapi rasa emosi dan cemburu, campur aduk menjadi satu.
•••
"Pah,,ayo, kita pergi sekarang dan kata Mama pergi ke rumah Neneknya jangan lama-lama," ucap Cantika.
Rian pun nampak mukanya cemberut dan berlalu ke arah mobil.
Lia nampak menahan rasa tawa dan puas terhadap Rian. Karena dia pun tidak mau di pandang sebelah mata oleh sang mantan suami itu.
__ADS_1
Bersambung...