Suamiku Terjerat Cinta Sahabat

Suamiku Terjerat Cinta Sahabat
Bab: 80 Rian kasmaran dengan Bu Dokter


__ADS_3

Malam itu nampak hujan mengguyur kota Bandung, jalanan depan rumah pun nampak sepi. Biasanya terdengar suara tukang jualan tapi malam itu nampak tidak ada satupun yang lewat depan rumah, seakan semua orang terlena dengan selimut yang menempel di badan.


"Rian jadi kamu baku hantam dengan suaminya si Lia!?" tanya sang Ibu menatap lekat ke arah Rian ketika duduk di kursi sofa sambil melihat layar Televisi.


"Bukan suami, dia pacarnya, Bu! Mereka belum menikah," jawab Rian.


"Kamu nikah saja duluan dengan Desy biar si Lia sakit hati, bagaimana rasanya jika sahabatnya menikah dengan mantan suaminya," Bu Viona mencoba membuat suasana jadi panas agar anaknya tersulut emosi dan kesal.


Wanita tua tersebut seakan tidak puas untuk menyakiti hati sang mantan menantunya tersebut, meskipun kini bukan lagi menantu. Tapi tetap saja dia ingin buat Lia terluka karena rasa dendam dan benci kepada Mamanya Lia masih tersimpan dalam hati dan pikirannya itu.


_____


Rian pun berpikir sejenak tentang tawaran yang diajukan oleh sang Ibu untuk segera menikah dengan Desy karena Rian seakan tidak sanggup kalau untuk saat ini bisa menikah dengan Desy. Entah mengapa bayangan Dokter Zahira tiba-tiba hinggap di dalam pikirannya.


Rian pun pikirannya berselancar ketika dia mengantar Desy untuk menemui Dokter Zahira dia mengambil kartu nama dan Rian pun berinisiatif mau menghubungi dokter Zahira malam ini.


_______


"Rian belum siap menikahi Desy,!" jawabnya.


"Loh, kenapa!? Desy kan yang kamu incar dari dulu dan kegagalan rumah tanggamu karena Desy juga, berarti kamu sangat mencintai Desy, kenapa sekarang kamu tidak mau cepat menikah dengan Desy!?" ucap sang Ibu seakan menekan Rian.


"Sudah Bu, lebih baik sekarang Ibu istirahat dulu, bukannya punggung Ibu sakit, tadi saat terjatuh," Rian mencoba mengalihkan pembicaraan karena Rian sedang malas berbicara mengenai Desy. Rian pun melengos dari kursi sofa tersebut.


_____


Rian memasuki kamarnya.


Nampak Rian menatap langit-langit kamar ketika badannya terbaring di kasur empuknya.


Bayangan Zahira terus menerus hinggap di pikirannya. Dia pun memejamkan matanya. Rian tersenyum sendiri kemudian dia kembali membuka matanya, lalu dia mengambil ponsel dan kartu nama yang ada di atas nakas. Rian pun mengetikkan nama lalu menyimpan nomor tersebut ke layar WhatsApp.


Setelah dia simpan nama Zahira kemudian dia membuka layar WhatsApp memijit kembali nama Zahira dan tersenyum bibirnya tatkala melihat nomor Zahira sudah muncul di layar ponsel nampak disana foto Zahira muncul dengan wajah cantiknya dan senyuman yang mengembang.


Terlihat pula dari layar ponsel Zahira terlihat online. Rian pun memberanikan diri untuk bisa menghubungi Zahira walau lewat pesan.


{" Selamat malam Dokter Zahira, maaf ganggu waktunya, saya Rian yang kemarin datang mengantar temanku yang bernama Desy,"} tulis pesan Rian.


{"Oh, Mas Rian. Ya,,aku ingat.Ada perlu apa Mas, bisa saya bantu!?"} jawaban dari pesan tersebut terlihat cukup serius.


{"Aku besok pagi mau datang ke tempat prakteknya Dokter kembali,"} balas Rian kembali.


{"Boleh, silahkan,"} tulis sang Dokter.


{"Terima kasih,} balas Rian.


Pesan pun berakhir sampai disana


________


keesokan harinya


Nampak terlihat Rian dandan begitu rapih dan wangi parfumnya semerbak mewangi karena hari ini dia akan mengunjungi Dokter Zahira di tempat prakteknya.

__ADS_1


Ibu Viona pun seakan heran melihat penampilan sang anak berubah terlihat begitu rapi dan bau wangi parfum sangat menyengat karena akhir-akhir ini sang anak seakan malas untuk berdandan dan memakai parfum pun alakadarnya.


"Wah, anak Ibu a udah ganteng! Rian kamu mau ke mana sudah rapi dan wangi," tanya sang Ibu menatap lekat dan tersenyum sumringah kepada Rian.


"Mau ketemu Bu Dokter Bu," jawab Rian.


"Bu Dokter!? sesaat sang Ibu seakan bingung dengan penjelasan Rian tersebut.


"Ya sudah, Rian pergi dulu Bu! Cup.....," Rian mencium kening Ibu. Rian pun berlalu dari hadapan sang Ibu.


Sang Ibu seakan dijejali seribu tanya.


"Dokter! Rian kan enggak sakit!" gumam hati Ibu sambil kedua bola matanya terus mengekor ketika Rian nampak berlalu memasuki mobil.


____


Tiba di klinik.


Setengah jam sudah perjalanan menuju ke tempat praktek Dokter Zahira. Entah mengapa hati Rian tidak karuan dadanya berdegup kencang. Rian sengaja di nomor urutan terakhir dan memakai nama Desy, dia menunggu pasien satu demi masuk dan dia ingin urutan nomor terakhir masuk.


Setelah tamu semua pulang dan terlihat sepi di ruang praktek itu, Rian pun memberanikan diri untuk masuk ke dalam ruangan Zahira.


_____


"Selamat pagi!" ucap Rian tersenyum ramah ketika memasuki ruangan tempat Zahira dimana sedang praktek. kebetulan pasien agak banyak dan sekarang tepat pukul 12 waktunya makan siang.


"Hai, Pak Rian ya, Desy nya mana!?" tanya Dokter Zahira terlihat ramah dan sumringah.


"Hai, Bu Dokter, sehat?" tanya Rian


"Sebenarnya aku yang mau beli kosmetik," ucap Rian tersipu malu.


"Buat kamu Rian!?" tanya Dokter Zahira.


"Iya, buat Ibuku juga," jawabnya.


"Memangnya usia Ibumu berapa tahun, nanti biar ku kasih kosmetik buat usia Ibumu," ucap sang Dokter mencoba menjelaskan.


"Tujuanku kesini padahal hanya ingin bertemu dengan Bu Dokter," gumam hati Rian.


______


Setelah menyelesaikan semua dan ngobrol kesana-kemari, kemudian Dokter Zahira pun pamit untuk menutup kliniknya.


"Pak Rian, saya mau istirahat makan siang dulu, jadi saya mau tutup klinik ini," ucap Dokter Zahira


"Kebetulan saya juga lapar, gimana kalau saya menawarkan makan siang bersama dan saya akan teraktir Bu Dokter," Rian menawarkan makan siang bersama kepada Zahira.


Setelah berpikir panjang kemudian Zahira pun menganggukkan kepalanya dan tersenyum tipis. "Boleh, kalau begitu," jawabnya.


Sontak hati Rian berbunga tatkala mendengar ucapan seperti itu.


___

__ADS_1


Di dalam mobil.


"Kamu hari ini jadwalnya padat tidak?" tanya Rian pada Zahira.


"Enggak sih, hari ini aku hanya praktek pagi dan waktu longgar sampai malam. Memangnya kenapa!?" tanya Zahira.


Zahira pun menghargai Rian sebagai klien bisnisnya karena tadi Rian mempromosikan produk dari Dokter Zahira kepada temannya yang mempunyai bisnis dan punya salon jadi produk Zahira nantinya akan menguntungkan.


"Boleh, aku ajak anakku untuk menemani kita makan siang!?" Rian sangat berharap Zahira mau untuk menjemput dulu anaknya, karena sang anak tidak setuju kepada Desy, mungkin kalau lihat Zahira pasti sang anak setuju dan ini akan membuat sang anak bercerita kepada Lia sang Mama mengenai wanita yang tengah dekat dengan Rian.


Meskipun Rian belum mengungkapkan isi hatinya kepada Zahira dan belum tentu Zahira pun menerima cinta dari Rian, tapi Rian berpikir inilah saatnya untuk membuat Lia hatinya panas atau cemburu.


"Anakmu!?" terlihat terkejut dan heran Dokter Zahira. mendengar Rian akan menjemput anaknya dulu.


"Ya, aku sudah mempunyai anak dan Maaf aku lupa sama kamu tidak bilang bahwa aku itu sebenarnya udah mempunyai anak. Aku seorang duda," ucapnya lirih.


"Oh, enggak apa-apa santai saja Rian tidak perlu minta maaf, terus yang kemarin Desy pacar kamu!?" sindir Zahira tertawa terkekeh.


"Bu- bukan! itu temanku," ucapnya mengelak.


"Oke, deh, enggak apa-apa, jemput dulu anakmu, kebetulan aku suka dengan anak kecil," ucap Zahira.


"Bentar ya, aku telepon dulu jadi pas kita jemput dia sudah siap di depan rumah." ucap Rian tersenyum bahagia karena Zahira menyambutnya dengan baik.


_______


Dia pun mencoba menelepon Cantika, entah itu keberuntungan Rian atau kebetulan saja ketika Rian mencoba menelepon Cantika langsung diangkat oleh anak tersebut. Lalu Rian menawarkan untuk makan siang dan Rian menyuruh Cantika untuk bersiap-siap Cantika pun dengan riang dia menyetujuinya.


"Asik, Cantika kebetulan sudah mandi dan rapi jadi langsung Cantika tunggu ya, di garasi rumah," ucap anak tersebut.


_____


Beberapa saat kemudian.


Bunyi klakson nampak terdengar di depan halaman rumah Lia.


Cantika pun berlalu menghampiri mobil yang tengah diparkir oleh Rian di luar halaman rumah tersebut.


"Papa,,,!" sang anak lalu membuka gerbang garasi dan tersenyum lebar. Sementara Teh Sumi mengekor dari belakang.


Nampak terlihat disana Lia seakan malas untuk melihat Rian.


Pandangan dia palingkan ke arah kolam ikan koi yang ada di teras rumah.


Rian pun membuka jendela pintu mobil.


"Masuk Sayang, pintunya enggak di kunci," ucap Rian. Cantika pun kemudian masuk.ke dalam mobil.


Degh...


Zahira tatapannya lekat ke arah Lia yang sedang duduk di teras dengan pandangan tidak berani menatap mobil yang tengah di parkir oleh Rian.


"Itu kan wanita yang akan di jodohkan kepada Adrian!?" gumam hati Zahira.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2