
Seminggu kemudian.
Nampak Pak RT berkunjung ke rumah Rian dan Pak RT menanyakan kabar Rian karena tidak kelihatan waktu hari kemarin di rumahnya padahal ada rapat. Rian pun beralasan kurang enak badan. Padahal dia tahu acara tersebut selalu di adakan seminggu sekali tapi Rian seakan jaga jarak dan tidak mau Ana seakan mengharapkan dia lagi kalau ada pertemuan.
"Sekarang keadaan kamu sudah membaik?" tanya Pak RT menepuk pundak Rian.
Rian tersenyum ramah kepada Pak RT sambil menganggukkan kepalanya dan Rian pun berucap syukur karena kondisi Pak RT yang sudah mulai membaik.
"Rian nanti besok Ana dan Ibunya mau ada perlu pergi ke rumah saudaranya karena keadaan Bapak kurang sehat. Bagaimana kalau kamu yang mengantarkannya," ucap Pak RT seakan berharap Rian yang akan mengantarkan.
_________
Nampak Rian berpikir cukup lama karena sebenarnya dia tidak mau berurusan lagi dengan Ana tapi di lain sisi dia seakan tidak enak untuk menolak suruhan dari Pak RT. Rian hanya terdiam seakan sulit untuk memutuskan keputusan.
"Gimana mau ya," ucap Pak RT sambil menepuk pundak Rian.
Terdengar jelas oleh sang Ibu pembicara antara Rian dan Pak RT. Kemudian sang Ibu pun keluar dari dalam warung dan ingin membela sang anak atau menenangkan hati sang anak dengan cara dia beralasan bahwa Rian besok akan ada kedatangan tamu.
"Rian, besok ada Papa kamu datang kesini katanya mau lihat keadaan kita disini. hehehe,,," tersenyum tipis Bu Viona berucap.
_______
Rian nampak terkejut dengan sang Ibu yang datang secara tiba-tiba dan berucap bahwa ada sang Papa akan datang. Padahal dalam diri Rian berpikir sang Papa kenapa tidak mengabari kalau dia akan datang kesini untuk menemui dirinya.
"Tadi malam Papa kamu kabarin dan besok subuh dari Kotanya, dan kemungkinan pagi Papa kamu sudah tiba disini," ucap sang Ibu.
"Ouh, besok ada Papa Rian datang kesini. Ya, sudah Rian enggak apa-apa biar Bapak nyuruh orang lain saja buat antar Ana dan Ibunya ke rumah saudara," ucap Pak RT.
Pak RT pun berpesan agar jika Papanya datang suruh datang main ke rumah Pak RT, dengan alasan ingin lebih dekat dengan Papanya Rian.
_______
Rian nampak bisa menghela napas lega begitupun dengan sang Ibu. Dan Rian pun tidak tahu padahal sebenarnya sang Ibu tengah bersandiwara.
__ADS_1
"Main nanti siang ke rumah ya, kita makan bareng," ucap Pak RT seakan mengundang Rian untuk datang ke rumahnya.
Rian terdiam dan sang Ibu dengan cepat memberikan sebuah alasan kembali
"In Syaa Allah, Pak RT nanti sepulang dari pasar ya, semoga keburu. Mau ke pasar penuhin warung agak siangan di antar Rian," kembali sang Ibu memberikan alasan.
Rian pun berpikir dalam hatinya bukannya sang Ibu kemarin sudah belanja banyak dan penuhin warungnya. Rian seakan dihinggapi rasa curiga dalam dirinya bahwa sebenarnya sang Ibu tengah bersandiwara.
_______
"Ya, sudah kalau begitu kapan-kapan saja datang ke rumah dan pintu selalu terbuka untuk kamu. Enak kalau Ana sudah ada pasangan mungkin dia akan di antar kemanapun oleh pasangannya," sindir Pak RT seakan ingin bercerita hubungan Ana kedepannya yang ingin di jodohkan kepada Rian.
Rian menyadari hal itu karena Ana sudah bicara kepadanya bahwa perjodohan yang di rencanakan oleh sang Ibu kepada temannya belum di ketahui oleh sang Bapak. Jadi Bapaknya Rian masih berpikir dia akan menjodohkan anaknya dengan Rian.
"Semoga Neng Ana mendapatkan jodoh yang baik dan tanggung jawab Pak," ucap Bu Viona.
Pak RT hanya tersenyum tipis dan menatap Rian seakan mengisyaratkan sebenarnya Rian yang dipilihnya sebagai pasangan untuk Ana.
Setelah setengah jam Pak RT berada di rumah Rian kemudian Pak RT pun pamit pulang dengan rasa kecewa karena Rian besok tidak bisa mengantarkan anaknya. Padahal Pak RT berpikir agar kedekatan sang anak dengan Rian akan erat terjalin kalau sering keluar bareng.
______
Sang Ibu menghela napas secara perlahan kemudian dia bicara jujur kepada Rian. Sebenarnya dia tengah berbohong kepada Pak RT dan sang Ibu bercerita jika Rian semakin dekat dengan Ana kemungkinan besar Pak RT akan menjodohkan dirinya dengan Ana, sedangkan Ana sudah di jodohkan oleh Ibunya.
"Biarkan Ibunya fokus untuk mendekatkan anaknya dengan lelaki pilihan Ibunya, nanti juga jika kamu menghindar dari keluarganya dan pak RT lama-lama akan berpikir untuk menjauhkan kamu dengan Ana." ucap sang Ibu. Nampak sang Ibu pun khawatir dengan keberadaan Rian takut menghalangi langkah Ibunya Ana untuk menjodohkan anaknya dengan lelaki lain.
Rian pun seakan mengerti maksud dari sang Ibu dan Rian terlihat sangat bersyukur karena sang Ibu sekarang sifat dan karakternya jauh lebih baik di bandingkan dulu. Sang Ibu sekarang nampak lebih dewasa dan berpikir positif tidak licik seperti dulu. Dia lebih mementingkan kebahagiaan orang lain dari pada dirinya sendiri dan tidak bersifat egois.
_____
Rian kembali melihat ponselnya dan sang anak nampak mengirim kembali beberapa foto kebersamaan dia dengan Desy. Terlihat disana sang Ibu mengintip ketika Rian tengah membuka gambar kiriman dari sang cucu.
"Wah, itu siapa yang sedang bersama Cantika, cantik. Desy ya!?" tanya sang Ibu menatap lekat ke layar ponsel milik Rian. Rian sontak dengan gugup menyimpan ponselnya di atas meja kembali.
__ADS_1
"Iya, Desy," jawab Rian.
"Desy mungkin sudah sembuh total Rian dari sakitnya makannya dia terlihat segar. Anakmu sedang sama Desy?" tanya sang Ibu.
Rian pun menerangkan kepada sang Ibu bahwa Lia sedang sakit anaknya jadi tidak bisa mengantarkan Cantika ke sekolah dan kebetulan di sekolah sedang ada acara dan hanya Desy yang bisa mengantarkan sekolah Cantika. Nampak sang Ibu tersenyum dalam hatinya berpikir Desy pandai sekali membuat kenyamanan hati cucunya itu.
_____
Tiba-tiba Ibunya Ana datang.
Kebetulan Rian sedang berada di kamar mandi. Ibunya Ana berpesan kepada Ibunya Rian, bahwa Rian jangan pernah datang ke rumahnya lagi meskipun itu urusan mengenai rapat antar RT atau masyarakat. Nampak Ibunya Rian mengernyitkan dahi seakan paham dengan alasan Ibunya Ana agar anaknya tidak ingat lagi dengan sosok Rian.
"Ana sudah di jodohkan sama saya, jadi saya harap Rian jangan hadiri rapat apapun itu yang berhubungan dengan keadaan kampung ini karena Ana pengurus karang taruna jadi keberadaannya selalu ada disana," sang Ibu menerangkan.
"Bu, maaf bukannya saya membela anak saya, bukannya selama ini Rian tidak ada hubungan apapun dengan anak Ibu? Malah anak Ibu yang ingin mendekati anak saya. Malah tadi pagi Pak RT minta agar Rian mau mengantarkan Ibu dan Ana. Katanya Ibu besok mau pergi." jawab Bu Viona.
Bu Viona pun seakan tidak mau di salahkan oleh istri dari Pak RT tersebut yang seolah-olah Rian lah yang mengejar anaknya.
_______
"Iya, maksud saya, anak saya udah saya jodohkan dengan orang berada dan semoga hidupnya layak." tegas Ibunya Ana
"Bukannya Ibu menginginkan perjodohan ini karena Ibu ada tunggakan utang kepada lelaki tersebut jadi dengan terpaksa menjodohkan anak Ibu dengan lelaki itu! Jangan menghina keluarga kita Bu, memang hidup kita tidak layak dan Rian dalam keadaan di bawah makannya Rian tidak berani untuk dekat dengan anaknya Ibu," ucap Bu Viona membela diri.
Bu Viona pun seakan tersulut emosi ketika berucap karena dia merasa tersinggung dengan ucapan Ibunya Ana yang mengatakan sudah mendapatkan lelaki yang hidupnya akan kayak untuk anaknya kedepannya.
______
Percekcokan pun terjadi di antara mereka. Ibunya Ana merasa dirinya malu karena ternyata Ibunya Rian sudah mengetahui bahwa dia ternyata mempunyai utang kepada lelaki yang akan di jodohkan kepada sang anak. Dan Ibunya Ana pun berpikir apakah Ana telah bercerita kepada Rian mengenai perjodohan dirinya karena masalah utang. Dalam hati sang Ibu dihinggapi rasa kesal dan kecewa kepada sang anak mengapa masalah utangnya mesti diceritakan kepada Rian karena yang Ibunya Ana inginkan adalah cukup Ana bicara dijodohkan dengan lelaki kaya tanpa embel-embel masalah utang.
"Ada apa ini Bu!?" tanya Rian.
Percekcokan yang terjadi antara sang Ibu dan Ibunya Rian terdengar oleh Rian. Nampaknya Rian seperti dihinggapi rasa penasaran dengan apa yang terjadi. Namun Ibunya Ana dengan cepat meninggalkan tempat tersebut dengan terlihat dari raut mukanya rasa amarah terpendam.
__ADS_1
"Aneh, itu Bu RT, aku baru tahu ternyata sifat aslinya begitu!" ucap Bu Viona mencoba menahan rasa emosi.
Bersambung...