
Pertemuan.
Akhirnya Lia dan Tante Dini bisa bertemu kembali sudah hampir tiga bulan mereka tidak bertemu.
"Lia, kamu sehat kan," Tante Dini memeluk erat Lia dan tersenyum ramah.
"Tante tambah cantik saja," ucap Lia.
Dalam hati Lia berpikir pantesan Bapak Yosi, sang mertua begitu tergila-gila dengan wanita ini. Selain cantik dia masih muda dan nampak dari cara bicara pun dia wanita pintar.
"Ah, kamu bisa saja. Ini Cantika sudah besar ya," lalu di peluknya sang anak tersebut.
"Tante waktu itu pergi ke Jepang ya, dan sekarang baru pulang dari Bali, hebat Tante ini, berkeliling tamasya," sindir Lia.
"Ke Jepang liburan sama Bapaknya Rian, tapi kalau ke Bali urusan kerja saja," Tante Dini tersenyum renyah.
"Enak lah, kalau Tante selalu dibawa kemana-mana, tapi Ibunya Rian. Hehehe..." Lia tersenyum tipis seakan mengejek Tante Dini, karena Ibu mertuanya tidak pernah di ajak berlibur kemanapun oleh suaminya atau mertua Lia.
"Ini loh, Tante punya cin-cin berlian buat kamu Lia, semoga kamu senang ya," ucap sang Tante.
kemudian Tante Dini mengeluarkan kotak kecil berwarna pink dan di dalam kotak tersebut terdapat sebuah cin-cin mungil dan ada matanya satu begitu berkilau ketika Tante Dini, memakaikannya ke jari manis Lia.
Nampak Lia tersenyum bahagia dan mengucapkan rasa terima kasih kepada Tante Dini.
"Tante, ini berlebihan kurasa," ucap Lia menatap wajah Tante Dini, dengan penuh rasa terseyum dari hamparan pipinya.
"Nggak apa-apa sayang, kamu senang nggak?" tanya Tante Dini.
Sebenarnya Tante Dini sedang mencoba mendekati hati Lia, agar pernikahan dirinya bersama Bapak mertuanya tidak terbongkar. Jadi dia dengan berbagai cara memberikan hadiah mewah kepada istrinya Rian.
"Ini buat kamu Nak," Tante Dini pun memberikan sebuah kalung tipis berwarna putih kepada Cantika dan cahaya dari kalung tersebut nampak berkilau.
"Bagus banget, Bunda," ucap Cantika.
Ketika Tante Dini memberikan sebuah kalung kepada anaknya Lia.
Lia pun memakaikan kalung tersebut ke leher sang anak.
"Aduh, cantik banget dan mewah Nak," ucap Lia tatkala melihat anaknya memakai kalung pemberian dari Tante Dini.
Lalu dengan spontan Cantika memeluk Tante Dini, dia ungkapkan rasa gembira dan terima kasih dengan cara tersebut.
"Bunda, baik deh," ucapnya. Cantika selalu memanggil nama Bunda, ke istri muda Kakeknya tersebut.
"Bagaimana Rian, suamimu sehat," ucap sang Tante. Menanyakan keadaan anak dari suaminya tersebut.
"Alhamdulillah, Tante." jawab Lia.
Kemudian pelayan datang menghampiri dengan membawa buku pesanan, mereka pun memesan beberapa makanan.
Setengah jam kemudian.
"Ibunya Rian, gimana masih cerewet?" tanya Tante Dini tersenyum malu. Karena dia menanyakan istri sah nya, suaminya sendiri, kepada menantu suaminya.
"Masih Tan," Lia tertawa terkekeh.
"Kenapa tertawa," sang Tante pun terlihat tersenyum tipis.
__ADS_1
"Ya, aku nggak nyaman dengan Ibu mertua," ucapnya lirih.
Tante Dini memandang lekat kepada Lia dalam hatinya berpikir. Pantesan suaminya lebih banyak waktunya bersama dirinya ketimbang dengan istri pertama. Mungkin karena nggak nyaman dan terlihat cerewet jadi sang suami lebih asik berlama-lama dengan istri muda atau Tante Dini.
"Kamu nyaman nggak sama Tante," ucap Tante Dini. Dia mencoba membeli hati Lia.
•••
Karena setahun lalu ada ucapan dari sang suami. Jika dia ingin menceraikan istrinya, karena rasa tidak nyaman dan akan menikahi Tante Dini, dengan syarat Tante Dini harus membuat nyaman dulu anak-anaknya, dengan cara itu perpisahan Bapaknya Rian dengan istrinya tidak terjadi pertengkaran.
Tante Dini berharap semua warisan dari
Yosi Soediharjo ( Bapaknya Rama) bisa sepenuhnya nanti dia miliki.
•••
"Sejauh ini nyaman, Tan," jawab Lia.
Lia berpikir dalam hatinya, selain cantik dan selalu memberikan barang mewah, Tante Dini pun baik tidak pernah menyinggung perasaannya. Beda dengan Ibu mertua yang selalu mencampuri urusan rumah tangganya bersama Rian.
"Bunda, kalau Bunda rumahnya dimana?" tanya Cantika, begitu polosnya.
"Tante, sahabat Mama yang baik ya," ucapnya.
•••••
Dalam hati Tante dihinggapi rasa ingin tertawa dan juga merasa sedih. karena anak kecil tersebut menyangka dia adalah sahabat Mamanya.
Padahal dia adalah istri dari Kakeknya, dan Tante Dini merasa sedih karena dia harus menyembunyikan ini semua dari Cantika.
Kalau posisi dia sudah di ketahui, bahwa dia adalah istri Kakeknya. mungkin Cantika akan memanggilnya dengan kata Nenek atau Oma.
"Saatnya pasti akan tiba semua," gumam hati Tante Dini.
•••••
Jam menunjukkan pukul 5 sore, akhirnya Lia, berpamitan untuk pulang.
"Ini buat jajan ya," Tante Dini memberikan uang berwarna merah beberapa lembar kepada Cantika.
__ADS_1
"Terima kasih, Bunda," ucap Cantika.
Tiba di rumah.
Lia dihinggapi rasa khawatir, kenapa Desy masih ada di rumahnya. Ketika Lia melihat mobil Desy terparkir di garasi halaman rumahnya.
"Mah, mobilnya Tante Desy ya," ucap sang anak. Lia pun menganggukkan kepalanya.
"Mah, kemarin Papa memegang tangan Tante Desy loh," ucap sang anak dan pandangannya lekat ke mobil Desy.
Degh
Entah mengapa jantungnya berdetak lebih kencang dan dadanya bergemuruh.
"Apa, Sayang. Kamu melihat Papa lagi pegang tangan Tante Desy?" tanya sang Mama.
Mereka tidak cepat keluar dari mobil, hanya termangu diam di dalam mobil.
"Iya, Mah, dan Tante Desy sama Papa terkejut," ucapnya lagi.
"Ah, kamu salah lihat kali," ucap sang Mama sambil membuka pintu mobil. "Ayo, kita turun," ucapnya kepada sang anak.
Lia tidak percaya kepada omongan anaknya tersebut karena dia, tahu Desy.
Desy adalah sahabatnya yang baik dan lembut tidak mungkin dia berbuat macam-macam kepada Rian, sang suami.
Tokk..Tokk..Tokk..
Terlihat nampak sepi di dalam rumah, lalu Lia mengintip dari arah jendela pintu luar. Namun sia-sia tidak ada orang.
"Pada kemana ya, di rumah kosong," kemudian Lia mengetuk kembali pintu.
"Ya, tunggu," ucap Desy terdengar parau ketika berucap.
Krekkk..
Pintu terbuka, kemudian Lia nampak terkejut karena yang membuka pintu adalah Desy,.
"Loh, pada kemana Des," ucap Lia.
"Mas Rian, tidur di kamar, tadi aku sedang nonton televisi," ucapnya.
"Terus Teh Sumi kemana?" tanya Lia terlihat heran.
"Teh Sumi lagi mandi," ucap Desy.
Lia pun memasuki Rumah, nampak ketika dia masuk ke kamar sang suami Rian sedang tertidur lelap. Lia pun mengganti bajunya dan dia kembali keluar dari kamar.
"Des, kamu sudah lama disini?" tanya Lia.
"Baru ko," ucapnya. Padahal Desy sudah dari siang berada di rumah Lia, dan dia tertidur di kursi sofa kemudian Rian pun tidur di dalam kamarnya.
___
"Tadi rambutku di belai oleh Rian, aku seakan terbuai, dan ketiduran, pas aku bangun ternyata Mas Rian, sudah pindah ke kamarnya, mungkin dia juga ngantuk," gumam hati Desy. Nampak dia menahan senyum.
___
__ADS_1
Bersambung...