Suamiku Terjerat Cinta Sahabat

Suamiku Terjerat Cinta Sahabat
Bab:153 Kafe kena rampok


__ADS_3

Tiba di Hotel.


Pukul 7 malam Rian sampai di Hotel nampak dia terlihat lelah pikirannya. Dia pun merebahkan badannya di kasur. Rasa gelisah sepertinya kian menghantui hati dan pikirannya Rian. Dia pun mencoba memejamkan matanya agar semua beban masalah berlalu namun entah mengapa masalah tersebut kian hinggap dan tidak mau sirna. Apalagi ketakutan dia mengenai Anita yang nantinya akan keluar kerja dari kantornya.


Ting...


Tiba-tiba Desy memberikan sebuah pesan yang menanyakan keberadaan Rian sedang dimana. Namun sepertinya Rian tidak mau memberikan kabar kepada Desy keberadaan dia sedang dimana.


Beberapa menit kemudian sang Ibu pun memberikan pesan kepada Rian.


{"Rian, kamu dimana? Kamu jangan mempermalukan Ibu ya, kamu itu baru nikah sudah tidak pulang ke rumah. Barusan Desy nanya ke orang kantor katanya kamu pulang sedari tadi tapi kenapa sekarang kamu belum pulang. Apa kamu berantem lagi dengan Desy?} tanya sang Ibu.


Rian pun memberikan penjelasan kepada sang Ibu semuanya, bahwa Rian saat ini sedang banyak pikiran.


{"Tapi Seharusnya kamu jangan egois juga karena bagaimanapun dia adalah istrimu!"} sang Ibu memberikan sebuah alasan.


Rian hanya menghela napas dan menyimpan ponselnya tersebut di atas nakas. Rian pun kembali memejamkan matanya.


________


Rian terbangun.


Pukul 3 pagi Rian terbangun dan mendapatkan sebuah pesan dari karyawan Kafenya bahwa telah terjadi perampokan dan menurut Pak Satpam ruangan Kafe Rian di obrak-abrik oleh maling dan betapa terkejut hati Rian karena ada uang yang berada laci tersebut sebesar 100 juta.


"Uangku! Uangku raib pasti disana!" ucap Rian. Dia pun segera beranjak dari dalam Hotel menuju Kafenya tersebut.


________


Di dalam mobil.


Selama dalam perjalanan hati Rian sangat gelisah tidak karuan karena memikirkan keadaan Kafenya.


"Ada uang disana buat belanja besok 100 juta! Bagaimana bisa lalai Pak Satpam," gumam hati Rian.


Rian nampak gelisah tatkala di dalam mobil peluh pun bercucuran.


Setengah jam kemudian sampailah Rian di tempat Kafenya dan disana sudah terlihat Pak Polisi yang melihat keadaan sekitar dan kebetulan Pak polisi tersebut adalah teman dari Rian.


"Pak, kok, sampai bisa terjadi perampokan ini awalnya gimana!?" tanya Rian kepada Pak Satpam.


"Maaf Pak, saya tadi ketiduran di pos tapi tiba-tiba dalam sekejap maling tersebut sudah lari menyelinap jalan dari arah belakang," jawab Pak satpam dengan menundukkan kepalanya karena dia merasa bersalah dan teledor. Dan kata Pak Satpam juga bercerita kebetulan maling tersebut lari lewat belakang menuju area yang tembus warga.


_________


Rian nampak melihat ruangan yang sudah porak poranda dan Rian pun tubuhnya merasa lemas lunglai karena uang yang berada di lacinya raib.


"Sabar, ini ujian! Nanti akan aku usut pelaku kejahatannya!" ucap Yoga sang Polisi sekaligus temannya itu.


Pak satpam dan Pak Jajang yang bertugas membersihkan Kafe tersebut nampak terlihat membereskan ruangan Rian. Sementara Rian hanya duduk termangu dan Yoga beserta temannya nampak mengelilingi Kafe sekitar. Kafe Rian yang sudah di perbesar itu memang terlihat nyaman dan tidak mungkin maling masuk tapi disana Pak Polisi nampak curiga karena ada pintu pagar yang bisa tembus ke jalan warga pintu pagarnya rusak mungkin pintu tersebut dibobol oleh maling.


"Menurutku maling lewat sini dan kebetulan melihat situasi terasa aman karena Pak satpam dan Pak Jajang sedang tidur jadi dia seenaknya masuk kemudian setelah itu memasuki ruangan Kafe!" ucap Yoga dengan tegas.


_______


Tak lama kemudian Desy pun datang bersama Bu Viona karena sebelumnya Rian memberikan kabar tersebut kepada sang Ibu tapi Rian merasa heran dengan kedatangan Desy karena sebelumnya dia tidak memberitahukan semua kejadian Kafenya yang kebobolan maling kepada Desy.


"Kamu jangan heran karena aku datang kesini karena aku diberitahu oleh Ibu dan setelah itu aku menjemput Ibu ke rumah," ketus Desy.


Rian hanya terdiam dan memalingkan wajahnya dan dia kembali fokus berbicara dengan Yoga. Desy pun merasa kesal dengan tingkah laku sang suami yang masih terlihat kesal kepada dirinya itu.


Sang teman Yoga seakan tahu jika hubungan Rian dan istrinya sedang tidak baik-baik saja dan setelah semuanya selesai Yoga pun bersama teman lainnya pamit di Kafe tersebut.


Rian membuang napas kasar dan terlihat dari raut mukanya sangat lelah dan banyak pikiran.


"Sekarang lebih baik kamu istirahat saja pulang, tenangkan pikiran dulu," ucap sang Ibu terdengar dihinggapi rasa kesal dan kasihan terhadap Rian sang anak.


"Kalau kamu tadi pulang ke rumahku mungkin tidak akan terjadi perampokan!" Desy mendelik


"Apa maksudnya! Enggak ada hubungannya," jawab Rian


"Pasti ada! Karena kamu kesal sama istri makannya hidup kamu tidak berkah jadi terjadilah perampokan!" Desy menuduh.


"Pusing aku! Kenapa sih Bu, bawa Desy kesini? Jadi pikiran Rian tambah runyam." bentak Rian.


Desy dan Bu Viona akhirnya terdiam karena melihat Rian yang sedang tersulut emosi.

__ADS_1


_______


Sang Ibu pun meminta Rian dan Desy kembali saja dulu ke rumahnya dan setelah Rian pikirannya tenang dengan tidur sebentar baru Rian kembali ke Kafe.


Akhirnya Desy pun dengan wajah cemberut dia mengikuti apa kata Ibu mertuanya itu.


"Pak, saya pulang ke rumah bentar, nanti sekitar jam 8 saya kembali lagi kesini," ucap Rian kepada Pak satpam dan Pak Jajang.


Mereka pun menganggukkan kepalanya dan meminta maaf kepada Bos-nya tersebut karena keteledorannya.


"Sudah Pak, tidak apa-apa ini musibah mau gimana lagi," jawab Rian lirih.


Mobil Rian nampak di simpan di Kafe sementara Rian beserta sang Ibu menaiki mobil miliknya Desy.


________


Nampak di dalam mobil mereka hanya cemberut tidak bergeming sedikitpun seakan dalam dirinya penuh tanya masing-masing.


Ehemm...


Sang Ibu berdehem seakan ingin melumerkan suasana yang kaku dan dingin.


"Des, gimana kalau untuk sementara seminggu saja kamu tinggal dulu di rumah Ibu bersama Rian," ucap sang Ibu yang duduknya berada di pinggirnya di belakang sementara Rian duduk di depan mengemudikan mobilnya seperti supir yang akan mengantar sang majikan.


Desy hanya terdiam dan melirik ke arah spion dalam mobil seakan ingin tahu reaksi muka sang suami seperti apa. Sementara Rian hanya fokus mengendarai mobilnya seakan tidak mau peduli.


Desy membuang napas kasar.


"Desy terserah Rian saja!" dengan bibir mengerucut dan malas.


______


Sang Ibu hanya menghela napas panjang dia pun berpikir kenapa rumah tangga sang anak begitu tidak akur baru saja nikah seumur jagung belum ada sebulan.


"Sudah Bu, jangan dipaksakan!" ucap Rian terdengar kesal.


"Rian,,,!!" sang Ibu melotot ke arah depan.


Rian meremas rambutnya dengan kasar dan melirik ke arah spion. Desy pun merasa tambah kesal dengan sikap sang suami tersebut.


________


Sang Ibu menggenggam erat jemari tangan Desy. "Des, maafkan Rian mungkin dia sedang capek, sudah kamu sama Rian lebih baik tinggal dulu di rumah Ibu. Dan ibu mohon sama kamu. Tidak baik loh, kalian berantem lama-lama kalian baru saja menikah nanti gimana tanggapan orang tua kamu terhadap Rian dan Ibu. Nah, Ibu tidak mau nanti hubungan orang tua kamu jelek terhadap Ibu dan Rian," bisik Bu Viona mencoba menyabarkan hati Desy yang sedang dihinggapi rasa amarah.


"Tapi, Bu,,,!?" jawab Desy.


"Sudah, kamu lebih baik jangan membantah ucapan Ibu. Ikutin saja karena ini demi kebaikan kamu," ucap sang Ibu kembali.


Desy pun akhirnya terdiam seakan dihinggapi rasa serba salah. Dalam benaknya dihinggapi rasa kesal yang mendalam kepada sang suami.


"Rian langsung ke rumah Ibu sama Desy!" tegas sang Ibu dengan pandangan ke arah Rian. Sementara Rian hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum cuek.


________


Tiba di rumah.


Rian langsung memasuki kamarnya tanpa mengajak Desy sementara Bu Viona merasa geram dengan sikap anaknya tersebut.


Bu Viona pun mengajak Desy untuk tidur dan beristirahat di kamarnya.


"Des, ayo, kita istirahat di kamar Ibu," ajak sang Ibu mertua tersebut.


"Desy tidak ngantuk Bu, lagian ini sudah pagi pukul 5, Desy mau rebahan saja di kursi sofa," jawab Desy padahal dalam hatinya dihinggapi rasa kesal yang teramat.


"Kalau begitu Ibu temani saja. Kamu mau dibikinkan teh hangat atau kopi panas!?" tanya sang Ibu menatap renyah kepada Desy. Dia pun tidak mau sampai Desy marah karena baginya Desy adalah ATM berjalan yang jika butuh uang pasti selalu tersedia.


"Kopi panas saja Bu!" jawab Desy.


"Sebentar ya, Ibu buatkan dulu," jawabnya.


"Memangnya ART kemana Bu!?" tanya Desy.


"Dia sedang pulang kampung baru minggu depan dia balik, makannya Ibu menyuruh kamu untuk nginap disini biar Ibu ada teman," ucap sang Ibu.


Sang Ibu pun pamit untuk membuatkan kopi panas ke arah dapur. Sementara Desy merogoh ponselnya karena ada pesan masuk.

__ADS_1


_________


Pesan dari Bobby.


{"Des, aku tahu kamu sedang ada masalah dengan suami kamu mungkin lebih baik kita bertemu saja biar pikiran kamu tenang, dan ajak anak kita untuk keluar rumah bersama kita. Aku harap kamu jangan menolaknya!"} pesan dari sang mantan suami membuat hati Desy merasa nyaman dan entah mengapa membuat Desy merasa di perhatikan karena hatinya saat ini sedang gundah gulana.


Desy menghela napas panjang dan berpikir. Memang saat ini dia pikirannya sedang kesal dan sudah lama juga hampir satu bulan dia tidak bertemu dengan anaknya karena sebelum dia menikah anaknya dibawa sama Bobby, dan Bobby seperti ingin memisahkan jadi ini mungkin kesempatan Desy untuk bertemu dengan sang anak.


{"Nanti siang saja kita bertemu, kamu datang saja ke Kafe Flower dan bawa anak kita!"} balas Desy.


________


"Des ...!!"


Terdengar Bu Viona memanggil namanya,


Desy dengan cepat menutup ponselnya dan memasukkan kembali ke dalam tasnya. Entah kenapa dia nampak gugup.


Bu Viona kemudian menyimpan 2 cangkir yang berisi kopi panas dan teh hangat manis.


"Silahkan Des, biar pikiran rileks kalau minum kopi panas," ucap sang Ibu.


Kopi panas yang aromanya sangat menyeruak terasa mengganggu aroma penciumannya. Desy pun seakan tergoda untuk meminumnya. Akhirnya Desy pun meneguk kopi panas tersebut.


__________


Beberapa menit kemudian.


"Des, Ibu mandi dulu ya," ucap sang Ibu dan nampak terlihat jam di dinding menunjukkan pukul 6 pagi. Bu Viona pun berlalu dari hadapan Desy.


Drett.. Drett...Drett..


Tiba-tiba bunyi suara telepon muncul dari arah dalam tas milik Desy, dan dengan cepat Desy merogoh ponsel tersebut. Ternyata muncul di layar ponselnya sang mantan menelepon. Desy pun matanya melirik kearah kamar Rian dan kamar Bu Viona karena takut ketika Desy sedang menerima telepon tersebut mereka tahu.


Terasa nyaman Desy pun mengangkat bunyi suara telepon tersebut.


{"Halo, Des, kamu sedang dimana!?"} sapa Bobby terdengar lembut dan buat hati Desy merasa nyaman karena merasa ada yang memperhatikan dia disaat dia sedang galau pikirannya.


{"Lagi di rumah mertuaku!"} ucap Desy dengan perlahan.


{"Aku jemput ya!?"} Bobby seakan menantang. Dia tahu mantan suaminya tersebut lelaki yang nekad dan keras kepala sama seperti dirinya.


{"Kamu jangan macam-macam! Tadi kan aku bilang kita bertemu di Kafe Flower siang!"} ucap Desy.


{"Entah mengapa semalam aku rindu sama kamu Des, dan akhirnya aku lampiaskan rasa itu kepada anak kita. Ku peluk erat dia,"} ucap Bobby terdengar penuh kerinduan ketika berucap.


Entah setan apa yang hinggap di diri Desy, dia pun seakan membayangkan pelukan hangat yang yang diberikan oleh sang mantan begitu menggairahkan. Desy memejamkan matanya terasa nyaman dan sangat hangat terasa. Desy merasakan kerinduan.


{"Aku percaya kamu rindu dengan belaian aku Des,!"} kembali Bobby merayu Desy.


Arghhhh...


{"Kenapa aku sangat rindu dengan belaian kehangatan pelukannya,"} gumam hati Desy.


Namun Desy mencoba menepis itu semua, dan dalam hatinya dia pun berpikir dia sekarang sudah menikah dengan Rian tidak sepantasnya dia memikirkan lelaki yang bukan miliknya meskipun itu adalah mantan suaminya atau Papa dari anaknya.


{"Sudah Mas, aku risih dengan ucapan kamu, karena aku sedang berada di rumah Ibu mertuaku dan kuharap kamu jangan menelepon kembali karena sebentar lagi suamiku bangun!"} jawab Desy mencoba menepis semua bayangan itu.


{"Tapi aku yakin kamu rindu belaiannya aku kan!? Bobby mencoba kembali mempermainkan hati dan perasaan Desy.


{"Mana anak kita Mas, aku mau ngomong!"} Desy pun mengalihkan obrolan karena dia tahu Bobby sedang memancing hati dan perasaannya.


{"Dia masih tidur Des, karena pelukan aku mampu buat nyaman. Kamu pun kan begitu dulu kalau berada di pelukan aku selalu merasa nyaman, benar kan Des!?"} kembali Bobby menghancurkan hati Desy untuk lebih mengenang masa saat bersamanya.


Bobby tahu Desy orang yang haus pujian dan belaian kasih sayang. Jadi dengan sejuta buaian dan perhatian Bobby berusaha ungkapkan semuanya.


{Sudah cukup Mas, aku tutup ya, sambungan teleponnya. Nanti kita siang saja bertemu!"} dengan cepat Desy pun mematikan sambungan teleponnya karena takut secara tiba-tiba sang suami atau Bu mertua datang.


Desy menghela napas panjang.


"Kenapa dengan aku! Mengapa bayangan mantan suamiku kian hinggap menerpa," gumam hati Desy.


Bersambung...


Terima kasih yang sudah like dan setia baca karya tulisanku.

__ADS_1


Bisa kepo-in dan langsung silaturahmi dengan Penulis untuk para Reader-ku di Instagram---> rini_alnabil2. Hatur nuhun 🙏🥰


__ADS_2