Suamiku Terjerat Cinta Sahabat

Suamiku Terjerat Cinta Sahabat
Bab,: 32 Rasa kesal


__ADS_3

Pandangan mata semua yang ada di kursi sofa tertuju ke arah Lia untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaan dari Tante Restu.


"Iya, coba Lia katakan! Kamu mau terus berlanjut, atau hubunganmu putus ke sidang perceraian dengan suami kamu itu," sang Ibu seakan ingin mengetahui jawaban yang pasti dari mulut anaknya tersebut.


___


Bu Sinta seakan masih kesal dengan Viona atau Ibunya Rian karena dia masih teringat masa lalu yang berselisih paham dengan Bu Viona. Jadi untuk memisahkan sang anak dengan Rian seakan ada jalan baginya.


Bapaknya Lia nampak melotot ke arah sang istri, mungkin dia tidak rela jika Lia bercerai begitu saja dengan Rian, karena Rian sosok lelaki yang baik dan menghormati kedua orang tua Lia.


_____


"Bu , jangan membuat Lia pusing dan terdesak. Karena bercerai itu sesuatu yang harus dipikirkan dengan matang. Lihatlah anak Lia masih kecil. Dia masih membutuhkan figur seorang Papa," ucap Pak Arif Bapak dari Lia.


"Itu menurut Bapak, kalau menurut Ibu mending cerai saja kalau Lia disakitin," ucap Ibu kembali tersulut emosi.


•••


Nampak Tante Restu menghela napas secara perlahan, dia pun seakan ingin membela pertikaian yang terjadi di antara keluarga Lia. Namun Tante Restu pun seakan tidak bisa mencampuri semua urusan keluarga tersebut, karena hanya Lia yang merasakan rumah tangga dia saat ini bersama Rian seperti apa.


•••


"Menurut Tante, Lia harus bagaimana?" tanya Lia dengan pandangan mata lekat ke arah Tante Restu yang selama ini menjadi tempat curhat Lia.


Sontak Tante Restu terkejut karena Tante Restu tengah berpikir, dia tidak akan mencampuri urusan rumah tangga keponakannya itu. Tapi jauh di luar prediksinya ternyata Lia meminta jawaban dari Tante Restu.


Sang Tante menarik napas panjang.


"kalau Tante sih, terserah kamu saja. Kalau kamu merasa sudah disakiti, dan tekad kamu sudah bulat untuk berpisah dengan suami apa boleh buat. Mungkin perpisahan yang akan kamu hadapi. Tapi jika kamu mau bertahan dan sabar dengan kelakuan suami kamu itu, dan berharap kedepannya dia akan berubah. Kamu mesti kuat menghadapinya," ucap sang Tante dengan bijak.


•••


Nampak Lia termenung, dia seakan dihinggapi dilema. Jika dia bercerai, betul kata sang Bapak, Cantika anak dari Lia masih butuh belaian dan figur seorang Papa.


Namun jika dicontohkan sosok figur, Rian tidak bisa mencontohkan, hal yang baik terhadap anaknya. Mana bisa Rian jadi figur atau panutan untuk anak kalau kelakuan Papanya seperti itu.


•••

__ADS_1


"Kalau menurut Bapak, mending kita rundingan dulu sama Rian. Sudah saja Rian disuruh ke sini datang," sang Bapak terlihat tidak mau jika anaknya mengambil keputusan disaat sedang marah dan tersulut emosi karena itu bukan solusi. Yang Bapak inginkan mengambil tindakan keputusan ketika hati sedang damai dan tidak tersulut emosi.


"Ya sudah Lia, turuti saja apa kata Bapakmu. Mendingan Rian suruh ke sini saja, kalau perlu Ibunya juga sama Bapaknya disuruh ke sini, biar kita berunding," ucap sang Tante mencoba menenangkan masalah dan tidak mau memojokkan keadaan.


"Tidak! tidak perlu Ibunya datang ke sini," spontan ibunya Lia menyela omongan.


Dalam hati Sang Ibu dihinggapi rasa kesal jika harus bertemu dengan ibu Viona pasti perdebatan pun akan terjadi jika dia bertemu dengan besannya itu.


Apalagi pertemuan itu bertatap muka dengan Viona, mungkin rasa gengsi datang kepada diri masing-masing.


____


Nampak sang suami mengernyitkan dahi dan terlihat heran dalam benak pikirannya dihinggapi rasa penasaran dan beribu tanya. (Mengapa sang istri begitu kesal dan terlihat marah kepada Ibunya Rian).


"Kenapa sih Bu, kamu kayak yang kesal kepada ibunya Rian, sebenarnya ada masalah apa, kamu dengan Viona!?" tanya sang suami menatap lekat kepada sang istri.


"Gimana enggak kesal, Lia dipermainkan oleh anaknya. Gimana sih, Bapak ini." jawabnya seakan membela dirinya sendiri.


"Tidak hanya sekarang loh, kamu benci sama Viona, kemarin-kemarin sebelum Rian dan Lia tidak terjadi perselisihan pun kamu selalu membenci Viona. Aku heran sama kamu sebenarnya antara kamu dan Viona itu ada apa!?" tanya sang suami terlihat dihinggapi rasa penasaran yang mendalam.


•••


•••


"Kalau tidak ada masalah ngapain kamu tidak mau menemui ibunya Rian! Ya sudah, kalau kamu tidak mau bertemu dengan ibunya Rian. Aku saja yang menghadapinya, kamu pergi saja jangan di sini, urus saja pekerjaan kamu," ucapnya dengan nada bicara yang terdengar menyimpan rasa kecewa terhadap sang istri.


"Iya Kak, padahal kita musyawarahkan saja dengan kedua orang tua Rian. Kalau Kakak mau, biar saya yang telepon sekarang," ucap Tante Restu mencoba mendamaikan suasana karena terlihat kedua orang tua Lia tersulut emosi dan berdebat yang mengakibatkan nampak dari mukanya Lia seakan bingung.


•••


Ibu Sinta pun nampak terdiam dia berpikir dalam hatinya, dia juga jangan terlalu egois mementingkan kepentingan pribadinya, dengan mengingat masa lalunya bersama Viona sang besan.


Dia harus bisa bersikap bijak untuk seorang anak karena rumah tangganya sedang di ujung tanduk, otomatis masalah ini harus diselesaikan secara kekeluargaan dan solusinya kedua orang tuanya harus bertemu.


"Ya sudah, aku mengalah saja terserah kalian," ucapnya dengan kesal.


•••

__ADS_1


"Kedua orang tuaku nampak tidak memberikan kasih sayang yang tulus selama ini, dan terlihat sekarang pun mereka hanya pasrah dengan keadaan. Hanya Tante Restu lah yang mengerti perasaanku saat ini."


gumam hati Lia menahan pilu.


•••


Akhirnya Tante Restu pun mencoba menelepon Rian. dengan penuh kesabaran dan terus menunggu teleponnya agar bisa diangkat oleh Rian. Tapi setelah beberapa kali telepon tidak di angkat, tidak ada jawaban di sana, sang Tante pun menutup sambungan teleponnya.


"Tidak di angkat!" ucap Tante Restu menatap kepada Lia.


"Mungkin sedang ngobrol dengan ibunya," ucap Lia. Dia tahu keadaan Rian, jika ada Ibunya, dia jarang memegang ponsel apalagi menggunakannya.


"Ngobrol dengan Ibunya!? Memangnya Ibunya lagi ada di rumah kamu Lia?" tanya sang Bapak.


Iya dia sedang di rumah udah dua hari ucap Lia dengan menundukkan pandangannya dari arah sang Bapak.


"Ada ibu mertua, kamu malah tinggal di sini," ucap sang Bapak kembali.


"Pak, Lia kan lagi berantem sama Rian, jadi dia datang kesini!" jawab sang Ibu terdengar kesal dengan ucapan sang suami karena terdengar dari tadi menyebut nama Ibunya Rian.


_____


"Sudah,sudah, cukup! Lia pun seakan kesal dengan kedua orang tuanya, karena dari tadi orang tuanya cekcok terus seakan tidak bisa santai untuk menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi anaknya.


"Lia mau mau mandi dulu," ucap Lia, dia pun berlalu dari hadapan kedua orang tuanya.


"Lia, tunggu!" ucap sang Bapak.


Baru juga Lia melangkahkan kakinya beberapa langkah, sang Bapak memanggilnya.


Lia pun langsung membalikkan badannya ke arah sang Bapak.


"Iya Pak," jawabnya singkat.


"Jadi gimana keputusannya!?" tanya sang Bapak terlihat menunggu jawaban dari Lia.


"Bapak tahu sendiri kan, barusan Rian ditelepon sama Tante Restu, tapi Rian tidak mengangkatnya. Nanti saja nunggu keputusan dari Rian, pasti dia akan menelpon balik," jawab,nya, Lia pun dengan cepat berlalu ke kamar mandi.

__ADS_1


"Sudah sabar saja Mas, nanti juga Rian akan telepon balik aku kok," ucap Tante Restu mencoba menenangkan hati Bapaknya Rian.


Bersambung...


__ADS_2