
Suara getar telepon membuyarkan lamunan Lia yang sedang gundah gulana. Lia pun mengambil ponselnya yang berada di atas nakas.Terlihat Adrian menelepon, namun Lia terlihat seakan enggan untuk mengangkatnya. Lia berpikir pasti yang akan dibicarakan oleh Adrian adalah masalah pernikahan sirinya yang belum ada kabar persetujuan dari pihak Bapaknya Lia.
Ting...
Karena teleponnya tidak di angkat oleh Lia, Adrian pun memberikan sebuah pesan.
{"Lia, tolong angkat teleponnya, ada hal penting yang akan aku bicarakan,"} tulis pesan Adrian.
{"Maaf, Adrian kalau kamu terus menerus mendesak aku untuk memaksa nikah siri denganmu kayaknya enggak bisa karena Bapakku sampai saat ini belum memberikan restunya,"} balas pesan Lia yang diberikan kepada Adrian.
{"Bukan masalah itu yang akan aku sampaikan kepada kamu Lia, tapi ada masalah yang lebih penting,"} Adrian kembali memberikan sebuah pesan.
_____
Lia pun sangat berpikir jauh.
"Mungkinkah dia akan membawaku lari dan kita nikah diam-diam tanpa restu dari kedua orang tua! Tidak, itu tidak mau aku lakukan. Pikiranku masih waras!" gumam hati Lia.
Lia pun mematikan ponselnya karena dia saat ini tidak mau di ganggu oleh Adrian. Rasanya pikirannya sudah pecah, dan dia berharap ingin melupakan sosok Adrian dalam hidupnya. Dia pun bisa menata hidup tanpa suami terdahulu seiring waktu berjalan. Nah, sekarang pun jika tanpa kekasih dia pasti mampu melewati badai itu.
______
Setengah jam kemudian.
Tok... Tok...Tok...
Suara pintu di ketuk beberapa kali dari luar kamar Lia, nampak suara Tante Restu memanggil-manggil namanya.
"Ngapain sih, Tante! Ganggu orang saja yang ingin sendiri," gumam hatinya.
Lia pun menyeret langkah kakinya menuju pintu kamar untuk membuka pintu.
Ceklek...
Nampak sang Tante sedang mematung di depan pintu kamarnya dengan wajah yang terlihat bahagia.
"Ah, paling dia mau membujukku lagi untuk pergi berlibur ke Bali," gumam hati Lia
"Lia, ada kabar gembira untukmu," ucap sang Tante tersenyum renyah.
Lia melengos kembali berjalan ke arah ranjang untuk istirahat.
"Lia sedang tidak mood Tante, lagi malas bicara, pikiran Lia sedang pusing," jawabnya.
__ADS_1
"Bapakmu dan Papanya Adrian sudah bertemu!" ucap sang Tante.
Degh...
Sontak Lia membalikkan badannya dan nampak mengernyitkan dahi seperti dihinggapi rasa penasaran dan heran.
"Penasaran kan!" ejek sang Tante.
"Kabar apa lagi ini!' gumam hati Lia.
Lia pun kembali menyeret langkah kakinya yang tinggal beberapa langkah lagi ke ujung ranjang.
"Argh,,,Aku sudah tidak peduli dengan Adrian, Tan, ujung-ujungnya yang di bahas masalah status!" Lia pun duduk di ujung ranjangnya
"Lia, ternyata relasi bisnis yang dimaksud oleh Bapakmu itu adalah Pak Steven, Papanya Adrian," ucap sang tante yang terlihat duduk di pinggir Lia.
"Ya, terus apa hubungannya kalau rekan bisnis Bapak itu adalah Pak Steven, Papanya Adrian!?" Lia terlihat cuek tidak mau menanggapi.
______
Hal ini seakan membuat Tante Restu dihinggapi rasa heran karena Lia terlihat tidak menanggapi kabar tersebut yang menurut Tante Restu adalah kabar gembira.
"Barusan Adrian menelepon Tante, katanya dia beberapa kali menelepon kamu tapi kamu tidak mengangkatnya, dan Adrian menceritakan semuanya." ucap sang Tante.
Tante Restu pun menceritakan semua yang terjadi tatkala Adrian bertemu dengan Bapaknya Lia tanpa disengaja, ketika mengantarkan Papanya ke Restoran dan Pak Steven mulai menjalin erat hubungan dengan Bapaknya Lia.
_____'
"Tapi aku enggak percaya jika hubungan ini akan menjadi serius kedepannya, maksudnya Pak Steven akan setuju kepadaku mengenai hubungan aku dengan Adrian," ucapnya.
"Lia, kamu tidak tahu sifat dari Papanya Adrian seperti apa! Yang tahu sifat detailnya itu adalah anaknya sendiri yaitu Adrian, jadi kamu jangan pesimis harus optimis," ucap sang Tante.
"Tapi, Tante,,!" ucapnya.
"Tapi, apa! saingan dengan Bu Dokter?" sindir sang Tante.
Lia secara perlahan menganggukkan kepalanya, dia terlihat tidak percaya diri, terlihat nampak menghela napas secara perlahan.
______
"Tante percaya cinta Adrian hanya tulus kepada kamu, Adrian orangnya ramah dan bijak, Tante yakin dia tidak ada hati sedikitpun kepada Zahira, dia menganggap Zahira hanya teman biasa. Adrian tadi bilang sama Tante kedekatan Papa Steven dan Papanya Zahira dulu karena rekan bisnis juga sama seperti sekarang ini antara Bapakmu dan Papanya Adrian. Jadi kamu jangan khawatir Lia, tinggal menunggu saat yang tepat. Tante yakin kamu sabar dan ikhlas menghadapi segala cobaan," ucap sang Tante mencoba meyakinkan dan menenangkan hati keponakannya itu.
_______
__ADS_1
"Kamu jangan kayak anak kecil jangan mundur sebelum melangkah karena Tante enggak suka!" tegas sang Tante, dia pun berlalu dari hadapan Lia.
Setelah keluar dari dalam kamar Lia, nampak sang Tante menyeret langkah kakinya menuju ruang keluarga yaitu kursi sofa, terlihat Bapaknya Lia sedang asik ngobrol dengan Kakaknya atau Ibunya Lia.
Langkah kaki Tante Restu terhenti ketika akan menuju kursi sofa karena terdengar jelas olehnya, Bapaknya Lia sedang menceritakan Papanya Adrian. Dan Tante Restu pun menguping pembicaraan tersebut.
"Pak Steven mengundang acara makan siang Bu, dan dia menawarkan kamu juga ikut," ucap sang suami berharap sang istri ikut menemani.
"Malu ah Pak, ngundang acara makan dimana!?" tanya sang istri seperti dihinggapi rasa penasaran.
"Di sebuah Restoran, enggak apa-apa Bu, biar lebih dekat. semakin dekat kan lebih baik, jadi bisnis Bapak pun dengan Pak Steven akan berjalan lancar," ucap sang suami.
"Gimana ya, Ibu bingung," jawabnya.
"Loh, bingung kenapa!?" tanya sang suami
"Cantika tidak ada yang jaga, Lia kan sedang sakit keadaannya masih belum stabil," jawab sang Ibu memberikan alasan.
"Ada Restu kan!?" ucap sang suami.
"Restu mau pulang siang ini Pak!" jawabnya.
______
"Enggak, kok! Aku enggak pulang malah mau bawa jalan-jalan Cantika ke Mall, kasian dia katanya sudah lama enggak jalan ke Mall." ucap Tante Restu tiba-tiba datang.
Tante Restu pun tidak mau menyia-nyiakan hal yang penting tersebut, pertemuan antara orang tua Lia dan Adrian. Dengan bertemunya antara kedua keluarga tersebut mungkin juga akan terjalin tali silaturahmi yang erat dan bisa jadi akan mempersatukan kedua anaknya itu.
"Loh, katanya kamu mau ketemu sama Bela temanmu?" tanya sang Kakak.
"Lusa katanya Kak, dianya ada perlu ketemu rekan bisnisnya," jawab Tante Restu berbohong padahal nanti dia yang akan membatalkan pertemuannya dengan Bela karena dia berpikir. Kepentingan Lia lebih penting dari pada dirinya.
"Ya, sudah kalau begitu. Aku ikut Pak!" ucap sang Ibu tersenyum lebar.
Ibunya Lia pun seakan penasaran dengan sosok Pak Steven yang dibicarakan oleh sang suami karena baru pertama bertemu sang suami terlihat akrab dengan Pak Steven.
"Kak, pake baju yang paling cantik ya," sindir Tante Restu.
_____
Tante Restu berharap kesan pertama sang Kakak harus terlihat cantik penampilannya, oleh Mamanya Adrian dan Papanya agar mereka kedepannya mempertimbangkan hubungan antara Lia dan Adrian.
Kalau soal komunikasi Tante Restu percaya terhadap kualitas dari sang Kakak, dia wanita smart dengan komunikasi yang baik dan mampu mengambil hati lawan bicara.
__ADS_1
Bersambung...