
Beberapa minggu kemudian.
Adrian memeluk sang istri dari arah belakang dan mencium tengkuknya dengan lembut. Lia pun nampak menahan rasa geli dan dengan cepat dia melepaskan pelukan sang suami.
"Kenapa sayang, geli ya?"goda Adrian kepada sang istri dengan tersenyum renyah.
"Ada apa sih, Mas. Mulai deh, mesra-mesraan sama istri pasti ada maunya," ucap Lia tersipu malu dengan pandangan menunduk.
"Sayang, kamu itu lucu masih malu-malu sama suami padahal kita menikah sudah lama," goda kembali sang suami.
CUP...
Adrian kemudian mengecup kening Lia.
"Sayang, aku ada kejutan untuk kamu," bisik Adrian lekat ke kuping Lia.
_________
Sontak Lia mukanya tersenyum lebar, dia sepertinya dihinggapi rasa penasaran. Dalam benaknya berpikir kejutan apa lagi yang akan di berikan oleh suaminya tercinta itu, karena begitu banyak kejutan yang di berikan oleh Adrian kepada dirinya setelah menikah, dan kejutan itu terasa bertubi-tubi dan cukup mewah kalau menurut Lia yang notabene belum pernah diberikan kejutan sebelumnya oleh suami terdahulu.
"Kejutan apa Mas!" Lia terlihat mukanya sumringah.
"Merem dulu matanya," Adrian nampak mengambil sesuatu di dalam tasnya. Lia pun memejamkan matanya dan jantungnya terasa dag-dig-dug berdetak tidak karuan.
•••
Beberapa detik kemudian.
"Coba sekarang buka matanya," ucap Adrian kepada Lia.
Lia pun membuka matanya secara perlahan dan terlihat mukanya merah merona.
"Ini untuk kamu, Sayang," Adrian menyerahkan satu kotak box dan nampak terlihat disana ada sertifikat dan kunci Kafe.
"Apa ini Mas," Lia dihinggapi rasa penasaran dan seakan bingung dengan pemberian dari Adrian.
"Sekarang kamu mempunyai Kafe Sayang," ucap Adrian dengan memeluk sang istri dan tersenyum lebar.
_______
Sontak Lia matanya terbelalak dan mulutnya melebar sempurna, dia seakan tidak percaya dengan apa yang di ucapkan oleh Adrian.
"Mas, apa aku sedang bermimpi," ucap Lia dengan bibir bergetar dan matanya berkaca-kaca dia terlihat dihinggapi rasa gembira yang teramat.
"Tidak Sayang, kamu tidak sedang bermimpi dan kamu pasti kaget karena pemilik Kafe sebelumnya itu adalah Rian," ucap kembali sang suami menatap lekat kedua bola mata Lia yang nampak berkaca-kaca.
"Rian!" Lia matanya membulat sempurna dia seakan tidak percaya dengan apa yang di ucapkan oleh sang suami.
"Iya, Rian mantan suami kamu," Adrian mencoba meyakinkan istrinya tersebut.
"Tidak, aku tidak percaya Mas," ucap.Lia menggelengkan kepalanya seakan tidak percaya jika pemilik Kafe tersebut sebelumnya adalah Rian.
"Iya, Sayang, mungkin ini suatu kebetulan atau rencana dari yang di atas bahwa sang pencipta telah membolak-balikkan hati manusia dengan cara menghancurkan orang yang serakah seperti Rian," ucap Adrian.
_________
Lia pun nampak tertegun, pikirannya melayang jauh dan memang benar juga apa yang dikatakan oleh sang suami, Rian orang yang serakah karena ketika menjual rumah tidak memberikan uang terhadap sang anak seperak-pun dan pada akhirnya rumah yang Rian jual kini menjadi milik Lia kembali begitupun dengan Kafe yang Rian beli uangnya dari hasil rumah yang dia jual, dan kini sepenuhnya menjadi milik Lia sepenuhnya.
Nampak Lia meneteskan air mata dia terharu bercampur gembira menjadi satu karena sang pencipta begitu melimpahkan semuanya keindahan dan kegembiraan pada dirinya yang tidak di sangka-sangka.
"Kesedihan yang dilakukan terhadapku oleh Rian, kini di balas dengan rasa gembira yang mendalam dari suami sekarang yaitu Adrian," gumam hati Lia.
________
__ADS_1
Nampak Adrian pun menghapus air mata yang menetes di ujung mata Lia.
"Kenapa Sayang, kok sedih sih, bukannya gembira di kasih hadiah sama aku," ucap Adrian tersenyum renyah kepada sang istri.
"Aku bahagia Mas, sangat bahagia karena kamu begitu sayang dan memanjakan aku. Beda dengan,,," Lia tidak meneruskan ucapannya karena telunjuk sang suami dengan cepat menempel ke arah bibir mungilnya yang merekah karena sentuhan lipstik yang berwarna merah.
"Jangan bicara lagi masa lalu Lia, tatap masa depan bersamaku. Ini adalah hadiah dari yang maha kuasa atas segala kerendahan dan ketabahan hati kamu yang selama ini di khianati oleh Rian." jawab Adrian dengan memeluk erat tubuh sang istri.
_______
Tok-tok-tok..
Tiba-tiba pintu ada yang mengetuk beberapa kali dari luar kamar.
"Lia, ini Ibu datang mau lihat cucu," ucap sang Ibu yang tiba-tiba datang.
"Ibu, Mas! Kok, enggak kedengaran suara mobilnya masuk ke garasi ya," ucap Lia kepada sang suami.
"Mungkin pakai taksi tidak di antar oleh Bapak," jawab Adrian.
Lia pun dengan cepat menyeret langkah kakinya menuju pintu kamar.
•••
Ceklek ..
Pintu terbuka lebar dan nampak sang Ibu tengah mematung di depan pintu dengan senyum lebar dan nampak sang Ibu mengernyitkan dahinya karena dihinggapi rasa khawatir.
"Lia, kenapa, kamu nangis Nak!" sang Ibu mengusap air mata Lia dengan telunjuknya.
Lia nampak tersentak karena dia lupa mengelap air mata kebahagiaan yang baru saja menetes.
"Iya, Mah," ucap Lia gugup dan tersenyum.
•••
"Tenang Bu, Lia enggak apa-apa kok dan tidak sedang berantem dengan Mas Adrian," ucap Lia dengan menggandeng tangan sang Ibu dan menarik secara perlahan untuk memasuki kamarnya.
•••
Sang Ibu kemudian duduk di pinggir ranjang kemudian Lia mempelihatkan kado pemberian Adrian dan nampak sang Ibu dihinggapi rasa penasaran dengan kado yang di perlihatkan oleh Lia dan sang Ibu terlihat belum paham dengan maksud Lia memperlihatkan kado tersebut.
"Apa ini Nak?" tanya sang Ibu dengan menatap lekat kunci dan sertifikat Kafe.
"Adrian memberikan aku lagi hadiah Bu, sebuah Kafe. Alhamdulillah semoga rezeki suamiku lancar kedepannya," Lia terdengar bahagia ketika berucap dan raut mukanya seakan dihujani rona kebahagiaan.
Sontak sang Ibu terkesiap dan matanya terbelalak dengan apa yang di ucapkan oleh sang anak.
"Benar Nak Adrian!?' sang Ibu tersenyum lebar. Dan Adrian pun menganggukkan kepalanya dan tersenyum renyah kepada sang Ibu mertua.
"Iya, Bu, alhamdulilah ada sedikit rezeki jadi saya gunakan buat investasi anak kedepannya nanti," ucap Adrian.
"Alhamdulillah Bu, dan yang lebih buat Lia tercengang ternyata Kafe yang dibeli oleh Adrian adalah Kafe miliknya Rian!" ucap Lia tersenyum puas.
________
Sontak sang Ibu mulutnya terbuka lebar dia seakan tidak percaya mendengar kabar tersebut bahwa Kafe itu sebelumnya adalah milik Rian atau mantan menantunya itu.
"Benar Nak Adrian, apa yang di ucapkan oleh Lia bahwa Kafe yang Nak Adrian beli sebelumnya milik Rian!?" ucap sang Ibu seakan tidak percaya.
"Iya, Bu, mungkin sudah jalannya dari yang di atas dan ini suatu kebetulan saja. Mungkin cara Allah untuk menegur Rian agar jangan serakah dan semoga Rian lebih menerima kenyataan jika posisi dia saat ini sedang sulit," ucap Adrian nampak membuang napas secara kasar.
•••
__ADS_1
"Dibalik kesabaran kamu ternyata kamu mendapatkan suami yang tulus dan sayang kepadamu Nak," sang Ibu nampak meneteskan air mata dan memeluk erat tubuh Lia.
Tiba-tiba sang bayi merengek nangis dan dengan sigap Ibunya Lia menggendong sang bayi yang tengah berada di dalam box.
"Cucu Nenek, sudah besar ya, sehatnya cucu Nenek ini," sang Ibu mencium pipi cucunya tersebut lalu mencubitnya dengan gemas.
Sang bayi pun nampak tambah keras tangisannya seakan mengisyaratkan kepada sang Nenek cubitan yang berikan sang Nenek sangat sakit.
"Ibu, kalau cubit jangan keras-keras," sindir Lia. Sontak Adrian tertawa lebar.
"Habis gemas sih," jawab sang Ibu.
Sang Ibu pun berlalu dari hadapan kamar dengan di ikuti Lia dari arah belakang.
________
Drett...Drett...Drett..
Tiba-tiba suara telepon berbunyi dari ponselnya Adrian dan nampak terlihat sang papa menelepon.
{"Assalamu'alaikum, iya, Pah,"} ucap Adrian di sambungan teleponnya.
{" Wa'alaikum salam. Nak, selamat ya, akhirnya kamu beli Kafe juga, kenapa sebelumnya tidak kasih tahu Papa, malah Papa tahu dari Nak Helmi bahwa kamu sudah membeli Kafe,"} ucap sang Papa di seberang sana dengan nada suara yang terdengar dihinggapi rasa gembira karena sang Papa berpikir anaknya sekarang sudah sukses semenjak menikah dengan Lia.
{"Alhamdulillah Pak, kejutan sih, ini juga sama Lia,} jawab Adrian terdengar malu.
{"Katanya kamu membeli Kafe tersebut, Kafe milik Rian ya, mantan suaminya Lia?"} tanya sang Papa kembali seakan dihinggapi rasa penasaran.
{"Iya, Pah, itu suatu kebetulan saja,"} jawab lagi sang anak.
{"Papa bangga loh, sama kamu Nak, Papa tidak menyangka kamu akan sukses melebihi Papa,"} ucap sang Papa mencoba menyenangkan hati sang anak.
{"Ah, Papa bisa saja, Adrian belum seberapa kalau dibandingkan dengan Papa. Bisnis Papa lebih maju dari Adrian. Kalau Adrian ini baru tahap belajar,"} Adrian berusaha merendah dihadapan sang Papa tercinta.
{"Semoga kamu bisa punya anak lagi agar kamu semangat terus dalam usaha bisnis kamu karena tanggung jawab kamu bertambah,"} ejek sang Papa.
{"Papa bisa saja,"} Adrian pun dihinggapi rasa malu ketika disindir oleh sang Papa untuk kembali mempunyai momongan.
{"Ya, sudah Nak, sekali lagi selamat ya, nanti sore Papa dan Mama kesana mau nginap. Kamu mau dibawain apa?"} sang Papa begitu perhatian terhadap sang anak.
{"Jangan ngerepotin Pah, dengan kedatangan Papa dan Mama kesini juga Adrian sudah seneng kok,"} ucap Adrian.
Akhirnya telepon pun terputus.
_______
Adrian nampak menghela napas panjang lalu dia membaringkan tubuhnya di atas kasur dan matanya terpejam.
Adrian terlihat dari raut mukanya nampak gembira karena dia mempunyai istri selain cantik dia sangat baik perilakunya.
"Terima kasih ya Allah, kau telah memberikan nikmat yang tiada terhingga dengan diberikannya istri dan anakku yang baik, begitupun dengan limpahan rezeki yang sangat berlimpah," ucap Adrian menitikkan air mata karena dihinggapi rasa bahagia yang teramat atas limpahan rezeki dari sang pencipta.
_______
Di ruang kursi sofa.
"Akhirnya anaknya si Viona sekarang miskin!" ucap Ibunya Lia yang punya dendam terhadap Bu Viona atau mantan besannya itu.
"Bu, kok ngomongnya gitu sih," ucap Lia seakan tidak menerima jika Ibunya terdengar memojokkan seseorang dan merendahkan.
"Lagian dia dulu sudah mengkhianati perasaan kamu Lia, nah ini adalah karma bagi dia," tersenyum puas Ibunya Lia ketika berucap dan nampak Lia hanya menghela napas secara perlahan.
Bersambung...
__ADS_1
Terima kasih yang selalu setia baca karya Novel-ku semoga diberi kemudahan dalam segala hal urusannya. Aamiin 🤲🥰♥️🥰