
Papa Steven nampak sedang duduk santai bersama sang istri tercinta di kursi sofa.
"Mah,,kita mau beli rumah dan ini gambar rumah dan videonya," ucap Papa Steven memberikan ponselnya kepada sang istri untuk melihat gambar dan video rumah yang akan dia beli.
Nampak Mama Silvi tersenyum lebar saat melihat gambar dan video rumah tersebut dan dia terlihat bahagia
"Wah, rumahnya asri ya, Pah. Ada kolam ikan koi-nya. Mama suka Pah, seperti di Restoran yang kemarin tempat anak kita menikah ada ikan koi-nya," ucap sang Mama matanya lekat ketika melihat gambar rumah dan video tersebut.
"Kamu senang Mah?" tanya sang suami dan nampak sang istri bergelayut manja kepada sang suami.
"Senang dong Pah, lebih senang lagi kalau rumah tersebut kita berikan kepada anak kita saja Pah, karena Adrian dan Lia sama-sama suka ikan koi. Sebagai relaksasi juga agar mereka cepat punya momongan," bisik sang istri manja dan tertawa terkekeh.
"Mama ada-ada saja!" sang suami mencubit gemas pipi sang istri.
"Memangnya Papa sudah tahu rumah tersebut dijual berapa?" tanya sang istri kembali.
"Sudah Mah, makannya aku mau beli karena menurut Papa harganya murah hanya 900 juta katanya tadinya 1,2M," ucap sang suami.
"Loh, kok, jual murah ya, Pah! Kenapa? Apa orang tersebut lagi butuh uang?" tanya sang istri dihinggapi rasa penasaran.
"Iya, katanya gitu sih, Mah, enggak apa-apa lah, sekalian membantu orang kesusahan kan, ibadah juga," ucap sang suami.
"Papa kapan lihat rumah itu? Harus cepat-cepat Pah, takut nanti di tawarkan kepada orang lain. Apalagi yang jual rumah itu lagi butuh banget uang," sang istri seakan sudah setuju dan ingin cepat sang suami membeli rumah tersebut.
"Lusa Mah, baru Papa lihat rumah itu dan rumah itu kan masih ada isinya jadi kalau kita jadi beli rumah tersebut harus ada proses buat sang punya rumah membereskan semua barang yang ada di sana. Masa kita lusa pas bayar langsung mau isi, seakan mengusir yang jual rumah.Hehe..," jawab Papa Steven mencoba menghibur sang istri.
Mama Silvi pun nampak tersipu malu.
________
"Pah, Mama senang sekali akhirnya Papa bahagia dengan pernikahan anak sulung kita. Mama tidak menyangka kalau Papa akhirnya menyetujui pernikahan Adrian." sang istri memeluk erat sang suami karena rasa bahagia.
__ADS_1
"Sudah ah, Mah, jangan membahas lagi persoalan masalah lalu karena Papa tidak suka, yang penting sekarang Papa sudah rela kalau anak kesayangan Papa nikah dengan Lia dan Papa merasa bangga dengan menantu Papa yang satu itu karena dia pinter masak tidak seperti Mama mertuanya," sindir sang suami tertawa lepas.
"Papa,,,! Awas ya, kalau mengejek Mama di depan Lia tidak bisa masak!" sang istri cemberut nampak bibirnya mengerucut.
"Enggak dong, Mama cantik. Pasti rahasia terjaga. Ya, sudah Papa mau mengabarkan Adrian kalau Papa mau beli rumah baru dan minta antar sama dia untuk lihat rumah itu. Mama lusa tidak bisa kan? Mau ada acara bersama Ibunya Lia ke arisan!?" tanya sang suami menatap lekat ke arah sang istri.
"Iya, Pah, maafkan Mama ya, karena Mama tidak bisa menemani Papa untuk melihat rumah baru itu," terlihat raut muka sang Mama lesu.
"Sudah tidak apa-apa nanti sama besan Mama biar lihat rumahnya dan setelah lihat rumah baru itu kalian belanja, nanti Papa kasih uangnya. Bahagiakan besan Mama itu, belikan dia baju atau tas," ucap Papa Steven.
________
Nampak Mama Silvi terlihat bahagia karena sang suami selalu membahagiakan dirinya dan tidak pelit dan sang besan pun seakan di manjakan oleh suaminya agar di belikan baju atau tas.
"Terima kasih ya, Pah, aku bahagia sekali mempunyai suami perhatian seperti kamu," ucapnya dengan mengecup lembut kening sang suami.
Mama Silvi pun kemudian berlalu dari hadapan sang suami untuk membersihkan tubuhnya karena sebentar lagi sang suami mau mengajaknya membeli baju yang akan dipakainya untuk acara arisan lusa..
Papa Steven sangat memperhatikan penampilan sang istri karena sang istri sering menemui relasi bisnis. Baik relasi bisnis dari sang suami ataupun relasi bisnisnya, dan dia juga sering berhadapan langsung dengan karyawan di Restoran yang akan menyoroti penampilannya.
Jadi penampilan sang istri dan dirinya bagi Papa Steven adalah nomor satu tentu ditunjang dengan pribadi dan sikap yang baik terhadap relasi dan karyawannya.
______
Papa Steven nampak menelepon anaknya yang sedang bulan madu. Sebelum memijit sambungan telepon papa Steven pun seakan ragu karena takut mengganggu sang anak yang sedang bulan madu.
Tapi karena rasa rindu yang menghinggapi seorang Papa terhadap anaknya, dengan rasa menghilangkan malu dan takut mengganggu sang anak, akhirnya Papa Steven pun memberanikan diri untuk menelepon sang anak.
{"Assalamu'alaikum,, Halo,Nak, apa kabar dan gimana kabar Lia, istrimu! Kalian sehat?"} tanya sang Papa di sambungan teleponnya.
{"Wa'alaikum salam, Alhamdulillah Adrian dan Lia sehat Pah, gimana kabar Papa sama Mama di sana semoga sehat juga ya,"} jawab Adrian terdengar gembira tatkala Papanya menelpon.
__ADS_1
{"Alhamdulillah kalau sehat, kapan kamu pulang Nak? Papa kangen loh, sama kamu,"} sang Papa dari nada bicaranya nampak terdengar merindukan sosok anaknya itu.
{"Adrian ini sedang di Jakarta di Restoran Papa, yang baru saja Papa berikan untuk Adrian,"} sang anak berucap pelan seperti dihinggapi rasa malu karena sang Papa memberikan hadiah yang berlimpah kepadanya setelah dia menikah bersama Lia.
Sang Papa pun seakan mengerti dengan perasaan sang anak karena terdengar dari suaranya. Sang anak begitu malu dan bahagia dengan limpahan hadiah yang diberikan olehnya.
{"Itu Restoran milik kamu Sayang, dan bebas nantinya mau kamu perbesar atau menu makanan disana akan di tambah menu lain. Lia kan istrimu pinter masak dia pasti tahu cara menghidangkan makanan yang terbaik untuk Restoran kamu,"} jawab Papa Steven dan sang Papa seperti sudah percaya dan sayang juga terhadap menantu barunya itu.
{"Iya, Pah, terima kasih ya, Adrian rasanya tidak tahu harus membalas kebaikan yang Papa berikan dengan cara apa?"} Adrian terdengar terharu dengan apa yang di ucapkan oleh sang Papa.
Papa Steven nampak menghela napas.
{"Sayang, Papa akan membeli rumah dan tempatnya enak, pasti kamu sama Lia suka. Lusa Papa mau lihat ke sana mungkin kamu tidak bisa menemani Papa ya, karena kamu kan sekarang masih di Jakarta belum pulang ke Bandung,"} tanya sang papa.
{"Wah, asik Papa mau beli rumah? Syukur kalau begitu Pah, itu buat investasi ke depan,"} ucap Adrian terdengar bahagia mendengar kabar tersebut.
_______
"Sebaiknya aku tidak bicara dulu kepada anakku bahwa sebenarnya rumah yang aku beli nantinya akan jadi hadiah untuknya. Mungkin nanti saja aku beritahu nya. Akan aku beri kejutan dia setelah pulang bulan madu," gumam hati Sang papa.
Sang Papa nampak menghela napas secara perlahan.
{"Iya Nak, betul buat investasi daripada uangnya habis percuma. Kamu kan tahu sendiri Papa senang membahagiakan Mama kamu dengan membeli pakaian, tas dan sepatu yang mahal,"} ucap sang Papa sambil tertawa terkekeh
{"Iya Pah, betul juga."} Jawab sang anak.
Adrian pun sama seperti sang Papa, dia tertawa terkekeh karena dia tahu Papanya selalu memanjakan Mamanya dengan cara membeli barang-barang yang mahal.
{"Ya, sudah Nak, Papa mau pergi sama Mama. Salam buat Lia ya,"} sambung sang Papa.
Sambungan telepon pun akhirnya terputus dari selular Papa Steven. Nampak sang Papa tertawa dengan rona penuh bahagia tatkala mendengar anak dan menantunya di seberang sana keadaannya sehat.
__ADS_1
Bersambung