
Bu Viona nampak dalam hatinya dihinggapi rasa sedih karena anaknya sudah tidak bekerja lagi dan rumah anaknya akan dijual untuk modal usahanya. Tapi Bu Viona di depan sang anak pura-pura semuanya baik-baik saja seakan tidak terjadi apa-apa.
"Aku harus segera menghubungi Laras karena dia dulu pernah ingin membeli rumah untuk anaknya, semoga dia belum membeli rumah lain," gumam hati Bu Viona, dia pun kemudian mencoba menghubungi Laras teman relasi bisnisnya dulu.
Tidak butuh menunggu waktu lama untuk bisa menghubungi Laras karena sambungan teleponnya langsung di angkat temannya itu.
{"Assalamu'alaikum Laras, gimana kabarnya? Oh, iya, katanya kamu mau beli rumah yang aku tawarkan waktu itu, gimana kamu masih berminat untuk membeli rumah tersebut!? sayang loh, kalau aku tawarkan kepada yang lain, kamu kan tahu sendiri rumah anakku model rumahnya sangat unik dan yang paling penting tempatnya cukup strategis,"} ucap Bu Viona di sambungan teleponnya.
{"Wa'alaikum salam, Alhamdulillah sehat. Oh, anakmu jadi ya, jual rumahnya? Ya, memang waktu itu aku ingin banget membeli rumah tersebut tapi sekarang sudah beli rumah lain. Gimana kalau nanti aku tawarkan ke temanku saja ya, siapa tahu dia mau beli rumah itu,"} jawab Bu Laras kepada Bu Viona.
Sontak Bu Viona pun terdiam karena dia berpikir pasti Laras akan membeli rumah tersebut tapi ternyata dia sudah membeli rumah lain, padahal dia ingin sekali rumah tersebut dibeli oleh Laras dan dia pun berpikir rasanya untuk sekarang ini tidak mungkin ada orang yang membeli rumah dengan harga ratusan juta dan kondisi keadaan lagi sulit.
Mungkin Bu viona berpikir dengan kondisi sekarang untuk makan saja sulit apalagi beli rumah kalau pun ada yang membeli rumah itu, bagi orang yang berlebih dari segi masalah finansial nya.
{"Padahal aku berharap kamu mau beli rumah itu loh, karena aku yakin kamu berlebih masalah keuangan nya,"} ejek Bu Viona.
{"Iya, Vio, tapi aku sudah beli rumah lain. Aku pikir kamu tidak jadi jual rumahnya,"} jawab Bu Laras mencoba meyakinkan.
{"Enggak apa-apa padahal beli saja buat investasi!"} jawab Bu Viona di sambung teleponnya.
Nampak Bu Viona seakan memaksa temannya itu untuk membeli rumahnya Rian karena sama siapa lagi dia akan menawarkan rumahnya. Kalaupun dia menawarkan terhadap yang lain itu memerlukan proses yang lama.
{"Maaf Vio, tapi nanti aku akan bujuk temanku agar mau beli rumah kamu ya, dan aku percaya pasti dia akan beli karena dia banyak duitnya. Rumah yang akan kamu jual Video dan gambarnya rumahnya masih aku simpan kok, dan harganya masih tetap seperti dulu kan?"} tanya Laras kembali.
{"Iya, sama,"} jawab Viona terdengar putus asa takut kalau temannya Laras tidak membeli rumah tersebut.
{"Ya, sudah, satu jam lagi aku nanti hubungi kamu ya, semoga temanku mau membeli rumah tersebut,"} ucap Laras.
Sambungan teleponnya pun akhirnya terputus.
________
Nampak Bu Viona gelisah menunggu temannya Laras akan menelepon kembali, dan menunggu jawaban keputusan pembelian rumah yang akan ditawarkan kepada temannya.
"Mbak, buatkan aku teh hangat," teriak Bu Viona seakan gelisah ketika menunggu jawaban dari Laras mengenai rumah yang akan di jual.
Ting...
Tiba-tiba pesan muncul dari Desy yang menanyakan kesehatan Bu Viona, nampak Bu Viona tak membalasnya hanya membaca isi pesan tersebut.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian Desy menelepon dan nampak Bu Viona pun tidak mengangkatnya karena dia berpikir jika dia mengangkat teleponnya butuh waktu lama untuk bicara dengan Desy dan ini akan mengakibatkan jika Laras menelepon tidak akan terangkat olehnya.
"Mau ngapain si Desy menelepon ya, bikin ganggu saja! Dan Laras mana lagi!! Sudah lebih satu jam dia belum ada kabar," ucap Bu Viona dihinggapi rasa gelisah yang teramat.
_________
Sang ART pun nampak datang dari arah dapur dengan membawa teh hangat dan roti selai coklat. Nampak sang ART pun melihat kegelisahan dari sang majikannya, akhirnya dia pun bertanya kepada Bu Viona karena dihinggapi rasa khawatir.
"Bu, maaf, obatnya mau saya ambilkan?" tanya sang ART mencoba berbicara lembut agar tidak menyinggung perasaannya.
"Sudah, aku sudah minum obat Mbak," jawabnya ketus.
Sang ART pun dihinggapi rasa penasaran dengan sikap Bu Viona yang bulak-balik berjalan dari depan menuju ruang keluarga dan nampak gestur tubuhnya tidak mau diam.
"Atau mau dibuatkan jahe panas agar Ibu pikirannya rileks?" sang ART mencoba menawarkan susu jahe hangat agar pikiran Bu Viona tenang.
_______
Sang ART tahu beban pikiran dari majikannya itu cukup berat dengan masalah yang bertubi-tubi, dari mulai percekcokan dengan suaminya karena adanya pihak ketiga dan memikirkan anaknya yang sudah cerai, di tambah lagi dengan kecelakaan yang menimpa dirinya kemarin. Sang ART merasa harus menjaga majikannya tersebut walaupun sifatnya yang cerewet tapi Bu Viona masih ada rasa tanggung jawab kepada keluarga sang ART tersebut di kampungnya dengan selalu memberikan kebutuhan semua keluarga sang ART tiap bulannya.
"Enggak Mbak! Aku cuma lagi nunggu teman menelepon. Sudah Mbak, jangan khawatir bereskan lagi pekerjaan di dapur sebentar lagi Rian bangun dan waktunya makan." ucap Bu Viona seakan kesal karena sang ART seakan menganggu dirinya.
_______
Bu Viona terlihat menghempaskan tubuhnya di kursi sofa, tangannya tidak lepas dari ponselnya.
Drett... Drett... Drett...
Tiba-tiba ponselnya berbunyi dan sontak mata Bu Viona membulat, dia seakan gembira karena nampak jelas di layar ponsel temannya Laras menelepon. Dengan cepat Bu Viona mengangkat telepon tersebut rasanya tidak perlu menunggu waktu lama.
Nampak dia membuang napas kasar dalam hatinya berkata semoga ada kabar baik temannya Laras, jadi membeli rumah Rian.
{"Halo, Laras, lama banget kamu kasih kabar! Gimana temanmu jadi membeli rumah anakku!?"} tanya Bu Viona langsung to the poin tanpa bicara basa-basi.
{"Sabar Bu, kan aku juga butuh merayu dan meyakinkan temanku untuk bisa membeli rumah anakmu. Memangnya kita jual kue atau kerupuk yang harganya tanpa mikir!"} sindir Laras terdengar kesal karena dia tahu sifat dari temannya itu jika menawarkan sesuatu harus secepatnya dibeli apapun itu.
{"Iya, iya, aku minta maaf! Lagian kamu sudah hampir satu jam lebih tidak ada kabar!"} jawab Viona menggerutu.
{"Iya, tadi aku sudah rayu temanku dan katanya dia mau membelinya. Kebetulan dia lagi mujur rezekinya dan semua proyeknya yang dia jalani lancar. Mungkin juga dia membantu kamu karena aku cerita tadi bahwa temanku sedang butuh uang buat modal usaha dan aku cerita juga kecelakaan yang kamu alami,"} ucap Laras mencoba menerangkan semua.
__ADS_1
{Aduh, jadi enggak enak seakan-akan aku mengemis ya,"} jawab Viona kesal nampak terlihat dari raut mukanya menyimpan rasa malu dan kecewa.
{"Santai saja Vio, kamu jangan malu dan dalam urusan penjualan apapun pasti aku jagonya! Ya, sudah, lusa orangnya mau lihat-lihat rumahmu,"} ucap Laras kemudian dia pun menutup sambungan teleponnya.
_______
Terlihat wajah dari Bu Viona begitu sumringah tatkala mendapatkan kabar bahwa rumah Rian jadi dibeli oleh temannya, Laras. Dia pun menyeret langkah kakinya ke arah kamar Rian untuk mengabarkan berita bahagia tersebut.
Ceklek...
Pintu terbuka nampak Rian baru bangun dari tidurnya, dia sedang duduk di pinggir ranjang dan melamun sambil memijit pelipisnya.
"Rian ada kabar gembira untukmu!" ucap sang Ibu dengan berjalan ke arah sang anak.
"Kabar apa, Bu!" jawabnya seperti malas untuk berbicara.
"Itu loh, Bu Laras temannya Ibu barusan dia menelepon temannya, dan kata Laras temannya tersebut mau membeli rumah kamu," ucap sang Ibu tersenyum lebar dan duduk di pinggir Rian.
"Ya, syukur Bu, kalau begitu," jawab Rian terdengar datar.
Sang Ibu pun seperti dihinggapi rasa heran karena sang anak seakan tidak peduli mendengar kabar tersebut.
"Kamu kok, tidak bahagia mendengar kabar ini, jika rumahmu sudah laku terjual!" sang Ibu terlihat kesal karena dia bersusah payah menawarkan rumahnya sang anak ke temannya untuk dijual tapi sang anak seakan cuek menanggapinya.
________
Rian nampak menghela napas panjang dia pun berpikir begitu banyak cerita tentang dia bersama keluarga kecilnya dulu. Tidak bisa dipungkiri dia bersama istri dan anaknya di rumah itu sudah hampir 8 tahun menempati jadi ada suka dan duka yang di rasakan di rumah itu dan penuh kenangan.
Tapi apa boleh buat karena dia butuh uang tersebut jadi terpaksa rumah tersebut dia jual karena untuk modal usaha dan kelangsungan hidup dia ke depan.
"Iya, Bu, Rian senang!" jawabnya tersenyum tipis walau dalam hatinya menjerit karena harta dia yang paling berharga yaitu sebuah rumah yang penuh kenangan indah akan dia jual.
"Ya, sudah, kita makan dulu, ayo!" sang ibu pun mengajak anaknya untuk makan.
Bu Viona pun nampak berlalu keluar.
Sementara Rian hanya meremas rambutnya dengan kasar dan wajahnya terlihat lusuh. Dia saat ini hatinya merasa terpuruk.
Bersambung...
__ADS_1