
Lia menginap di rumah mertua.
"Nak, Lia belum hamil juga ya, padahal pernikahan kamu dengannya sudah hampir 7 bulan?" tanya sang Mama kepada anaknya Adrian.
"Iya, Mah, mungkin belum waktunya diberikan sama yang di atas," jawab Adrian lirih.
"Tapi kamu dan Lia sudah memeriksakan diri ke Dokter kandungan kan?" tanya sang Mama terlihat dihinggapi rasa khawatir.
"Sudah Mah, semua tidak terjadi apa-apa kok, aku dan Lia subur. Sabar dan ikhlas saja Mah, semua Allah yang atur. Kita ingin cepat punya anak tapi kalau Allah belum mengijinkan, kita tidak bisa berbuat apa-apa," Adrian terlihat sesaat kemudian terdiam karena dia pun nampak di dalam hatinya dihinggapi rasa gusar karena sudah 7 bulan belum ada tanda-tanda kehamilan dari sang istri.
"Mama ingin cepat sekali punya cucu karena kamu kan anak satu-satunya Mama, dan dari siapa lagi Mama berharap mempunyai seorang cucu kalau bukan dari kamu, Nak," sang Mama kembali berucap jika dia ingin sekali menimang sang cucu atau anak dari Adrian.
____________
"Sabar, Mah, semua ada waktunya," ucap sang Papa tiba-tiba datang dari arah ruang tamu karena kebetulan sang Mama dan Adrian sedang ngobrol di teras rumah.
Sang Mama hanya terdiam seakan mengingat kembali semua percakapan yang dia dengar dari teman-teman arisan atau rekan bisnisnya yang selalu menanyakan jika dia sudah punya cucu berapa, atau istrinya Adrian sudah hamil belum?. Pertanyaan tersebut membuat hati sang Mama gusar dan menjadi beban pikirannya selama ini.
Sang suami pun seakan tahu dengan kegusaran hati sang istri. Kemudian dia mengusap lembut pundak sang istri.
"Mah, sudahlah jangan terlalu dipikirkan omongan orang lain yang menanyakan. Kapan punya cucu? karena itu akan buat kamu tambah stres memikirkannya. Toh, kata anak kita juga Lia dan Adrian sudah memeriksakan ke Dokter kandungan dan mereka tidak ada masalah," sang suami mencoba kembali meyakinkan hati sang istri agar tidak gusar, dan sabar untuk mendapatkan seorang cucu.
_______
Suara mobil nampak terdengar di depan halaman rumah dan mobil tersebut nampak akan memasuki garasi rumah. Kemudian dengan cepat Mak Lastri sang ART yang tiba-tiba keluar dari dalam rumah berlari kecil untuk membukakan pintu halaman rumah.
Mama Silvi menatap sang suami seakan mengisyaratkan siapa yang datang ke rumahnya itu. Papa Steven pun berdiri dari kursinya dan menatap lekat ke arah mobil yang datang.
"Bagas,,!' ucapnya.
"Siapa yang datang Pah?" tanya sang istri seperti dihinggapi rasa penasaran.
"Papanya Zahira Bu, Pak Bagas," ucap Papa Steven tersenyum lebar.
________
Setelah sebulan pernikahan Adrian kala itu Zahira pun nampak sudah menikah dengan seorang temannya yang berprofesi sebagai Dokter juga. Dan nampak Papa Steven dan Pak Bagas sudah akur, dan tidak terjadi lagi perselisihan di antara mereka begitu pun dengan hubungan Adrian dan Lia kepada Zahira sangat erat terjalin.
Setelah mobil memasuki garasi rumah kemudian keluarga dari Pak Bagas keluar dari dalam mobil tersebut. Nampak Pak Bagas dan istri juga Zahira bersama suaminya.
Terlihat Zahira sekarang agak sedikit gemuk penampilannya.
Mereka terlihat melangkahkan kakinya ke arah keluarga Papa Steven yang sedang duduk di teras.
_________
"Halo, Pak Steven sehat?" Pak Bagas memeluk erat Papa Steven kemudian mereka bersalaman satu sama lain.
"Ayo, masuk,,!" ucap Papa Steven kepada keluarga Pak Bagas dan tersenyum ramah.
Akhirnya setelah bersalaman tamu pun nampak memasuki ke dalam rumah dan mereka duduk di ruang tamu. Lalu tiba-tiba Lia datang dan menyalami tamu.
_________
"Iya, maksud kedatangan kita kesini mau mengundang keluarga Papa Steven datang ke acara syukuran 4 bulanan Zahira nanti 3 hari lagi," ucap Mamanya Zahira tersenyum mengawali obrolan.
"Alhamdulillah sudah hamil Zahira selamat ya, pantesan badannya agak.gemukan," ucap Mama Silvi menatap lekat ke arah perut Zahira.
"Lia sudah hamil? Sebentar lagi juga Mama Silvi kan punya cucu ya?" tanya Mamanya Zahira menatap ke arah Lia dengan senyuman ramah lalu melirik Mama Silvi yang terlihat gusar.
Degh..
__ADS_1
Mama Silvi terlihat sendu saat Mamanya Zahira bertanya seperti itu karena sudah terlalu sering orang menanyakan kehamilan Lia dan menanyakan cucu. Usia Adrian sudah lumayan berumur karena Adrian pun menikah di usia yang sudah tidak muda lagi.
"Doakan saja Bu, semoga cepat diberikan momongan," ucap Lia mencoba menampakkan senyum manisnya walau dalam hatinya sebenarnya ingin memberikan seorang cucu kepada kedua orang tuanya Adrian tapi takdir baik nampak belum berpihak padanya jadi Lia harus sabar menunggu.
________
Nampak Mamanya Zahira seakan tahu perasaan hati saat ini yang di rasakan oleh Mamanya Adrian, dia sedang tidak nyaman dengan pertanyaan soal cucu karena Mama Silvi sangat berharap cucu secepatnya setelah sang anak menikah.
"Sabar aja Lia, mungkin dalam proses, hehe.." Mamanya Zahira tersenyum tipis. Sementara Mama Silvi hanya terdiam dan tidak bicara lagi sedikitpun.
"Oh, ya, maksud kedatangan kita kesini ingin membicarakan masalah usaha kuliner. Ini loh, Dokter Mario ( suami Zahira) ingin buka usaha sampingan di bidang kuliner, dia ingin buka usaha Kafe atau Restoran." ucap Pak Bagas mengalihkan pembicaraan agar suasana tidak beku dan terasa lumer.
"Maksudnya Mario ingin berguru kepada pakarnya gimana caranya agar buka Restoran itu sukses," Mamanya Zahira mencoba menerangkan.
"Aduh, kalau dibilang berguru ke ahlinya. Saya bukan ahlinya loh, cuma mungkin rezekinya lagi berpihak kepada saya," Papa Steven merendah dan tersipu malu.
"Steven, Restoran kamu udah pada maju. Aku salut loh, sama kamu!" ucap Pak Bagas menepuk pundak sahabatnya itu.
"Nanti deh, kita main ke Restoran besok ya, dan santai saja nanti akan saya ajarin gimana caranya menuju sukses." sambung kembali Papa Steven melirik Mario.
"Jadi harus di praktekan ya, Bos!?" Pak Bagas tertawa lebar. Pak Steven membalas dengan anggukan dan sama seperti Pak Bagas tersenyum lebar.
________
"Tadi kita mampir ke Kafe langganan kita tapi sekarang nama owner nya sudah di alihkan bukan yang dulu lagi. Kafe itu rame banget dan makanannya murah dan enak." ucap Pak Bagas.
"Iya, tadinya Kafe itu mau dibeli sama Mario tapi dia plin-plan pas owner-nya menawarkan. Nah, sekarang Mario ingin ada sampingan bisnis kuliner. Coba Kafe itu dulu dibelinya mungkin sekarang udah punya Kafe yang ramai pengunjung," sambung Mama Zahira.
"Kafe apa namanya?" tanya Papa Steven.
"Kafe Strawberry, itu loh, dulu pemiliknya Pak Rudi beliau kan pindah keluar negeri jadi asetnya sebagian di jual dan sebagian masih dia kelola oleh anaknya," jawab Pak Bagas.
"Baru denger nama Kafe itu," sambung Lia menatap Zahira.
"Memang sih, Kafenya sederhana tidak besar tapi pengunjungnya lumayan ramai, katanya pelayannya ramah-ramah jadi pengunjung semakin banyak ke tempat itu," sambung Zahira lagi.
••••
Keluarga Papa Steven dan Lia tidak mengira kalau Kafe yang sedang mereka obrolkan adalah kafe milik Rian yang sudah berjalan 5 bulan dan Kafe tersebut cukup ramai pengunjung. Dan keluarga Papa Steven karena dihinggapi rasa penasaran mereka ingin mampir atau kuliner ke Kafe tersebut.
Nampak Adrian mengernyitkan dahinya dia seakan pernah mendengar nama Kafe tersebut. Otak Adrian pun seakan berpikir keras untuk mengingatnya.
"Ya,,,! Aku baru ingat Mah," Adrian matanya terbuka lebar karena ingatannya sudah mulai terbuka dan melirik ke arah sang Mama.
"Ingat apa Nak?" tanya sang Mama menatap sang anak.
"Adiknya Tante Shila kan, kerja disana," ucap Adrian pikirannya seakan berselancar mengingat ketika Tante Shila membicarakan adiknya yang kerja disana.
"Ya, sudah Nak, kita nanti ke sana sekalian silaturahmi," sang Mama pun seakan penasaran untuk bisa mengunjungi Kafe yang sedang ramai pengunjung itu. Masakan dan tempatnya seperti apa.
_________
Karena pagi sekali Lia sudah masak banyak, akhirnya para tamu pun di suguhi untuk makan bersama di meja makan. Dan mereka akhirnya nampak berhamburan duduk di kursi meja makan.
Sementara Zahira yang merasa mual-mual mulut dan perutnya karena sedang hamil dia hanya duduk di sofa sambil menikmati buah mangga yang di sodorkan oleh Lia.
"Lia, nanti aku kasih referensi ya, Dokter spesialis kandungan terbaik agar kamu konsultasi kepada dia. Biar kamu dan Adrian cepat diberi momongan. Biasa Dokter tersebut memberikan obat herbal," ucap Zahira di sela-sela obrolannya bersama Lia.
Dan nampak Lia sangat senang sekali mendengar info dari Zahira yang seakan peduli terhadapnya.
'Iya, terima kasih sebelumnya ya, aku kasihan sama Mama Silvi, dia sangat berharap punya cucu dengan segera dariku. Tiap bulan dia selalu nanya. Lia kamu bulan ini menstruasi tidak? Dan itu pertanyaan selalu berulang-ulang, membuat hati aku gusar," ucap Lia pelan karena takut di dengar oleh Mama mertuanya itu yang ingin segera menggendong cucu.
__ADS_1
"Wajar sih kalau menurutku karena Adrian anak tunggal dan kepada siapa lagi dia berharap minta cucu kalau bukan sama Adrian, anak satu-satunya itu," ucap Zahira mengusap pundak Lia dengan lembut seakan mencoba menyabarkan hati Lia yang sedang gundah gulana.
"Kasihan saja aku juga sama Adrian yang berharap punya anak," pandangan Lia mulai menunduk.
"Baru juga pernikahan 7 bulan Lia, santai saja nanti juga kamu akan hamil lagi anaknya Adrian. Iklhas, sabar Lia dan berserah diri kepada yang di atas. Insyaallah pasti kalau Allah sudah berkehendak kamu akan di karuniai keturunan," Zahira mencoba menguatkan hati Lia.
________
Lia nampak terlihat terharu dengan ucapan Zahira yang seakan peduli dan perhatian terhadap dirinya itu.
Zahira kemudian memeluk Lia dan mengusap lembut rambutnya. Lia pun nampak matanya berkaca-kaca karena dia tidak menyangka jika Zahira sebenarnya sosok wanita yang lembut dan baik sekali. Pantas saja dulu Papa Steven menginginkan Zahira bisa menikah dengan Adrian karena pribadi wanita ini sangat terpuji. Lia menghela napas panjang dia pun berpikir dalam hatinya sungguh pantas jika Adrian bersanding dengan Zahira karena pribadinya sama-sama baik.
"Oh, Iya, Lia, kamu mau gabung bisnis denganku?" tanya Zahira.
"Bisnis apa?" tanya Lia.
"Bisnis di bidang kecantikan. Dulu aku ngeluarin produk buat kulit dan sekarang produk lipstik. Lumayan loh prospeknya ke depan. Selain harganya terjangkau, produk tersebut juga kualitasnya bagus. Dan ada beberapa juga yang join di bisnisku itu. Dia bagus penjualannya omzet tiap bulan meningkat terus padahal dulu dia hanya perawatan muka ke aku, dan lama kelamaan menjadi rekan bisnisku. Nanti deh, aku kenalkan kamu ke orang itu biar kamu tahu, bagaimana caranya menjadi wanita sukses dalam bidang usaha kosmetik," Zahira terlihat membanggakan sosok yang tengah dia bicarakan.
Lia menganggukkan kepalanya dan tersenyum.
_________
Beberapa menit kemudian.
Acara makan pun telah selesai dan pembicaraan mengenai bisnis yang akan dikelola oleh suaminya Zahira pun seakan sudah menemukan titik temu. Akhirnya para tamu pun pamit untuk pulang.
"Steven, terima kasih ya, jamuan-nya luar biasa. Memang menantu kamu Lia luar biasa. Jago masak!" ucap Pak Bagas sambil melirik ke arah Lia, dan Lia pun nampak tersenyum dan tersipu malu.
"Zahira, belajar masak tuh, sama Lia. Masakan enak pas dengan selera Mama, Papa dan suamimu Mario," sindir Mamanya Zahira karena sang anak tidak pandai memasak.
Zahira menundukkan kepalanya dan tersipu malu. " Mama, jangan bongkar rahasia dong, kalau aku tidak bisa masak, malu," ucap Zahira.
Sang Mama dan Mario nampak tersenyum lebar tatkala melihat muka Zahira yang merah merona.
"Tenang, nanti di ajarin masak," ucap Lia.
Akhirnya mereka pun menaiki mobil dan pamit untuk pulang. Ketika mobil keluar gerbang rumah nampak dari dalam mobil mereka melambaikan tangan dan mengucapkan rasa terima kasih kembali karena sudah di jamu makan.
_________
"Mah, ayo, kita ke salon biar badan Mama rileks," ajak Papa Steven setelah tamu pergi sedangkan Lia beserta Adrian memasuki kamarnya.
Papa seakan mengerti perasaan hati sang istri, pikirannya tengah bercabang memikirkan ingin segera menggendong cucu.
Papa Steven memang suami yang pengertian dia selalu hadir di saat sang istri perasaannya sedang gundah.
Mama Silvi nampak tersenyum tipis dia pun seakan mengerti maksud dari suaminya itu. Agar dia terhibur jangan berlarut-larut dalam kesedihan yang lebih dalam lagi.
"Senyumnya yang lebar dong, Sayang" sang suami memeluk sang istri begitu erat seakan sedang menguatkan sang istri.
_______
Mama Silvi pun seakan luluh dan tersenyum bahagia saat sang suami memeluknya dengan erat dan mencium keningnya.
"Boleh Pah, gimana Papa saja kalau Mama. Sekarang perginya?" tanya sang istri seakan tidak mau melepaskan pelukan sang suami karena merasa nyaman.
"Iya, sekarang Mah, sekarang Mama ganti baju dan nanti setelah pulang dari salon biar kita belanja. Terserah Mama mau beli apa, Papa beliin asal Mama senang," ucap Papa Steven menatap lekat ke arah sang istri.
Sontak mata Mama Silvi berbinar dia nampak terlihat sangat gembira sekali dengan perlakuan yang diberikan oleh sang suami yang begitu memanjakan dirinya itu.
Bersambung...
__ADS_1