
Di dalam mobil.
"Sayang, kamu tidak apa-apa!?" tanya Adrian seakan mengkhawatirkan keadaan sang istri karena tadi tangannya di cengkram oleh Desy.
"Lumayan,," Lia mencoba tersenyum walau tangannya masih sedikit menahan rasa sakit karena tadi Desy menekannya dengan keras.
"Maafkan aku Sayang, tadi aku bertemu dengan teman lama dan keasyikan ngobrol. Eh, ternyata aku lihat kamu sedang berantem dengan wajah jelek itu spontan aku terkejut. Aku takut terjadi sesuatu dengan istriku!" ucap Adrian terlihat kesal dan selalu ingin melindungi sang istri dari kejahatan orang lain.
"Huzzz ...!! Mas, kamu tidak boleh mengejek seseorang," sang istri menempelkan telunjuknya ke bibir sang suami. Lia seakan tidak suka dengan ucapan sang suami
"Maaf, maaf, Sayang, aku tidak bermaksud kok, menjelekkan Desy tapi aku geram banget sama dia!" tegas Adrian.
"Doakan dia cepat sembuh agar dia cepat nikah!" Lia seakan tidak ada dendam sedikitpun terhadap sang sahabat yang telah berkhianat.
"Sayang, kita kembali lagi ke Hotel saja ya," ucap Adrian. Kebetulan mereka bulan madu satu minggu dan masih menginap di Hotel.
________
Ting ...
Tiba-tiba bunyi pesan muncul dari ponselnya Lia dan nampak yang mengirim pesan adalah Mamanya Desy.
{"Lia, maafkan Desy ya, katanya dia barusan buat ulah lagi dengan kamu. Apa itu benar Lia?} tulis pesan Mamanya Desy yang membuat hati Lia seakan bertanya-tanya. Mengapa Mamanya Desy tahu bahwa dia baru saja bertemu dengan Desy.
"Lia siapa yang mengirimkan pesan!?" tanya Adrian dihinggapi rasa penasaran dia pun seakan cemburu jika yang memberikan pesan adalah laki-laki.
"Mamanya Desy, Mas!" ucap Lia.
"Mamanya Desy ngapain kirim pesan?" tanya Adrian kembali.
"Dia tahu kalau aku sudah bertemu dengan anaknya barusan." jawab Lia
"Loh, kok, bisa tahu. Aneh!" ucap kembali sang suami terlihat dihinggapi rasa penasaran.
"Justru itu aku tidak tahu mungkin Desy sendiri yang memberikan kabar tersebut kepada Mamanya," ucap Lia.
"Ya, sudah Sayang, jangan terlalu dipikirkan. Aku capek kalau membahas dia tidak ada habisnya," sang suami pun seakan tidak suka jika kembali membahas hal yang tidak penting, apalagi membahas tentang Desy yang sudah mengkhianati Lia
______
Tiba di Hotel.
Lia menghempaskan tubuhnya di kursi sofa setelah membersihkan badannya dan kini dia tengah asik menonton sebuah acara Televisi dan kebetulan di acara tersebut membahas tentang suatu perusahaan yang tengah mengalami kebangkrutan.
Lia pun seakan berpikir sangat lama dan kembali mengingat nama perusahaan tersebut.
"Itu kan perusahaan dimana Rian bekerja," ucapnya.
Tiba-tiba Adrian mendekat yang terlihat sudah mandi dan terlihat segar. Lalu Adrian menyenderkan kepalanya di bahu sang istri dia terlihat manja dan memeluk sang istri dengan mata terpejam tapi kupingnya lekat ke layar Televisi mendengar acara tersebut.
__ADS_1
"Kasihan Sayang, karyawan yang berada di sana perusahaannya bangkrut. Temanku barusan memberikan kabar dia minta kerjaan sama aku!" ucap Adrian yang temannya bekerja di perusahaan tersebut.
"Jadi semua karyawan nganggur Mas?" tanya Lia kepada sang suami
"Iya, semua karyawan dan ini mengakibatkan pengangguran semakin banyak saja. Katanya beberapa orang korupsi di perusahaan tersebut." ucap kembali Adrian.
Lia pun berpikir mungkin juga Rian kena imbasnya. "Temanmu kerja disana jabatannya apa Mas?" tanya Lia dihinggapi rasa penasaran.
"Temanku jabatannya dia Manajer," ucap Adrian kembali.
"Rian seorang supervisor disana. Seorang Manajer saja dikeluarkan kerjanya. Berarti perusahaan tersebut benar-benar mengalami kebangkrutan," gumam hati Lia.
_______
Lia nampak menghela napas secara perlahan antara iba dan tidak peduli. Iba karena bagaimanapun ketika Rian masuk kerja disana Lia yang mendorongnya sampai ke titik mempunyai jabatan dan rasa tidak peduli karena itu bukan urusannya lagi karena Rian bukan suaminya lagi.
"Kenapa, Sayang?" tanya sang suami.
"Papanya Cantika kerja disana Mas," ucap Lia dengan perlahan dan dia tidak berani menyebut nama Rian karena takut menyinggung perasaan sang suami.
"Oh, dia kerja disana! Berarti dia temannya, temanku juga!" balas Adrian.
Adrian pun mengernyitkan dahi seakan berpikir mengingat obrolan dia dengan temannya tadi.
"Oh, iya, Sayang, tadi temanku yang bernama Hendrik itu dia minta kerjaan sama aku dan kalau ada temannya juga ingin kerja! Ya,,, aku baru ingat dia bilang temannya bernama Adrian Wiguna mungkin yang di maksud Rian, Papanya Cantika karena siapa lagi kan mereka satu perusahaan," Adrian mengingat obrolannya dia dengan temannya itu.
"Jangan Mas, jangan biarkan Rian kerja di perusahaan kamu. Itu benar nama Papanya Cantika, Adrian Wiguna biasa dipanggil Rian. Kalau Mas menerima dia bekerja nanti akan terjadi perselisihan kedepannya aku enggak mau. Aku tahu sifat dari dia meskipun kita tidak ada hubungan apa-apa lagi," Lia seakan merengek kepada sang suami agar Rian jangan di terima di perusahaan miliknya itu.
Adrian berpikir sejenak dia pun dihinggapi rasa serba salah jika dia menerima Hendrik bekerja di perusahaannya otomatis dia pun harus menerima Rian karena Hendrik pun tadi mewanti-wanti agar dia bisa bekerja berdua di perusahaan Adrian karena Hendrik bilang dia begitu sangat berjasa keada Rian temannya tersebut.
"Aku serba salah Sayang, kalau aku tidak menerima Hendrik di perusahaan apakah nantinya dia tidak berpikir jauh dan bertanya-tanya? Tapi jika dia diterima bekerja pun dia inginnya Rian pun ikut bekerja," ucapnya kembali.
"Bilang saja perusahaannya sedang tidak membutuhkan karyawan Mas, dari pada kedepannya bikin runyam," Lia mencoba memberikan solusi kepada sang suami.
________
Nampak Adrian pun terdiam sejenak dengan solusi yang di berikan oleh sang istri dan dia pun seakan memikirkan serius hal itu. Keningnya berkerut alisnya bahkan menyatu menjadi satu.
"Sudah Mas, jangan banyak mikir. Keputusan istri yang mengarah positif harus di dengar," ucapnya lekat ke kuping sang suami dan terdengar manja.
Adrian menghela napas secara perlahan.
"Iya Sayang, lebih baik kita,,,," Adrian menggantung ucapannya
Tangannya mulai nakal berselancar menyentuh lembut badan Lia dengan gerakan nakal dan bibir sang istri yang berwarna merah menggoda, dia cium dengan lembut. Lia pun menyambut sentuhan lembut dari sang suaminya itu.
Mereka pun akhirnya bermesraan dan menuntaskannya di atas ranjang.
"Sayang, aku ingin cepat punya momongan dari kamu," desah Adrian kepada sang istri. Lia hanya terdiam seakan menikmati permainan yang diberikan oleh sang suami.
__ADS_1
______
Alarm dari ponsel Lia berdering cukup keras sehingga membuat wanita cantik itu terkesiap dan langsung meraba meja kecil yang berada di samping tempat tidurnya.
Dengan rasa malas dia melihat ponselnya dan seketika Lia langsung bangun dari tempat tidurnya
"Astaga sudah pukul 9 malam," pekik Lia.
Tadi dia tertidur bersama sang suami pukul 4 padahal ada acara pukul 7 mungkin karena suasana di luar hujan, dan di tunjang dengan dinginnya cuaca. Rasa nyenyak pun seakan menghinggapi kedua pasangan tersebut di tambah dengan mereka pasangan suami istri yang baru menikah jadi rasa ingin meluapkan kemesraan cukup tinggi.
"Mas, kita kan ada acara mau pergi," ucap Lia lekat ke kuping sang suami. Mencoba membangunkan dan menggoyangkan badan Adrian secara perlahan.
Entah mimpi atau masih dihinggapi rasa rindu Adrian dengan spontan memeluk erat sang istri seakan tidak mau lepas dia lalu mencium kembali bibir Lia. Seakan malas beranjak dari tempat tidur.
"Mas,,,!!" Lia mencoba melepaskan secara perlahan.
Sontak Adrian pun matanya secara perlahan terbuka lebar karena pelepasan pelukan dari sang istri.
"Apa sih, Sayang,," ucapnya sambil mencubit hidung Lia yang mancung.
"Mas, kita kan mau bertemu relasi Mas Adrian. Bukannya lusa kita akan pergi ke Jakarta untuk mengontrol Restoran kita yang baru dikelola yang di berikan Papa Steven," ucap Lia.
Dia tidak mau jika diberi kepercayaan oleh sang Papa mertua tapi tidak bisa mengelolanya dengan baik.
"Oh, iya, Sayang, aku lupa." jawab Adrian.
Adrian pun dengan cepat mengambil ponselnya untuk menghubungi relasi bisnisnya. Sementara Lia berlalu ke arah kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
_______
Satu jam kemudian.
"Mas, kita tidak jadi bertemu dengan relasi bisnisnya?" tanya Lia ketika melihat sang suami yang sedang menyeruput secangkir kopi hangat dan telah selesai mandi.
"Enggak Sayang," sementara Adrian pun masih fokus pandangannya kearah ponselnya dan seperti orang bingung
"Ada apa Mas?" tanya Lia dihinggapi rasa penasaran terhadap sang suami.
"Kayaknya Hendrik temanku kecewa karena dia tidak aku terima kerja di perusahaan kita," ucap Adrian.
Lia pun nampak menghela napas panjang.
"Ya, pasti dia kecewa karena kamu sudah menolaknya dia bekerja di perusahaan yang notabene usahamu tidak hanya satu tapi ada beberapa, dan kamu tidak memberikan dia kesempatan bekerja di salah satu tempatmu," ucap Lia.
"Nanti biar dia aku masukkan bekerja di perusahaan temanku saja," jawab Adrian.
"Ya, mending gitu saja Sayang, lagian Hendrik temanmu susah kalau dia bekerja inginnya bawa temannya itu!" Lia kembali tidak mau mengucapkan nama Rian dihadapan sang suami.
Bersambung...
__ADS_1