Belenggu Sang Pemuda

Belenggu Sang Pemuda
BSP10. Tragedi


__ADS_3

"....dengan mas kawin cincin emas seberat lima gram dibayar tunai."


"Saya terima nikahnya Maya Renawati binti almarhum Raswad yang walinya mewakilkan kepada bapak dengan saya sendiri dengan mas kawin tersebut tunai."


"Sah…"


"Sah…"


"Alhamdulillah…"


Lalu aku dan Maya membubuhkan tanda tangan di dokumen yang telah disediakan.


Dan kemudian, Maya mencium tanganku untuk pertama kalinya.


Jelas aku bisa mengucapkan qobul dalam satu tarikan nafas. Tentu saja karena aku masih mengingat qobul yang aku ucapkan untuk Dinda.


Lalu acara dilanjutkan dengan berfoto dengan anggota keluarga saja. Dan dilanjutkan dengan mengobrol santai.


Aku memisahkan diri dari kerumunan, aku enggan menjawab pertanyaan dari keluarga Maya.


Aku melangkah keluar dari rumah ibu Rokhayah. Namun begitu aku menginjak tanah. Kemeja putih yang aku kenakan langsung ditarik seseorang. Dengan kerah bajuku yang ia cekal begitu kuat. Dan Jefri sengaja mengunci kedua tanganku, yang ia tahan di belakang tubuhku.


"Heiiii… kenapa ini?" seruku begitu terkejut, dengan tindakan empat orang dewasa yang aku kenal ini.


Bukannya jawaban yang aku dapatkan, aku malah mendapat bogem mentah di bagian perutku.


Dengan ketiga orang itu yang memberikan hantaman tinjuan di beberapa bagian tubuhku.


Aku merasakan sesuatu yang kental keluar dari mulutku. Dan detik berikutnya aku ambruk, setelah pukulan kuat mendarat di bawah rusukku.


AUTHOR POV


"ADA APA INI RIBUT-RIBUT?" teriak pak Dodi, ia mengahampiri anaknya yang sudah terkulai dengan bercak darah di kemeja putih anak laki-lakinya. Anak laki-lakinya yang baru saja melepas masa lajang versi resmi.


Beberapa anggota keluarga berlarian menuju sumber kegaduhan. Namun saat mereka semua berkumpul. Adi sudah dianggat oleh pelaku pengeroyokan terhadapnya. Dan ia segera dilarikan ke rumah sakit.


"Kalau begini, aku malah khawatir adik aku malah jadi janda!" ucap Arif yang memangku kepala Adi dalam mobil.


"Janda-janda sekalian! Aa malah gak ikhlas Dinda dimadu kaya gini!" sahut Afan dengan melirik Arif dengan tajam.


"Coba Jef, kau cek keadaannya dulu." ujar Haris yang fokus mengendalikan laju mobil yang begitu cepat. Dengan lampu segi tiga pada mobilnya yang bekedip terus-menerus.

__ADS_1


Posisi Jefri tepat di bagian kaki Adi. Sedangkan Afan, tepat di samping Haris yang tengah mengemudi.


"Aku gemetaran. Jangankan suruh cek keadaan Adi. Rasanya sensor motorikku sekarang lagi error. Otakku suruh gerakin apa, malah lain yang bergerak." jawab Jefri dengan pandangan kosong ke depan.


"Kalau pun Adi mati, dosa kau tak seberat dosaku, Jef." ungkap Haris yang mencoba tenang dan fokus berkendara. Pasalnya ide pengeroyokan ini tercetus darinya.


"Jangan sampai dia mati. Aku tak mau dicap dokter pembunuh." tutur Jefri terlihat begitu ketakutan.


"Ya cepet dicek, kasih pertolongan pertama apa bagaimana!" seru Arif membuat Jefri langsung tersentak kaget.


Jefri menelan salivanya, ia begitu gemetaran hanya untuk menatap wajah Adi.


"Heh, mau ngapain kamu?" seru Arif menatap Jefri dengan tatapan heran.


Pasalnya Jef malah mengeluarkan kemeja Adi, yang dimasukkan ke dalam celananya. Lalu ia membuka ikat pinggang Adi.


Haris melirik sekilas tingkah motorik Jefri yang error tersebut, dari spion tengah mobilnya. Tawanya menggelegar, sampai membangunkan Adi yang tak sadarkan diri itu.


"Lawan, Di. Kau mau dilecehkan Jefri." seru Haris, saat Arif mengatakan bahwa Adi membuka matanya.


"Heh, aku mau cek bagian perutnya. Bukan mau macam-macam padanya." elak Jefri dengan menarik tangannya, yang berusaha membuka kepala ikat pinggang Adi.


Semua orang terkekeh geli. Kenapa suasana menegangkan ini, malah menjadi kondisi yang begitu absurd.


"Otw ke liang kubur, Di. Kau segera di kebumikan sekarang." jawab Haris yang melihat Adi dari pantulan spionnya.


"Jangan gurau aja! Sakit semua badan aku. Cepet ke rumah sakit!" ungkap Adi dengan menyentuh luka di bagian wajahnya.


"Yang mukulnya dokter, jadi aman." sahut Arif yang memperhatikan wajah adik iparnya yang babak belur.


Semua orang terkekeh geli. Tak berpengaruh juga sepertinya, yang mukul berprofesi sebagai dokter atau lainnya. Pasalnya hantaman tinjuan tentu membahayakan untuk tubuh.


Tak lama kemudian, Adi sudah berada di ranjang ruang UGD. Haris dan kawan dokter lainnya mengecek keadaan Adi.


Lalu setelahnya, Adi dibawa oleh perawat untuk melakukan rontgen. Karena dikhawatirkan Adi mendapat luka dalam, atau cidera pada bagian tulangnya.


Setelah selesai semua, Adi di pindahkan ke ruang inap rumah sakit tersebut.


Empat orang dewasa yang Adi kenal itu, tengah memperhatikan Adi yang terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit.


"Apa liatin aku macam itu? Belum puas juga?" ucap Adi menatap mereka satu persatu.

__ADS_1


"Kau dengar aku, Di." ucap Haris yang berpindah posisi, menjadi lebih dekat dengan tiang infus.


"Kalau keluarga kau buka kasus ini ke polisi. Aku tak segan-segan nyuntikin bisa ular ke air infusan kau!" ancam Haris dengan menyentuh kantung infusan.


"Lagian kalian macam tak punya otak. Kalian tau ini negara hukum. Tapi malah sengaja betul ngeroyok aku." ujar Adi dengan ekspresi wajah kesal.


"Jadi mau dilaporin?" tanya Arif kemudian.


Terlihat Adi enggan menjawab. Ia memikirkan tindakan mereka, pasti ini ada sangkut pautnya dengan pernikahannya dengan Maya. Itu yang ada di benak Adi.


"Jadi begini kelakuan kamu di belakang Dinda?" seru Afan yang membuat Adi tersadar, dari pikirannya yang berkelana itu.


"Dinda mau kami jemput, apa mau kamu antar baik-baik?" ujar Arif, karena Adi masih enggan membuka mulutnya.


"Tak begitu, A. Adi tetap sama Dinda. Pernikahan ini hanya untuk nutupin aib perempuan yang Adi nikahin tadi." ungkap Adi setelah beberapa saat terdiam.


"Jadi ceritanya mau ngemadu adik kita?" tanya Arif kemudian.


Adi enggan menjawab lagi. Karena memang benar itu yang tejadi. Dengan tidak ia kehendaki, ia telah menduakan Dinda. Ia menikah diam-diam dengan perempuan lain, tanpa sepengetahuan dari Dinda.


"Kamu mau cerita sendiri ke Dinda, apa mau kita yang kasih tau dia?" tukas Afan, membuat Adi langsung menoleh padanya.


Adi belum memikirkan ini semua. Ia pun masih berat menerima pernikahan ini. Ditambah lagi, ia begitu ditekan oleh kedua kakak Dinda.


Tak ada suara yang terdengar lagi. Mereka terdiam cukup lama.


Lalu Haris memecahkan keheningan ini, "Jadi sebetulnya itu anak siapa?" tanya Haris santai. Ia tak paham, pertanyaan itu cukup membuat Adi takut untuk menjawabnya.


"Kenapa sih kau banyak diam?" ucap Jefri yang baru mengeluarkan suaranya.


"Ya aku pusing, Jef. Aku takut." jawab Adi kemudian. Adi merasa begitu heran pada Jefri. Untuk apa ia bertanya pertanyaan konyol seperti itu. Harusnya ia paham Adi begitu tertekan sekarang. Apa lagi ada kedua kakak Adinda. Ia khawatir salah jawab, dan berakhir pada Adinda yang dijemput paksa oleh kakaknya.


"Benar itu anak kamu? Kamu hamilin perempuan lain?" tanya Afan yang membuat Adi semakin takut untuk menjawabnya.


TBC.


Adi hanya contoh dari sekian banyak kasus.


Di luar sana banyak laki-laki yang lebih buruk darinya.


Udah punya istri, tapi masih aja maen betina. Lebih-lebih mereka malah berat ke selingkuhannya.

__ADS_1


Tapi memang benar adanya cerita Adi ini. Laki-laki terkadang seegois dirinya. Macam tak memiliki rasa kasihan. Namun percayalah setiap kejadian, pasti ada hikmahnya.


Bonus satu episode lagi 😉 tapi janji ya vote yang banyak 😆


__ADS_2