Belenggu Sang Pemuda

Belenggu Sang Pemuda
BSP57. Berbaikan


__ADS_3

"Dek, dengerin Abang. Resmikan itu pasti, tapi memang mungkin bukan sekarang. Abang lagi kena masalah, Abang mohon Adek ngerti sekarang." tutur Adi dengan menatap mata istrinya.


"Masalah apa? Abang tak cerita, aku tak akan paham." tukas Adinda, yang membuat dirinya semakin penasaran tentang sesuatu yang menyangkut suaminya.


"Belum waktunya Adek untuk tau. Yang jelas Abang lagi ada masalah, Abang tak bisa bawa Adek untuk resmikan pernikahan kita sekarang. Mungkin nanti setelah Adek melahirkan, agar lebih aman untuk Adek dan untuk keluarga kecil kita. Abang tak akan tinggalin Adek, Adek yang paham itu. Bertahanlah sedikit, untuk Abang, untuk kita. Adek cinta kan sama Abang?" ungkap Adi dengan wajah yang terlihat begitu frustasi.


"Setidaknya bilang ke umi, ke orang tua Abang. Bahwa Abang udah sama aku di sini." ucap Adinda serius.


"Masalahnya, itu pun tak mungkin Abang katakan sekarang ke mereka." ujar Adi kemudian.


"Masalah perempuan?" tanya Adinda. Adi pun mengangguk. Tak ada pilihan lain, cepat atau lambat Adinda pun akan mengetahuinya. Hanya saja memang Adi tak mau mengungkapkannya sekarang.


"Perempuan dan umi? Perjodohan itu kah?" tanya Adinda lagi. Sebetulnya Adinda hanya menebak saja. Adi menatap sejenak istrinya, lalu ia mengangguk dan memejamkan matanya.


"Udah aku duga. Apa lagi aku sering mimpi barang favorit aku di pinjam orang." tutur Adinda, dengan menghapus kasar. Bulir yang jatuh membasahi pipinya.


"Udah sejauh mana?" tanya Adinda berlanjut. Jelas Adinda penasaran dengan ini semua.


"Tak sejauh yang Adek Kira, buktinya Abang masih di sini sama Adek." jawab Adi. Tentu saja ia mengambil langkah, untuk membohongi istrinya lagi. Ia masih ingin hubungannya baik-baik saja. Namun ia ingin membuat istrinya mengerti, dan tak menuntut untuk meresmikan pernikahan mereka lagi. Setidaknya, sampai semua terungkap.


"Adek cinta kan sama Abang?" lanjut Adi. Ia ingin memastikan sendiri tentang perasaan istrinya pada dirinya. Karena permasalahan kemarin, membuat Adi khawatir akan rasa cinta istrinya yang memudar.


"Aku masih di sini karena Abang, karena kita. Tak perlu pertanyakan itu, Abang pasti tau sendiri jawabannya." jawab Adinda dengan menundukkan kepalanya. Ia tak bisa menahan air matanya yang mengalir deras. Pikirannya begitu kacau, ternyata ada orang lain yang orang tua Adi jodohkan. Pantas saja Adi nampak murung, mungkin karena ia bertahan di provinsi A ini. Agar dirinya tak langsung dinikahkan dengan wanita itu. Begitulah yang ada di benak Adinda.


"Maaf belum bisa resmikan pernikahan kita. Maaf, Dek, Abang memang banyak kasih angin lalu untuk Adek. Tapi asal Adek tau, Abang tak akan tinggalkan Adek." ucap Adi dengan membawa istrinya dalam pelukannya.


"Janji jangan bikin aku kecewa lagi?" sahut Adinda dalam pelukan suaminya.


"Semampu Abang, Abang tak akan kecewain Dinda." balas Adi kemudian.

__ADS_1


"Jangan berubah, jangan dingin ke Abang. Luapin amarah Adek. Abang lebih takut Adek diem dari pada marah." ungkap Adi, dengan membingkai wajah istrinya.


Cuiiiiiit…..


"Apa tuh, Dek?" tanya Adi bingung. Saat mendengar bunyi siulan yang cukup kuat.


Adinda langsung bergegas menuju dapur, "Aku lagi masak air." jawab Adinda sambil berlalu.


Ternyata itu suara teko siul. Karena perabotan rumah tangga serba baru. Adi tak mengetahui bahwa suara itu bersumber dari teko yang bisa bersiul.


Adi menghampiri istrinya, ia ingin membantu istrinya masak. Ia ingin memperbaiki hubungannya dengan istrinya.


"Masak apa, Dek? Biar Abang bantu." ucap Adi, setelah dirinya berada di area dapur.


"Masak bihun. Givan minta masak mie putih katanya. Dibilang mie putih itu tak ada, adanya bihun. Dia tak percaya. Sampai tadi pagi aku ajak belanja. Aku tanyain ini bukan mie putihnya, dia jawab iya tapi lemes tak keras macam ini." sahut Adinda. Adi tersenyum lebar, saat istrinya sekarang sudah merespon ucapannya.


"Buat Abangnya apa, Dek?" balas Adi. Dengan mengambil posisi berdiri di sebelah istrinya, yang tengah merendam bihun dalam air panas.


"Doyan, tapi tak enak kalau pakek nasi. Sukanya dimakan bihunnya aja, tak buat lauk." jawab Adi. Berbulan-bulan berumah tangga, baru kali ini Adinda memasak bihun. Dan ternyata Adinda pun tak tahu, bahwa suaminya kurang selera jika makan berlauk bihun.


"Abang mau makan sama apa?" ujar Adinda bertanya, dengan ia meniriskan bihun yang sudah melunak.


"Makan Adek, boleh?" tutur Adi membuat Adinda langsung menyelesaikan kegiatannya. Lalu ia menghela nafasnya, dengan menghadap suaminya.


"Serius loh aku, Bang! Bek sampoe, Abang yang aku masak di sini." tukas Adinda begitu sadis terdengar. Karena cukup lama ia tinggal di daerah sini, dan terbiasa hidup dengan Adi. Akhirnya cara ia bicara pun terbawa oleh kebiasaan Adi, yang selalu berbicara dengan bahasa campuran. Bek sampoe sendiri, memiliki arti jangan sampai.


Adi cekikikan, melihat reaksi istrinya. Lalu ia mencium pipi istrinya sekilas. Dan mengambil daun bawang yang tersedia. Ia tak langsung menjawab ucapan istrinya, namun ia langsung membantu kegiatan istrinya.


"Gurau aja, Dek. Abang mau tumis kangkung dikasih terasi aja, Abang kangen masakan Adek yang itu. Ingat tak dulu, habis Adi's bird kena senter bola. Terus Abang ditarik, diajak sarapan bareng." tutur Adi, menceritakan kembali kenangan mereka dulu.

__ADS_1


"Ingat. Yang aku ditanya kenapa bisa pendek macam ini, itu kan?" tukas Adinda. Dengan memberikan seikat kangkung pada Adi, yang sebelumnya ia sudah membelinya. Namun ia berencana memasaknya besok.


Adi mengerti maksud Adinda, yang memintanya memotong kangkung tersebut. Sedikit banyaknya, Adi sudah lihai berada di dapur. Karena sejak Adinda hamil, Adilah yang membuatkan sarapan untuk mereka bertiga.


"Dibelah jadi dua dulu, Bang. Terus baru dipotong." ucap Adinda, saat melihat suaminya memulai memilah kangkung tersebut.


Adi mengangguk mengerti, dan memulai aktifitasnya. Diselingi dengan obrolan ringan dan kekehan pelan dari keduanya. Hubungan Adi dan Adinda mulai membaik. Dan sepertinya Adinda bisa mengerti, akan masalah Adi. Ia mencoba memahami keadaan sekarang. Ia yakin, jika sudah waktunya. Suaminya pasti langsung membahas tentang peresmian pernikahan mereka.


~


Sore harinya, Adi tengah menyuapi anaknya. Sambil melihat permainan bola para pemuda kampung halamannya.


"Gagah doang. Sore-sore nyuapin anak di gang." ledek temannya yang melintas dengan motor besar. Bukannya membalas ejekan, ia malah tertawa geli mendengarnya.


Beberapa orang yang berada di sana, ikut menyuarakan tawanya.


"Kaya doang. Siang malam sarungan doang." seru Safar yang ikut bermain bola di lapangan. Adi menjadi bahan tertawaan tim kesebelasan tersebut.


"Pakek celana jeans panjang, apa celana kolor bermerk gitu. Biar nampak kayanya." komentar Ayu, yang berada tak jauh dari Adi.


"Sarungan aja istrinya dua. Apa lagi pakek stelan mahal ya, Di?" ucap pak Akbar lirih. Saat dirinya sudah berada dekat dengan Adi. Adi pun tak menyadari kehadiran pamannya tersebut.


Adi menggelengkan kepalanya, menanggapi sindiran dari pamannya tersebut. Ia tak merasa bangga, dengan kenyataan yang sebenarnya. Jelas ia amat tersiksa dengan statusnya yang beristri dua. Menurutnya lagu berjudul madu tiga, tak seperti kenyataannya. Nyatanya ia tak bisa mencintai dua wanita sekaligus, dan tak senikmat yang diceritakan dalam lagu tersebut.


"Apa ini, Pak cek?" tanya Adi, saat pamannya menyerahkan berkas yang terkumpul dalam satu map.


"Surat tanah itu. Udah jadi semua. Sama yang barunya pun udah jadi." jawab pak Akbar, "Kau tak berniat adil sama mereka? Kau tak mau bagi setengah hak Dinda pada yang kedua itu?" lanjutnya kemudian.


TBC.

__ADS_1


Si Pak cek ikut mikirin aja ya 😆


Sebetulnya kasian juga loh sama Adi ini, dia pusing puyeng pening.. tapi egoisnya tinggi juga 🤭


__ADS_2