
"Kau kan memang semurah itu." balas Adi kemudian. Lalu ia mendapat lemparan bantal sofa dari Seila. Membuat mereka semakin akrab mengobrol.
Seila adalah wanita yang pernah menyukai Adi. Tapi Adi tak pernah memberikan kepastiannya, persis seperti hubungan Adi dan Adinda dulu.
Namun beberapa bulan kemudian, Adi mengungkapkan bahwa dirinya tertarik dengan Seila. Sayangnya, Adi pun berkata bahwa dirinya sudah memiliki tunangan. Dan terjalinlah hubungan yang tak sehat antara Adi dan Seila, di belakang Shasha dulu.
Meski tak sampai berhubungan badan. Tapi Adi bisa mengakses bebas tubuh Seila. Seila pun tak keberatan dengan perlakuan Adi. Sampai kejadian Adi dan kawan-kawannya dibekuk polisi. Mulai saat itu Adi dan Seila tak pernah berhubungan lagi. Dan mereka bertemu kembali, saat Adi bebas. Dan ia tengah berkunjung ke rumah orang tuanya. Lalu ia bertemu dengan Seila, saat Adi keluar mencari makanan bersama adiknya.
"Coba tengok macam mana rupa betina yang bisa naklukin kau itu? Pasti serupa dengan Shasha. Herannya aku sama kau, kok bisa-bisanya selera kau ini mentok di betina standar aja. Aku kurang apa coba, Di? Sampai-sampai kau pertahankan Shasha dulu, dan malah jadikan aku sebagai…" curhatan Seila terpangkas, karena Adi langsung menyodorkan ponselnya. Yang terpasang wallpaper dengan wajah Adinda, yang tengah diapit olehnya dan Givan. Adinda tersenyum lebar, sedangkan Adi dan Givan mencium pipi Adinda.
"What? Korea blasteran Turki." seru Seila cepat, dengan mata yang hampir lepas dari tempatnya. Pasalnya mata Dinda tak terlalu sipit, dengan struktur wajah seperti orang Korea. Dengan warna rambut coklat keemasan, dengan tatanan yang bergelombang seperti beberapa model asal Turki.
"Ehh, tunggu. Perasaan aku pernah nampak betina kau ini, Di." lanjut Seila. Lalu ia bangkit dan berlalu pergi dari ruang tamu rumahnya. Adi menatap bingung ke arah Seila. Lalu ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dengan memperhatikan langkah kaki Seila yang semakin jauh.
Tak lama Seila kembali, dengan kalender kecil di tangannya.
"Ini bukan istri kau?" tanya Seila. Dengan menunjukkan foto wanita yang memegangi buku, sambil tersenyum manis ke arah kamera.
Adi memperhatikan model wanita dalam kalender kecil itu, "Kau dapat kalender ini dari mana?" sahut Adi bertanya balik pada Seila.
"Toko buku. Waktu akhir tahun kemarin, aku nemenin suami beli beberapa buku. Terus dikasih kalender ini sama kasirnya." jelas Seila pada Adi.
"Ini betul istri aku. Namanya Adinda. Cantik kan dia?" ucap Adi dengan senyum bangganya.
"Gila, Di! Beruntung betul kau dapat istri yang punya karya macam dia. Tapi kok kau nikah tak ngundang-ngundang aku?" ujar Seila dengan memperhatikan Adi.
"Sebetulnya aku nikah di bawah tangan." jelas Adi, kenyataan itu membuat Seila cukup kaget kembali.
"Wah… Berarti kemungkinan besar kau jadi duda juga dong, Di? Kan dengan gitu kau gampang betul nalak dia. Kabarin aku ya? Kalau nanti kau udah jadi duda." tutur Seila dengan antusias tinggi.
"Jangan mimpi!" tukas Adi dengan menoyor pelan kepala Seila.
__ADS_1
Lalu mereka tertawa renyah bersama. Dan setelah selesai dengan canda tawa mereka. Adi langsung menunjukkan foto kalung bermatakan berlian yang menarik perhatiannya.
Karena Adinda sampai sekarang tak pernah mau memakai emas. Meski Adi sudah sering kali membelikan perhiasan untuk istrinya itu.
"Yang agak besar sikit, Di. Ini kecil betul. Ini yang berlian itu matanya aja. Rantai kalungnya memang dari emas murni." ungkap Seila, dengan menunjuk kalung yang Adi minta.
"Dinda mana mau pakek yang besar-besar. Coba aja dulu yang ini, kalau dia suka. Kapan-kapan aku pasti beli lagi." jelas Adi kemudian.
"Tapi kok dia mau sama kau? Katanya dia tak mau pakek yang besar-besar. Kau punya barang kan besar panjang." sahut Seila ambigu. Namun Adi langsung mengerti.
"Itu kan favoritnya. Dia mana bisa nolak aku." balas Adi dengan percaya dirinya.
"Dia tak bisa nolak kau kan, karena kau kaya. Di mana-mana betina pasti susah nolak jantan yang banyak warisannya." sindir Seila yang sepertinya sangat tahu tentang Adi.
"Udah cepet sana bungkusin!" ujar Adi mengalihkan pembicaraan.
"Ok." sahut Seila. Kemudian ia pergi sejenak meninggalkan Adi.
Tak lama ia sudah kembali, dengan kotak bludru berwarna biru di tangannya.
"He'em. Dia udah hubungin aku juga. Aku tak mungkin datang." ucap Adi kemudian.
"Kenapa memang?" tanya Seila penasaran.
"Dinda lagi hamil muda. Jauh kangen, deket dibenci. Aku salah terus. Kalau deket suruh jauh-jauh. Kalau jauh macam ini di suruh cepat balik. Kau pasti paham lah." jawab Adi frustasi, jika ia mengingat sikap istrinya.
"Aku tak pernah hamil. Manalah aku tau! Terus macam mana nanti?" sahut Seila dengan memperhatikan wajah Adi.
Adi menoleh sekilas pada Seila, "Aku tak mungkin diizinkan kalau tak ajak dia atau anaknya. Pasti nanti bakal ada drama menyayat hati dulu." balas Adi yang membuat tawa Seila pecah.
"Kasian ya kau, Di. Giliran sinyak, dapatnya janda. Tau gitu kau nungguin jandanya aku aja." ujar Seila dengan kekehannya. Sinyak, adalah bahasa daerah Adi untuk menyebutkan seorang istri.
__ADS_1
"Sorry ya, tak level janda macam kau. Udah cepet mana nomor rekening kau, sini aku transferin." tutur Adi kemudian.
"Nih, kau bawa ATM-nya juga kan?" tukas Seila, dengan menunjukkan beberapa digit angka dalam ponselnya.
"Aku ada aplikasi banking. ATM-nya istri aku yang pegang." ucap Adi dengan nada semakin menurun. Seila tertawa terbahak-bahak mendengar Adi yang sepertinya begitu tunduk pada istrinya.
"Boleh ya nanti aku main. Sebelum acara ultah si Akbar, atau sesudah acarnya. Pengen kenalan sama Dinda-nya kau itu." ujar Seila meminta izin.
"Tak perlu lah. Nanti kau cerita-cerita tentang aku sama dia. Tambah bingung aku cari alasan nanti." sahut Adi ketus.
"Penasaran aku, Di. Kayaknya orangnya asik, ya?" tanya Seila dengan menyentuh tangan Adi.
Adi langsung menepis tangan Seila, "Dinda satu server sama aku. Kau tengok aksinya. Kau pun kalah dengan caranya dia mainin pedal." jawab Adi dengan menunjukkan video dalam ponselnya. Adi memiliki rekaman video, saat Adinda melakukan balapan dengan Eko dulu.
Seila menyadari tindakan Adi yang selalu menolak sentuhannya. Itu membuat Seila semakin penasaran dengan seseorang yang berada di hati Adi. Yang bisa membuat Adi memiliki temeng sekuat ini.
"Dia berhijab, Di? Aku kira hijabnya buat style event waktu dia di foto aja." balas Seila tak percaya.
"Dia berhijab terus, di rumah juga dia tak pernah lepas hijab. Kecuali memang lagi tak mau ke mana-mana. Terus di rumah cuma ada aku dan anaknya aja. Pasti ia lepas hijabnya. Atau hijab yang asal nempel aja. Tak pakek pentul macam itu." ungkap Adi menceritakan sedikit tentang kebiasaan istrinya.
"Pasti kau nikahin dia, karena kau kalah balapan sama dia kan?" tebak Seila dengan menyipitkan matanya.
"Tak lah, gila aja! Tapi sekarang dia udah jadi mamak-mamak idaman aku. Tak maen balap lagi, malah seringnya kita maen monopoli atau ludo." ujar Adi dengan tersenyum lebar membayangkan istrinya.
"Udah aku transfer. Dah ya, aku balik. Makin rindu aja aku sama Dinda." lanjut Adi dengan bangkit dari posisi duduknya.
"Tunggu dulu, Di." sahut Seila dengan mencekal tangan Adi. Adi memperhatikan tangannya yang bertautan dengan tangan Seila. Lalu ia berpindah memperhatikan wajah Seila. Menunggu apa yang akan diucapkan oleh teman wanitanya itu.
TBC.
Tuh kan, si Abang dulu tingkahnya menukik betul.
__ADS_1
Ini Seila mau ngapain sih?
VOTENYA jangan lupa 😊