
AUTHOR POV
Sore harinya Adi, Adinda, ibu Meutia dan pak Dodi tengah berkumpul di teras rumah. Givan dan Novi dengan begitu semangat, berlarian mengejar satu sama lain. Sedangkan Ghifar, anak itu heboh sendiri melihat dua orang yang berlarian tersebut.
Tak jauh dari jangkauan mereka, Zuhra tengah duduk dengan bungkus makanan ringan yang yang telah habis dimakannya. Dengan Ghava dan Ghavi yang tengah berada di bouncer masing-masing, terlihat tangan dan kakinya menendang tak beraturan dengan begitu semangat. Sedangkan Naya berada di dalam rumah, bersama dengan Benazir.
"Mi… Yah… Abang mau ada ngomong sama kalian. Gimana baiknya tentang Naya, dia harus sama siapa? Sedangkan… Naya bukan keturunan Abang." ungkap Adi secara mendadak. Membuat semua orang memperhatikannya secara tiba-tiba, berbeda dengan anak-anak yang asik dengan permainannya sendiri.
"Ngomong jangan asal aja, Bang. Kau boleh pisah sama ibunya, kau benci sama ibunya. Tapi kau tak boleh macam itu sama anak kau sendiri, tak ada yang namanya mantan anak." sahur pak Dodi dengan menepuk pundak Adi, yang berada di depannya. Adi duduk di lantai, bersama istrinya. Sedangkan ibu Meutia dan pak Dodi, duduk di kursi yang tersedia di teras rumah tersebut.
Adi mendongakkan kepalanya, dengan posisi duduknya yang sedikit memutar. Lalu ia menyuarakan suaranya lagi, "Dek Dinda jelasin yang Adi pahami. Konsep sederhana, yang mampu dimengerti kita. Anak Adi dan Maya tak mungkin punya golongan darah O, sedangkan Adi dan Maya tak punya golongan darah O." balas Adi yang mendapat pukulan ringan di pahanya.
"Bukan macam itulah, Bang. Ish, dodol betul Abang ini!" timpal Adinda dengan wajah kesal.
"Coba Adek yang jelasin. Abang tak bisa jelasin ke mereka, meski Abang paham maksudnya." sahut Adi dengan mengerutkan keningnya.
Adinda menghela nafasnya, "Jadi macam ini Yah, Mi. Golongan darah Maya B, aku tau dari KTP barunya. Terus golongan darah Bang Adi AB kan?" ujar Adinda yang mendapat anggukan dari ibu Meutia dan pak Dodi.
"Nah… hasil perkawinan golongan darah B dan AB ini, mereka tak mungkin punya keturunan dengan golongan darah O. Pasti keturunan mereka punya golongan darah A, B, AB. Ini menurut hasil perkawinan golongan darah, bukan dari keturunan nenek moyang. Bukan macam itu, tapi dari bang Adi dan Mayanya. Sedangkan kan Naya punya golongan darah O, macam itu." jelas Adinda yang membuat pak Dodi dan ibu Meutia memandang satu sama lain.
Pak Dodi langsung meraih ponselnya, lalu ia mengutak-atik benda pipih tersebut.
"Mau ngapain, Yah?" tanya ibu Meutia dengan memperhatikan aktivitas suaminya.
__ADS_1
"Kita harus lurusin ini semua, sama ibu Rokhayah dan Maya juga. Tak bisa macam itu dong, Ayah ngerasa tertipu. Apa-apaan maksudnya anak orang dia kata itu anak Adi?! Ayah tak terima, mereka betul-betul keterlaluan." jawab pak Dodi dengan suara yang menunjukkan bahwa dirinya tengah emosi.
Ghifar menjerit lalu menangis kuat, anak itu mengesot ke arah ayahnya.
"Dih…. Dih…" celotehannya dengan merunduk di kaki Adi yang tengah bersila tersebut.
"Sama Tante dulu tuh." pinta Adi pada anaknya, dengan dirinya menunjuk ke arah Zuhra.
"Zuhra… kembar ke sinikan, nih kau bawa Ghifar main dulu." seru Adi yang membuat Zuhra menoleh ke arahnya.
Zuhra mengangguk, dengan ia langsung membawa bouncer berisi salah satu bayi kembar tersebut. Lalu setelah ia meletakkan salah satu bouncer di dekat Adi, ia memindahkan satu bouncer lagi dengan diletakkan di depan Adinda.
"Yuk, jajan." ajak Zuhra dengan merentangkan tangannya.
"Kaget keknya, kena suara Ayah." jawab Adi dengan mendongak memperhatikan Ghifar yang berada di gendongan Zuhra.
"Suara kau aja kuat betul. Bisanya kau kaget suara Opah?" tanya Zuhra dengan memperhatikan wajah Ghifar, sembari ia melangkah pergi menuju ke luar gerbang.
"Yah… menurut aku sih udah aja, percuma hubungi mereka. Kata papahnya Givan, dia kan ngontrak di tempatnya ibu Rokhayah. Dia kata… ibu Rokhayah dan Maya udah pindah, uang kontrakan aja disuruhnya untuk ditransfer aja." ucap Adinda dengan menggenggam ponselnya yang menyala tersebut.
"Memang macam itu, Dek? Kemarin Adek tak ada bilang." sahut Adi dengan mengambil alih ponsel Adinda.
"Iya, dia baru chat lagi. Dia ngasih tau macam itu, Bang." balas Adinda dengan menunjukkan chattingnya dengan telunjuknya. Karena Adi tak menemukan isi pesan chat dari Mahendra tersebut.
__ADS_1
"Jadi mereka kabur? Kita harus ambil tindakan lain. Belum lagi nilai uang yang dibawa kaburnya lumayan besar itu." ujar ibu Meutia dengan menatap bergantian pada orang yang berada di sini.
"Udah aja lah, Umi. Aku tak mau ngeluarin uang lagi, apa lagi cuma buat cari Maya. Udah aja, tak perlu diperpanjang. Menurut aku sih macam itu aja. Biar Naya sama aku dan Bang Adi, mungkin aku bakal minta bantuan pengasuh untuk bantu urus dia. Anak siapapun itu, masalahnya di dokumen ya Bang Adi sebagai ayahnya. Biar masalah itu jadi rahasia kita, sampek Naya besar nanti. Aku juga minta maaf, mungkin aku tak bisa tulus dalam ngurus Naya. Tapi aku usahain itu, aku usahain aku bisa anggap dia anak juga." ungkap Adinda yang membuat Adi melongo.
"Dek… Adek yakin?" tanya Adi dengan menggenggam tangan istrinya.
"Apa perlu tes DNA?" timpal pak Dodi dengan memperhatikan wajah menantunya tersebut.
"Tak perlu, nanti yang ada aku malah lebih susah untuk terima Naya. Bang Haris juga nyaranin untuk rontgen, tapi dia juga ada bilang untuk udah aja tak perlu diperpanjang. Karena dari situ aja udah jelas, malah yang ada bikin pihak kita makin sakit hati karena kebenaran itu." sahut Adinda membuat semua orang saling melempar pandangan.
"Ya… memang sih ada betulnya juga. Kalau kalian mau nerima dan besarin Naya, ya udah… itu keputusan kalian. Kalau Ayah sama Umi, pasti bantu sekedarnya aja. Karena kalian mau netap di provinsi A kan? Jadi mungkin bisa bantu biaya aja, karena kalian jauh." balas pak Dodi dengan memperhatikan wajah menantunya tersebut.
"Abang masih ragu, Dek. Ragunya Abang macam mana ya… karena Naya itu anak orang. Adek ke anak sendiri aja galak, apa lagi ke anak orang. Entah nanti dia jadi tongseng, atau sop daging setelah ini." ujar Adi dengan pandangan fokus ke depan, memperhatikan Novi dan Givan yang masih berlarian.
Adi mendapat cubitan di pahanya, membuatnya meringis dengan reflek mengusap-usap bekas cubitannya. Lalu ia menoleh ke arah Adinda, dengan menyunggingkan senyum manisnya.
Adi begitu gemas, melihat bibir istrinya yang sedikit mengerucut tersebut. Dengan cepat ia menarik dagu istrinya, kemudian mengecup mesra bibir yang sudah menjadi miliknya tersebut.
"Kheeemmm…. Lupa daratan kah kau, Bang?" ujar ibu Meutia yang membuat tawa Adi terdengar nyaring.
"Waktu itu, Ayah udah dengar penjelasan dari Dinda. Tentang kau yang tak mau bagi tau ke Umi dan Ayah, soal pernikahan kalian. Sekarang Ayah mau dengar penjelasan dari kau, Bang. Masalahnya, Ayah ngerasa janggal dengan tindakan kau ini." ungkap pak Dodi mengalihkan perhatian mereka semua.
Adi menoleh ke arah ayahnya, terlihat senyum manisnya yang masih terpatri di wajahnya.
__ADS_1
TBC.