Belenggu Sang Pemuda

Belenggu Sang Pemuda
BSP184. Tak memiliki mertua


__ADS_3

"Ehh, menantu. Sini tengok bayi kembar, biar ketularan." ucap mak cek, dengan aku yang terburu-buru menutupi dada Dinda dengan hijab panjangnya. Bukan karena apa-apa, aku terkejut karena pintu kamarku yang terbuka secara mendadak. Tentu Dinda juga pasti malu, karena kedua dadanya terekspos jelas.


"Iya, tadi dapat kabar dari Dinda katanya udah balik kembarnya." sahut Sukma dengan melangkah masuk ke dalam kamar.


"Udah selesai kah masaknya? Tiru itu Dinda, dia masak itu sekalian buat sarapan. Jadi pas selesai sarapan, kau tinggal urus kerjaan yang lain. Keluar kamar satu, keluar kamar semua. Harusnya kau lebih bangun duluin dari Safar, biar pas Safar bangun dia udah tinggal sarapan." ungkap mak cekku pada Sukma. Harusnya masalah seperti ini, tak dibicarakan saat Sukma tengah berkunjung di rumah orang. Harusnya mak cek paham, bukannya malah membandingkan menantunya dengan Dinda.


"Untung aku tak tinggal sama mertua dan tak punya mertua juga, jadi aku bebas bangun jam berapa apa. Bisa d**gy di ruang keluarga juga loh, Kak." timpal Dinda yang mendapat pukulan ringan dari mak cekku. Dengan Sukma yang tertawa dengan menutup mulutnya, serta diikuti dengan gelengan kepala.


Aku langsung bergegas ke luar dari kamar, aku tak mau ikutan. Nanti malah aku yang dapat delikan dari mak cek juga, sepertinya halnya Dinda.


Sejujurnya aku merasa tersindir, saat Dinda mengatakan tak memiliki mertua. Dia bukan tak memiliki mertua, hanya saja memang umi belum mengetahui menantunya yang humoris ini. Karena ucapannya barusan, bisa membuat mak cek tak melanjutkan celotehan mulutnya lagi. Juga membuat suasana tegang tadi, menjadi suasana yang menggelikan.


Aku berjalan menuju mobilku, lalu menjalankannya menuju ke kedai bakso langgananku dengan Dinda. Aku juga akan membelikan untuk mak cek, Sukma, Zuhra dan juga Givan. Karena kurang lebih setengah jam lagi, sudah waktunya Givan pulang dari sekolahnya. Sepertinya Zuhra pun sekalian menunggu Givan pulang, setelah ia berbelanja sayuran.


~


~


Hari ini di mana Dinda memiliki acara syukuran kecil-kecilan. Karena hari ini, dirinya sudah menginjak hari ke 40 ia nifas. Di mana dalam adat dari kota C, bayinya sudah boleh untuk cukur rambut dan potong kuku. Dinda juga sudah diperbolehkan untuk keramas dengan niat mandi besar, ia juga sudah boleh memotong kuku juga. Karena ia pun selama dirinya dalam masa nifas, ia tak diperbolehkan untuk memotong kukunya.


Namun, karena ibu mertuaku tak ke sini. Dinda langsung keramas, begitu ia pulang dari rumah sakit. Perbedaannya, ia tak pergi perawatan dalam nifasnya kali ini. Ia ternyata belajar dari pengalaman sebelumnya, di mana aku tak mampu bertahan dengan keadaannya yang begitu menggoda selepas pulang dari perawatan full.


Edo sudah menikah beberapa waktu yang lalu, ternyata ia menikahi seorang wanita yang baru dikenalnya saat ia berada di provinsi KB. Aku yang mendengar ceritanya dari Zuhra, mengetahui bahwa hanya Edo yang tak bermasalah dengan perjalanan cintanya. Umi dan ayah memberikan restu, juga ternyata wanita yang ia nikahi pun jebolan Al-Azhar Mesir. Tentu agamanya tak perlu diragukan lagi.


Selama ini, aku benar-benar tak pernah menghubungi Maya atau umi. Terkadang aku berbicara dengan umi, saat umi menelpon Zuhra saja. Bukannya aku lupa pada orang tua, hanya saja aku begitu kerepotan dengan anak-anak dan istriku. Dinda pun amat keteterannya sepertiku, bahkan ia bisa tertidur di mana saja saat ia sudah tak bisa menahan kantuknya.

__ADS_1


Bukan aku tak mau menggunakan jasa asisten rumah tangga atau pengasuh bayi, hanya saja memang Dinda tak mengizinkannya. Ia ingin anak-anaknya ia handle bersamaku saja. Dengan ia mengerjakan pekerjaan rumah yang ia sanggupi saja, seperti untuk urusan makanan.


Zuhra pun sudah memiliki minat terhadap usaha, ia membuka usaha warnet game online yang berada di sebelah kedai kopi rumahan yang berada di belakang rumahku.


Membuat pekerjaan rumah tangga, dikerjakan oleh seorang wanita paruh baya yang Dinda bayar. Ia datang jam tujuh pagi, kemudian ia pulang saat tengah hari tiba. Kadang jika ia harus membersihkan lantai atas, juga mengepel rumah ia akan pulang selepas ashar. Namanya kak Yusniar, ia asli warga daerahku yang memang mau mengabdi pada Dinda. Terkadang, ia mengembalikan uang saat Dinda sengaja melebihkan upah untuknya. Namun, dengan paksaan akhirnya ia mau menerima uang lebihan tersebut. Kalau aku orangnya, dengan senang hati aku mengantongi uang lebihan tersebut.


"Sayang, Abang udah jemur. Abang ke ladang dulu ya, mau meriksa tumbuhnya benih. Mana tau ada yang tak bagus tumbuhnya." ucapku dengan merengkuh pinggang istriku, yang tengah berkutat dengan makanan untuk Ghifar.


"Hmm, ati-ati. Dzuhur pulang, makan di rumah. Terus siap-siap bantuin angkat catering, jam dua siang nanti catering di anterin katanya." sahutnya dengan mulai menggiling makanan Ghifar. Ia sekarang sudah sembilan bulan, tapi ia masih makan makanan yang bertekstur lembut saja. Aku khawatir ia malah tak bisa mengunyah makanan nanti. Karena sepengamatanku, Ghifar langsung menelan makanan yang Dinda suapkan ke mulutnya. Mengemil buah pun, dalam keadaan lembut seperti ini. Namun, Dinda tak terima setiap kali aku memberinya pengertian untuk kebaikan Ghifar.


"Acaranya habis ashar kan?" tanyaku yang langsung dianggukinya.


"BANG…"


"Apa?" sahutku yang sedikit berseru, dengan aku yang melangkah menuju ke sumber suara.


"PC nomer 9 trouble, minta modal lagi dong. Tenang, nanti aku cicil tiap bulannya." ungkapnya dengan tersenyum kuda.


"Ambil di kulkas, tadi Abang taruh uang di kotak bolu. Soalnya buru-buru, Ghifar nangis kejer minta ikut Abang tadi." sahutku dengan meninggalkan Zuhra, untuk mengambil perkakas yang aku butuhkan.


Aku sudah berada di atas mobil J*epku, tapi Ghifar menggeser alas duduknya dengan menyuarakan tangisnya. Tahu saja anak itu, kalau papahnya mau pergi.


"PAAAAAAAAH… ARGGHHHHH…" serunya dengan diselingi teriakan lepas. Aku tak suka dengan kebiasaannya itu, ia suka sekali melengkingkan suaranya itu. Aku takut ia sakit tenggorokan, atau bermasalah dengan pita suaranya.


"Jangan teriak-teriak, Nak. Mau ikut kah? Papah mau kerja jeh." ucapku dengan berjalan ke arahnya.

__ADS_1


"Jeh-nya keluar, macam orang kota C aja kau Bang." timpal Zuhra dengan berjalan ke luar dari rumah, dengan mencangklek tasnya.


"Lagian orang kaya hebat betul. Nampaknya banyak ajiannya, tak takut tuyul atau b*bi ngepet kah kau Bang? Uang tiga gepok kau simpan di dalam kulkas. Aku curiga, jangan-jangan Abang tak punya brankas?" tuduhnya kemudian. Aku mengambil uang sebegitu banyaknya, karena Dinda akan punya acara. Pikirku sekalian ambil uang untuk keperluan bulan ini, makanya aku memutuskan untuk mengambil uang dengan jumlah banyak di bank.


Aku mengangkat tubuh Ghifar, yang kakinya sudah berada di tanah. Hanya p*nt*tnya saja yang masih menempel di teras rumah. Anakku yang satu ini, lebih berat padaku ketimbang ibunya. Apa-apa ia pasti meneriaki papahnya, nangis sedikit ia pasti mengesot ke arahku.


"Buat pegangan acara hari ini, sama pegangan kak Dinda bulan ini. Kau kan tau, ATM pasti ngantri. Belum lagi kan pasti ada limitnya." balasku dengan menenangkan Ghifar. Bayiku ini sudah amat besar, setiap dua minggu Dinda sampai membelikan pakaian baru untuknya. Karena pakaiannya cepat sekali terlihat sesak di tubuhnya.


"Ohh… aku ambil 5 juta, aku berangkat dulu ya Bang. Udah waktunya buka tempat, nanti Givan pulang aku yang jemput." ujarnya dengan berjalan ke arah motor matic miliknya. Aku membelikannya motor bekas, dengan pajak motor mati. Aku membeli motor tersebut, dengan harga dua jutaan saja. Lumayan, untuk kendaraan Zuhra keliling kampung ini.


"Ya, ati-ati." tukasku dengan memperhatikannya yang mulai meninggalkan halaman rumahku.


"Arghhhhhh, Pah…." pekik anakku lagi, dengan memukuli wajahku.


"Issshhh, apa tuh? Tak boleh teriak-teriak terus, tak boleh pukul-pukul Papah!!" ucapku dengan menatapnya dengan ekspresi marah.


Ghifar langsung menyandarkan kepalanya pada bahuku, saat memahami bahwa papahnya marah padanya. Gemas aku padanya, andai dia tahu bahwa aku tak bisa marah padanya. Pasti ia tak ada rasa takutnya pada orang tuanya.


"Dek… Abang bawa Ghifar ke ladang." tuturku dengan berjalan memasuki rumah.


Dinda menatapku dengan menghela nafasnya, "Heh….


TBC.


Kadang pengen nanya sama Adi, rasanya gimana sih kerja sambil bawa anak?

__ADS_1


__ADS_2