Belenggu Sang Pemuda

Belenggu Sang Pemuda
BSP229. Mabuk kendaraan


__ADS_3

"Kok becek betul? Udah keluar kah?" tanya Dinda dengan membingkai wajahku.


Aku masih berada di ceruk lehernya, karena aku baru saja melepaskan benihku. Syok? Sungguh, mataku tengah melebar sempurna sekarang. Aku lupa untuk mencabut Adi's bird, sebelum aku kl*maks tadi. Kalau sudah begini, aku harus bagaimana?


Oh, iya aku tahu. Aku pura-pura belum keluar saja. Biar kupompa dia kembali, lalu aku mengeluarkan Adi's bird saat aku akan kl*maks yang kedua kalinya. Dengan begitu, Dinda tak akan memarahiku karena aku buang di dalam barusan.


Aku menegakkan punggungku, dengan mulai memompanya kembali dan tersenyum manis padanya.


"Belum. Abang belum keluar, tadi istri Abang yang keluar." sahutku dengan mengedipkan sebelah mataku.


Dina terlihat tengah berpikir, "Masa? Tapi tadi perasaan Abang punya ngembang di dalam, terus tak lama anget-anget becek." balasnya kemudian.


"He'em, kan Adek kalau keluar kadang macam itu." ujarku dengan membalikkan tubuhnya. Sesaat setelah penyatuan kami terlepas, airku mengalir dari dalam inti istriku. Dengan cepat aku menyumpalnya kembali, aku takut air yang menetes ke sprei ini diketahui oleh Dinda. Apa lagi jelas, bau khasnya pasti menyeruak ke segala penjuru ruangan kamar ini.


Aku melanjutkan tugasku, dengan sengaja mengelabui istriku. Semoga kebohongan kali ini, tak membuatnya hamil. Karena bisa habis aku, jika aku membuatnya hamil dalam waktu dekat.


Karena kami, telah bersepakat untuk memiliki keturunan lagi paling cepat saat kembar berusia dua tahun.


Aku melanjutkan kegiatanku dengan Dinda, sampai Dinda terpuaskan dan aku kl*maks untuk yang kedua kalinya. Berbeda kali ini, aku menumpahkan benihku di atas perutnya.


Flashback off


"Belum, lepas nifas kali ini. Memang haidnya belum teratur. Pas kemaren aja, baru selesai empat puluh hari, satu minggu setelahnya udah haid aja. Kesiniin memang belum haid lagi." jawab Dinda yang bisa kudengar.


"Awas tuh! Nanti kembar tau-tau punya adik lagi aja." sahut bapak mertuaku, yang berada di sebelah kursiku.


"Nanti tespek aja, besok tuh pas bangun tidur." saran yang kudengar dari ibu mertuaku.


"Nanti kalau udah di sana, coba beli tespek Bang." ujar Dinda yang langsung kuiyakan.


Jika hasilnya positif nanti, aku akan komplen pada Author. Bisa-bisanya Dinda diberikan kehamilan tanpa jeda, padahal anak kami masih kecil-kecil.


Beberapa jam kemudian, kami sudah sampai di kediaman umi. Dinda muntah beberapa kali, ia pun terlihat begitu lemas. Sampai aku menggendongnya, setelah baru sampai di halaman rumah umi. Dinda begitu pucat, dengan mata yang berair. Rasanya aneh seorang pembalap mobil, tapi malah mabuk kendaraan. Padahal aku membawa kendaraan tak seperti supir angkot, aman dan nyaman. Apa lagi jika Dinda berkendara, sepertinya ia tak akan tahan dengan rasa mualnya.


Anak-anak kami langsung diambil alih oleh anggota keluargaku, karena melihat Dinda yang lemas tak berdaya seperti ini. Air putih yang ia minum dalam perjalanan pun, ia muntahkan kembali. Jangankan makanan dan cemilan lainnya. Kasihan betul pada istriku ini.


Dinda meminta obat pereda mual, semacam obat untuk sakit magh. Lalu ia memintaku menemaninya, merebahkan tubuh di atas tempat tidur kami.

__ADS_1


"Abang bilas ya badannya. Kecipratan muntahan tuh bajunya, baunya nanti malah bikin Adek tambah pusing." ucapku dengan mengipasi kepalanya, dengan buku yang entah milik siapa. Karena Dinda menolak untuk menghidupkan pendingin ruangan.


Dinda mengangguk samar, dengan aku yang berlalu pergi untuk mencari baskom dan air hangat di dapur.


"Dipanggilkan dokter kah, Bang?" tanya ayah yang tengah menggendong Ghifar yang tengah menangis.


"Bang… Dih…" suara Ghifar, saat ia melihatku di sini. Ia mengulurkan kedua tangannya, ia meminta gendong padaku.


"Nanti ya, sama Opah dulu. Papah mau urus mamah dulu." ujarku pada Ghifar.


"Tak usah, Yah. Dinda kata dia cuma perlu istirahat sebentar." jawabku dengan memperhatikan wajah ayahku.


"Ya udah, mertua kau lagi pada istirahat di kamar tamu. Ghifar minta ikut sama kau, ngerengeknya dari tadi." ujar ayah dengan membuka laci yang berisikan makanan ringan.


"Ikut sama om Edi nanti, jemput cs kau di bandara." tuturku dengan mengusap kepala anakku.


"Zuhra balik hari ini?" tanya ayah yang langsung aku angguki.


Aku langsung berjalan kembali menuju kamarku, di lantai atas. Dengan ayah dan Ghifar yang masih memilih makanan ringan, yang berada di dalam laci dapur tersebut.


Setelah berada di dalam kamar, aku langsung membantu Dinda melepaskan pakaiannya. Aku langsung membilas wajahnya, bagian leher, juga tubuhnya. E*eksi? Jelas aku turn on secara tidak sadar. Namun, aku juga tau kondisi istriku. Aku kasihan melihatnya yang muntah-muntah sepanjang perjalanan tadi.


Aku langsung memakaikannya pakaian, lalu Dinda merebahkan kepalanya kembali ke bantal.


"Mau makan kah, Dek?" tanyaku dengan menyimpan baskom yang airnya terlihat keruh tersebut, ke tempat yang lebih aman.


"Nanti aja, masih mual." jawabnya dengan menarik tanganku. Ia memintaku merebahkan tubuhku di sampingnya, sembari memeluknya.


Hingga beberapa saat kemudian, terdengar dengkuran halus yang berasal dari istriku. Aku dengan sangat berhati-hati sekali, bangkit dari posisiku. Kemudian aku membawa air bekas bilasan istriku, untuk aku bawa ke lantai bawah kembali.


Terlihat Givan tengah berlarian dengan Novi, Ghifar yang tertidur dalam dekapan ibu mertuaku. Juga kembar yang tengah menendang tak beraturan, dengan dijaga oleh Bena di atas karpet ruang keluarga.


"Icut kemana, Ben?" tanyaku pada Bena.


"Icut siapa, Bang?" tanya Bena dengan wajah herannya.


"Hmm… Naya itu nah. Dinda minta panggilannya diganti Icut aja, biar tak mirip sama panggilan buat ibunya." jelasku yang hanya dianggukinya saja.

__ADS_1


"Ohh… dibawa ke teras sama umi, Bang." sahutnya kemudian. Aku langsung menuju ke teras rumah, dengan terlihat Icut yang tengah merangkak perlahan untuk mengambil mainannya.


Ya alhamdulilah, Icut sudah bisa merangkak. Giginya pun sudah tumbuh dua, di bagian atasnya. Badannya semakin berisi, dengan mata yang semakin tenggelam ketika ia tersenyum.


"Ikut Papah yuk." ajakku pada Icut, ia mendekatiku dengan merangkak. Kemudian aku mengangkat tubuhnya.


"Mau ke mana, Bang?" tanya umi yang sepertinya tengah memperhatikan interaksiku dengan Icut.


"Cuci mobil." jawabku dengan berjalan pergi menuju mobil.


Aku membawa Icut ke tempat pencucian mobil. Ia memperhatikan orang-orang di sekitar, dengan sesekali ia menunjukkan sesuatu padaku. Kosa katanya belum sebanyak Ghifar, jadi ia lebih sering memakai isyarat dengan menunjuk sesuatu.


Setelahnya, aku mampir ke apotek terdekat. Untuk membeli tespek, yang Dinda butuhkan besok.


"Tespek satu, Kak." ucapku pada apoteker yang tengah berjaga.


"Yang biasa atau yang bagus?" tanyanya yang membuatku bingung.


"Memang yang bagus dia bisa apa, Kak?" sahutku yang membuatnya terkekeh dengan menutup mulutnya.


"Maksudnya kualitasnya, Mas." jelasnya kemudian.


"Yang akurat aja lah. Yang bagus atau yang biasa, tetap buat air kencing ini." balasku yang membuatnya menahan tawa kembali. Aku tak mengerti ilmu pertespekan, yang aku pernah dengar dari Dinda yaitu mengenai keakuratan tespek tersebut.


Setelah menerima dan membayar barang tersebut, aku langsung masuk ke mobil dan melajukan mobilku kembali.


~


Esok harinya, aku terbangun dengan hantaman bantal yang bertubi-tubi. Dinda kurang ajar sekali, dalam membangunkan suaminya.


"Apa sih, Dek?!" seruku dengan memberinya pelototan tajam. Siapa yang tak kesal, jika dibangunkan pagi-pagi sekali dengan ditimpuki dengan bantal berkali-kali begini.


Terlihat ia tengah menangis sesenggukan, dengan menatapku dengan pandangan yang sulit aku artikan. Apa salahku tidur? Sampai membuatnya seperti ini? Perasaan aku tidur tak makan tempat, tak juga menindihi tangannya. Tapi mengapa ia berdrama seperti ini?


......................


Biasalah....

__ADS_1


perempuan kan memang ratu drama 😝


__ADS_2