
Aku berlari kecil, mencoba membawa Dinda ikut denganku sebelum dirinya masuk ke rumah orang tuanya. Namun, aku telat. Mereka sudah berada di pintu rumah orang tua Dinda.
"PAPAH…" seru anakku yang melihatku berjalan cepat ke arah rumah neneknya. Ternyata ia tengah main di rumah tetangga, dengan pianika di tangannya.
Aku langsung menggendong Givan, lalu membawanya ikut denganku untuk menuju ke rumah neneknya.
Saat aku sudah berada di ambang pintu, aku melihat Dinda tengah menangis sesenggukan dengan memeluk a Arif. Bayi dalam gendongannya pun menangis kencang, entah karena ia merasakan sesuatu dari ikatan batinnya dengan ibunya? Atau karena ia terjepit di antara pelukan kakak beradik itu?
Semua mata menatap ke arahku yang tengah menggendong Givan, Jefri langsung menaruh semua belanjaan di sofa ruang tamu dan mengambil alih Givan dari gendonganku.
"Aku macam orang bodoh, A…" ucap Dinda ditengah tangis pilunya.
Terlihat a Arif menepuk punggung Dinda berulang, "Ada Adi di belakang kamu. Dinda kuat, jangan ditangisi. Dinda pintar dan berbakat. Jangan disesali! Selesaiin masalahnya, kamu pasti tau bagaimana yang terbaik buat kamu dan anak kamu." ungkap a Arif yang bisa kudengar.
Bapak mertuaku tidak ada di sini, hanya ada ibu Risa yang tengah membujuk Dinda untuk menenangkan Ghifar terlebih dahulu.
Dinda menggelengkan kepalanya berkali-kali, lalu ia memutar tubuhnya menghadapku.
"Bang…" panggilnya pilu, aku mendekatinya dan berniat menyentuh lengannya agar bisa kudekap tubuhnya.
Prakkk…
"DEK!!!" seru Jefri dan Haris bersamaan.
Sebelum aku berhasil menyentuh lengannya, aku merasakan pelipisku dihantam benda tumpul yang pecah karena hantaman kuat pada pelipisku.
Mataku langsung berkunang-kunang, karena hantaman keras yang Dinda berikan.
Aku memegang tralis besi pintu utama, lalu bersandar dengan memegangi kepalaku.
"Di… Adi… kau tak apa?" tanya Haris yang bisa kudengar.
AUTHOR POV
Pandangan Adi menggelap, tapi ia mampu menjaga kesadarannya. Suasana di ruang tamu itu begitu kacau, terdengar tangis anak-anak bersahutan. Kepanikan ibu Risa dengan kejadian tersebut, menambah riuh situasi sekarang.
"Anak-anak bawa ke kamar aja, Bu." ujar Jefri dengan menggiring Givan dan Kenandra yang menangis ketakutan, karena melihat seseorang yang dipanggil dengan sebutan papah itu bermandikan darah.
"Ambil Kin, Jef." pinta Haris yang ikut panik, karena melihat darah segar yang membasahi wajah Adi.
__ADS_1
"Ada kotak p3k, Bu?" tanya Haris pada ibu Risa yang tengah mencoba mengajak Dinda berbicara.
Karena Dinda hanya terdiam, sambil menyaksikan suaminya yang tengah kesakitan.
"Tak perlu diobati, Bang. Bang Adi juga mau pulang." ucap Dinda yang membuat tiga orang dewasa itu tak percaya.
"Kamu ikut pulang sama Adi?" tanya Arif, yang berada di belakang Dinda.
Adinda melepaskan gendongannya, tak disangka ia memberikan bayinya pada Adi.
"Jangan pingsan, itu tak seberapa dari yang aku rasakan sekarang. Masih untung kau tak kubuat mati hari ini! Bawa anak kau! Pulang sana ke istri kau!" usir Adinda, begitu Ghifar sudah berada di dekapan Adi.
"Ya Allah, Dek. Di mana hati Adek, sebagai seorang ibu? Dia masih kecil, Dek. Dia cuma minum ASI, tanpa makan apa pun. Dia masih butuh Adek, dia masih bergantung sama Adek." ujar Adi, saat Adinda menariknya agar tak bersandar pada tralis besi tersebut. Lalu Adinda mendorong tubuh suaminya keluar, saat Adi bisa berdiri tegak.
Begitu Adi keluar, Adinda langsung menutup pintu rumahnya dan langsung menguncinya.
"Din, anak kamu butuh kamu." ujar Arif yang bisa Adi dengar.
"Jangan kasih cucu Ibu, Nak. Kamu tega banget ngasih dia ke Adi. Adi gak mungkin bisa urus Ghifar dengan baik." tutur ibu Risa, yang membuat Adi menoleh kembali ke arah pintu.
Adi terdiam sejenak, karena ia masih merasa rabun pada matanya. Namun, saat ia menundukkan kepalanya untuk melihat Ghifar. Alangkah terkejutnya, saat ia melihat Ghifar yang juga bermandikan darahnya.
"Yuk kita pulang, tapi kita mampir ke rumah sakit dulu ya. Untuk obatin luka Papah, biar darahnya tak ngotorin Adek Ghifar." lanjut Adi dengan menyungingkan senyum pilunya pada anaknya. Lalu ia berjalan pergi dari rumah tersebut, dengan keadaan pelipis yang terluka dan darah memerahkan warna bajunya. Ia tak sanggup menahan air matanya, setelah menerima perlakuan dari istrinya.
Ia menangis sembari berjalan ke arah mobilnya, dengan menggendong bayi Ghifar. Malu yang sudah tak ia rasakan lagi, karena hatinya yang tengah terguncang atas keputusan istrinya. Ia pun tak luput menjadi perhatian tetangga dari mertuanya.
Ia tak menyangka, ternyata ucapan istrinya yang akan meninggalkannya dan anaknya benar terjadi. Ia masih tak percaya, atas ucapan Dinda yang mengusirnya terang-terangan.
Tak lama, Adi langsung melajukan mobilnya. Setelah mengganjal posisi Ghifar yang direbahkan dalam jok belakang. Sebetulnya Adi khawatir anaknya terjatuh, tapi tak ada pilihan lain. Karena ia tak mungkin mengemudi sambil menggendong bayi.
Sesekali ia menyeka darahnya yang merembes melewati mata kirinya. Saat ia meraba pojok matanya, ia merasakan ada sesuatu yang menancap di sana.
Ia menangis bukan karena sakit atas hantaman yang istrinya berikan, tapi karena keputusan yang istrinya ambil.
Tak lama, mobilnya telah sampai di depan rumah sakit ibu dan anak K*******. Ia pun langsung turun, kemudian berjalan menuju UGD dengan menggendong Ghifar.
Ia berpikir, rumah sakit pasti akan menolong lukanya. Meski rumah sakit ini, adalah rumah sakit khusus bersalin.
Adi langsung menjadi pusat perhatian, karena wajahnya yang penuh dengan darah dan kain anaknya yang berlumuran darah juga.
__ADS_1
"Tolong, Sus." ucap Adi, saat seorang perawat menghampirinya.
"Mari Pak, mari Pak. Bayinya kenapa-kenapa tidak?" tanya suster yang mengambil alih bayi tersebut.
"Jangan dibawa, Sus. Bayinya tak apa-apa, cuma pelipis saya sedikit terluka." jawab Adi, sembari mengikuti langkah kaki perawat yang mengajaknya masuk ke dalam ruangan.
Perawat itu mengangguk, kemudian langsung mengobati luka Adi. Dengan Ghifar yang kembali ke dekapan Adi.
"Kenapa ini, Sus?" tanya dokter yang muncul saat Adi dibersihkan lukanya, dalam keadaan duduk.
"Kaya ada beling menancap di pelipisnya, mungkin bapaknya abis kecelakaan Dok." jelas perawat yang tengah mengobati Adi.
"Disuruh rebahan aja, di ujung ada tempat kok." ujar dokter wanita tersebut pada perawat.
"Bayinya biar kita cek dulu, Pak." lanjut dokter tersebut berbicara pada Adi.
"Bayinya tak apa-apa, cuma kena darah saya aja Dok." tutur Adi dengan masih mendekap Ghifar.
"Ok, mari ikut saya." ajak dokter tersebut yang berjalan lebih dulu.
Lalu Adi mengikuti langkah kaki dokter dan perawat tersebut, dengan menggendong Ghifar. Kemudian, Adi diminta untuk merebahkan tubuhnya dan lukanya langsung ditangani.
~
Adi baru sampai di rumah minimalis milik Adinda, lalu ia masuk bermaksud untuk membersihkan tubuhnya dan tubuh anaknya.
Setelah ia selesai, ia lanjut untuk memandikan Ghifar. Terdengar tangis Ghifar, saat ia menyentuh air. Dengan cepat Adi membilas anaknya, lalu membersihkan sisa sabun dari tubuh anaknya.
Tok, tok, tok…
"Siapa itu, Dek? Mamah kah? Mamah berubah pikiran, Dek. Ayo kita tengok." ucap Adi bermonolog dengan anaknya.
Lalu ia menarik handuk yang ia kalungkan pada lehernya, kemudian dengan cepat mendekap Ghifar yang langsung ia selimuti dengan handuk tersebut.
Ceklek…
......................
Hmmm, bagaimana? Sedap kan?
__ADS_1