
Pukul 8 pagi, Ghifar tengah berjemur di bawah teriknya matahari pagi. Dengan ditemani oleh ibu Risa.
Ibu Risa merasa, bahwa Adinda sudah benar-benar pulih dan sudah bisa mengurus anaknya sendiri.
Ia akan membicarakan kepulangannya pada anak dan menantunya, karena ia pun merasa tak enak terlalu lama di sini. Belum lagi pemandangan Adi yang selalu menyambar bibir anaknya, membuatnya merasa semakin risih tinggal bersama anak menantunya.
Ia tak habis pikir dengan tingkah Adi, pada anaknya yang tengah nifas. Ibu Risa pun tak menyangka, bahwa menantunya tak sependiam seperti yang kelihatannya. Apa lagi jika sudah berada di sisi anaknya, Adi terlihat begitu suka menjahili Adinda dengan ciuman mesranya atau meremas part belakang Adinda. Itu jelas, tertangkap oleh penglihatan ibu Risa.
'Papah kamu itu, Nak. Kaya gak punya urat malu. Ada mertuanya di sini juga, mesum pisan. Gak tau apa, kalau istri lagi nifas.' gumam ibu Risa dengan membalikkan posisi Ghifar menjadi tengkurap. Agar bagian punggungnya juga terkena sinar matahari pagi.
Di usianya yang baru satu bulan, Ghifar sudah mengangkat-angkatkan kepalanya. Ia pun sudah terlihat begitu besar, dengan beberapa lipatan di paha dan lengannya.
Ghifar terus menerus mengeluarkan suara nyaringnya, ia sudah tak betah berada di bawah teriknya matahari pagi ini.
Adi yang baru keluar dari dalam rumahnya, langsung menghampiri mertuanya dan anaknya.
"Hei, Nak. Berisik aja… kenapa hm? Panas ya? Minta udah ya?" ucap Adi dengan jongkok, lalu ia memperhatikan wajah anaknya.
Ghifar merespon dengan suara nyaringnya. Seperti yang kita ketahui, umumnya bayi belum bisa melihat dengan jelas sampai usianya lebih dari satu bulan. Hanya suara dan naluri saja, yang ia andalkan untuk memahami bahwa dirinya benar-benar sudah berada di luar perut ibunya.
"Udah aja, Bu. Ghifar udah berisik aja, udah terlalu panas kali Bu." ucap Adi dengan memperhatikan wajah ibu mertuanya.
"Nanti sebentar lagi, belum ada lima belas menit dia berjemur. Memang kan Ghifar gak diapa-apain juga berisik aja bocahnya." sahut ibu Risa kemudian.
Adi hanya mengangguk, karena ia sudah tak berani lagi menyahuti ucapan mertuanya.
__ADS_1
"Papah mau kerja dulu ya. Papah mau berladang dulu." ujar Adi dengan kembali membuat Ghifar bersuara keras.
"Eh, Di. Dinda kan udah pulih, dia juga kan udah bisa urus Ghifar sendiri. Jadi… ibu mau pulang. Kasian bapak di sana sendirian." ungkap ibu Risa mengutarakan keinginannya.
Adi menoleh ke arah ibu mertuanya, ia terdiam sejenak memikirkan ucapan ibu Risa.
"Nanti bilang ke Dinda dulu, Bu. Takutnya dia masih pengen ibu di sini." sahut Adi kemudian.
"Pulangnya sama kamu, Di. Kamu juga harus beresin masalah kamu sendiri. Ibu sih pengennya, kamu selesaiin pernikahan kamu sama Maya itu. Terus udah kau tenang di sini sama Dinda. Memang pasti kabar itu didengar sama Dinda, apa lagi jelas kamu ada anak sama Maya. Sukur-sukur, Dinda bisa nerima itu. Karena sebetulnya Ibu juga gak mau Dinda jadi janda lagi. Kasian sama Dinda, Di. Kasian sama anak juga, apa lagi anak kamu sama dia gak punya akte lahir." ungkap ibu Risa, membuat Adi teringat dengan seseorang yang menghubunginya semalam.
Flashback on
Ponsel Adi berbunyi, saat dirinya tengah membahas mengenai ladang yang Jefri kelola. Adi memutuskan Jefri untuk mengelola bibit kopinya saja. Agar Adi pun bisa meninjau sendiri, hasil kerja Jefri. Karena jika Jefri langsung di tempatkan di daerah yang tak bisa ia jangkau setiap waktu, Adi ragu Jefri bisa mengatasi semuanya sendiri.
"Bentar, Jef." ucap Adi pada Jefri, Jefri hanya mengangguk menanggapi Adi.
"Hallo, May." ucap Adi, setelah menyentuh ikon hijau dan langsung mendekatkan ponselnya pada telinganya.
"Bang… bukannya hubungan kita selama ini baik-baik aja? Bukannya kita udah saling memahami satu sama lain? Tapi kenapa bisa datang surat cerai ke rumah aku?" ungkap Maya dengan suara yang tidak stabil. Membuat Adi memahami, bahwa Maya tengah menahan tangisnya di sana.
Adi berjalan ke luar rumah kontrakan Jefri. Ia mengingat kembali surat cerai yang ia minta pada temannya, saat Maya baru melahirkan anaknya.
"Iya, itu Abang yang prosesin May." sahut Adi kemudian.
"Iya kenapa? Masalahnya apa? Sampai-sampai aku mau Abang ceraikan?" balas Maya dengan isak tangis.
__ADS_1
"Cuma itu jalan keluarnya, May. Maaf sekali, memang Abang tak bisa mempertahankan kau. Tapi yang jelas, Naya akan ikut Abang. Kau tenang aja, dia tetap akan dapat kasih sayang yang cukup." ujar Adi halus. Adi paham Maya sedang terguncang saat ini, ia tak mau menambahkan luka di hati Maya dengan suara tingginya.
"Aku tak mau pisah, Bang. Hanya aku ibu untuk Naya, Bang. Jangan gantikan posisi aku di kehidupan Naya." tutur Maya dengan suara pilunya. Membuat Adi merasa semakin bersalah akan keputusan yang ia ambil.
"Ya udah kita bahas nanti aja. Nanti Abang ke sana, kalau ada waktu." putus Adi kemudian. Lalu ia langsung mengakhiri panggilan teleponnya.
Ia tak ingin menjawab pertanyaan dari Maya lagi, karena ia yakin jawabannya akan semakin membuat Maya tersakiti.
Lalu ia kembali masuk ke dalam rumah kontrakan Jefri, untuk melanjutkan pembicaraannya lagi.
Flashback off
"Masa Dinda ditinggal sendirian di sini, Bu?" sahut Adi setelah terdiam memikirkan Maya.
"Kan ada Zuhra juga. Cek kamu pun sering ke sini, Di. Yang penting pas kamu balik ke sini, kamu dan Maya udah cerai. Jadi, tinggal kamu fokusin ke Dinda. Sampai sekarang Ibu diam aja tuh, karena Ibu gak mau terlalu ikut campur. Meski Ibu gak terima, anak Ibu kamu giniin. Tapi gimana lagi? Kamu sama Dinda sama-sama cinta, dengan kamu lebih banyak waktu sama Dinda juga udah cukup buat buktiin. Bahwa kamu bener-bener perjuangin pernikahan kamu sama Dinda. Tapi gak tau ya, kalau Dinda suatu saat tau. Terus dia gak terima ini semua." ungkap ibu Risa dengan memperhatikan wajah Adi yang terlihat tengah berpikir keras.
"Makasih Bu, untuk supportnya. Adi pun coba perjuangin pernikahan Adi sama Dinda, Bu. Adi begini, bukan karena Adi egois. Tapi Adi mikirin resiko dan kedepannya nanti. Adi tau, Adi salah karena udah bohongin Dinda sejauh ini. Itu karena Adi tak mau Dinda dan kandungannya kenapa-kenapa. Percaya sama Adi, Bu. Meski bagaimana nanti pun, Adi akan tetap pertahankan Dinda." jawab Adi dengan mantap.
Ibu Risa mengangguk mengerti. Adi melihat istrinya berjalan ke arah mereka, lalu ibu Risa mengikuti arah pandangan Adi.
"Adi tak bisa antar Ibu balik nanti. Mungkin nanti sama Jefri lagi." putus Adi kemudian. Lalu ia tersenyum manis pada istrinya, karena Adinda sudah berada di hadapannya.
"Ngomongin apa sih? Sampek serius betul." tanya Dinda dengan duduk di sebelah ibunya.
......................
__ADS_1
Mumet sama cerita Adi, bli tutug-tutug 😝