Belenggu Sang Pemuda

Belenggu Sang Pemuda
BSP171. Kontrol lagi


__ADS_3

Beberapa minggu kemudian


Kini kandungan Adinda sudah berusia delapan minggu. Hari ini, Adi mengajak istrinya untuk USG ulangan. Adi pun ingin konsultasi dengan dokter, perihal tentang Ghifar. Pasalnya bayi tiga bulan itu, melepehkan ASI yang dihasilkan oleh Adinda. Ghifar pun sudah diselingi dengan susu formula, tetapi bayi itu malah sulit untuk buang air besar.


"Dek, jagain anak-anak ya. Nanti ada kak Sukma ke sini, dia lagi di jalan sekarang." ucap Adinda dengan menyentuh lengan Zuhra.


"Hah… nanti Ghifar rewel tak? Dibawa aja tuh Ghifarnya." sahut Zuhra dengan memanyunkan bibirnya.


"Iya, Dek. Ajak aja Ghifar, dia kan mau periksa masalah BAB-nya juga." timpal Adi dengan menaruh tas milik Adinda, di samping tempat duduk Adinda.


"Disalinin sana, aku males gerak betul." pinta Adinda pada suaminya.


Adi menghela nafas beratnya, kemudian ia menggelengkan kepalanya berulang. Mendengar ucapan Adinda barusan.


Karena bukan kali ini saja, Adinda mengatakan malas gerak. Adi pikir, mungkin itu adalah bawaan bayi yang tengah dikandungnya. Adinda tak melulu muntah, ia malah lebih sering mengemil. Hanya beberapa kali saja, ia muntah sejak ia mengandung adik dari Ghifar tersebut.


Yang membuat Adi tak habis pikir, Adinda yang terus menerus berada di atas tempat tidur dengan aktifitas apa pun. Makan, ngemil, nonton TV, bermain ponsel dan lainnya, ia selalu lakukan di atas tempat yang empuk. Ia hanya memasak dan tak mengurusi tugas lainnya, karena ia begitu tak bersemangat dalam mengerjakan tugas-tugasnya.


"Mak kau itu, apa-apa… sana, Bang. Urus Ghifarnya, mandiin, ajak main, inilah, itulah. Papah yang renggang sama mamah, eh malah bang Ghifar yang kena imbasnya. Sabar ya, maklum emak-emak hamil memang berbeda. Kek bukan manusia, padahal dia bernafas, berhati dan berjantung. Gemes Papah, sama mamah kau itu." ucap Adi dengan menggantikan anaknya pakaian khusus berpergian.


Ghifar membalas ucapan ayahnya, dengan celotehan khas bayi. Tangan dan kakinya menghentak tak beraturan, matanya yang mirip dengan ibunya itu menatap ayahnya dengan begitu semangat.


"Dah, siap. Yuk, kita OTW halan-halan." ujar Adi dengan mengangkat tubuh anaknya.


Terdengar pekikan Ghifar yang begitu senang, ia seolah mengerti akan ucapan ayahnya tersebut.


Lalu Adinda, Ghifar dan Adi pergi menuju ke tempat dokter kandungan. Tanpa mengantri lagi, Adinda sudah langsung dipersilahkan untuk masuk ke ruangan dokter tersebut. Karena sebelumnya Adi sudah membuat janji temu, dengan dokter tersebut.


"Yuk langsung aja." ucap dokter tersebut, setelah Adinda berada di dalam ruangannya.

__ADS_1


Perut bagian bawah Adinda diolesi gel pelumas, lalu alat USG itu diputar-putarkanya di bagian yang diolesi gel tersebut.


"Wah… apa ini? Janin kembar, alhamdulilah." ujar dokter tersebut, dengan memperhatikan monitor yang menempel di tembok.


Adi melongo tak percaya, ia tak menyangka bahwa ia akan memiliki bayi kembar.


"Kembar identik ini, placentanya satu." lanjut dokter tersebut, yang membuat Adi semakin tersenyum lebar.


"Sebelumnya, apa ada keluarga yang punya anak kembar? Dari pihak Pak Adi, atau Ibu Dindanya?" tanya dokter tersebut, dengan melihat janin tersebut dari sisi yang berbeda.


"Adik nenek saya kembar, kakak kedua saya juga kembar. Tapi salah satunya hidup tak lama, karena ada sedikit masalah dengan paru-parunya. Lalu bagaimana keadaan anak-anak saya, Dok? Apa ada kelainan? Saya jadi khawatir." jawab Adinda kemudian.


"Masih masa pertumbuhan, tapi normal semua kelihatannya. Nanti bulan depan USG ulangan lagi aja, Bu Dinda. Biar kita tau bagaimana perkembangan anak kembar Ibu, semoga saja tidak ada yang perlu dikhawatirkan." sahut dokter tersebut, dengan mengelap gel itu dengan menggunakan tisu. Lalu ia membantu Adinda untuk bangkit dari posisinya, karena Adi terlihat kewalahan menggendong bayi yang tak mau diam tersebut.


Lalu, dokter tersebut duduk di kursinya. Disusul dengan Adinda dan Adi, yang duduk di seberang kursi dokter tersebut.


"Bagaimana baiknya untuk Ghifar ya, Bu? Dia nolak ASI, entah karena apa. Tapi dia juga sembelit, karena susu formulanya." tanya Adi kemudian.


"Tak ada, cuma sembelit aja." jawab Adi dengan memperhatikan wajah dokter tersebut.


"Baik, saya sarankan untuk menggunakan susu formula yang saya tuliskan di sini ya Pak. Ini resep untuk Ibu Dindanya, segera ditebus ya Pak. Kemudian, yang di bawah ini merek susu formula yang saya sarankan." balas dokter tersebut.


Adi dan Adinda mengangguk mengerti, lalu mereka semua pamit pada dokter tersebut.


"Tebus resep dulu, ya. Terus Adek mau ke mana setelah ini?" tanya Adi dengan menggandeng tangan istrinya.


"Beli wadah dada, sama mau beli beberapa daster." jawab Adinda kemudian.


Adi mengangguk, lalu mobilnya melaju meninggalkan halaman tempat dokter tersebut.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan Adi membuka suaranya, untuk mencarikan suasana ini. Terlihat Adinda hanya menatap jalanan, dengan sesekali menyahuti ucapan Adi.


"Mahendra itu… ngontrak di sekitar rumah Abang yang di kota C kah, Dek?" tanya Adi, setelah ia tak mendapatkan topik lain.


"He'em, soalnya kerja di C*nema XXI jadi securitynya. Kan deket jaraknya dari G**** Mall ke blok rumah Abang itu, jadi dia ngontrak di situ sama istrinya." jawab Adinda dengan menoleh sekilas pada suaminya.


"Mirip Abang ya orangnya, sekilas juga mirip Givan." sahut Adi dengan menginjak pedal rem, karena mobil di depannya memelankan laju kendaraannya.


"Lebih bening dia, ketimbang Abang. Mirip Givan, karena jelas dia bapaknya." balas Adinda dengan menggelengkan kepalanya.


"Ya bukan masalah hitamnya, perawakannya tuh Dek. Macam perawakan Abang, macam itu Dek." jelas Adi kemudian, lalu ia melajukan kembali kendaraannya dengan kecepatan sedang.


"Tak juga, agak kurusan dia. Tinggi juga, keknya lebih tinggi Abang. Lain lah, Abang sama dia sih. Kenapa pulak disama-samakan? Apa ngerasa sesama pengkhianat, jadi pengen disamakan?" ujar Adinda ketus.


"Tak macam itu juga. Soalnya Adek nampak bahagia betul, mana segala cium tangan pulak." tutur Adi dengan nada menurun.


"Bahagia lah, KK aku udah misah. KTP juga resmi janda, bukan macam kemarin janda palsu." tukas Adinda dengan membenarkan posisi Ghifar yang tertidur dalam dekapannya.


"Belum janda, masih istri Abang." ucap Adi, lalu tak terdengar jawaban apapun dari mulut Adinda. Karena tak ada percakapan lagi di antara mereka berdua.


Hingga mereka sampai di tempat tujuan, dengan Adinda yang langsung membeli perlengkapan yang ia butuhkan. Dengan Adi yang menunggu istrinya, sembari menggendong Ghifar yang tertidur pulas.


Setelah selesai, mereka langsung pulang ke rumahnya. Karena Adinda sudah beberapa kali dihubungi oleh Sukma, ia mengatakan bahwa dirinya sudah sampai di rumah Adinda sejak tadi.


"Di… sini dulu bentar. Aku mau ngomong sama kau." ucap Sukma, setelah Adi baru keluar dari dalam mobilnya.


"Bentar ambil barang-barang dulu." sahut Adi dengan membuka pintu mobilnya kembali.


"Masuk aja dulu, Kak. Ada Givan sama Zuhra di dalam kan?" ajak Adinda yang tengah menggendong Ghifar yang sudah terbangun tersebut.

__ADS_1


"Iya udah. Akak mau ngomong sama suami kau, kau masuk duluan aja." balas Sukma, yang langsung diangguki oleh Adinda.


......................


__ADS_2