Belenggu Sang Pemuda

Belenggu Sang Pemuda
BSP223. Rumah Haris


__ADS_3

"Dulu pas jam olahraga, kita semua lagi peregangan otot di lapangan. Terus Adi jadi pusat perhatian tau, Dek. Gara-gara di lehernya ada bekas kecupannya, pokoknya waktu itu dia diledekin habis-habisan. Mana setelahnya, kena sidang guru BK ya Di?" ungkap Shila dengan tawa renyahnya, kemudian ia menoleh ke arahku.


"Terus Abang jawab apa aja, pas disidang di guru BK?" tanya Dinda dengan menepuk pahaku, jangan lupakan tatapan matanya yang begitu penasaran. Apa lah betinaku ini! Dia kira ini lucu.


Aku langsung memeluk dirinya, dengan menghisap cepat bibirnya. Aku ingin ia paham, bahwa aku tak nyaman dengan obrolan ini.


"Ekheeemmmmm… ekheeemmmmm."


"Boleh kok di kamar, udah nikah kan?" seru Haris yang duduk cukup jauh dari tempat kami. Ia tengah memperbaiki sound system miliknya, yang baru saja ditabrak sulungku. Karena ia tengah hebohnya berlari dengan sulung Haris.


Aku tak menjawab ucapan Haris barusan. Aku meluruskan kakiku di sofa panjang, dengan merebahkan kepalaku di paha istriku.


Celotehan Shila masih kian terdengar menulikan telingaku, dengan Dinda yang malah asik menarik-menarik hidungku.


"Bang, boleh tak kembar aku minta satu." ucap Alvi yang membuatku langsung menegakkan punggungku.


Kembar berada di dalam bouncer, yang tengah berada di hadapan Alvi. Kami tengah berkumpul di ruang keluarga, dengan televisi super besar yang terpajang di dinding. Dengan Haris yang tengah membetulkan sound system, yang berada di sebelah televisi tersebut.


"Tak boleh. Kalau kau mau, nih bawa aja yang punya benihnya." sahut Dinda dengan menarik-narik kedua pipiku.


Tawa Haris begitu terdengar puas, dengan Shila yang menyumbangkan tawanya juga.


"Bang, Abang makannya apa aja? Kok bisa bikin hamil berkali-kali?" tanya Alvi membuat tawa Haris lenyap. Alvi seolah menuduh Haris, yang bermasalah dengan reproduksinya. Aku pun menyimpulkan hal demikian, apa lagi dengan pertanyaan tentang seputar makananku.


"Makanya masak sendiri, macam Dinda. Bukan tiap kali Abang pulang kerja, kau nitip beli lauk sama Abang." sahut Haris terdengar begitu ketus.


"Ayo sih, Bang. Adik atau kakaknya aja tak apa." suara Alvi yang kian mendekat ke arahku.

__ADS_1


Aku mengarahkan pandanganku ke arah Alvi, terlihat Alvi tengah memandangku penuh harap.


"Tak mau aku, Vi. Ini anak loh, bukan boneka. Cobalah diusahakan dulu, jaga pola makan Haris, kau pun olahraga dan jaga pola makan kau, tidur yang cukup juga." ungkapku kemudian.


Aku malah ingin menambah jumlah anak, bukan mau menguranginya. Meskipun aku dan Dinda sepakat untuk menunda kehamilan, sampai kembar berusia dua tahun. Namun, aku tetap ingin memiliki anak lagi setelahnya.


"Tuh dengerin. Susah sih dibilangin, jadi orang kan yang ngebilangin." timpal Haris terdengar kembali.


"Setiap kali Dinda masak tuh, sayur ya macam masih mentah. Nampaknya masih seger macam itu, Vi. Kalau masak daging, ya matengnya pas. Tak terlalu lembut, tak alot juga. Masak ayam juga sama, tapi kalau ayam seringnya beli ayam kampung buat motong sendiri." balasku dengan bersandar pada bahu Dinda.


"Amis semua, Di. Masa ayam kau ngedadak motong dulu. Perasaan kau daerah kampung, tapi tak begitu pelosok Di." ujar Haris dengan mendekati kembarku.


"Di sana, ada yang melihara ayam kampung banyak. Jadi tuh misalkan harganya delapan puluh, yang ukuran besar macam itu. Aku kasih 100, sekalian minta potong sama cabutin bulu. Jadi pas sampek rumah, tinggal masak aja." jelas Dinda kemudian.


Terlihat Haris manggut-manggut, "Ya lah, orangnya pasti mau. Kan ditambahin uang sama kau." tukasnya yang membuat kami semua tertawa kecil.


Menurutku, kembar kami tak identik. Seperti kakak beradik, yang hanya mirip saja. Namun, orang-orang tak bisa membedakannya.


"Bedalah, ini abangnya agak hitaman. Yang Adeknya kulitnya agak terang sedikit, sama matanya mirip Dinda. Yang abangnya kan, matanya Adi betul ini." jelas Haris dengan menunjuk kembar satu persatu.


"Di, resepnya apa? Anak bisa mirip kau semua macam itu?" tanya Shila dengan mengangkat salah satu tubuh kembar.


"Lebih dominan aja. Tapi aku pengen nanti anak perempuan yang mirip Dinda macam itu, jangan mirip aku. Nanti dia tak cantik lagi, kalau mirip aku." jawabku yang membuat Dinda terkekeh dengan meremas pahaku.


"Dek, kau bisa WOT kan? Nanti kau harus WOT, lepas Adi pengen anak perempuan nanti." saran Haris yang membuat Alvi dan Shila tertawa terbahak-bahak.


"Lebih enak, dienakin Bang Adi. Dari pada WOT tuh, Bang. Kalau WOT sih, keringat banjir karena gerak. Kalau aku yang dikungkung kan, keringat banjir karena saking anunya." jelas Dinda yang membuat Haris menunjukku dengan tawa renyahnya.

__ADS_1


Sudah kuduga, istriku pasti terbuka jika hal yang mesum. Apa lagi pada squad broken heart-nya, pasti dia blak-blakan.


"Duh, jadi pengen nikah sama kau Di." tutur Shila, yang membuat Dinda ikut menyuarakan tawa renyahnya.


"Sungkan!" tukasku yang membuat gelombang bunyi kegembiraan ini semakin memenuhi ruangan.


Tak Sheila, tak Shila sama-sama suka mengguruiku ke arah hal itu. Tiba-tiba terlintas di pikiranku, Dinda yang tengah mengenakan pakaian seksi. Dengan perut terekspos, juga kalung pinggang yang menghiasi pinggulnya. Ah, lepas ini aku akan mengajak Dinda untuk membeli kalung pinggang. Karena seingatku, Dinda tak pernah lagi mengenakan kalung pinggang yang pernah aku belikan sejak ia hamil Ghifar.


Kami semua berbincang, sampai anak-anakku menyuarakan tangisnya karena lelah bermain.


~


~


Malam harinya, aku tengah memperhatikan istriku yang tengah mencuci piring di dapur. Aku jadi teringat waktu aku dan Dinda menjadi sepasang pengantin baru, aku menggaulinya tanpa tahu tempat dan waktu. Aku jadi teringat, kegiatan wajibku setelah sholat subuh. Sebelum aku berolahraga, aku menghangatkan istriku terlebih dahulu.


"Bagus tak potongan baru Abang, Dek?" tanyaku dengan menyugar rambutku ke belakang. Saat kami main di tempat Haris, aku menyempatkan diri untuk keluar bersama Haris ke barber shop. Karena pikirku mumpung anak-anak banyak yang menjaga, jadi aku tenang meninggalkan Dinda dan anak-anak sejenak.


Terlihat Dinda menganggukkan kepalanya, "Bagus, Bang. Lebih fresh, nampak kelihatan lebih muda." jawab Dinda tanpa menoleh ke arahku.


Aku memperhatikan tubuhnya yang terbungkus kemeja putih lengan panjang, tetapi cukup menerawang. Sepertinya itu baju lama Dinda yang tertinggal di sini, karena baru kali ini aku melihat Dinda mengenakan pakaian tersebut.


"Tak nampak dong kalung pinggang Adek, padahal Abang pengen kasih pendapat." sahutku setelah terdiam sejenak.


Terdengar helaan nafas panjang darinya, "Sana tidur! Mumpung anak-anak udah pada tidur. Nanti begadang loh, kalau Ghifar bangun nanti." balas Dinda yang sepertinya tak mengerti kode dariku.


Aku bangkit dari dudukku, lalu merapikan kembali kursi makan ini. Kemudian aku berjalan mendekati Dinda.

__ADS_1


......................


__ADS_2