
"Ekhmmm…. Mungkin masalah peternakan, Dek." jawab Adi setelah berpikir sejenak.
"Oh, memang apa masalahnya. Perasaan lancar-lancar aja." sahut Adinda, dengan mengambil posisi duduk di sebelah suaminya.
"Tak tau, besok nanti Abang coba tengok ke sana ya." ucap Adi kemudian, membuat Adinda langsung menoleh cepat pada suaminya.
"Abang mau ke kota C lagi? Aku mau Abang tinggalin lagi? Serius?" tanya Adinda beruntun.
"Yahhh… mau gimana lagi? Di sana juga ada usaha kita. Otomatis mau tak mau, Abang harus ngontrol sendiri ke sana." jawab Adi dengan tersenyum samar.
"Abang tega ninggalin aku pas lagi hamil macam ini?" ujar Adinda dengan menatap sendu suaminya.
"Tak macam itu, Sayang. Paling dua apa tiga hari, nanti Abang balik lagi." sahut Adi, membawa istrinya dalam dekapannya.
"Aku tak diajak?" balas Adinda kemudian.
"Tak, kan Adek lagi hamil muda juga. Tak baik kalah dibawa naik pesawat. Apa lagi perjalanan daratnya cukup jauh juga." tutur Adi menjelaskan.
Plak.
Adinda melayangkan tangannya, lalu mendaratkannya di paha Adi.
"AWWW…" pekik Adi kaget. Lalu ia mengelus-elus pahanya yang mendapat serangan dadakan dari istrinya.
Adinda meninggalkan Adi begitu saja. Ia masuk dalam kamarnya, dengan membanting pintu kamar cukup kuat.
Adi menggelengkan kepalanya, dengan menghela nafas panjangnya.
'Maaf Dinda.' gumam Adi pelan.
"Pah, mau pulang ke nenek ya?" tanya Givan, dengan beralih duduk ke pangkuan ayahnya.
"He'em. Jagain mamah, ya? Jangan nakal, yang nurut sama mamah." ungkap Adi, dengan memusatkan perhatiannya pada Givan.
"Aku mau ikut pulang. Aku kangen sama nenek, sama kakek." sahut Givan kemudian.
"Nanti aja ya. Kalau adeknya Abang udah lahir." balas Adi dengan memasang senyum lebarnya.
Lalu mereka berdua bercakap-cakap, dengan sesekali diselingi tawa renyah.
~
Esok harinya, pukul empat sore. Adi sudah berada di kota C. Ia ingin memenuhi janjinya pada Maya. Ia ingin menghadiri acara syukuran empat bulan anaknya, yang Maya kandung.
Ia terpaksa harus tega meninggalkan Adinda sementara. Mau bagaimana lagi, ada wanita lain yang mendapat hak yang sama seperti Adinda.
Ia masih mengingat ekspresi cemberutnya Adinda, saat ia memaksa akan pergi pagi itu.
Pulang nanti, Adi berencana akan membawakan hadiah untuk Adinda. Agar moodnya kembali membaik.
Adi memarkirkan mobilnya di depan rumahnya yang berada di kota C. Tepat berjarak dua rumah dari kediaman orang tua Maya, tempat Maya tinggal.
__ADS_1
Adi sengaja tidak mampir ke rumah orang tua Adinda. Karena ia yakin, dirinya akan dihabisi oleh kakak Adinda. Dan pasti mertuanya juga akan memintanya untuk meninggalkan Adinda.
Adi dan Adinda pun sengaja tak memberitahu tentang kabar kehamilannya, pada orang tuanya. Karena ayah dari Adinda, meminta mereka untuk menunda kehamilan Adinda. Sampai Adi meresmikan pernikahannya dengan Adinda.
"Kau lagi! Kau lagi! Kenapa setiap aku pulang, pasti nampak kau di sini?" ucap Adi, saat melihat Jefri tengah duduk di bangku panjang. Yang terletak di teras rumahnya.
"Aku abis nganterin Zulfa balik kerja." jawab Jefri santai, dengan menikmati kepulan asap rokoknya.
"Mau gilir kau?" lanjut Jefri bertanya pada Adi.
Adi hanya melirik tajam pada Jefri. Dan duduk di sebelah Jefri.
"Dinda udah tau, Di?" tanya Jefri kemudian.
Adi menggelengkan kepalanya, "Dia lagi hamil. Aku tak mungkin ngasih taunya." jawab Adi lemah.
"Mau sampai kapan kau bohongi dia?" sahut Jefri serius.
"Sampai melahirkan." balas Adi cepat. Lalu ia bangkit dan masuk ke dalam rumah.
"Eh, Bang. Datang kapan?" tanya Zulfa, saat melihat Adi berjalan menuju kamar mandi.
"Baru, Dek. Tolong ambilin handuk Abang." jawab Adi, dengan melangkah masuk dalam kamar mandi. Lalu menutup pintunya.
Zulfa mengambilkan handuk baru, dari dalam lemari pakaian Adi. Dan memberikannya pada Adi. Setelah mengetuk pintu kamar mandi beberapa kali.
Kemudian, Zulfa berjalan menghampiri kekasihnya.
"Bang, balik aja. Ada bang Adi." ucap Zulfa lirih.
~
Malam harinya, Adi masuk ke kamar yang Maya tempati. Setelah menelpon anak istrinya, yang berada di provinsi A.
Untungnya, saat Adi datang. Maya sudah mandi dan wangi. Kalau tidak, bisa-bisa Maya mendapat amukan Adi lagi.
"Kau geser sana, jangan dekat-dekat Abang." ucap Adi, dengan menaruh bantal guling di antara mereka.
"Ya ampun, Bang. Aku istri Abang sendiri." sahut Maya kecewa. Pasalnya, ia sudah membayangkan malam ini. Menjadi malam romantis untuk mereka berdua.
"Kapan terakhir kau ganti seprai? Betul kau udah mandi?" balas Adi, dengan memperhatikan sekeliling kamar Maya.
"Tadi pagi, Bang. Benerlah aku udah mandi." ujar Maya sewot. Ia sedikit tersinggung, dengan sikap Adi yang demikian.
"Ya udah tidur. Jangan lupa baca doa dulu." tutur Adi. Lalu ia berbaring menyamping, membelakangi Maya.
"Abang gak pengen elus-elus anak Abang dulu?" tanya Maya, dengan memperhatikan punggung lebar Adi.
"Belum berasa May tendangannya. Dia kan baru dapat nyawa." jawab Adi tanpa membalikkan badannya.
"Abang gak kepengen? Bahkan kita belum pernah merasakan malam pertama kita." ungkap Maya terdengar malu-malu. Karena Adi terlihat begitu menghindarinya.
__ADS_1
"Abang udah pernah nyobain kau. Udah tau rasanya, May." tukas Adi, yang enggan menghadapkan tubuhnya pada Maya.
"Wajarnya suami istri berhubungan badan, Bang. Aku tau Abang udah tau rasa aku. Tapi itu kewajiban Abang, aku ada hak untuk meminta itu." tutur Maya berharap Adi bisa mengerti.
"Abang capek May!" seru Adi cepat. Dan membuat Maya bungkam.
Maya mencoba mengerti keadaan suaminya. Mungkin suaminya lelah, karena perjalanan yang ia tempuh hari ini. Itu yang ada di pikiran Maya. Dan Maya mencoba berpikir positif, agar ia tak mengalami setres yang berlebih. Karena jelas, itu tak baik untuk kandungannya.
~
Pagi harinya, Adi sudah terbangun. Karena ia terbiasa bangun pagi lebih awal, untuk mengajak Adinda shalat subuh. Dan dilanjut dengan ia bersarang pada inti istrinya. Baru setelah itu, ia keluar dari rumah, untuk berolah raga ringan.
'Sialan ini burung. Tak bisa diajak kompromi betul.' gumam Adi, setelah menunaikan shalat subuh.
Ia mencoba membangunkan Maya. Namun Maya masih enggan untuk membuka matanya.
"Dasar kebo!" maki Adi pelan. Lalu ia keluar dari rumah mertuanya, dari istri keduanya itu.
Ia meregangkan ototnya, untuk memulai pemanasan ringan. Dan ia mulai berlari kecil menyusuri jalanan.
Adi teringat pesan dari Adinda, yang memintanya tetap berolahraga dan menjaga makanannya.
Karena Adi adalah tipe manusia, yang sensitif terhadap makanan. Meskipun dirinya doyan, tapi terkadang pencernaannya tak menerima makanan tersebut.
'Makan apa ya?' gumam Adi dalam hati. Dengan memperhatikan pedagang sarapan yang berjejer sepanjang jalan.
'Pengen capcay brokoli, Maya bisa tak ya bikinin.' gumamnya, dengan berjalan pelan menuju rumah.
Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh. Adi sengaja berolahraga di lapangan yang ia lewati tadi. Karena rumah Maya yang tak memiliki halaman. Tak mungkin juga ia harus berolahraga di dalam ruang tamu.
Adi memasuki rumah, dan langsung menuju ke kamar mandi rumah itu.
"Ehh… Udah bangun, Di?" tanya ibu Rokhayah sedikit terkejut. Ia tengah beraktifitas di dapurnya.
"Udah, Bu. Abis olahraga di luar." jawab Adi kemudian. Lalu ia masuk ke dalam kamar mandi.
Setelah ia selesai dengan tujuannya di kamar mandi. Ia langsung menuju ke kamar Maya. Karena ia belum melihat istri keduanya itu.
Ceklek.
Adi membuka pintu kamar.
"Ya ampun Maya…
TBC.
Zulfa sama Jefri abis ngapain sih?
kok Jefri bilang, udah kelar juga untungnya..
kan aku jadi curiga 🤔
__ADS_1
orang punya salah macam Adi sih, tak berani nampakin batang hidungnya.. meski ada di kota C, tapi dia ga berani mampir ke mertuanya.. alasan sih peternakan puyuh.. uhh, palak kali aku 😫
Kenapa lagi sih si Maya ini? bikin penasaran aja 🙄